Mereka Tak Percaya Saya Bangkrut Berkali-kali

Memberikan kuliah umum atau lebih tepatnya berbagi pengalaman selama menjadi pengusaha di kampus-kampus, sudah biasa saya lakukan. Namun kalau di sekolah, bahkan pesantren, ini hal yang baru dan menarik tentunya. Pekan lalu, mulai hari Rabu sampai Jumat, 29 Februari-2 Maret 2012, saya melakukan safari dengan mengunjungi banyak tempat di Jawa Barat, dari Sukabumi sampai Cianjur.

Dalam safari itu, salah satu acaranya adalah berbagi pengalaman dengan anak-anak sekolah dan pesantren. Temanya: “Mencapai Sukses Kehidupan”.

Acara dimulai dari Sukabumi ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Cibadak, Pesantren Al Masthuriyah di Desa Cisaat, Pesantren Al Fath di Kecamatan Gunung Puyuh, dan SMKN 1-4 dan SMA 1-4 Kota Sukabumi. Lalu, dilanjutkan ke Cianjur ke Pesantren Gelar Cibeber, dan SMKN 1 Pacet.

Perjalanan dengan jalur darat ke berbagai tempat tadi memang melelahkan. Apalagi diselingi dengan kunjungan ke beberapa UKM, media massa, dan sebagainya. Namun, lelah itu seolah sirna ketika saya bertemu dengan anak-anak, para siswa dan siswi, generasi muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa ini.

Saya melihat semangat optimisme di wajah mereka. Semangat khas anak muda yang penuh kreativitas dan gairah untuk maju. Mereka hanya perlu dibimbing oleh mereka yang lebih tua dan berpengalaman. Nah, tugas orang tua seperti saya adalah membagi pengalaman saya pada mereka.

Sama dengan kuliah umum saya di kampus-kampus, saya memotivasi anak-anak sekolah ini dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman saya selama bergelut di dunia bisnis atau usaha. Saya meyakinkan mereka untuk berani berusaha dan pantang menyerah menghadapi kegagalan.Kepada mereka saya ceritakan pengalaman jatuh-bangun dan bangkrut berkali-kali dalam bisnis yang saya jalani. Kegagalan itu suatu hal yang biasa. Yang penting adalah bagaimana kita mampu bangkit lagi dan meraih kesuksesan. Bahkan kalau bisa, lebih besar dari sebelumnya. Itulah kunci sukses dalam kehidupan.

Para guru serta ratusan siswa dan siswi sekolah itu seolah tak percaya ketika saya bercerita saya pernah mengalami kebangkrutan besar. Mereka tak pernah tahu bahwa ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1997 saya pernah bangkrut. Bahkan bisa dikatakan saat itu saya lebih miskin daripada pengemis. Namun, dengan semangat pantang menyerah, kegagalan itu bisa saya lalui. Bahkan, kemudian Kelompok Usaha Bakrie bisa menjadi lebih besar dari sebelumnya. Ini karena semangat pantang menyerah. Bayangkan jika saat itu saya menyerah, mungkin ceritanya akan lain.

Karena itu dalam kesempatan bertemu para siswa, para anak muda, semangat itulah yang saya ingin tanamkan. Dengan menceritakan pengalaman saya, saya harap mereka belajar bahwa ternyata itu bukan cuma teori. Itu tidak mustahil. Itu semua bisa dilakukan.

Saat berada di SMKN 1-4 dan SMA 1-4 Kota Sukabumi, usai berbagi pengalaman saya diminta menulis pesan di spanduk yang telah disiapkan. Saya kemudian menulis:

“Anak-anakku sekalian, jangan biarkan dirimu di tempat yang gelap. Karena di sana, sahabatmu yang paling setia, yaitu bayangan, juga akan meninggalkan kita”.

Itu adalah pesan yang diajarkan ayah saya Achmad Bakrie. Tempat gelap adalah kegagalan. Kita jangan berlama-lama terpuruk dalam kegagalan. Kita harus bangkit. Sahabat pun akan lari jika kita sedang terpuruk atau mengalami masalah. Maka, segeralah bangkit. Hadapi dan selesaikan masalah tersebut, jangan lari dari kenyataan.

Saat berbagi pengalaman di pesantren, rupanya banyak para santri yang juga aktif di dunia maya. Buktinya banyak yang mengaku sebagai follower twitter saya @aburizalbakrie dan pembaca setia blog saya blog.aburizalbakrie.id. Lalu, salah satu pembaca blog saya bertanya mengenai arti pesan ayah saya yang saya jadikan banner blog: “Setiap Rupiah yang dihasilkan oleh Bakrie harus dapat bermanfaat bagi banyak orang.”

Saya jelaskan bahwa kehadiran Kelompok Usaha Bakrie harus memberikan manfaat. Salah satunya membantu sesama, misalnya membantu pendidikan anak bangsa, dan kegiatan bermanfaat lainnya.

Ketika di Pesantren Al Fath di Kecamatan Gunung Puyuh, saya dianugerahi gelar adat Sunda “Rama Puhita” yang artinya pemimpin yang mampu mengelola negara. Pemberi gelar ini pimpinan pesantren Kiai Muhammad Fajar Laksana yang merupakan keturunan ke-17 Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Saya ucapkan terima kasih kepada Kiai Fajar. Bagi saya, gelar itu berat sekali. Tapi, jika Allah yang menugaskan, insya Allah, saya siap.

Saya optimis anak-anak siswa-siswi SMA atau SMK dan santri pesantren yang ikut acara berbagi pengalaman dengan saya mampu menjadi orang sukses nantinya. Karena di sana saya lihat mereka sudah dibiasakan untuk mandiri dan berwirausaha. Ini sesuatu yang bagus sekali karena yang kita butuhkan ke depan adalah orang-orang yang menyediakan lapangan kerja, bukan hanya para pencari kerja.

Semoga anak-anak ini, generasi muda ini, kelak tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin yang berjiwa wirausaha, yaitu berjiwa ulet, kreatif, dan pantang menyerah. Di tangan mereka saya yakin bangsa ini akan maju dan menjadi bangsa yang besar.

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.