<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aburizal Bakrie&#039;s Blog &#187; Ekonomi dan Kewirausahaan</title>
	<atom:link href="http://aburizalbakrie.id/category/ekonomi-dan-kewirausahaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aburizalbakrie.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Mar 2019 06:13:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Marco dan Labuan Bajo</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2014/marco-dan-labuan-bajo/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2014/marco-dan-labuan-bajo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Feb 2014 10:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya dan Kesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Awal pekan lalu (senin, 3 Februari 2014), saya terbang ke Labuan Bajo, untuk bersafari atau roadshow ke sana. Labuan Bajo adalah ibukota Kabupaten Manggarai Barat, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Komodo. Karena di tempat inilah para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Komodo datang dan menginap. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-2152" title="12290305685_ff79969470_b" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2014/02/12290305685_ff79969470_b-300x225.jpg" alt="12290305685_ff79969470_b" width="300" height="225" />Awal pekan lalu (senin, 3 Februari 2014), saya terbang ke Labuan Bajo, untuk bersafari atau roadshow ke sana. Labuan Bajo adalah ibukota Kabupaten Manggarai Barat, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Komodo. Karena di tempat inilah para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Komodo datang dan menginap. Dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo, biasanya wisatawan akan berlayar tiga sampai empat jam dengan perahu tradisional, atau satu jam dengan <em>speed boat</em>.<span id="more-2150"> </span></p>
<p>Jika melihat Labuan Bajo sekarang, yang begitu dikenal sampai mancanegara, mungkin kita tidak akan menyangka bahwa daerah ini dulunya hanya desa nelayan kecil. Keindahan daerah ini, dan fungsinya sebagai pintu gerbang Pulo Komodo, yang kemudian menarik banyak pelancong dan mengubah daerah ini menjadi tujuan wisata.</p>
<p>Saya sendiri menilai Labuan Bajo sebagai salah satu tempat yang terindah di dunia. Potensi wisata di sana juga besar sekali. Bahakan saya berani mengatakan Labuan Bajo bisa berkembang dan maju seperti Bali. Dengan kata lain, Labuan Bajo bisa menjadi Bali kedua.</p>
<p>Tentu saja untuk menuju ke sana tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu pembangunan infrastruktur agar Labuan Bajo bisa menjadi tujuan wisata yang baik. Perkembangan pariwisata sebuah daerah tidak bisa lepas dari pembangunan infrastruktur. Pulau Bali, meningkat pesat pariwisatanya juga setelah infrastruktur di daerah itu dibangun dengan baik.</p>
<p>Karena itu, saya selalu bilang: kuncinya; infrastruktur, infrastruktur, dan infrastruktur.</p>
<p>Maka saat berdialog dengan kader dan masyarakat Labuan Bajo, saya katakan bahwa saya dan kader saya baik di eksekutif maupun legislatif akan membantu berjuang untuk pembangunan infrastruktur itu. Kader saya, terutama yang mewakili daerah sana, terus berjuang untuk itu.</p>
<p>Sebab pembangunan di daerah seperti ini, sesuai dengan misi Partai Golkar untuk “Membangun Indonesia dari Desa”. Ini bukan sekedar slogan, namun sebuah tekad dan misi yang terus kami laksanakan. Karena kami yakin, jika daerah maju, maka Indonesia juga akan maju.</p>
<p>Seperti di Labuan Bajo, jika infrastruktur sudah baik dan pariwisata berkembang pesat, saya yakin masyarakat di sana juga akan mendapatkan kesejahteraan. Persoalan pengangguran juga bisa mendapat solusi, jika pariwisata berkembang. Lihat saja Bali, gubernurnya mengatakan pada saya bahwa pengangguran di daerahnya hanya 1,3 persen. Sektor pariwisata bisa banyak membuka lapangan kerja.</p>
<p>Tapi selain infrastruktur, masyarakat sendiri juga harus “dibangun”. Masyarakat di daerah pariwisata juga harus punya keahlian untuk memanfaatkan potensi yang ada di daerahnya. Di sini pendidikan kewirausahaan sangat diperlukan.</p>
<p>Untuk hal ini saya ada contoh dan cerita menarik.</p>
<p>Saat tiba di Labuan Bajo saya pergi ke restoran Italia namanya “Made in Italy (MII)”. Restoran ini dari luar tampak biasa saja, bangunannya sederhana, namun siapa sangka makanannya luar biasa enaknya. Menu yang istimewa di sana adalah pasta yang dibuat dengan campuran tinta cumi-cumi. Saya lupa namanya, tapi saya tidak lupa rasanya yang enak sekali.</p>
<p>Pemilik restoran ini adalah Marco Bertini, warga Negara Italia yang sudah lama jatuh cinta dengan Indonesia, khusunya Labuhan Bajo. Selain restoran rumah di Jl Sukarno Hatta itu, Marco juga punya restoran terapung, sebuah kapan kecil yang diubah menjadi restoran dengan nama “Made in Italy Boat”. Saya sebenarnya ingin mencoba naik, tapi sayang kemarin gelombang lagi kurang baik, jadi saya batal naik.</p>
<p>Restoran Marco ini terkenal sampai ke mancanegara. Banyak orang yang memuji konsep restoran dan rasa makanannya, dan berbondong-bondong datang ke sana. Usaha Marco pun sukses besar.</p>
<p>Marco ini bisa kita jadikan contoh, bagaimana seseorang dengan semangat kewirausahaan bisa memanfaatkan potensi Labuan Bajo dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Dia awalnya ke Labuan Bajo untuk berlibur, namun menemukan peluang usaha saat melihat potensi daerah tersebut.</p>
<p>Saat berlibur bersama temannya, dia susah menemukan rumah makan yang baik dan berstandar internasional. Makanya ide membuka usaha restorannya muncul. Hasilnya seperti bisa dilihat saat ini, usaha Marco sukses dan restorannya terkenal.</p>
<p>Apa yang dilakukan Marco bisa dicontoh oleh masyarakat. Jika orang asing saja bisa sukses di daerah kita, kita yang tuan rumah, yang lebih mengenal daerah kita tentunya bisa lebih sukses lagi.</p>
<p>Karena itu selain infrastruktur harus dibangun, jiwa atau semangat entrepreneur atau wirausaha masyarakat harus juga dikembangkan. Makanya setiap roadshow keliling ke berbagai pelosok tanah air, saya selalu memberikan ceramah motivasi atau kuliah umum kewirausahaan kepada siswa atau mahasiswa.</p>
<p>Saya yakin, jika infrastruktur sudah baik, dan jiwa wirausaha masyarakat bagus, daerah seperti Labuan Bajo ini dan daerah-daerah lainnya akan maju. Jika daerah maju, maka bangsa Indonesia ini juga akan maju. Saya optimis, sebelum seabad bangsa ini, 2045 nanti, cita-cita kita bersama ini sudah kita capai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2014/marco-dan-labuan-bajo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Pengusaha Sukses, Anak Muda Juga Bisa</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2013/jadi-pengusaha-sukses-anak-muda-juga-bisa/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2013/jadi-pengusaha-sukses-anak-muda-juga-bisa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2013 03:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu harapan saya adalah; makin banyak anak muda yang berani berwirausaha. Sehingga akan banyak anak muda yang membuka lapangan kerja, bukan pencari kerja. Karena itu dalam roadshow berkeliling ke berbagai daerah, salah satu agenda utama saya adalah memberikan memotivasi pada anak muda baik melalui ceramah motivasi di sekolah maupun kuliah umum kewirausahaan di kampus.
Seperti ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2090" title="ARB didik akbar" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2013/11/ARB-didik-akbar-225x300.jpg" alt="ARB didik akbar" width="225" height="300" />Salah satu harapan saya adalah; makin banyak anak muda yang berani berwirausaha. Sehingga akan banyak anak muda yang membuka lapangan kerja, bukan pencari kerja. Karena itu dalam roadshow berkeliling ke berbagai daerah, salah satu agenda utama saya adalah memberikan memotivasi pada anak muda baik melalui ceramah motivasi di sekolah maupun kuliah umum kewirausahaan di kampus.</p>
<p>Seperti kemarin saat saya roadshow ke Semarang dan Salatiga, Jawa Tengah, saya memberikan kuliah umum kewirausahaan di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang dan ceramah di SMKN 2 Salatiga. Namun ada yang berbeda dengan kuliah umum dan ceramah kewirausahaan saya kali ini.</p>
<p>Apa yang beda dengan kuliah umum atau ceramah saya kali ini?<span id="more-2073"></span></p>
<p>Bedanya adalah, jika biasanya saya mengisi kuliah umum atau ceramah seorang diri, kali ini saya membawa partner. Saya membawa dua orang anak muda. Mereka ini bukan anak muda biasa, mereka adalah dua anak muda yang sukses menjadi pengusaha. Mereka adalah Didik Subiantoro dan Bakhtiar R. Akbar.</p>
<p>Saya mengenal dua anak muda ini dari anak saya <a href="/web/20160504054421/http://aninbakrie.com/">Anindya Bakrie</a>. Sebelum saya bawa di kuliah umum saya, mereka sudah pernah di bawa Anin di kuliah umumnya. Karena melihat mereka bagus, Anin merekomendasikan ke saya untuk mengajak mereka di setiap ceramah atau kuliah umum kewirausahaan saya.</p>
<p>Akhirnya setelah saya bertemu dengan mereka, saya sepakat untuk ajak mereka ikut dalam roadshow saya dan ikut berbagi tips dan pengalaman di acara ceramah atau kuliah umum saya. Mereka mendapat giliran memberikan materi atau berbagi pengalaman, setelah saya selesai menyampaikan ceramah atau kuliah umum saya.</p>
<p>Siapa sebenarnya dua anak muda ini, dan apa bisnis yang digelutinya?</p>
<p>Mereka adalah dua anak muda yang baru berumur 20 tahunan dan belum lama lulus kuliah. Namun mereka sudah berani merintis usaha sendiri dan sukses sebagai pengusaha. Mereka berdua kebetulan lulusan Universitas Bakrie, kampus yang dibangun Keluarga Bakrie yang memang menekankan mahasiswanya untuk berani menjadi pengusaha.</p>
<div id="attachment_2076" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2076" title="didik untag" src="/web/20160504054421im_/http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2013/11/didik-untag-300x225.jpg" alt="didik untag" width="300" height="225" />
<p class="wp-caption-text">Didik saat memotivasi mahasiswa Untag</p>
</div>
<p>Didik adalah pemilik bisnis batik dan usaha online. Dia yang mendesain batik yang digunakan oleh grup band J-Rocks dan Wali. Anak muda pasti kenal dengan batik “gaul” Mbah Bintoro yang didesain dan dijual oleh Didik.</p>
<p>Selain itu, Didik juga memiliki bisnis online yang sukses. Misalnya saja dia membuat web tv. Salah satu web tv yang dibuatnya adalah untuk group band J-Rocks. Dia juga biasa memberikan training untuk anak muda terkait bisnis online ini.</p>
<p>Sedangkan Akbar, bisnis utamanya adalah terkait foto dan video di bawah bendera Wong Akbar Fotografi. Dia mulai dari mengerjakan foto video kawinan, kemudian berkembang sampai memiliki rumah produksi yang biasa mengerjakan company profile, dan lain-lain.</p>
<p>Selain itu, Akbar juga melebarkan sayap di bisnis sewa alat-alat digital sampai sekolah musik. Tak hanya sampai di situ, Akbar bahkan juga terjun ke bisnis peternakan, dan sebagainya. Hari raya kurban kemarin, dia bahkan mengaku bisa menjual 100an ekor sapinya.</p>
<p>Dari bisninya tersebut, dua anak muda ini bisa meraup laba milyaran rupiah. Ini tentunya bukan angka yang kecil. Untuk anak muda seusia mereka, ini bahkan angka yang relatif besar.</p>
<p>Bagi saya, Akbar dan Didik ini cocok ikut mengisi acara ceramah atau kuliah umum saya karena apa yang mereka praktekkan sesuai dengan apa yang saya sampaikan. Misalnya; selama ini saya mengatakan bisnis yang bagus dan tak lekang oleh jaman itu adalah FEW: Food, Energy, Water, plus industry kreatif. Nah mereka berdua ini membuktikan dengan bergelut di industry kreatif ternyata bisa sukses.</p>
<p>Mereka juga membuktikan apa yang saya sampaikan bahwa untuk sukses berbisnis modal utamanya bukan uang, tapi ide. Dengan ide usaha brilian, semua bisa sukses termasuk anak muda.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2091" title="akbar untag" src="/web/20160504054421im_/http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2013/11/akbar-untag1-300x225.jpg" alt="akbar untag" width="300" height="225" />Lihat saja Didik yang punya ide membuat web tv. Idenya muncul setelah dia melihat peluang dari fans J-Rocks sebaganyak sekitar tiga juta orang. Lalu dia membuat web tv yang berisi video-video J-Rocks yang belum pernah dipublikasikan di mana pun. Namun setiap yang akan mengakses harus berlangganan dengan tarif tertentu yang murah.</p>
<p>Didik mengilustrasikan, tiga juta orang fans J-Rocks ini jika mengakses konten video tersebut, maka banyak uang bisa dikumpulkan. Dia mencontohkan jika 1 persen saja dari jumlah fans mau membayar Rp100 ribu per tahun, maka setahun bisa terkumpul Rp3miliar.</p>
<p>Akbar juga demikian. Idenya muncul saat dia melihat ada ratusan gedung yang biasa dipake nikahan di Jakarta. Lalu muncullah idenya untuk membuat perusahaan foto dan video. Dengan bekerjasama dengan gedung-gedung itu, maka akan banyak sekali uang yang bisa didapatkan.</p>
<p>Mereka berdua mulai dari ide, bukan mengandalkan uang. Karena mereka juga berasal dari keluarga yang tidak kaya. Didik, misalnya mengaku sempat putus asa sewaktu lulus SMA karena bingung mau kuliah tapi terkendala biaya. Namun Alhamdulillah dia bisa kuliah di Universitas Bakrie dengan mendapat beasiswa. Akbar pun demikian, dia juga mendapatkan beasiswa di kampus yang sama.</p>
<p>Akbar dan Didik ini, memiliki usia dan dunia yang tidak jauh beda dengan para mahasiswa atau siswa yang menyimak kuliah umum saya. Meski materi dan teorinya sama dengan saya, tapi bahasa dan aplikasinya tentu lebih mengena mereka. Karena itu, mereka ini bisa menjadi contoh nyata bagi anak muda lainnya bahwa anak muda juga bisa sukses jadi pengusaha.</p>
<p>Selama ini, banyak anak muda yang masih tidak percaya bahwa mereka bisa menjadi pengusaha sukses. Meskipun saya telah memberikan tips dan pengalaman yang gamblang, toh masih banyak yang tidak percaya dan pesimis.<img class="size-medium wp-image-2077 alignright" title="didik akbar anin" src="/web/20160504054421im_/http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2013/11/didik-akbar-anin-300x300.jpg" alt="didik akbar anin" width="300" height="300" /></p>
<p>Ini bisa dibaca di komentar blog ini atau media sosial saya. Ada yang bilang: “Mana bisa pak, saya niru bapak”, “mana bisa pak, saya kan gak ada modal”, “bapak sih bisa karena relasi atau jaringannya sudah luas,”, dan sebagainya. Banyak juga yang bingung harus mulai dari mana.</p>
<p>Dengan membawa Didik dan Akbar, saya ingin memberikan contoh nyata. Ternyata bisa kok anak muda yang berlatar belakang ekonomi dan pendidikan, juga dunia yang sama dengan mereka, juga bisa sukses menjadi pengusaha. Didik dan Akbar juga memberikan contoh kongkrit dan aplikatif yang bisa ditiru langsung oleh anak muda lainnya.</p>
<p>Jadi siapa bilang anak muda tidak bisa sukses jadi pengusaha?</p>
<p>Jika Didik dan Akbar bisa, masak kalian tidak bisa?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2013/jadi-pengusaha-sukses-anak-muda-juga-bisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>120</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Muda dan Masa Depan Industri Kreatif Kita</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2013/anak-muda-dan-masa-depan-industri-kreatif-kita/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2013/anak-muda-dan-masa-depan-industri-kreatif-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jun 2013 03:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, jika ditanya apa usaha yang prospeknya bagus ke depan, saya selalu mengatakan ada tiga hal, yaitu: FEW: Food (pangan), Energy (energi), dan Water (air). Ini adalah usaha yang juga akan selalu dibutuhkan dan tak lekang oleh zaman. Belakangan, saya menambahkan satu lagi selain FEW, yaitu industri kreatif.
Mengapa saya menambahkan industri kreatif selain FEW, sebagai ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, jika ditanya apa usaha yang prospeknya bagus ke depan, saya selalu mengatakan ada tiga hal, yaitu: FEW: <em>Food</em> (pangan), <em>Energy</em> (energi), dan <em>Water</em> (air). Ini adalah usaha yang juga akan selalu dibutuhkan dan tak lekang oleh zaman. Belakangan, saya menambahkan satu lagi selain FEW, yaitu industri kreatif.</p>
<p>Mengapa saya menambahkan industri kreatif selain FEW, sebagai usaha yang prospeknya cerah di masa depan? Karena perkembangan zaman menunjukkan hal itu. Lihat saja beberapa perusahaan yang berbasis industri kreatif bisa berkembang pesat, bahkan banyak milyarder-milyarder baru yang muncul dari industri yang mengandalkan kekuatan ide dan kreatifitas ini.</p>
<p>Terkait hal ini, pekan lalu saya menghadiri dua acara yang sangat dekat dengan industri kreatif ini. Pertemuan pertama di Surabaya. Di sana saya bertemu dan berdiskusi dengan dengan anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas kreatif. Mereka antara lain: Komunitas Sapu Angin, kelompok mahasiswa inovator mobil super irit bahan bakar dan ramah lingkungan. Ada juga Komunitas Pusat Studi Android, sekumpulan anak muda pengembang aplikasi-aplikasi berbasis sistem operasi Android. Lalu, ada juga Komunitas Robotika, kelompok kalangan muda pembuat robot-robot unik, yang salah satu karyanya adalah robot pecatur.</p>
<p>Saya kagum dengan prestasi dan karya mereka. Komunitas Sapu Angin, misalnya, punya Sapu Angin 2, sebuah mobil prototipe irit bahan bakar itu mampu menempuh 238 kilometer hanya dengan satu liter bensin. Mobil itu bahkan memenangi Shell Eco-Marathon (SEM) Asia pada tahun 2010. Mobil itu akan diuji hemat dalam ajang SEM Asia 2013 di Sirkuit Sepang, Malaysia, 4-7 Juli 2013. Sementara Komunitas Pusat Studi Android, telah membuat banyak aplikasi untuk smartphone berbasis Android. Mereka bahkan turut memprakarsai pembentukan Google Technology User Group (GTUG) di Indonesia. GTUG adalah Komunitas terbuka tingkat dunia untuk para programmer atau peminat teknologi Google untuk berbagi pengetahuan.</p>
<p>Komunitas Robotika pun tak kalah hebat. Mereka membikin robot pecatur alias robot yang mampu bermain catur dengan manusia sebagai lawannya. Robot hasil penggabungan teknologi wireless, bluetooth, webcam, peranti lunak dan robotika itu pernah dilombakan di STTS Wonderland Surabaya. Disediakan hadiah Rp2,5 juta bagi yang mampu mengalahkan robot itu. Hasilnya, belum ada yang berhasil membawa pulang uang tersebut. Saya pun sempat menjajal bermain catur dengan si robot. Hasilnya, baru dua langkah, saya sudah di-skak mat oleh si robot.</p>
<p>Pertemuan kedua adalah dengan para blogger dan komunitas online di Yogyakarta. Dalam acara yang bertajuk #ayorembukbareng datang berbagai komunitas blogger seperti Obrolan Media Jogja, Komunitas Blogger Jogja, dan lain sebagainya. Di sana, saya berdialog tentang apa saja dengan mereka. Mulai soal politik sampai kewirausahaan.</p>
<p>Tak kalah dengan yang di Surabaya, anak-anak Yogya ini juga kreatif dan berprestasi. Mereka ternyata banyak juga yang sukses mengembangkan usaha melalui blog dan fasilitas online lainnya.</p>
<p>Ada kesamaan dari dua kelompok atau komunitas yang saya temui di dua kota yang berbeda itu. Pertama, keduanya sama-sama komunitas anak muda, kedua, mereka sama-sama gabungan orang dengan kreatifitas yang luar biasa.</p>
<p>Karena itu kepada mereka saya berpesan agar mengembangkan potensi yang mereka miliki. Mereka bisa mengembangkan ide kreatif mereka menjadi industri kreatif yang bisa mengangkat perekonomian dan martabat bangsa ini. Misalnya seperti industri <em>software</em> India yang diekspor kemana-mana, atau seperti Korea dan Amerika dengan Samsung dan Applenya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pesan saya kepada mereka sama; tidak boleh ada alasan untuk merasa minder menjadi bangsa Indonesia. Kapasitas dan prestasi generasi muda Indonesia sejajar dengan kalangan muda bangsa lain di dunia ini.</p>
<p>Karena itu, kemampuan mereka jangan hanya untuk main-main saja. Bagaimana kita kembangkan itu menjadi industri kreatif yang bisa menghidupi mereka, keluarga, dan ikut berkontribusi dalam pembangunan bangsa, dan membuka banyak lapangan kerja. Apalagi seperti saya bilang di awal, industri kreatif ini peluangnya sangat bagus ke depan.</p>
<p>Kepada mereka saya juga memberikan tips berwirausaha atau cara membangun usaha. Yang penting adalah ide. Saya kira ide ini mereka punya. Tinggal bagaimana mereka mengajak orang yang memiliki uang atau modal untuk bekerjasama. Jika idenya bagus maka pasti akan banyak orang yang mau kerjasama.</p>
<p>Dukungan pemerintah juga penting, meski ujung tombaknya adalah swasta atau masyarakat. Pemerintah perlu membikin kebijakan yang dapat menjamin keberlangsungan industri kreatif ini. Misalnya saja, diberikan semacam insentif pajak untuk industri kreatif yang dapat memacu pertumbuhannya.</p>
<p>Jika model itu dikembangkan dengan masif, saya membayangkan industri kreatif di Indonesia bisa seperti industri peranti lunak (<em>software</em>) di India, atau <em>hardware</em> di Korea dan Amerika. Apple, dibangun dengan ide dan pernah mengalahkan kekayaan perusahaan raksasa seperti Exxon Mobil. Anak-anak muda kreatif di Silicon Valley banyak memunculkan perusahaan baru yang mengalahkan perusahaan raksasa dengan kreatifitas dan inovasinya. Saya yakin industry kreatif anak muda kita juga bisa seperti itu jika diarahkan dengan baik.</p>
<p>Saya yakin anak muda Indonesia mampu. Kemampuan dan kreativitas anak-anak muda Indonesia tak diragukan lagi. Saya yakin masa depan industri kreatif kita cerah di tangan mereka. Ini sesuatu yang penting. Karena ini menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk lebih maju lagi dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2013/anak-muda-dan-masa-depan-industri-kreatif-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Telur Colombus</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2013/kisah-telur-colombus/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2013/kisah-telur-colombus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 May 2013 04:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah suatu malam, Christopher Colombus diundang ke sebuah acara jamuan makan malam. Di acara itu, dia akan mendapat penghargaan dari Kerajaan Spanyol karena telah menemukan “dunia baru” yaitu Benua Amerika. Meskipun di acara itu Colombus akan mendapat penghargaan, rupanya banyak orang di sana yang meremehkan dan mlecehkan penemuan “dunia baru” oleh Colombus tersebut.
Banyak yang mencibir ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah suatu malam, Christopher Colombus diundang ke sebuah acara jamuan makan malam. Di acara itu, dia akan mendapat penghargaan dari Kerajaan Spanyol karena telah menemukan “dunia baru” yaitu Benua Amerika. Meskipun di acara itu Colombus akan mendapat penghargaan, rupanya banyak orang di sana yang meremehkan dan mlecehkan penemuan “dunia baru” oleh Colombus tersebut.</p>
<p>Banyak yang mencibir bahwa penemuan Colombus itu tidak sengaja. Karena memang Colombus menemukan Benua Amerika secara tidak sengaja, karena dia sebenernya mencari jalur menuju Benua Asia. Maka orang-orang pun mencemooh bahwa siapapun bisa melakukan apa yang dilakukan Colombus itu.<span id="more-1952"> </span></p>
<p>Menghadapi cibiran tersebut, Colombus kemudian memberikan tantangan pada semua hadirin. Dia menantang semua yang hadir untuk mendirikan telur rebus di meja. Bentuk telur yang permukaannya bulat/elips tentu membuat orang-orang yang mencoba mendirikan selalu gagal. Maka mereka pun menyerah dan mengembalikan tantangan pada Colombus.</p>
<p>Akhirnya dengan santai Colombus mengambil telur tersebut dan memecahkan atau meratakan sedikit bagian bawah telur itu sehingga rata dan bisa didirikan. Kontan para hadirin pun protes pada Colombus dan berkata: “Kalau caranya begitu, saya juga bisa!”.</p>
<p>Lalu Colombus pun menanggapi balik dan berkata kepada mereka: “Kalau memang bisa, kenapa tidak kalian lakukan tadi?”.</p>
<p>Colombus kemudian mengibaratkan tantangan mendirikan telur tersebut dengan tantangan yang dihadapinya dalam menemukan “dunia baru”. Menurutnya, banyak orang merasa bisa melakukan hal tersebut, setelah dia menunjukkan caranya.</p>
<p>“Setiap orang memang dapat melakukannya, setelah orang itu ditunjukkan bagaimana caranya,” ujar Colombus.</p>
<p>Kisah Colombus ini kemudian menjadi terkenal dan melegenda. Kisah ini menjadi salah satu kisah inspiratif yang banyak diceritakan di mana-mana. Ditulis dalam banyak buku, bahkan ada yang membuat monumen telur Colombus di Spanyol sana.</p>
<p>Saya termasuk orang yang suka dengan kisah telur Colombus tersebut. Setiap selesai memberikan ceramah motivasi di sekolah-sekolah, atau kuliah umum di kampus-kampus, saya selalu menyinggung kisah ini. Seperti hari Jumat, 17 Mei, lalu saat saya memberikan kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).</p>
<p>Kepada para mahasiswa saya menceritakan bagaimana pengalaman saya memulai bisnis dari bawah. Dari jualan layang-layang, kaos, meja gambar, sampai mencoba jadi kontraktor (baca <a href="/web/20160503123009/http://aburizalbakrie.id/?p=1715">di sini</a>). Saya juga menceritakan bagaimana saya membuktikan bahwa usaha itu bisa dimulai dengan uang nol di kantong (baca <a href="http://aburizalbakrie.id/?p=1669">di sini</a>). Tak ketinggalan mengenai pengalaman kegagalan saya dan bagaimana saya menghadapinya sehingga bisa bangkit kembali (baca <a href="http://aburizalbakrie.id/?p=564">di sini</a>). Juga kisah atau pengalaman saya lainnya yang bisa anda baca di blog saya ini.</p>
<p>Mengapa saya mau berbagi pengalaman saya, terutama dengan para anak-anak muda itu? Karena saya ingin seperti Colombus di kisah telur Colombus. Saya ingin mengajarkan bahwa mereka juga bisa seperti saya. Mereka, anak-anak muda ini juga bisa sukses, bahkan lebih sukses dari saya. Hanya saja mereka belum tahu caranya. Karena itu, seperti Colombus, saya menunjukkan caranya pada mereka.</p>
<p>Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa menjadi wirausahawan sukses itu bukan sesuatu yang mustahil. Memang jika tidak tahu caranya, akan terlihat susah bahkan mustahil. Seperti halnya ilmu sulap. Kita awalnya pasti merasa hal yang dilakukan pesulap itu mustahil dilakukan orang lain. Namun kalau kita diberi tahu atau dibukakan caranya, maka kita pasti akan berkata: “o kalo begitu saya juga bisa”.</p>
<p>Itulah inti ilmu telur Colombus. Makanya banyak buku rahasia sulap, rahasia sukses dan sebagainya sering diberi judul “Telur Colombus”. Ini karena setelah anda membaca buku tersebut anda akan tahu dan bisa melakukan hal yang sebelumnya tidak bisa anda lakukan.</p>
<p>Karena itu, setiap roadshow atau safari saya ke daerah-darah, saya selalu menjadwalkan untuk memberikan ceramah atau kuliah umum. Itu juga alasan mengapa saya membuat blog dan menulis pengalaman saya di sini. Agar makin banyak orang yang “tahu caranya”.</p>
<p>Saya juga berpesan, agar tidak hanya belajar dari saya. Banyak orang sukses di Indonesia ini. Jika mau belajar jadi pengusaha sukses, silahkan pelajari kisah-kisah sukses pengusaha lainnya juga. Kalau mau jadi politisi yang sukses, belajar dari kisah politisi yang sukses. Kalau mau pengacara, dokter, dan lain sebagainya juga demikian. Agar kita “tahu caranya” seperti di kisah telur Colombus.</p>
<p>Saya yakin, jika semakin banyak orang jadi pengusaha, maka negara ini akan makin maju. Lapangan kerja juga akan semakin banyak. Saya senang, kini banyak anak-anak muda yang mau jadi pengusaha. Padahal dulu, sedikit sekali yang bercita-cita jadi pengusaha. Kebanyakan mau jadi PNS. Citra pengusaha juga kurang baik dulu.</p>
<p>Tapi sekarang beda, ketika saya datang ke sekolah atau kampus dan tanyakan siapa yang mau jadi pengusaha, mayoritas mengangkat tangan. Ini artinya banyak yang tertarik jadi pengusaha. Namun banyak di antara mereka yang tidak yakin bisa sukses jadi pengusaha.</p>
<p>Banyak yang takut gagal. Padahal, kegagalan ini adalah bagian dari keberhasilan. Setiap orang sukses selalu memiliki episode kegagalan dalam kehidupannya. Kalo kita baca kisahnya, Colombus sendiri juga sering gagal. Perjalanannya panjang dan melelahkan. Bahkan awak kapalnya sering merasa takut dan ingin kembali saja. Tetapi Colombus tetap bersikeras dan terus bertekat menyelesaikan misinya. Karena dia punya mimpi menemukan “dunia baru”. Sampai kemudian dia berhasil menemukan Amerika dan namanya dikenang sepanjang sejarah.</p>
<p>Hal seperti itulah yang juga harus kita lakukan. Kita harus berani bermimpi, bermimpi untuk mencapai kesuksesan. Kalo bermimpi saja tidak berani, bagaimana mau sukses. Setelah bermimpi tentu harus berpikir bagaimana cara mewujudkannya. Setelah itu tentu saja harus bertindak atau berbuat untuk mewujudkannya. Jadi seperti yang sering saya katakan, kita harus: Berani bermimpi, berani berpikir, dan berani bertindak.</p>
<p>Ketidak yakinan, pesimisme, memang biasa menghinggapi mereka yang mau melangkah. Kepada mereka yang tidak yakin ini saya selalu mengatakan bahwa; semua bisa. Saya memberi contoh ayah saya yang cuma lulusan SR atau SD saja bisa, masak yang lulusan SMK apalagi sarjana tidak bisa, pasti juga bisa. Optimis saja, karena orang yang optimis itu sudah separuh berhasil. Sebaliknya orang yang pesimis, sudah separuh gagal.</p>
<p>Saya selalu meyakinkan anak-anak muda ini bahwa mereka semua bisa. Mereka bisa lebih sukses dari saya. Apalagi anak-anak sekarang jauh lebih pintar dari zaman saya kecil dulu. Hanya saja, seperti kisah telur Colombus, mereka ini belum tahu caranya. Karena itu melalui ceramah, kuliah umum, dan tulisan di blog saya ini saya akan memberi tahu caranya. Harapan saya, setiap saya selesai berbagi pengalaman, mereka akan bilang: “Kalau caranya seperti itu Pak, saya juga bisa.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2013/kisah-telur-colombus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Sudah Dagang Layangan Sejak SMP</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2012/saya-sudah-dagang-layangan-sejak-smp/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2012/saya-sudah-dagang-layangan-sejak-smp/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 04:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=556</guid>
		<description><![CDATA[Ketika memberikan kuliah umum atau ceramah motivasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai tempat, saya selalu menyesuaikan materi kewirausahaan yang saya berikan. Misalnya ketika berhadapan dengan anak-anak muda ini, saya tidak melulu berbicara teori berwirausaha, tetapi juga langsung mencontohkan usaha apa yang bisa mereka kerjakan.
Bagi saya, memaparkan teori dan praktek tidaklah sulit. Karena saya punya ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika memberikan kuliah umum atau ceramah motivasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai tempat, saya selalu menyesuaikan materi kewirausahaan yang saya berikan. Misalnya ketika berhadapan dengan anak-anak muda ini, saya tidak melulu berbicara teori berwirausaha, tetapi juga langsung mencontohkan usaha apa yang bisa mereka kerjakan.</p>
<p>Bagi saya, memaparkan teori dan praktek tidaklah sulit. Karena saya punya dua-duanya, baik teori maupun pengalaman, termasuk mengenai bisnis apa yang bisa dilakukan anak-anak muda itu jika kemudian jadi tertarik berwirausaha.</p>
<p>Dalam setiap kuliah umum dan ceramah motivasi berwirausaha, misalnya saat di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya dan Universitas Galuh Ciamis, 28 dan 29 Mei 2012 lalu, saya mencontohkan pengalaman usaha saya saat seusia mereka. Kebetulan dulu saat sekolah dan kuliah saya memiliki pengalaman berwirausaha.</p>
<p>Saya sudah mulai berbisnis, lebih tepatnya belajar berbisnis, sejak SMP. Meski orang tua saya termasuk mampu, namun itu tak membuat saya bersantai-santai saja menikmati hidup. Saya memutuskan untuk belajar berbisnis sejak belia. Saat itu, saya berbisnis layang-layang dan benang gelasan. Pelanggannya tentu teman-teman sekolah dan teman sepermainan. Meski hasilnya sangat kecil, namun pelajaran berbisnis dan pembentukan karakter wirausahanya tentu nilainya tidak terhingga.</p>
<p>Saat menginjak SMA dan kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), kegemaran berbisnis saya makin menjadi. Kesibukan kuliah tidak meredam semangat berwirausaha saya. Saat itu saya juga masih berbisnis kecil-kecilan misalnya membuat kaos dengan sablon anti perang, karena saat itu ramai perang Vietnam. Saya juga membuat kaos dan tas dengan sablon ITB. Baik ITB nama almamater, maupun ITB plesetan yang artinya: “Idaman Tjewek Bandung”. Alhamdulillah, bisnis kecil-kecilan ini lumayan sukses sehingga memacu saya untuk terus belajar dan menekuni dunia wirausaha.</p>
<p>Lalu, masih saat kuliah, saya juga coba meningkatkan bisnis dari yang kecil-kecil menjadi lebih besar mulai dari mencoba ikut tender meja gambar kampus, sampai jadi kontraktor. Ada pengalaman yang lumayan menggelitik saat saya dan teman mau jadi kontraktor. Karena harus ada perusahaannya, saya dan dia kemudian membuat saja perusahaan asal-asalan. Lalu kami berdua mendiskusikan siapa yang akan menjabat apa.</p>
<p>“Direktur sama manajer besar mana jabatannya?” tanya saya pada kawan saya.</p>
<p>“Ya, yang besar direktur,” jawab dia.</p>
<p>Lalu saya bilang: “Oke kalau begitu saya saja yang jadi direkturnya.”</p>
<p>Singkat cerita, saya mulai berbisnis dari yang kecil-kecil sampai akhirnya dikenal sebagai pengusaha besar. Saya belajar bisnis dari yang kecil dulu lalu bertahap sampai besar. Ini meniru pengalaman ayah saya, Achmad Bakrie.</p>
<p>Ayah saya juga tidak tiba-tiba mendirikan perusahaan besar yang kemudian dikenal sebagai Grup Bakrie. Ayah saya memulai dari bawah, memulai usaha dari yang kecil-kecil dulu. Ayah saya memulai dengan berjualan roti. Ayah juga pernah menjadi agen penyalur obat ke apotik, dan bisnis-bisnis kecil lainnya sampai berhasil membangun perusahaan besar.</p>
<p>Hal itulah yang saya pesankan kepada anak-anak muda yang menghadiri kuliah umum dan ceramah saya bahwa semua orang bisa memulai usaha. Siapa saja bisa jika memulai dari yang kecil-kecil.</p>
<p>Apalagi saya lihat di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya itu ada industri yang prospeknya bagus yaitu industri kreatif. Industri kreatif adalah salah satu industri yang masa depannya cerah selain industri makanan, energi, dan air.</p>
<p>Siapa yang tak kenal dengan Rajapolah dengan berbagai kerajinannya. Kerajinan itu tidak hanya dikenal di nasional tapi juga sudah diekspor sampai di manca negara. Saat mengunjungi pengrajin di kawasan ini, kepada mereka saya katakan saya pernah menemui topi pandan buatan mereka dijual di Spanyol. Potensi ini tentu bisa jadi peluang untuk dimanfaatkan.</p>
<p>Saat saya mengunjungi Kantor Koran Kabar Priangan saya diberitahu bahwa redaksi sudah mengumpulkan sekitar 20 kisah sukses orang setempat. Bahkan ada yang dulunya tukang becak bisa menjadi milyarder, dan banyak kisah sukses lainnya. Rencananya itu akan dijadikan buku, dan saya diminta menulis kata pengantarnya.</p>
<p>Saya yakin mereka juga memulai dari yang kecil-kecil dulu. Ini juga bisa menjadi contoh anak-anak muda bahwa semua bisa berwirausaha. Semua bisa sukses. Jangan takut, walau memulai dari yang kecil-kecil dulu. Yang penting terus berusaha dan optimis bahwa suatu hari usaha Anda akan menjadi besar. Optimisme itu penting. Sebab orang yang pesimistik belum apa-apa sudah kalah separuh, sementara orang optimistis sudah menang separuh duluan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2012/saya-sudah-dagang-layangan-sejak-smp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Gagal Berbisnis, Ayah Malah Senang</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2012/saya-gagal-berbisnis-ayah-malah-senang/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2012/saya-gagal-berbisnis-ayah-malah-senang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 04:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=560</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang paling banyak memberikan ilmu kepada saya, terutama soal berbisnis adalah ayah saya. Jika saya bercerita tentang pengalaman hidup saya dan pengalaman membangun bisnis, nama ayah saya tidak akan pernah absen muncul di sana. Cerita tentang ayah saya ini selalu mucul saat saya memberikan kuliah umum kewirausahaan di universitas, atau saat memberikan ceramah motivasi ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang yang paling banyak memberikan ilmu kepada saya, terutama soal berbisnis adalah ayah saya. Jika saya bercerita tentang pengalaman hidup saya dan pengalaman membangun bisnis, nama ayah saya tidak akan pernah absen muncul di sana. Cerita tentang ayah saya ini selalu mucul saat saya memberikan kuliah umum kewirausahaan di universitas, atau saat memberikan ceramah motivasi di sekolah-sekolah.</p>
<p>Saya baru saja pulang dari safari ke Cilacap, Banyumas, dan Purwokerto. Seperti biasa saya mampir ke SMA dan Universitas, yaitu ke SMAN 1 Cilacap, SMAN 2 Purwokerto dan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Di sana saya memberikan cerita mengenai bagaimana saya berbisnis dan belajar bisnis dari ayah saya.</p>
<p>Kepada mereka saya mengatakan saya memang tidak memulai bisnis dari bawah. Sebab, saya adalah generasi kedua di keluarga Bakrie. Sebelum saya, ayah saya Achmad Bakrie dan saudaranya lah yang mendirikan Kelompok Usaha Bakrie. Kalau boleh dikatakan, saya memulai bisnis dari tengah.</p>
<p>Namun, ayah saya memulai bisnis ini dari bawah. Benar-benar dari nol. Ayah saya bukan anak orang kaya, dia hanya anak seorang petani di Lampung. Ayah saya juga tidak beruntung untuk menikmati pendidikan tinggi. Beliau hanya lulusan Sekolah Rakyat.</p>
<p>Ayah saya memulai usaha dengan berdagang roti. Kemudian, dia juga sempat menjual obat dari perusahaan farmasi untuk disalurkan ke apotik. Banyak usaha yang ditekuni ayah saya. Beliau pernah dagang  mainan anak-anak, tekstil, dan lain sebagainya. Karena ketekunannya itu, kemudian ayah saya bisa membangun bisnis sampai memiliki perusahaan sendiri.</p>
<p>Meski pendidikan formalnya tidak tinggi, bukan berarti ayah saya tidak pernah belajar. Beliau rajin belajar dan suka membaca.  Bahkan, ayah saya menguasai Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, juga Belanda, dengan fasih. Beliau juga menguasai sejarah Indonesia, Prancis, dan juga membaca kisah-kisah sukses tokoh besar. Ini yang membuat wawasannya luas, dan cerdas dalam berbisnis.</p>
<p>Karena itu, kepada para siswa dan para mahasiswa saya selalu katakan, jika ayah saya yang lulusan sekolah dasar saja bisa, maka seharusnya mereka juga bisa. Dengan pendidikan yang lebih baik, harusnya mereka juga bisa sukses, bahkan lebih hebat dari ayah saya.</p>
<p>Saat pindah ke Jakarta, ayah saya merintis semuanya dari bawah. Keluarga kami bahkan tidak langsung memiliki rumah. Kami mulai dari mengontrak rumah sampai punya rumah sendiri. Cerita ini bisa kalian baca di novel “Anak Sejuta Bintang” yang menceritakan masa kecil saya.</p>
<p>Pelajaran yang paling saya ingat dari ayah saya adalah mengenai cara menghadapi kegagalan. Pada suatu hari saya berkata kepada ayah saya:</p>
<p>“Pak saya mau ngomong, tapi jangan bilang Ibu, ya.”</p>
<p>“Kenapa? Kamu buat malu keluarga? Kamu buntingin anak orang?” kata Beliau.</p>
<p>“Bukan, Pak. Saya gagal berbisnis,” kata saya.</p>
<p>Ayah saya malah tertawa dan mengatakan dia senang. Saya heran, kok anaknya gagal berbisnis, dia malah senang. Rupanya Beliau punya alasan tersendiri. Bagi Beliau, kegagalan itu adalah pelajaran berharga dalam berbisnis.</p>
<p>“Saya senang kamu gagal, karena orang yang tidak pernah gagal, tidak akan pernah berhasil,” ujarnya kala itu, yang terus saya ingat sampai sekarang.</p>
<p>Saya juga selalu ingat nasehat ayah saya yang lain yaitu: “Jangan pernah berdiri di tempat yang gelap. Karena di sana, sahabatmu yang paling setia, yaitu bayangan, pun akan meninggalkanmu”. Kalau bayangan saja pergi, apalagi kawan.</p>
<p>Ini mengingatkan kita agar jangan terlalu lama terpuruk dengan kegagalan. Kita harus segera bangkit dan memulai lagi lembaran baru untuk sukses. Pelajaran ayah saya ini begitu berguna ketika saya terpuruk di tahun 1998. Saat itu, perusahaan yang dibangun ayah saya nyaris habis di tangan saya. Ibu saya sangat sedih saat itu menyaksikan keadaan kami.</p>
<p>Namun karena pantang menyerah, maka saya dan adik-adik saya bisa membangun kembali pelan-pelan, bahkan menjadi lebih besar dari sebelumnya. Jika saat itu saya tidak berani menghadapi kegagalan dan terus terpuruk, maka tidak akan pernah saya bisa bangkit seperti saat ini.</p>
<p>Dalam berbisnis, ayah saya mendidik saya seolah saya memulai bisnis dari nol. Ayah saya juga mengajari saya bagaimana menghargai uang. Ini penting agar kita tidak terjebak dalam hidup boros dan menghamburkan uang yang susah payah kita dapatkan.</p>
<p>Saya ingat sekali, dulu saya pernah meminjam uang Rp16 juta kepada ayah saya untuk memulai usaha. Lalu ayah saya memberikan saya uang tunai dalam karung. Saya heran mengapa caranya seperti ini. Saya sampai susah membawanya. Rupanya ini pelajaran berharga dari Beliau. Saat saya tanya alasannya, Beliau menjawab:</p>
<p>“Itu agar kamu tahu sebanyak apa uang Rp16 juta itu, agar kamu berhati-hati menggunakannya,” jawabnya.</p>
<p>Hal ini membekas sekali di benak saya. Hal ini juga menginspirasi saya dalam mendidik anak-anak saya. Meski keluarga mampu, saya tidak begitu saja memberikan uang atau fasilitas kepada anak-anak saya. Saya masih ingat, dulu anak pertama saya <a href="http://aninbakrie.com/" target="_blank">Anindya Bakrie</a>, saat kuliah harus naik sepeda dulu sebelum saya nilai layak mendapatkan sebuah mobil.</p>
<p>Namun bukan berarti kami harus pelit. Menghargai uang bukan berarti pelit, namun agar menggunakannya secara tepat. Bahkan ayah saya juga mengajarkan agar uang yang didapat bisa dinikmati banyak orang. Seperti pesan Beliau yang jadi motto perusahaan kami: “Setiap rupiah yang dihasilkan Bakrie, harus bermanfaat bagi orang banyak,”.</p>
<p>Banyak lagi pelajaran-pelajaran dari ayah saya yang sangat panjang jika diceritakan satu persatu. Tak hanya usaha, atau bisnis, ayah saya juga mengajarkan kepada saya dan keluarga kami untuk mencintai negeri ini. Beliau selalu berpesan untuk terus mencintai Indonesia. Sesulit apapun keadaannya, kita harus selalu cinta pada Indonesia. Beliau mengingatkan, kita menghirup udara Indonesia, kita memakan makanan Indonesia, kita minum air Indonesia, karena itu kita tidak boleh meninggalkan Indonesia.</p>
<p>Kecintaan pada Indonesia ini juga tertanam di sanubari saya, dan menjadi bekal saat saya dipercaya berada di pemerintahan dulu, termasuk juga saat ini saat memimpin Partai Golkar. Karena itulah, saat ulang tahun ke-65 lalu, saya mengatakan akan mengabdikan sisa usia saya untuk negeri tercinta ini.</p>
<p>Itulah sepenggal kisah kecil dari pelajaran yang diberikan ayah saya, Achmad Bakrie, pendiri kelompok usaha Bakrie yang tahun ini berusia 70 tahun. Jika orang menilai saya sukses, lalu bertanya kepada saya di mana saya belajar, maka dengan tegas saya akan menjawabnya: saya belajar dari ayah saya.</p>
<p><strong>Bagi yang ingin membaca buku mengenai ayah saya Achmad Bakrie bisa download di bawah ini</strong></p>
<p><strong><a href="http://bakrie-brothers.com/uploads/files/ACHMAD%20BAKRIE.pdf"><img class="alignleft size-full wp-image-1298" title="banner_ebook" src="http://aninbakrie.com/wp-content/uploads/2011/05/banner_ebook.jpg" alt="banner_ebook" width="235" height="100" /></p>
<p></a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2012/saya-gagal-berbisnis-ayah-malah-senang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Saya untuk Anak SMK</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2012/tantangan-saya-untuk-anak-smk/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2012/tantangan-saya-untuk-anak-smk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2012 04:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Pada setiap rangkaian safari saya ke daerah, saya selalu menyempatkan memberikan kuliah umum kepada mahasiswa, atau ceramah motivasi pada para siswa sekolah menengah atas di daerah setempat. Dalam safari ke Sumedang dan Subang, Jawa Barat, 11-12 April 2012, saya juga menyempatkan melakukannya.
Kalau biasanya saya memberikan ceramah di SMU, kali ini yang jadi tuan rumah adalah ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada setiap rangkaian safari saya ke daerah, saya selalu menyempatkan memberikan kuliah umum kepada mahasiswa, atau ceramah motivasi pada para siswa sekolah menengah atas di daerah setempat. Dalam safari ke Sumedang dan Subang, Jawa Barat, 11-12 April 2012, saya juga menyempatkan melakukannya.</p>
<p>Kalau biasanya saya memberikan ceramah di SMU, kali ini yang jadi tuan rumah adalah SMK. Yang saya singgahi adalah SMK Bina Taruna, Jalancagak, Kabupaten Subang. Ini adalah sekolah kejuruan yang berada di kawasan perkebunan teh dan memiliki tiga program keahlian: Teknik Otomotif serta Teknik Komputer dan Jaringan.</p>
<p>Seperti halnya di tempat-tempat sebelumnya, saya memberikan ceramah motivasi untuk mereka agar pantang menyerah dan sukses dalam hidup. Tips berwirausaha secara umum dan pengalaman saya selama ini juga saya berikan. Sebagian besar sudah saya tulis di blog ini.</p>
<p>Intinya yang saya tekankan adalah bahwa dalam memulai usaha itu tidak harus memiliki uang atau modal yang besar. Ini penting, sebab sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa berwirausaha harus dimulai dengan uang, sehingga banyak yang tidak berani memulai berbisnis karena merasa tidak punya modal.</p>
<p>Padahal tidak begitu, karena yang dibutuhkan adalah ide. Ide yang kreatif dan inovatif lah yang menentukan sukses tidaknya sebuah usaha. Kalau kita punya ide kreatif, tawarkan pada pengusaha atau orang yang memiliki modal, kerja samakan dengannya untuk pembiayaannya, lalu negosiasikan untuk berbagi keuntungan. Tak hanya teori, saya juga memberikan contoh kongkrit dengan pengalaman saya.</p>
<p>Namun dari komentar kebanyakan yang mendengar, termasuk yang muncul di blog dan media sosial saya selama ini, rata-rata mereka bilang, “Bapak sih enak punya jaringan banyak jadi gampang dapat investor atau orang yang mau memodali atau meminjami uang.”</p>
<p>Karena itu, saat di SMK Bina Taruna saya menantang mereka. Saya minta mereka menelorkan ide yang bagus sesuai keahlian mereka. Saya minta mereka membuat prototipe produk tertentu, misal, kendaraan bermotor atau piranti lunak (<em>software</em>) komputer. Jika bagus, saya siap membiayai, dari mulai riset, perancangan, pembangunan atau pembuatan, dan sebagainya.</p>
<p>Saya katakan pula, jika SMK Negeri 2 Solo, Jawa Tengah, bisa membuat prototipe mobil yang diberi nama Esemka Rajawali, tentu SMK Bina Taruna harusnya juga bisa. Tidak harus mobil, memang. Barangkali bisa membikin prototipe, misal, sepeda motor, mesin traktor, atau aplikasi komputer, dan sebagainya. Prinsipnya, kreatif dan inovatif. Beda dengan yang lain.</p>
<p>Sayangnya, saat saya melontarkan tantangan itu, belum ada siswa yang langsung berani menerimanya. Mungkin malu atau masih pikir-pikir. Tapi, saya bilang, kalau ada, silakan kirim surat yang bertuliskan ”saya menerima tantangan Bapak”. Saya tunggu suratnya hingga 21 hari, dihitung sejak hari itu. Itu saja dulu. Kalau sudah begitu, baru dikirim proposal proyek prototipenya.</p>
<p>Saya juga telah meminta Kepala Sekolah, Ibu Neneng Tresnawangsih, untuk memfasilitasi jika ada siswa-siswinya yang memiliki ide-ide kreatif-inovatif dan berani menerima tantangan saya itu. Boleh secara perorangan atau pun kelompok.</p>
<p>Selama ini di blog atau media sosial juga banyak yang menawarkan ide usaha dan minta modal. Namun, rata-rata idenya tidak atau belum menarik. Tidak ada bedanya dengan usaha-usaha yang sudah ada.</p>
<p>Jadi mari kita tunggu saja, apakah siswa-siswa SMK itu berhasil menjawab tantangan saya. Saya hakulyakin banyak anak muda Indonesia punya ide besar dan berpotensi jadi pengusaha besar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2012/tantangan-saya-untuk-anak-smk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melestarikan Nilai-nilai Budaya Jawa</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2012/melestarikan-nilai-nilai-budaya-jawa/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2012/melestarikan-nilai-nilai-budaya-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 04:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan Pada Acara Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestarian Budaya Jawa. Surakarta, 8 April 2012.
Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati,
Para sesepuh, Para tokoh, Para pemerhati dan pelaku budaya Jawa,
Dewan Juri Penganugerahan Pelestari Budaya Jawa,
Para undangan, Rekan-rekan insan pers, dan Hadirin yang saya banggakan.
Memulai sambutan ini, perkenankan saya mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puji syukur ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Disampaikan Pada Acara Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestarian Budaya Jawa. Surakarta, 8 April 2012.</strong></p>
<p>Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,</p>
<p>Salam sejahtera untuk kita semua.</p>
<p>Yang saya hormati,</p>
<p>Para sesepuh, Para tokoh, Para pemerhati dan pelaku budaya Jawa,</p>
<p>Dewan Juri Penganugerahan Pelestari Budaya Jawa,</p>
<p>Para undangan, Rekan-rekan insan pers, dan Hadirin yang saya banggakan.</p>
<p>Memulai sambutan ini, perkenankan saya mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan karunia-Nya, sehingga kita dapat menghadiri acara “Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestari Budaya Jawa” dalam keadaan sehat wal afiat.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya sungguh merasa bangga dan sangat berbahagia berkumpul bersama para pelestari budaya jawa.  Karena, acara ini pada hakikatnya, bukan hanya sekedar pemberian penghargaan, tetapi merupakan momentum penyadaran akan pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya bangsa umumnya dan budaya Jawa khususnya, sekaligus sebagai wujud komitmen kita semua untuk merawat dan menjadikan nilai-nilai budaya sebagai pedoman dalam kehidupan kita bersama.</p>
<p>Acara ini sangat penting, karena kita adakan di tengah sebagian masyarakat mulai memandang budaya bangsa lain lebih menarik, lebih hebat dari budaya kita sendiri. Bahkan, ada sekelompok orang yang sudah menganggap budaya lokal sudah tidak relevan dengan kemajuan globalisasi. Mereka bangga dengan budaya luar dan menganggap remeh budaya sendiri. Mereka menganggap budayanya sendiri tidak relevan dengan kehidupan modern.</p>
<p>Memudarnya kecintaan terhadap budaya lokal menjadi tantangan bagi kita untuk mencari cara bagaimana mengembalikan rasa hormat kepada budaya sendiri. Sejarah membuktikan, kemajuan suatu bangsa dapat terjadi justru apabila suatu bangsa menghargai  kebudayaannya sendiri. Mari kita lihat bagaimana China bisa maju, tanpa kehilangan identitas budayanya, dan Jepang bisa melaju karena melandasi kehidupan modern dengan nilai dan karakter kebudayaannya.</p>
<p>Para Pelestari Budaya dan Hadirin yang saya hormati.</p>
<p>Budaya kita, jika dikaji lebih dalam, sesungguhnya mampu menjadi pendorong kemajuan. Bila Rhonda Byrne dalam bukunya <em>The Secret</em> mengatakan, bahwa sumber utama kesuksesan adalah mensyukuri apa yang telah ada, karena alam akan memantulkan kembali kebahagiaan, maka orang Jawa sudah lama memiliki moto “<em>nrimo pawehing pandum</em>”, artinya menerima apa yang diberi Tuhan. Jika orang lain mengatakan, bahwa sumber kesuksesan adalah terus berusaha, mencoba, dan mencoba, maka orang Jawa telah lama memiliki moto “<em>tatag-tutug</em>”, yang maknanya siapa yang yakin dan terus mencoba, maka dia akan sampai. Oleh karena itu, saya tegas menolak jika ada teori perubahan sosial yang mengatakan, bahwa kebudayaan adalah penghambat kemajuan. Yang benar adalah bahwa kebudayaan, jika dimaknai dengan benar akan menjadi pendorong kemajuan.</p>
<p>Sejak lama saya sudah mengagumi budaya Jawa, yang menurut saya merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi. Budaya Jawa yang dipegang teguh telah menciptakan sikap, kepribadian, dan gaya, serta perilaku orang Jawa menjadi sosok yang simpatik, halus, santun, toleran, fleksibel, dan menyukai keharmonisan. Sosok yang cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia yang bersifat kekeluargaan dan kegotong-royongan.</p>
<p>Bahkan, saya tidak hanya mengagumi budaya Jawa, tapi saya juga mengagumi gadis Jawa, saya tertarik pada gadis Jawa. Ini terbukti, karena isteri saya adalah putri Jawa dari daerah Pati, Jawa Tengah. Padahal saat saya masih lajang, banyak lho gadis-gadis cantik yang mengejar saya, bukan cuma gadis-gadis, bahkan banyak orang tua yang kesengsem ingin menjadikan saya sebagai menantunya. Mungkin, karena saat itu saya sudah kelihatan punya tanda-tanda masa depannya akan cerah.</p>
<p>Walaupun banyak godaan, tapi cinta saya teguh dan tak tergoyahkan, hanya untuk seorang putri Jawa, dan alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah SWT, nawaitu saya dikabulkan dan saya dianugerahi seorang istri yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa dan menjadi pendamping setia saya dalam mengarungi kehidupan yang dengan segala suka duka dan pahit manisnya.</p>
<p>Para  pelestari budaya Jawa serta hadirin yang saya hormati.</p>
<p>Mengapa nilai dan budaya Jawa menarik perhatian saya?. Bukan hanya karena Jawa adalah etnis terbesar di Republik ini, di mana secara demografis etnis Jawa berjumlah sangat besar, sekitar 43 % dari seluruh penduduk Indonesia. Tetapi yang lebih hebat dari itu, adalah kebesaran hati orang Jawa. Di negara lain, dengan jumlah penduduk yang dominan, etnis Jawa sesungguhnya dapat memaksakan negara ini berdiri atas dasar kesukuan, yaitu suku Jawa, seperti halnya terjadi di beberapa negara lain, yaitu Irlandia dengan suku Irish, Uzbekistan dengan suku dominan Uzbek, Azerbaijan dengan suku dominan Azeri,  dan bahkan Arab Saudi yang berdiri di atas pilar Keluarga Saud atau Bani Saud.</p>
<p>Tetapi di Indonesia, bangsa kita berdiri justru atas prinsip persatuan dan kesatuan Indonesia yang menghargai kemajemukan, Bhinneka Tunggal Ika, dan yang memelopori kemajemukan itu sebagiannya justru berasal dari Jawa. Orang-orang Jawa juga berbesar hati merelakan “bahasa Jawa” tidak menjadi Bahasa Nasional, tetapi justru mendukung bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia berinduk pada rumpun bahasa Melayu.</p>
<p>Kebesaran hati orang Jawa ini, pasti ada sumbernya, yaitu pada nilai-nilai dan filosofi Budaya Jawa. Dalam pandangan saya, budaya Jawa memiliki nilai-nilai dan filosofi luhur, bila dijalankan secara konsisten dan konsekuen akan membawa begitu banyak manfaat dan kemajuan bagi bangsa.</p>
<p>Orang Jawa merupakan suku yang penyebarannya paling luas di seluruh Indonesia, bahkan melampaui batas teritorial bangsa, di Suriname misalnya, dan mampu hidup harmonis bersama anak bangsa lainnya. Mengapa orang Jawa bisa hidup harmonis bersama suku bangsa lain? Cara hidup yang mengedepankan harmoni, menjadikan orang Jawa dapat hidup berdampingan secara damai dan nyaman dengan suku bangsa lain. Dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas, orang Jawa berprinsip seperti wasiat Mangkunegoro I, yang dikenal dengan istilah Tribroto, yaitu selalu “<em>rumongso melu handarbeni</em>”, harus merasa ikut memiliki, wajib “<em>melu hangrungkebi</em>“, wajib ikut membela dengan ikhlas, dan “<em>mulat sariro hangroso wani</em>”, harus selalu mawas diri dan memiliki sifat berani membela kebenaran. Filosofi itulah, menjadikan orang Jawa mudah diterima semua pihak.</p>
<p>Filosofi  orang Jawa dipelajari, bahkan dipakai oleh banyak orang di luar etnis Jawa. Tidak hanya dalam urusan kehidupan secara umum, tetapi juga dalam hal kepemimpinan. Sebelum lahir pakar kepemimpinan modern, masyarakat Jawa telah memiliki doktrin kepemimpinan sendiri, seperti tercantum dalam kitab Ramayana karangan Yosodipuro I yang hidup di Keraton Surakarta, abad ke-18 yang dikenal dengan istilah Hasto-Broto, yakni ciri kepemimpinan berdasarkan sifat-sifat alam, yaitu : Suryo, matahari yang menyebarkan energi. Condro, bulan, indah dan penuh keteduhan. Kartiko, bintang, menjadi penunjuk arah. Maruto, angin, adil terhadap yang dipimpin. Selain itu juga Dahono, api, memberikan reward and punishment. Angkoso, langit, berwawasan luas. Samudro, laut, menampung semua masalah; dan Bantolo, bumi, sabar, penuh pengertian dan mencukupi.</p>
<p>Selain itu, masih banyak lagi filosofi kepemimpinan Jawa yang hidup dan berkembang luas dalam masyarakat, di antaranya : “<em>menang tanpo ngasorake</em>”, yakni menang tanpa merendahkan, tanpa membuat hina yang dikalahkan. Filosofi ini penting dan sangat relevan di terapkan dalam ranah politik, agar kontestasi  dan kompetisi politik tidak membawa dampak negatif berupa rusaknya hubungan baik dan terganggunya keharmonisan antar-pelaku politik; tetapi dari kontestasi dan kompetisi politik akan menghasilkan rasa respek, tetap terjalinnya persahabatan di kalangan para politisi lintas partai dan kelompok. Dalam bahasa yang sering saya ungkapkan, kita menghindari intrik dan fitnah politik, dan secara sungguh-sungguh menjadikan ide dan gagasan sebagai instrumen politik, melalui perdebatan konseptual.</p>
<p>Nilai kepemimpinan lainnya, adalah “<em>mikul dhuwur mendem jero</em>”, yang berarti menjadi kewajiban untuk menjunjung tinggi pimpinan, menjaga kehormatan dan martabat pimpinan. Falsafah ini memberikan pesan bahwa menceritakan aib pimpinan sesungguhnya menceritakan aibnya sendiri. Falsafah ini sesuai dengan ajaran Islam yang melarang menceritakan aib orang lain, dan bagi mereka yang melakukannya, sama dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.</p>
<p>Falsafah kepemimpinan Jawa lainnya yang penting dan sangat relevan dengan situasi ke-kinian, adalah “<em>ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh</em>” , artinya, bahwa sebagai pemimpin, janganlah terlalu terheran-heran terhadap sesuatu yang baru, tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan, dan tidak boleh sombong sewaktu menjadi pemimpin. Budaya Jawa juga mengajarkan sikap kerendah-hatian, seperti mengemuka dalam adagium Jawa yang sangat populer dalam masyaraakat : “<em>Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso O Ngrumangsani</em>”, jangan cepat-cepat merasa bisa, merasa mampu, tetapi terlebih dahulu, belajarlah untuk bisa merasa.</p>
<p>Bahkan, ada filosofi kepemimpinan Jawa yang lain, yang kemudian lebih dipopulerkan oleh Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantoro, sebuah filosofi yang saya anggap sangat penting untuk diadposi dan diterapkan oleh pemimpin dewasa ini, adalah ”<em>ing ngarso sung tulodho</em>”, ”<em>ing madyo mangun karso</em>”, “<em>tut wuri handayani</em>”. ”<em>Ing ngarso sung tulodho</em>”, yaitu pemimpin harus mampu berdiri di depan untuk memberi tauladan lewat sikap dan perbuatannya. ”<em>Ing madyo mangun karso</em>”, berarti seorang pemimpin harus mampu berada di tengah-tengah bawahannya, terus memberi semangat dan motivasi agar bawahan dapat bekerja lebih baik dan lebih produktif, dan  ”<em>tut wuri handayani</em>”, yaitu mendorong dan mendukung dari belakang kepada bawahannya, kepada staf dan kadernya, agar mereka berani tampil dan maju dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Dengan berpedoman kepada nilai-nilai kepemimpinan Jawa tersebut, saya meyakini, tidak akan ada pemimpin yang “<em>pinter nanging keblinger</em> “ , yaitu pemimpin yang pintar tapi keblinger, salah besar atau salah jalan, atau pemimpin yang “<em>lali marang asale</em>”, pemimpin yang lupa dengan asal usulnya. Nilai-nilai budaya Jawa tersebut sangat relevan di tengah suasana kegaduhan politik nasional yang kerap terjadi dewasa ini. Saya yakin, bila nilai-nilai luhur tersebut kita terapkan, pasti tidak terjadi kegaduhan politik, bahkan sebaliknya budaya politik kita semakin bermartabat, karena semua pihak saling menghargai dan menghormati, menjaga kesantunan dan fatsun politik, serta lebih fungsional dan produktif.</p>
<p>Para tokoh pelestari budaya Jawa dan hadirin yang saya hormati.</p>
<p>Kekaguman saya pada nilai-nilai dan filosofi budaya Jawa tersebut, membuat saya terpanggil untuk ikut aktif mengambil kepeloporan  dalam ikhtiar melestarikan dan internalisasi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Saya juga terpanggil untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang mengabdikan dirinya untuk melestarikan budaya Jawa, khususnya kesenian Jawa.</p>
<p>Saya meyakini, masih cukup banyak orang Jawa yang menekuni jalan hidupnya di bidang kebudayaan, di bidang kesenian. Mereka mengabdikan hidupnya untuk melestarikan budaya Jawa,  mengembangkan kesenian Jawa, agar jangan sampai budaya Jawa “mati”, karena kematian budaya Jawa sesungguhnya adalah “kematian” seluruh orang Jawa, bahkan “kematian” bangsa Indonesia. Walaupun jalan hidup yang ditempuh tersebut adalah “jalan yang sunyi”, jalan yang jarang dilalui orang, karena tidak menarik, tidak populer, dan tidak mendatangkan uang yang banyak, namun mereka tetap melakoninya dengan penuh kesungguhan, karena rasa cintanya kepada budaya Jawa.</p>
<p>Keberpihakan dan kepedulian para pelestari budaya Jawa tersebut, sangat pantas mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang tinggi. Apabila sampai saat ini  budaya Jawa masih hidup dan berdenyut di tengah-tengah masyarakat, apabila masih ada anak-anak muda bangsa aktif menekuni berbagai bidang kebudayaan dan kesenian Jawa, sesungguhnya hal itu hanya dapat terjadi, karena kerja para pelestari budaya Jawa. Untuk itu, sudah seharusnya, jasa dan pengabdian mereka diberikan penghargaan sebaik-baiknya.</p>
<p>Karena itu, saya merasa tergerak oleh dedikasi dan semangat yang pantang menyerah dari para  pemerhati dan pelestari budaya Jawa, yang dengan segala cara tetap “<em>nguri-nguri</em>“  filosofi dan budaya Jawa, jangan sampai  hilang ditelan modernisasi dan globalisasi. Saya ingat salah satu pesan para leluhur Jawa, yaitu : “<em>ojo nganti wong Jowo ilang jawane kari jahile</em>”, jangan sampai orang Jawa hilang kejawaannya, yang tinggal hanyalah kebodohan;  karena  tidak memahami filosofi Jawa. Jangan sampai kita kehilangan identitas,  yang menyebabkan kita lupa siapa diri kita sebenarnya.</p>
<p>Untuk mewujudkan niat tersebut, saya membentuk sebuah Tim Dewan Juri untuk menilai aneka kesenian Jawa yang sangat populer dan merakyat. Setelah membahas secara intensif, Tim Dewan Juri menetapkan 5 (lima) Kesenian Rakyat yang sangat populer dalam masyarakat, yaitu Wayang Kulit, Ketoprak, Ludruk, Reog, dan Keris. Kelima kesenian inilah yang menjadi kategori pemilihan Tokoh Pelestari Budaya Jawa. Mungkin di lain waktu jenis kesenian rakyat ini bisa ditambahkan kategori lain, seperti Batik, Tembang, dan Sastra Jawa.</p>
<p>Selanjutnya, Tim Dewan Juri bekerja secara profesional, akurat, dan independen dan mencatat lebih 50 tokoh yang  memiliki pengabdian yang tinggi dalam pengembangan dan pelestarian kesenian-kesenian tersebut. Kemudian Dewan Juri melakukan seleksi secara ketat, obyektif, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya terpilih 5 orang tokoh pelestari budaya Jawa untuk mendapatkan penghargaan yang diserahkan pada acara ini. Perlu saya kemukakan, bahwa penghargaan di bidang budaya ini melengkapi penghargaan BAKRIE AWARD yang telah saya berikan selama ini setiap tahun kepada para tokoh di bidang ilmu pengetahuan dan pengabdian  masyaraka.</p>
<p>Para tokoh pelestari budaya Jawa serta hadirin yang saya hormati.</p>
<p>Secara kultural, seni budaya Jawa merupakan salah satu budaya tertua yang sangat berpengaruh. Seni budaya wayang, misalnya, telah menjadi seni rakyat yang menyebar di Indonesia. Bahkan, Wayang diakui oleh UNESCO menjadi “Warisan Budaya Dunia”. Selama ini seni wayang telah menjadi sarana edukasi yang sangat diminati rakyat. Melalui seni wayang, pesan luhur kebudayaan Jawa disampaikan oleh para “Dalang” yang dibungkus melalui guyonan-guyonan segar. Melalui wayang, nilai-nilai disampaikan tanpa kesan menggurui. Dengan demikian, wayang bukan sekedar tontonan, tetapi sarana untuk menyampaikan tuntunan.</p>
<p>Demikian juga dengan Keris, atau lebih luas adalah Senjata Pusaka. Keris bagi orang Jawa adalah simbol kewibawaan dan keagungan, bukan hanya personal tetapi juga komunal. Keris juga diyakini mempunyai kekuatan gaib dan keunggulan. Karena itu, di zaman Kerajaan Jawa masa lalu, ada simbol pusaka kerajaan, seperti Keris Nogo Sosro dan Sabuk Inten dan pusaka-pusaka lainnya. Sebagian orang Jawa bahkan percaya bahwa senjata menyatu bersama pemiliknya. Itulah yang menjelaskan berbagai peristiwa tentang Aryo Penangsang dan Ki Ageng Mangir. Sebagaimana sering dikisahkan dalam seni ketoprak, Aryo Penangsang terbunuh oleh Keris Setan Kober miliknya sendiri, dan Ki Ageng Mangir terbunuh setelah senjata pusaka Kyai Nogo Baruklinting disembunyikan oleh Retno Pembayun.</p>
<p>Selain itu, pada kesempatan ini diberikan juga penganugerahan kategori budaya  Jawa lainnya, yaitu Ketoprak, Reog dan Ludruk. Berbeda dengan wayang yang sumber ceritanya adalah Kisah Ramayana dan Mahabarata, Ketoprak lebih sering mementaskan legenda dan sejarah Tanah Jawa. Melalui ketoprak, diajarkan pelajaran sejarah dan legenda yang hidup di masyarakat, sehingga masyarakat memahami sejarahnya sendiri. Sumber cerita diambilkan dari karya kesusasteraan dan cerita lisan yang berkembang dalam masyarakat luas.</p>
<p>Sedangkan Ludruk, berkembang di daerah Surabaya dan sekitarnya, masuk dalam bagian “sub kultur Arek”. Sumber cerita ludruk adalah fenomena masyarakat sehari-hari. Ludruk memotret fakta-fakta dalam masyarakat dengan menyisipkan pesan-pesan moral sekaligus kritik sosial. Melalui ludruk, rakyat diajak merenungkan kembali kehidupan sosial kita, apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai kita atau sudah bergeser.  Ludruk juga menjadi alat perjuangan  pada masa kemerdekaan. Kita mengenal Cak Durasim, tokoh Ludruk Organisatie (LO) yang melontarkan sindiran melalui kidungan yang sangat populer hingga dewasa ini : “<em>pegupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro</em>” (artinya : ikut Nippon tambah sengsara). Kidungan ini membangkitkan perlawanan masyarakat terhadap penjajah Jepang. Tokoh Ludruk ini akhirnya meringkuk dalam tahanan, sampai pada tahun 1944, Tuhan memanggilnya.</p>
<p>Yang agak berbeda adalah Reog Ponorogo. Reog lebih mirip sendratari, yaitu suatu pertunjukan tari yang mengisahkan sejarah akhir Majapahit. Kesenian reog beberapa tahun yang lalu sempat menghebohkan, karena negara tetangga juga menganggap reog sebagai kebudayaan mereka. Kita harus tegaskan, bahwa reog adalah kesenian otentik ponorogo, bagian dari kebudayaan nasional bangsa Indonesia.</p>
<p>Bapak, Ibu dan hadirin yang berbahagia.</p>
<p>Saya sendiri, telah lama belajar banyak tentang filosofi Jawa yang luhur dan budaya Jawa yang adiluhung. Saya beruntung karena tidak perlu jauh-jauh belajar, bisa berguru kapan saja, karena saya belajar dari istri saya, putri Jawa. Tetapi kalau hanya belajar dari istri saya saja, rasanya belum cukup. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar para sesepuh dan pinisepuh dapat memberikan piwulang, agar saya yang sekarang ini tengah mengemban amanat sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar dapat membawa Partai ini menjadi harapan bangsa Indonesia dan menjadi partai yang mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa, termasuk dalam upaya pelestarian budaya bangsa, khususnya budaya Jawa.</p>
<p>Melalui para sesepuh, saya mengetahui bahwa yang dimaksud dengan istilah “Jawa” sebenarnya telah bergeser ke atas, ke tingkat yang lebih tinggi, bukan sekedar bermakna etnis, tetapi sudah dimaknai sebagai sebuah ciri dan karakter yang luhur. Orang yang suka berderma disebut “Njowo” sebagai lawan dari pelit. Seorang anak yang patuh kepada orang tuanya disebut “Njowo”. Seorang kakak yang penyayang kepada adiknya dikatakan “Njowo marang adi’ne”. Dengan cara berfikir seperti itu, para sesepuh berkesimpulan bahwa menjadi “Wong Jowo” adalah takdir, tetapi menjadi “Njowo” adalah pilihan.</p>
<p>Terakhir, sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya menyampaikan  pesan singkat tentang kondisi bangsa dan negara kita saat ini. Kondisi bangsa dan negara kita saat ini memang belum sampai ke tingkatan ideal seperti yang kita harapkan semua; belum seperti cita-cita para Pendiri Bangsa. Kita semua tahu, bahwa negara kita belum “<em>gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo</em>”. Jangan sampai karena kecewa terhadap kondisi negara dan bangsa, kita justru ikut-ikutan merusaknya, karena itu tidak memperbaiki kondisi, bahkan tambah membuat kerusakan makin berat. Prinsipnya, adalah “Jika malam menjadi gelap, karena lampu padam, tidaklah penting kita mengutuk kegelapan, yang lebih penting adalah menyalakan lilin, agar suasana menjadi terang”.</p>
<p>Jika zaman ini dianggap zaman edan, janganlah kita ikut menjadi edan, ikut menjadi lupa dan terlena, kemudian merusaknya. Tetapi kita harus tetap selalu ingat dan waspada, seperti  pesan dari Pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, yaitu : <em>sa’ bejo-bejoning wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo</em>, maksudnya : sebaik-baiknya orang yang lupa, masih lebih baik orang yang ingat dan waspada.</p>
<p>Para tokoh pelestari budaya dan  Hadirin yang saya hormati.</p>
<p>Demikian sambutan yang dapat saya sampaikan. Saya ucapkan selamat kepada para tokoh pelestari budaya Jawa yang terpilih, semoga ke depan pengabdian Saudara-saudara makin meningkat bagi kemajuan bangsa. Amien…!</p>
<p>Sebagai hadiah kepada para tokoh pelestari budaya Jawa dan hadirin sekalian, perkenankan saya mempersembahkan dua buah pantun:</p>
<p>JALAN-JALAN KE BOROBUDUR</p>
<p>TIDAK LUPA MEMBELI ANGGUR</p>
<p>BUDAYA JAWA TIDAK KAN MUNDUR</p>
<p>SELAMA DIJAGA DENGAN TERATUR</p>
<p>POHON BERINGIN BERDIRI TEGUH</p>
<p>TEMPAT WARGA DUDUK BERTEDUH</p>
<p>BUDAYA JAWA BERKEMBANG SUNGGUH</p>
<p>INDONESIA AKAN SEMAKIN TANGGUH</p>
<p>Sekian, terima kasih, dan mohon maaf atas segala kekurangan.</p>
<p>Matur sembah nuwun,</p>
<p>Billahi taufiq wal hidayah,</p>
<p>Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2012/melestarikan-nilai-nilai-budaya-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->