<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aburizal Bakrie&#039;s Blog &#187; Aburizal Bakrie</title>
	<atom:link href="http://aburizalbakrie.id/category/aburizal-bakrie/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aburizalbakrie.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Mar 2019 06:13:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bertukar Gagasan di blog.aburizalbakrie.id</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/bertukar-gagasan-di-icalbakrie-com/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/bertukar-gagasan-di-icalbakrie-com/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 03:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aburizal Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/2010/bertukar-gagasan-di-icalbakrie-com/</guid>
		<description><![CDATA[
Usia saya sekarang 63 tahun dan baru sekarang ini saya menulis blog. Kata anak muda sekarang, saya ini termasuk generasi ‘gaptek.’ Tapi, tidak pernah ada kata terlambat, bukan?
Saya, terus terang saja, memang belum lama menggunakan twitter dan BlackBerry. Saya tertarik mengikuti perkembangan teknologi informasi dan media jejaring sosial ini karena melihat dampaknya yang begitu besar ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-369" title="foto-ical-update2-300x300" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2010/01/foto-ical-update2-300x300.jpg" alt="foto-ical-update2-300x300" width="300" height="300" /></p>
<p>Usia saya sekarang 63 tahun dan baru sekarang ini saya menulis blog. Kata anak muda sekarang, saya ini termasuk generasi ‘gaptek.’ Tapi, tidak pernah ada kata terlambat, bukan?</p>
<p>Saya, terus terang saja, memang belum lama menggunakan twitter dan BlackBerry. Saya tertarik mengikuti perkembangan teknologi informasi dan media jejaring sosial ini karena melihat dampaknya yang begitu besar terhadap kehidupan kita saat ini. Jarak dan waktu seperti tak ada batasnya lagi. Dalam sekejap, saya bisa bercakap-cakap dengan orang dari segala lapisan, tua maupun muda. Melalui twitter saya (@aburizalbakrie) banyak orang yang tidak saya kenal sebelumnya, tiba-tiba muncul menyapa saya. Senang rasanya bisa bercakap-cakap seperti ini, meski di dunia maya.</p>
<p>Hanya saja, percakapan di twitter terasa amat terbatas, cuma bisa 140 karakter sekali tweet. Karena itu, supaya bisa mengobrol lebih intensif dan panjang, pada hari ini saya meluncurkan blog ini—yang atas saran dan bantuan sejumlah kawan lalu dipadukan dengan twitter, facebook, flickr, dan youtube. Semua hal di sini bisa kita diskusikan secara terbuka, termasuk untuk dikritik dan didebat.<br />
***<span id="more-358"></span></p>
<p>Blog ini saya niatkan sebagai tempat untuk mengobrol, berdikusi dan berbagi gagasan. Saya selalu meyakini bahwa gagasan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Gagasan adalah buah pikiran untuk masa depan, karena di dalamnya selalu terkandung suatu desain yang memiliki tujuan yang jelas.</p>
<p>Terkhusus, saya ingin mengajak Anda untuk mendiskusikan berbagai hal tentang apa yang sebut sebagai ‘pembangunan manusia.’ Perlu digarisbawahi, pembangunan manusia bukanlah pembangunan ekonomi semata. Jika kita bicara pembangunan manusia, maka manusia bukan hanya menjadi subyek tapi juga obyek pembangunan. Manusia lah yang harus kita bangun, bukan hanya perekonomian.</p>
<p>Pandangan ini memang berbeda dengan pandangan sebagian ekonom kita. Para ekonom di kelompok ini cenderung berpendapat pembangunan adalah pembangunan ekonomi, dan dari hasil pembangunan ekonomi itu lah lalu kita membangun manusia. Jadi, buat mereka, arah investasi pertama-tama harus diarahkan pada bidang ekonomi.</p>
<p>Padahal, menurut saya, jika bicara tentang pembangunan manusia maka masalah-masalah seperti kesehatan dan pendidikan harus merupakan prioritas yang utama—bukan hanya sekadar pertumbuhan ekonomi semata.  Kalau tujuan kita adalah pembangunan manusia, maka sebagai implikasinya, alokasi anggaran pun harus kita prioritaskan ke arah sana.</p>
<p>Roda ekonomi tentu harus terus bergerak, tapi tidak harus semuanya dilakukan pemerintah. Swasta harus mengambil peran lebih besar dalam hal ini. Adapun pemerintah, menurut pandangan saya, harus memusatkan perhatian pada pembangunan manusia. Sekarang ini, menurut saya, alokasi anggaran negara untuk pembangunan manusia masih terlalu sedikit. Belum bisa kita katakan bahwa pembangunan manusia telah menjadi tujuan dari pembangunan kita.</p>
<p>Kita harus melihat kenyataan bahwa sangat jarang suatu negara mampu berkembang dan tumbuh berkelanjutan dengan hanya mengandalkan sumber daya alam yang dimilikinya.  Pengalaman banyak negara dalam menekan angka kemiskinan juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi—walau merupakan salah satu resep untuk mengurangi kemiskinan—tetap saja kurang efektif jika tak diimbangi kebijakan untuk mempersempit kesenjangan.</p>
<p>Itulah sebabnya saya meyakini bahwa perbaikan taraf hidup masyarakat hanya bisa dicapai dengan melakukan investasi di sektor pembangunan manusia. Karena itu, akses dan kualitas bidang pendidikan kita harus ditingkatkan. Ini harus pula sejalan dengan perbaikan akses, kualitas, dan layanan di bidang kesehatan masyarakat.</p>
<p>***<br />
Tapi, blog ini bukan hanya tempat untuk mengobrol hal-hal yang serius saja. Saya juga ingin supaya di sini kita bisa mengobrol berbagai hal ringan seperti: olah raga, tenis yang menjadi olahraga favorit saya, buku, film, maupun makanan enak di seluruh penjuru Tanah Air.</p>
<p>Saya misalnya bisa berbagi cerita soal makanan kesukaan saya: terong balado—mulai dari kelezatan sampai khasiatnya. Anda mungkin bisa berbagi cerita tentang makanan lainnya. Soal tempat makan, saya punya satu favorit, “Aroma Sulawesi.” Di lain kesempatan kita bisa ngobrol panjang soal restoran ini, mulai dari masakan sampai sejarahnya.</p>
<p>Saya juga senang sekali mengobrol tentang olah raga, khususnya tentang olahraga favorit saya: tenis. Saya berprinsip olahraga harus menjadi bagian dari pekerjaan. Buat saya, olahraga tak hanya menyehatkan badan tapi juga otak. Selain itu, olah raga akan membentuk jiwa sportif seseorang, untuk bisa menerima kemenangan, sekaligus kekalahan.</p>
<p>Akhirul kata, mari kita saling berbagi gagasan, cerita, dan pengalaman di blog ini. Dan, insya Allah, akan ada banyak manfaat dan hikmah yang bisa dipetik darinya. Seperti kata sebuah pepatah kuno, “Bercakap-cakap akan mengajari kita lebih dari bermeditasi.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/bertukar-gagasan-di-icalbakrie-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>88</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Terong Balado Bertemu Lidah</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/saat-terong-balado-bertemu-lidah/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/saat-terong-balado-bertemu-lidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 02:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aburizal Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang makanan memang tiada habisnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang makanan favorit. Seru dan menarik, karena bagi sebagian orang, makanan merupakan media untuk menikmati hidup.
Salah satu makanan favorit saya: terong balado. Makanan ini berupa masakan tumis dari irisan sayur terong yang dipadu dengan ulekan sambal. Selain nikmat, masakan tradisional ini ternyata memiliki sejumlah keuntungan ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang makanan memang tiada habisnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang makanan favorit. Seru dan menarik, karena bagi sebagian orang, makanan merupakan media untuk menikmati hidup.</p>
<p>Salah satu makanan favorit saya: terong balado. Makanan ini berupa masakan tumis dari irisan sayur terong yang dipadu dengan ulekan sambal. Selain nikmat, masakan tradisional ini ternyata memiliki sejumlah keuntungan bagi penggemarnya.</p>
<p>Paling tidak saat memasukkan kata kunci ‘manfaat terong’ dalam mesin pencari di internet muncul ribuan artikel yang seolah berlomba menunjukkan keunggulan terong. Banyak yang menyebut sayur ungu itu berkhasiat untuk menurunkan kolesterol. Ada juga yang mengatakan terong dapat menghambat pembentukan plak-plak lemak.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-372" title="terong-balado4-300x225" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2010/01/terong-balado4-300x225.jpg" alt="terong-balado4-300x225" width="300" height="225" />Salah satu penelitian memaparkan bahwa terong juga bekerja sebagai antioksidan yang menghalangi pembentukan radikal bebas, sehingga membantu melindungi kerusakan sel membran dan menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Terong merupakan sumber asam folat dam kalium.</p>
<p>Masakan lain yang juga menjadi favorit saya adalah telur balado, semur, dan tempe orek. Sama halnya terong balado, telur balado juga memadukan telur sebagai bahan utama dengan ulekan sambal. Sedangkan tempe orek adalah irisan tempe kering dengan rasa pedas manis.<span id="more-354"></span></p>
<p>Sementara produk hewani yang menjadi favorit saya adalah olahan ikan. Untuk makanan olahan ikan, rumah makan ‘Aroma Sulawesi’ di Kuningan, Jakarta, adalah salah satu yang menurut saya menjanjikan cita rasa enak. Rasa nikmatnya semakin menjadi, mungkin karena pemiliknya adalah mantan pemain tenis nasional haha… –kebetulan tenis adalah olahraga favorit saya–.</p>
<p>Dalam berbagai literatur dan artikel kesehatan, konsumsi ikan ternyata baik untuk kualitas kerja jantung. Hal itu dibuktikan dengan rendahnya angka penderita penyakit jantung pada masyarakat yang memiliki tingkat konsumsi ikan tinggi seperti di Jepang.</p>
<p>Terlepas dari segala manfaat yang ditawarkan makanan-makanan itu, yang pasti pilihan jatuh atas dasar rasa. Pilihan favorit jatuh atas dasar kenikmatan yang ditawarkan makanan itu saat menyentuh lidah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/saat-terong-balado-bertemu-lidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Loyalitas Pak Ical pada Tenis Luar Biasa</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/loyalitas-pak-ical-pada-tenis-luar-biasa/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/loyalitas-pak-ical-pada-tenis-luar-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 10:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aburizal Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yustedjo Tarik
Petenis terbaik Indonesia. Peraih medali perak tenis junior se-Asia di Jepang, pada 1972. Medali emas SEA Games di Jakarta, 1979. Meraih emas Asian Games New Delhi, India, 1982.
Kecintaan pada dunia tenis membingkai hubungan persahabatan kami. Saya kebetulan atlet tenis nasional yang berjaya di era 1980-an dan kini menjadi pelatih tenis. Sedangkan Pak Ical ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><strong><img class="alignleft size-full wp-image-374" title="Yustejo-11-300x225" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2010/01/Yustejo-11-300x225.jpg" alt="Yustejo-11-300x225" width="300" height="225" />Oleh: Yustedjo Tarik</strong></strong></p>
<p><em>Petenis terbaik Indonesia. Peraih medali perak tenis junior se-Asia di Jepang, pada 1972. Medali emas SEA Games di Jakarta, 1979. Meraih emas Asian Games New Delhi, India, 1982.</em></p>
<p>Kecintaan pada dunia tenis membingkai hubungan persahabatan kami. Saya kebetulan atlet tenis nasional yang berjaya di era 1980-an dan kini menjadi pelatih tenis. Sedangkan Pak Ical adalah pengusaha yang memiliki kecintaan luar biasa pada cabang olahraga tenis.</p>
<p>Kami pertama kali bertemu sekitar tahun 1986. Kala itu, Pak Ical hadir menyaksikan pertandingan tenis pada acara Asian Games di Seoul, Korea Selatan. Pak Ical memang sangat antusias menyaksikan atlet tenis nasional berlaga di kejuaraan tingkat dunia.</p>
<p>Sejak saat itu kami sering bertemu dalam sejumlah kejuaraan tenis. Kebetulan, Pak Ical sering menjadi sponsor dalam sejumlah kegiatan yang berhubungan tenis. Dan, beliau juga sering mengajak kami para atlet bermain tenis bersama.</p>
<p>Hingga akhirnya, secara tidak disengaja terbentuk satu tim pecinta tenis yang terdiri dari delapan orang, termasuk saya dan Pak Ical. Empat di antaranya adalah atlet tenis profesional. Dan, saat ini, kami memiliki jadwal rutin bermain tenis seminggu dua kali di Klub Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan, milik Pak Ical.<span id="more-341"></span></p>
<p>Selain rutin bertanding di Klub Rasuna, kami sesekali diajak Pak Ical bermain tenis di luar kota atau luar negeri. Terakhir sekitar 2007, kami diajak bermain tenis di Paris, Prancis. Biasanya kalau tenis ke luar kota Jakarta, hanya Pak Ical yang membawa isteri, sedangkan kami bertujuh tidak. Kalau bawa isteri rasanya canggung dan tidak bebas, hehe…</p>
<p>Permainan tenis Pak Ical cukup bagus. Kualitas permainannya menurun hanya ketika beliau sedang memiliki masalah atau beban pikiran. Dalam kondisi seperti itu, permainan beliau biasanya terlihat tegang dan tanpa tawa. Namun, beliau selalu bermain sportif.</p>
<p>Seperti atlet pada umumnya, beliau juga sangat tidak suka ada bunyi bising atau gaduh saat bermain tenis. Beliau tak segan membanting raket, jika di sekitar lapangan muncul suara gaduh seperti bunyi tukang bangunan atau bunyi bising lainnya.</p>
<p>Kecintaan Pak Ical pada olahraga tenis memang luar biasa. Bahkan, olahraga golf yang lumrah digemari para pejabat dan orang kaya tak melunturkan kecintaannya pada tenis. Beliau tidak pernah mau saya ajak bermain golf.</p>
<p>Kalau olahraga atletik seperti lari dia masih mau, itu pun jarang. Tetapi jika diajak bermain tenis, jangan ditanya, langsung oke.</p>
<p>Di luar lapangan tenis, saya melihat Pak Ical sebagai sosok yang sangat low profile dan suka membantu sesama. Pernah suatu ketika usahanya sedang turun, pada akhir tahun 1980-an, beliau tak gengsi menumpang pesawat kelas ekonomi. Beliau sangat bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/loyalitas-pak-ical-pada-tenis-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->