<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aburizal Bakrie&#039;s Blog &#187; Olahraga</title>
	<atom:link href="http://aburizalbakrie.id/category/olahraga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aburizalbakrie.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Mar 2019 06:13:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Apresiasi untuk Petenis Berprestasi</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2018 05:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setiap hari saya main tenis. Jika hari biasa saya main tenis bersama teman-teman saya, pagi itu, Sabtu, 1 September 2018, saya main tenis dengan partner dan lawan tanding istimewa. Mereka adalah peraih medali emas Asian Games 2018.
Pagi itu, saya mengundang Christoper Rungkat dan Adila Sutjiadi yang berhasil memperoleh medali emas tenis ganda campuran di ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-908" title="ARB tenis 1" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/09/ARB-tenis-1-300x225.jpg" alt="ARB tenis 1" width="300" height="225" />Hampir setiap hari saya main tenis. Jika hari biasa saya main tenis bersama teman-teman saya, pagi itu, Sabtu, 1 September 2018, saya main tenis dengan partner dan lawan tanding istimewa. Mereka adalah peraih medali emas Asian Games 2018.</p>
<p>Pagi itu, saya mengundang Christoper Rungkat dan Adila Sutjiadi yang berhasil memperoleh medali emas tenis ganda campuran di Asian Games 2018. Saya bermaksud memberikan apresiasi berupa pemberian bonus untuk pasangan yang telah mengharumkan nama Indonesia ini.</p>
<p>Agar tidak dinilai orang bahwa saya cari nama atau cari tenar mendompleng prestasi atlet tenis, saya sebelum memberikan bonus, izin pada Ketum PB PELTI Rildo Anwar. Pak Rildo mempersilahkan dengan senang hati. Bahkan Pak Rildo mengatakan itu bukan izin tapi perintah, sebab saya ini masih sebagai pelindung PB PELTI dan sudah sejak dahulu saya banyak berkontribusi membantu dunia tenis.<span id="more-907"></span></p>
<p>Dari zaman Yayuk Basuki (rekam jejak saya mendukung tenis Indonesia bisa dibaca di <a href="http://aburizalbakrie.id/2014/harapan-saya-pada-tenis-indonesia/">tulisan saya yang ini</a>), dll. Bahkan Christoper Rungkat dan Adila Sutjiadi sendiri tidak asing dengan saya. Sejak yunior mereka sudah dikenalkan kepada saya oleh teman-teman tenis saya.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-909" title="ARB tenis 2" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/09/ARB-tenis-2-300x225.jpg" alt="ARB tenis 2" width="300" height="225" /></p>
<p>Soal bonus yang saya berikan, memang tidak sebesar yang diberikan pemerintah. Namun semoga ini bisa membantu mereka untuk modal meningkatkan karirnya. Saya berpesan pada mereka, agar bonus yang didapat dijadikan modal penunjang untuk meningkatkan prestasi atau karir mereka. Sebab perjalanan mereka masih panjang.</p>
<p>Lalu di pagi itu, setelah memberikan bonus, saya main tenis bersama mereka. Christoper berpasangan dengan saya, sementara Adila berpasangan dengan Hadiman. Hadiman ini adalah petenis legenda yang dahulu juga peraih medali emas Asian Games. Dia juga saya kasih bonus, karena dia yang dulu membawa Adila kepada saya.</p>
<p>Wasit dipertandingan ini tak kalah istimewa. Dia adalah Yustedjo Tarik, teman saya yang juga legenda tenis Indonesia. Tedjo ini juga peraih medali emas Asian Games dan saat pembukaan Asian Games 2018 lalu juga tampil membawa obor.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-913" title="ARB tenis 4" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/09/ARB-tenis-4-300x200.jpg" alt="ARB tenis 4" width="300" height="200" /></p>
<p>Saya dan Christoper menang. Ini tampaknya terjadi karena Adila dan Hadiman ngalah. Sementara Christo tidak mau mengalah hehe.</p>
<p>Saya senang melihat anak muda yang berprestasi ini. Apalagi awalnya saya tidak menyangka mereka akan menang dan menghapus puasa emas tenis yang sudah cukup lama. Saya berharap Christopher dan Adila terus meningkatkan prestasinya. Semoga bisa meraih cita dan mencapai targetnya.</p>
<p>Semoga semakin banyak petenis muda yang lahir. Semoga semakin banyak pula pecinta tenis yang mau memberikan apresiasi bagi para petenis berprestasi. Agar para atlet bersemangat dan tenis Indonesia semakin maju lagi.</p>
<p>Bukan tidak mungkin masuk Grand Slam. India saja bisa, masak kita tidak bisa. Indonesia Bisa!</p>
<p><iframe width="500" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/Sxv0ivOCYE4" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5589</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan Saya pada Tenis Indonesia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2014/harapan-saya-pada-tenis-indonesia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2014/harapan-saya-pada-tenis-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2014 09:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sebulan lebih tidak bermain tenis, karena bulan puasa, akhirnya minggu ini saya bisa bermain tenis lagi. Bermain tenis di pagi hari memang sudah lama menjadi rutinitas saya. Saya selalu membuka hari dengan berolah raga, dan tenis adalah olah raga yang saya pilih dan saya tekuni sejak masih muda dulu.
Saya bisanya bermain tenis dengan para ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2235" title="14729108350_f4bf44f4ee_b" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2014/08/14729108350_f4bf44f4ee_b-300x225.jpg" alt="14729108350_f4bf44f4ee_b" width="300" height="225" />Setelah sebulan lebih tidak bermain tenis, karena bulan puasa, akhirnya minggu ini saya bisa bermain tenis lagi. Bermain tenis di pagi hari memang sudah lama menjadi rutinitas saya. Saya selalu membuka hari dengan berolah raga, dan tenis adalah olah raga yang saya pilih dan saya tekuni sejak masih muda dulu.</p>
<p>Saya bisanya bermain tenis dengan para sahabat saya. Kemarin, saya bermain dengan Yustejo Tarik dan Hadiman. Dua sahabat saya ini adalah legenda tenis Indonesia. Pasangan Hadiman – Yustejo adalah peraih medali emas Asian Games di Bangkok (1978) dan New Delhi (1982).<span id="more-431"></span></p>
<p>Dalam sejarah tenis Indonesia, keduanya adalah peraih medali emas terbanyak. Hingga saat ini belum ada petenis nasional yang menyamai prestasi keduanya di level internasional. Saya sudah mengenal mereka sejak lama dan sampai saat ini kami masih bersahabat dan main tenis bersama.</p>
<p>Saya juga sudah lama akrab dengan dengan dunia tenis. Dulu saya mempunyai sebuah club tenis yang bernaung di bawah POR Pelita Jaya. Di sana ada Yayuk Basuki, Utaminingsih, Suharyadi, Wailan Walalangi, Sulistyono, Januar Mangitung, dan lain-lain. Saya juga banyak mengirim atau membiayai petenis berbakat untuk berlatih di Amerika Serikat. Terakhir petenis Nadya Rafita, putrinya mantan petenis Luki Tejamukti.</p>
<p>Selain Yustejo, petenis yang saya kenal dan berprestasi bagus adalah Yayuk Basuki. Dia juga merupakan legenda tenis Indonesia. Prestasinya tak kalah membanggakan. Dia dua kali masuk perempat final Wimbeldon, dan kalah dari petenis top Stefi Grafy dan Martina Nabratilova.</p>
<p>Saya punya cerita menarik soal Yayuk. Dulu, saya pernah menjanjikan atau bertaruh pada dia, jika bisa menembus peringkat 50 dunia, saya akan memberi hadiah mobil mewah padanya. Ternyata, Yayuk bisa menjawab tantangan saya, bahkan dia berhasil menembus peringkat 40 dunia.</p>
<div id="attachment_918" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-918" title="ARB Yayuk Basuki" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2014/08/ARB-Yayuk-Basuki-300x199.jpg" alt="foto: istimewa" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">foto: istimewa</p></div>
<p>Sesuai janji saya, pada tahun 1991 itu saya menghadiahkan sebuah mobil sport Nissan ZX 300 V-6 Turbo kepada Yayuk yang saat itu adalah petenis nomor satu Indonesia. Tapi rupanya mobil tersebut tidak cocok bagi dia. Setelah dua tahun digunakan, Yayuk kemudian mengembalikan mobil tersebut karena merasa tidak cocok dan kerepotan merawat mobil sport.</p>
<p>Bagi Yayuk, mobil itu sangat berharga. Karena itu dia memilih mengembalikan pada saya dan bukan menjualnya. Sebagai gantinya, saya memberikan Yayuk sebuah mobil Great Corolla. Mobil ini bagi Yayuk lebih cocok dengan dirinya dan digunakannya untuk mobilitasnya sehari-hari.</p>
<p>Sayang, pasca Yayuk, tidak ada lagi atlet tenis Indonesia yang berprestasi secemerlang dia. Kini tidak ada lagi petenis yang bisa bertanding di centre court, sejak kejayaan Yayuk.</p>
<p>Saya sering mendengar keprihatinan Yayuk dan Yustejo pada dunia tenis Indonesia. Mereka sangat ingin dunia tenis nasional kembali berjaya dan bisa berbicara banyak di ajang internasional seperti dulu.</p>
<p>Keprihatinan dan kecemasan yang sama juga saya rasakan. Sebagai orang yang sudah lama mengenal dan bergelut dengan dunia tenis, saya juga mempunya mimpi yang sama dengan mereka. Kami berharap suatu hari akan ada atlet tenis Indonesia yang bertanding bahkan menjuarai ajang bergengsi tenis dunia, bukan cuma sekadar menjadi penonton.</p>
<p>Semoga ke depan PELTI dan pemerintah akan bersungguh-sungguh melahirkan bibit-bibit atlet tenis. Mereka harus melakukan pembinaan sejak usia dini dan tidak ragu memberikan hadiah, bonus, atau penghargaan yang layak pada atlet yang berprestasi. Ini agar banyak orang yang termotivasi untuk menjadi atlet yang berprestasi.</p>
<p>Saya optimis dunia tenis Indonesia bisa bangkit. Saya tetap punya mimpi bahwa suatu saat ada petenis putra atau putri Indonesia yang bertanding di Turnamen Grand Slam. Saya tidak tahu entah kapan mimpi saya itu jadi kenyataan. Tapi dengan kesungguhan dan kerja keras, saya yakin mimpi itu akan jadi nyata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2014/harapan-saya-pada-tenis-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emas Pertama untuk Indonesia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2014/emas-pertama-untuk-indonesia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2014/emas-pertama-untuk-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2014 10:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam, saya menjelang istirahat saya menengok akun twitter saya. Ada seorang follower memention saya dan mengirim sebuah foto atau gambar (yang sepertinya captur sebuah video) seorang pebulutangkis memeluk seorang pria berkacamata. Dia menanyakan apakah sosok di foto atau gambar adalah saya?
Meski gambarnya agak buram dan itu kejadian yang sudah sangat lama sekali, saya masih ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2138" title="arb alan" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2014/01/arb-alan-300x194.jpg" alt="arb alan" width="300" height="194" />Tadi malam, saya menjelang istirahat saya menengok akun twitter saya. Ada seorang follower memention saya dan mengirim sebuah foto atau gambar (yang sepertinya captur sebuah video) seorang pebulutangkis memeluk seorang pria berkacamata. Dia menanyakan apakah sosok di foto atau gambar adalah saya?</p>
<p>Meski gambarnya agak buram dan itu kejadian yang sudah sangat lama sekali, saya masih mengenali bahwa pria berkacamata itu adalah saya. Itu adalah foto atau gambar yang merekam momen tahun 1992. Sebuah momen yang tidak akan pernah terlupakan baik bagi saya maupun bagi bangsa Indonesia.<span id="more-2135"></span></p>
<p>Pebulutangkis di foto itu adalah Alan Budikusuma memeluk saya usai memenangkan pertandingan final tunggal putra di Olimpiade Barcelona. Di pertandingan final Alan mengalahkan pebulutangkis yang juga dari Indonesia, Ardy Wiranata.</p>
<p>Seusai memenangkan pertandingan, Alan memeluk saya yang hadir sebagai salah satu ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Saya masih ingat hari itu, 4 Agustus 1992. Hari bersejarah di mana Indonesia menyapu bersih medali tunggal putra.</p>
<p>Kala itu terjadi <em>all Indonesian final</em>, Alan menang dan mendapat emas, sementara Ardy Wiranata mendapat perak. Sementara di tempat ketiga atau perunggu, juga ada pebulutangkis Indonesia Hermawan Susanto yang berbagi tempat dengan Thomas Stuer Lauridsen dari Denmark.</p>
<p>Yang lebih membanggakan lagi dan membuat moment itu tak terlupakan adalah; ini pertama kalinya Indonesia memperoleh medali emas di Olimpiade. Ini adalah emas pertama Indonesia di Olimpiade setelah 47 tahun Indonesia merdeka.</p>
<p>Memang, Alan bukan orang Indonesia pertama yang memperoleh medali di Olimpiade. Sebelumnya sudah ada Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani, yang berhasil meraih medali perak pada Olimpiade Seoul tahun 1988 dari cabang panahan.</p>
<p>Namun untuk medali emas, Alan lah yang pertama, bersama Susi Susanti yang juga memperoleh medali emas dari tunggal putri bulutangkis. Alan dan Susi, kemudian tidak hanya mengawinkan medali, namun keduanya juga menikah dan menjadi suami istri.</p>
<p>Itulah emas pertama untuk Indonesia yang dipersembahkan Alan dan Susi. Sebuah prestasi yang disambut suka cita seluruh bangsa Indonesia. Bahkan ada yang menyebut saat itu adalah masa puncak atau periode emas prestasi bulutangkis Indonesia.</p>
<p>Sebagai pengurus PBSI kala itu tentu saya ikut bangga. Apalagi saya ikut menyaksikan langsung perjuangan Alan dalam mengharumkan nama Indonesia. Karena itu saya berterima kasih sekali saat ada yang mengingatkan saya atas momen ini.</p>
<p>Apa yang telah diperbuat Alan dan Susi ini saya rasa patut diteladani para penerus mereka. Terutama para atlit dan calon atlit bulutangkis. Agar mereka bisa lebih berprestasi lagi. Agar prestasi bulutangkis Indonesia bisa bangkit lagi.</p>
<p>Kita harus optimis bahwa ke depan prestasi bulutangkis dan olahraga lainnya di Indonesia akan kembali berjaya di tingkat dunia. Kalau Alan dan Susi bisa, tentu putra dan putri Indonesia yang lainnya juga bisa. Maju terus bulutangkis Indonesia!</p>
<p><strong>Tulisan saya lainnya tentang bulutangkis bisa dibaca <a href="/web/20160504054128/http://aburizalbakrie.id/?p=622">di sini</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2014/emas-pertama-untuk-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Olahraga dan Jiwa Sportif</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2013/olahraga-dan-jiwa-sportif/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2013/olahraga-dan-jiwa-sportif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2013 04:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu mengawali aktivitas sehari-hari dengan berolahraga. Setiap pagi, saya selalu menyempatkannya. Jika melihat jadwal kegiatan saya sehari-hari, maka agenda pertama yang saya lakukan adalah: berolahraga.
Olahraga sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan saya sejak muda. Ada yang kurang rasanya bila mengawali hari tanpa olahraga. Makanya, di manapun berada, saya selalu menyempatkan berolahraga. Termasuk saat saya berpergian ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu mengawali aktivitas sehari-hari dengan berolahraga. Setiap pagi, saya selalu menyempatkannya. Jika melihat jadwal kegiatan saya sehari-hari, maka agenda pertama yang saya lakukan adalah: berolahraga.</p>
<p>Olahraga sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan saya sejak muda. Ada yang kurang rasanya bila mengawali hari tanpa olahraga. Makanya, di manapun berada, saya selalu menyempatkan berolahraga. Termasuk saat saya berpergian ke luar kota atau luar negeri.</p>
<p>Seperti saat saya bersafari ke Lombok pekan lalu, (Rabu, 23 Januari 2012). Seperti biasa, jadwal pertama saya adalah olahraga. Namun kali ini saya tidak berolahraga di hotel seperti biasanya. Pagi itu saya memilih berolahraga bersama masyarakat di alun-alun.</p>
<p>Pagi itu, saya berolahraga bersama anak-anak sekolah yang sedang ada jam olahraga di sana, dengan melakukan senam aerobik dipandu instruktur setempat. Meski ini olahraga ringan, namun lumayan juga terasa segar di badan.</p>
<p>Seusai berolahraga, saya diberi kesempatan berbicara di hadapan anak-anak ini. Kepada mereka saya menceritakan bahwa saya sangat suka berolahraga. Waktu masih muda, setiap selesai sholat subuh saya selalu menyempatkan berlatih karate. Sampai sekarang, meski berusia kepala enam, saya masih rutin berolahraga paling sedikit dua jam setiap pagi.</p>
<p>Saya masih kuat lari keliling lapangan 15 kali, atau melakukan jalan cepat 6 km jalan cepat. Saya juga biasa bermain tenis 3 set, bersama teman-teman di klub Rasuna. Intinya, aktivitas olahraga saya gak kalah sama anak muda.</p>
<p>Hasilnya sangat terasa, tubuh menjadi sehat dan bugar. Saya juga jarang sakit, dan banyak yang bilang dibandingkan dengan teman sebaya, saya terlihat lebih muda. Dengan kebugaran ini kegiatan saya yang relatif padat juga sangat terbantu. Saya tidak cepat lelah dan selalu fit meski harus melakukan perjalanan jauh. Bahkan kolega saya di Partai Golkar Ade Komarudin, pernah mengungkapkan, dia dan kawan-kawan keteteran mengikuti kegiatan saya.</p>
<p>Mengapa saya suka sekali berolahraga? Bagi saya olahraga ini penting. Penting tidak saja bagi kesehatan raga atau tubuh kita, namun juga bagi kesehatan jiwa kita. Seperti kata yang sangat terkenal di dunia olahraga: <em>mens sana in corpore sano</em>, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.</p>
<p>Kaitannya dengan jiwa, olahraga bisa membentuk jiwa sportif. Orang yang biasa berolahraga akan memiliki jiwa sportif yang tinggi. Biasa berkompetisi, berjuang mencapai hasil, dan bisa menerima kemenangan atau kekalahan.</p>
<p>Saya katakan kepada anak-anak itu, jiwa sportif ini penting. Tidak hanya untuk kompetisi olahraga saja, namun juga kompetisi di bidang lain. Misalnya saat pertandingan olimpiade sains, dan kompetisi-kompetisi lainnya. Sebab, orang berjiwa sportif akan siap menang dan kalah.</p>
<p>Tidak semua orang memiliki jiwa ini. Rata-rata orang hanya siap menang, tapi tidak siap menerima kekalahan. Orang yang sportif berdaya juang tinggi dan meyakini dirinya yang terbaik, namun mampu mengakui jika orang lain ternyata lebih baik darinya dan memenangkan kompetisi.</p>
<p>Dalam berorganisasi dan berpolitik, jiwa sportif ini sangat penting. Lihat saja banyak orang yang tidak sportif dalam kompetisi baik di organisasi maupun politik. Misalnya kalah dalam pemilihan pemimpin organisasi atau partai, kemudian tak terima dan membuat organisasi tandingan atau keluar dan membuat organisasi baru. Atau dalam pilkada, calon yang kalah tidak terima dan terus menggugat, bahkan sering berujung kekerasan atau kerusuhan.</p>
<p>Orang yang suka berolahraga dan telah tumbuh jiwa sportif dalam dirinya tentu tidak akan melakukan hal seperti itu. Orang sportif akan fair, dan siap menang juga siap kalah. Jika menang, orang sportif tidak akan terlalu jumawa atau merendahkan yang kalah, atau orang Jawa menyebutnya: <em>menang tanpo ngasorake</em>.</p>
<p>Itulah manfaat olahraga yang saya petik selama ini. Semoga akan semakin banyak orang, terutama anak-anak muda yang suka berolahraga dan memiliki jiwa sportif. Dulu ada program pemerintah yang bagus: memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Saya kira program bagus seperti ini perlu direvitalisasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2013/olahraga-dan-jiwa-sportif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Egi Melgiansyah dan Calon Pemain Timnas dari Cibaliung</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2012/egi-melgiansyah-dan-calon-pemain-timnas-dari-cibaliung/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2012/egi-melgiansyah-dan-calon-pemain-timnas-dari-cibaliung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 06:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya dan Kesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Saya kembali melanjutkan safari saya di Jawa Barat. Kali ini saya bersafari dua hari, 11-12 Maret 2012, di daerah Pandeglang, Banten. Seperti biasa, acara safari berisi serangkaian kegiatan menyapa masyarakat, mulai dari berdialog dengan petani, nelayan, sampai ceramah motivasi di kampus dan sekolah.
Rangkaian kegiatan safari saya kali ini ditutup dengan acara yang unik yaitu kick-off ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kembali melanjutkan safari saya di Jawa Barat. Kali ini saya bersafari dua hari, 11-12 Maret 2012, di daerah Pandeglang, Banten. Seperti biasa, acara safari berisi serangkaian kegiatan menyapa masyarakat, mulai dari berdialog dengan petani, nelayan, sampai ceramah motivasi di kampus dan sekolah.</p>
<p>Rangkaian kegiatan safari saya kali ini ditutup dengan acara yang unik yaitu <em>kick-off</em> atau tendangan pembuka pertandingan bola. Lokasinya adalah di lapangan sepakbola desa Citereup, Pandeglang, Banten. Yang bertanding adalah tim sepakbola lokal, Citeureup FC melawan Cibaliung FC.</p>
<p>Saya tidak sendirian ke acara ini. Saya bawa dua pesepakbola nasional ke sana. Mereka adalah gelandang Pelita Jaya yang juga kapten Timnas U23 SEA Games XVI Egi Melgiansyah dan mantan pemain Timnas yang kini menjadi Asisten Manajer Pelita Jaya I Made Pasek.</p>
<p>Warga setempat yang sudah memadati lapangan sore itu tampak antusias dan senang dengan kehadiran keduanya. Pertandingan eksibisi yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Kabupaten Pandeglang antara dua kecamatan itu pun makin meriah jadinya.</p>
<p>Sebagian warga yang akan menonton pertandingan itu rupanya telah mendengar kabar kehadiran Egi. Nah, begitu Egi benar-benar datang, ia pun langsung diserbu warga dan meminta berfoto bersama.</p>
<p>Bahkan pertandingan tak bisa segera dimulai karena Egi dan Pasek harus dengan sabar meladeni satu per satu permintaan berfoto bersama dari para penggemar mereka. Mereka tidak hanya dari kalangan anak-anak dan remaja, tetapi juga ibu-ibu.</p>
<p>Tak sampai di situ saja, ketika pemain dari kedua kesebelasan dan wasit sudah siap di dalam lapangan pun, masyarakat masih sempat-sempatnya memanfaatkan sesi foto dadakan itu. Kalau pantia tidak mengingatkan para penonton agar sesi foto itu segera diakhiri, barangkali pertandingan tak bakal segera dimulai. Beruntung, mereka bisa mengerti.</p>
<p>Saya dan Egi kemudian melakukan kick-off alias tendangan pembuka di awal pertandingan. Saya baru sadar bahwa saya salah kostum, tak pakai kaos dan celana serta sepatu sepakbola. Egi pun begitu. Dia hanya mengenakan kaos berlogo Pelita Jaya, bercelana panjang warna hitam, dan hanya sepatu olahraga biasa.</p>
<p>Tapi tak apa, karena saya memang hanya diminta melakukan kick-off, bukan bermain. Seadanya saja. Saya pun menendang bola dengan kondisi masih mengenakan kemeja putih, celana panjang katun hitam dan sepatu yang saya pakai untuk acara sebelumnya.</p>
<p>Namun untuk Egi lain cerita, karena dia juga diminta bermain untuk salah satu tim. Namun, Egi mengaku masih kelelahan karena sehari sebelumnya dia baru main bersama tim Pelita Jaya bertanding melawan Arema Malang di Karawang.</p>
<p>Meski bukan pertandingan bola professional, saya lihat pertandingan ini cukup seru. Kondisi lapangan yang seadanya, bukan sekelas Stadion Gelora Bung Karno, tak menghalangi mereka untuk dengan semangat bermain dan menghadirkan pertandingan yang menarik.</p>
<p>Sayangnya, saya dan rombongan, termasuk Egi maupun Pasek, tidak bisa menonton lebih lama pertandingan itu. Saya harus segera terbang ke Jakarta. Egi pun begitu. Dia harus kembali ke Jakarta untuk memulihkan staminanya, karena kompetisi yang harus dijalani Pelita Jaya masih panjang.</p>
<p>Dari acara Senin sore itu, saya seperti kembali diingatkan bahwa sepakbola ini adalah olah raga yang sangat dicintai oleh rakyat. Pemainnya pun dicintai oleh mereka dan menjadi seorang pahlawan di mata mereka. Lihat saja antusiasme mereka untuk berfoto dengan Egi.</p>
<p>Selain itu, saya juga melihat bahwa dengan fasilitas yang seadanya, tak menghalangi rakyat kita mencintai dan mengembangkan olah raga ini. Dari anak-anak muda ini, saya yakin akan lahir bibit-bibit pemain terbaik Indonesia.</p>
<p>Perhatian terhadap anak-anak kampung dan sepak bolanya perlu dilakukan. Karena pemain handal tidak selalu muncul dari sekolah-sekolah sepakbola. Bisa jadi mereka muncul dari kampung-kampung. Sudah banyak cerita pemian sepakbola handal yang lahir dari kampung. Maka jika mereka diberi perhatian yang lebih, bukan mustahil jika kelak tim Garuda akan diperkuat pemain dari Citeureup atau Cibaliung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2012/egi-melgiansyah-dan-calon-pemain-timnas-dari-cibaliung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Karakter dengan Karate</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2012/membangun-karakter-dengan-karate/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2012/membangun-karakter-dengan-karate/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 06:57:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya dan Kesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kesekian kali, saya kembali mengunjungi kampus Institut Teknologi Bandung, Jumat, 20 Januari 2012 lalu. Di kampus tempat saya kuliah itu, saya datang bukan untuk memberikan kualiah umum seperti yang saya lakukan sebelumnya, tapi untuk membuka Kejuaraan Nasional Karate “Bakrie Cup 2012”.
Pembukaan acara ini digelar di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Acara Jumat siang itu, ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk kesekian kali, saya kembali mengunjungi kampus Institut Teknologi Bandung, Jumat, 20 Januari 2012 lalu. Di kampus tempat saya kuliah itu, saya datang bukan untuk memberikan kualiah umum seperti yang saya lakukan sebelumnya, tapi untuk membuka Kejuaraan Nasional Karate “Bakrie Cup 2012”.</p>
<p>Pembukaan acara ini digelar di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Acara Jumat siang itu, juga dihadiri Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman, Ketua PB FORKI Lumban Sianipar, Wakil Gubernur Jawa Barat yang juga dikenal sebagai karateka yang suka membintangi film action, Dede Yusuf.</p>
<p>Ini adalah kejuaraan karate nasional khusus untuk mahasiswa. Tercatat sebanyak 122 perguruan tinggi, dengan sekitar 553 mahasiswa mengikuti kejuaraan beladiri ini. Kejuaraan ini bernama “Bakrie Cup” karena Kelompok Usaha Bakrie (Bakrie Group) berpartisipasi di dalamnya. Ini juga merupakan rangkaian acara perayaan ulang tahun Group Bakrie ke-70, serta bentuk kepedulian Bakrie pada olahraga nasional, khususnya karate.</p>
<p>Saya sendiri tidak asing dengan olahraga karate ini. Meski selama ini saya banyak dikenal dekat dengan olahraga tenis, namun sebenarnya sejak muda saya sangat lekat dengan karate. Sayakebetulan seorang karateka pemegang ban hitam. Saya mendalami olahraga ini sejak masih “kohai” alias siswa, sampai menjadi “sempai” atau pelatih.</p>
<p>Saya masih ingat, saat masih mahasiswa dulu, saya selalu membagi waktu dengan ketat setiap harinya. Untuk belajar, ibadah, jalan-jalan, dan tak lupa olahraga karate. Dulu saya latihan karate setiap pagi. Setiap subuh saya bangun lalu sholat. Nah setelah sholat, dengan udara segar di pagi hari inilah saya latihan karate.</p>
<p>Sambil kuliah, saya terus aktif menekuni dan mengembangkan olahraga karate. Khususnya di kalangan mahasiswa, saya  merupakan salah satu perintis olahraga karate di kampus ITB. Saya bersyukur dan gembira, unit karate ITB sampai saat ini masih tetap berdiri dan masih aktif melakukan kegiatan.</p>
<p>Karena itu, saya setuju dan mendukung penuh kompetisi karate yang digelar khusus untuk mahasiswa ini. Sebab dengan kompetisi mereka akan lebih bersemangat menekuni olahraga ini. Dengan kompetisi yang akan dilaksanakan secara berkesinambungan, juga akan bisa menjadi sarana bagi para mahasiswa untuk mengukur prestasi.</p>
<p>Dari sini juga bisa dijaring bibit atlit-atlit nasional. Mahasiswa merupakan salah satu sumber bibit atlit yang layak diperhitungkan. Banyak sekali mahasiswa yang kemudian tumbuh jadi atlit berbakat dan berprestasi baik di tingkat nasional maupun dunia.</p>
<p>Di ajang SEA Games, karate juga menyumbang medali emas untuk Indonesia. Tercatat ada 10 medali emas disumbangkan cabang ini. Jika pembinaan olahraga ini terus dilakukan, maka bukan mustahil sumbangannya akan lebih banyak lagi. Pembinaan generasi muda seperti mahasiswa dan diadakan banyak turnamen itu salah satu kuncinya. Karena itu “Bakrie Cup” hadir.</p>
<p>Saya merasakan sendiri bahwa olahraga beladiri karate ini memiliki manfaat yang sangat besar, terutama untuk anak muda seperti para mahasiswa. Karate tidak saja menyehatkan badan, tapi juga membangun jiwa kompetitif dan sportifitas. Lebih dari itu, dia juga dapat menjadi sarana pembangunan karakter seseorang.</p>
<p>Dalam karate ada banyak filosofi yang bertujuan membangun karakter. Misalnya saja ada “rei” yang mengajarkan sikap saling menghormati, ada “muga” atau berkonsentrasi penuh, dan “shubaku” atau senantiasa berhati lembut. Selain itu, ada juga “tai no sen” yang mengajarkan karateka untuk selalu memiliki inisiatif, “keiko” yang mengajarkan untuk selalu rajin, dan sebagainya. Semua ini harus dilakukan untuk mencapai “do” atau jalan yang sebenarnya.</p>
<p>Dalam pencapaian “do” inilah, karakter karateka akan terbentuk dengan menjalankan berbagai ajaran tersebut. Seperti beladiri yang lainnya, dalam karate latihan jasmani dan rohani berjalan seimbang. Pembangunan karakter ini adalah hal terpenting dalam karate. Oleh karena itu tema “Karate Membangun Karakter” di kejuaraan ini sangat tepat.</p>
<p>Itu semua cocok dengan kondisi sekarang, di mana banyak kita saksikan kabar mahasiswa terlibat perkelahian dan tawuran di kampus. Coba mereka diarahkan ke olahraga beladiri ini, agresivitas mereka akan bisa diredam dan disalurkan ke hal yang positif, karakter mereka terbentuk, dan bahkan bisa berprestasi.</p>
<p>Karena sebenarnya karate ini dapat membentuk manusia Indonesia yang rendah hati, tetapi punya isi. Tangguh, teguh, dan konsisten dengan sikapnya. Karate juga membentuk jiwa kompetitif untuk meraih kemenangan. Namun di sisi lain juga menanamkan sikap sportif yang bisa menerima kekalahan. Saya akui, banyak karakter saya dalam kehidupan dan memimpin organisasi terbentuk oleh karate, terutama soal disiplin, tegas, berani, konsisten bersikap, kompetitif, dan lain sebagainya.</p>
<p>Para mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Merekalah yang kelak akan menjadi para pemimpin bangsa ini. Karena itu, karakter mereka harus dibentuk dengan baik. Karate akan membentuk karakter yang berani, pekerja keras, disiplin, kompetitif, sportif, namun tetap rendah hati. Ini adalah karakter yang sangat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin.</p>
<p>Dalam kompetisi karate, menang atau kalah bukanlah tujuan utamanya, tapi pembangunan good character penting di sini. Karena itu, saya sangat berharap ajang Kejuaraan Karate Bakrie Cup 2012 yang bertema “Karate Membangun Karakter”, bisa mewujudkan hal itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2012/membangun-karakter-dengan-karate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Timnas Membuktikan Negeri Ini Punya Nasionalisme</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/timnas-membuktikan-negeri-ini-punya-nasionalisme/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/timnas-membuktikan-negeri-ini-punya-nasionalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 09:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya dan Kesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Tim Nasional Sepak Bola Indonesia berhasil memastikan langkah ke babak final Piala AFF 2010 setelah mengalahkan Filipina, Minggu, 19 Desember 2010 malam lalu. Saya gembira karena berkesempatan menyaksikan langsung pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, itu.
Tapi besok paginya saya lebih gembira lagi. Sebab, Timnas kita yang membanggakan ini berkunjung ke rumah ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tim Nasional Sepak Bola Indonesia berhasil memastikan langkah ke babak final Piala AFF 2010 setelah mengalahkan Filipina, Minggu, 19 Desember 2010 malam lalu. Saya gembira karena berkesempatan menyaksikan langsung pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, itu.</p>
<p>Tapi besok paginya saya lebih gembira lagi. Sebab, Timnas kita yang membanggakan ini berkunjung ke rumah saya untuk beramah-tamah. Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, sebenarnya merencanakan acara ini setelah final, namun karena saya akan pergi keluar negeri, maka acara dimajukan.</p>
<p>Senin pagi, 20 Desember kemarin, saya sekeluarga sudah siap-siap menyambut kedatangan para pemain Timnas di rumah saya di Jakarta. Sekitar pukul 10.00 WIB, anak-anak timnas ini datang bersama pengurus PSSI. Ikut juga dalam rombongan calon pemain Timnas yang sedang dalam proses naturalisasi,Kim Jeffrey Kurniawan.</p>
<p>Suasana sangat hangat dan ramai saat rombongan tiba di rumah. Ternyata, tidak hanya keluarga kami saja yang menyambut, tapi juga banyak para wartawan dan staf kami. Sampai-sampai pemain Timnas, terutama Irfan Bachdim, Okto, dan Gonzales kerepotan melayani permintaan foto dan tanda tangan. Saya juga berkenalan dan berbincang dengan satu persatu pemain dan official Timnas yang hadir.</p>
<p>Saat beramah tamah, Pak Nurdin memberi sambutan bahwa pengurus PSSI bersama anak-anak Timnas ingin bersilaturahmi dan berterima kasih karena dinilai selama ini keluarga Bakrie selalu membantu PSSI. Diumumkan oleh Nurdin, bantuan hibah tanah keluarga kami seluas 25 hektar di Jonggol yang nantinya akan dikembangkan sebagai pusat pelatihan permanen bagi Timnas.</p>
<p>Terus terang, saya sendiri sebetulnya enggan memberitahukan kepada masyarakat bagaimana peran keluarga kami dalam membantu Timnas dan PSSI. Namun pengurus PSSI bersikeras hal ini harus dilakukan. Maka, ya akhirnya terlaksanalah acara itu.</p>
<p>Sebenarnya di keluarga kami yang paling aktif berkecimpung dalam persepakbolaan nasional dan membantu PSSI adalah adik saya, Nirwan Bakrie, yang juga Wakil Ketua Umum PSSI. Dia yang selama belasan tahun aktif berkiprah di PSSI, termasuk ketika bisnis Bakrie sedang mengalami masa-masa sulit. Nirwan selalu berprinsip pengurus tidak boleh berhenti dari PSSI, meski situasi sedang sulit. Itu adalah tanggungjawab yang harus diteruskan.</p>
<p>Ibarat sebuah perahu, sedang oleng di tengah badai, tidak boleh ditinggalkan dan harus dibimbing sampai ke dermaga. Nirwan selalu menegaskan bahwa keluarga Bakrie harus terus membantu, meski bisnis kami sedang kesulitan. Yang penting, program PSSI jalan, pembinaan jalan, tidak boleh putus, karena ia yakin suatu saat akan ada hasilnya.</p>
<p>Sekarang, berkat perjuangan semua pihak, kita mulai melihat hasilnya. Prestasi anak-anak Timnas mulai menunjukkan hasil yang kita harapkan. Karena itu, saya dan keluarga ingin berterima kasih kepada perjuangan mereka. Terlebih, saya kagum melihat mereka berhasil membuktikan bahwa nasionalisme jelas masih ada di negeri ini.</p>
<p>Buktinya saat Timnas bertanding, semua rakyat Indonesia seperti tergugah nasionalismenya. Semua sama-sama mendukung dan mendoakan supaya tim Merah Putih menang. Itu bukan cuma dilakukan oleh puluhan ribu orang yang memadati stadion, tapi juga oleh puluhan juta rakyat Indonesia. Timnas juga telah membangkitkan kebanggaan kita sebagai Bangsa Indonesia-kebanggaan yang kadang- kadang hilang. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Timnas, membuat kebanggaan itu bangkit dan menjadi semakin tinggi.</p>
<p>Kepada anak-anak Timnas saya mengatakan bahwa saya iri terhadap mereka, iri dengan perjuangan dan kerja keras mereka. Saya iri kepada Okto Maniani, yang bisa berlari begitu cepat dan memberikan umpan-umpan yang akurat. Juga pada Gonzales yang tampil luar biasa. Dia pemain yang sangat cinta Indonesia. Dia istimewa. Meski usianya 34 tahun, tapi seperti baru berusia 20-an. Pemain-pemain lainnya juga sangat luar biasa. Juga, Nasuha, yang tidak kenal lelah membela Merah Putih.</p>
<p>Saya berpesan kepada mereka supaya menjaga kekompakan. Semua pemain harus rukun seperti saudara. Jika ada pertentangan pribadi, hendaknya diselesaikan dengan baik-baik. Jangan sampai persaudaraan di Timnas ini pecah. Tidak boleh ada iri satu sama lain.</p>
<p>Khusus kepada Kim Jeffrey Kurniawan yang ikut hadir, saya katakan bahwa proses naturalisasinya akan segera terealisir. Saya telah bicara langsung kepada Presiden SBY, setelah pertandingan Timnas melawan Laos, agar proses naturalisasi bisa cepat dilaksanakan. Orang-orang keturunan Indonesia yang berbakat di luar negeri kita pulangkan, kalau perlu dinaturalisasi. Ini cara yang sah dan dibenarkan FIFA.</p>
<p>Bagi anak-anak Timnas, yang terpenting adalah disiplin dan perjuangan yang keras agar menjadi juara. Mereka harus berjuang agar bisa menjadi juara Piala AFF. Saya setuju dengan Bambang Pamungkas yang mengingatkan di acara tadi pada teman-temannya bahwa perjuangan kita masih jauh. Dia mengingatkan bahwa kita baru finalis, belum juara. Masih ada pertandingan final. Hasil yang ada memang harus disyukuri, tapi partai final yang lebih berat juga harus diwaspadai.</p>
<p>Saya berharap Piala AFF dimenangkan, dan kemudian menyusul Asian Games, dan kita mulai bicara di pentas dunia. Saya juga senang berkesempatan berbincang-bincang dengan pelatih Alfred Riedl. Kepada saya, dia berterima kasih atas bantuan kami selama ini. Saya katakan, saya juga lebih berterima kasih atas kerjakerasnya mendidik Timnas kita sehingga jadi membanggakan seperti sekarang. Dia mengatakan dua langkah lagi tim akan menyelesaikan laga Piala AFF dan dia yakin akan bisa menang.</p>
<p>Pelatih seperti Riedl ini penting. Selama ini kita hanya suka membicarakan pemain, tapi lupa ada faktor pelatih di belakang mereka. Kepada PSSI saya juga mengatakan jangan korbankan pelatih. Saya senang bahwa PSSI mengatakan tidak mencampuri kebijakan pelatih di lapangan. Biarkan pelatih berkreasi membimbing anak-anak Timnas.</p>
<p>Kepada Pengurus PSSI saya berpesan agar mengembangkan program dengan baik. Terhadap berbagai kritik dari masyarakat, PSSI harus tahan dan sabar, karena sebagian besar kritik itu saya yakin adalah untuk membangun agar PSSI lebih besar dan maju lagi. Mari kita semua ikut membantu agar sepak bola kita maju. Sebab, seperti diperlihatkan Timnas kita, sepak bola memiliki peran yang teramat penting: mempersatukan Bangsa Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/timnas-membuktikan-negeri-ini-punya-nasionalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Icuk – Candra Wijaya dan Prestasi Bulutangkis Kita</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/icuk-%e2%80%93-candra-wijaya-dan-prestasi-bulutangkis-kita/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/icuk-%e2%80%93-candra-wijaya-dan-prestasi-bulutangkis-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 10:09:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Lainnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=802</guid>
		<description><![CDATA[Akhir pekan lalu, Sabtu 24 April 2010,  saya menghadiri acara Candra Wijaya Badminton Championship 2010 di Gedung Bulutangkis Gelora Bung Karno, Jakarta. Turnamen ini digelar oleh Candra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC), yang dipimpin Candra Wijaya, pebulutangkis peraih medali emas Olimpiade Sydney tahun 2000.
Saya berkesempatan menyaksikan pertandingan final turnamen tersebut, di mana pasangan Luluk ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir pekan lalu, Sabtu 24 April 2010,  saya menghadiri acara Candra Wijaya Badminton Championship 2010 di Gedung Bulutangkis Gelora Bung Karno, Jakarta. Turnamen ini digelar oleh Candra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC), yang dipimpin Candra Wijaya, pebulutangkis peraih medali emas Olimpiade Sydney tahun 2000.</p>
<p>Saya berkesempatan menyaksikan pertandingan final turnamen tersebut, di mana pasangan Luluk Hadiyanto (Indonesia) dan Ronald Susilo (Singapura) berhasil meraih gelar juara. Pasangan yang baru pertama berpasangan ini menjadi keluar sebagai pemenang setelah  mengalahkan pasangan Andrei Adistia/Rendra Wijaya dengan skor 21-18 dan 21-17. Kemudian saya didaulat memberikan hadiah pada para pemenang didampingi Candra dan Icuk Sugiarto. Ternyata saya tidak hanya memberikan piala, tapi juga menerima piala.</p>
<p>Candra memberikan penghargaan saya sebagai Pembina Terbaik Olah Raga Bulutangkis versi Chandra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC). Kepada saya diberikan sebuah piala emas yang didesain sendiri oleh Candra.  Selain saya, pebulutangkis ganda putra legendaris Kartono/ Heriyanto yang pernah meraih juara pada All England 1981 dan 1884 juga diberikan penghargaan.</p>
<p>Terus terang, saya terkejut dan tidak pernah menduga diberikan penghargaan oleh Candra. Apa yang mendasari dipilihnya saya menerima penghargaan itu? Lalu saya menduga, mungkin ini karena klub bulutangkis saya, Pelita Jaya dulu banyak menghasilkan atlet-atlet bulutangkis juara dunia, sehingga pembinaan saya di sana dinilai berhasil. Ternyata dugaan saya benar, dan memang itu alasannya.</p>
<p>Klub bulutangkis Pelita Jaya selama ini memang melahirkan banyak pemain nasional yang menjadi juara di kancah internasional. Candra  adalah salah satu di antaranya. Selain Candra, banyak lagi pemain lainnya yang juga berasal dari Pelita Jaya, misalnya Icuk Sugiarto, Rosiana Tendean, dan sebagainya.</p>
<p>Ternyata penilaian pada saya tidak hanya atas pembinaan di Pelita Jaya. Candra juga menilai pembinaan saya di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Pada 1985  1993 saya menjadi Ketua Bidang Dana PBSI. Saat itu PBSI dipimpin oleh Pak Try Sutrisno. Banyak yang menilai, saat itu adalah masa emas PBSI dan masa emas bulutangkis Indonesia.</p>
<p>Dalam periode itu, PBSI berhasil membuat bulutangkis Indonesia yang sempat kering prestasi kembali mengukir sejarah. Susi Susanti menjadi wanita Indonesia pertama, menjuarai All England (1990, 1991, 1993). Pada tahun 1991 Ardy Wiranata juga merebut gelar itu, setelah absen 10 tahun. Puncaknya, saat pasangan Alan Budikusuma dan Susi Susanti meraih emas di Olimpiade Barcelona.</p>
<p>Pembinaan memang penting dan kunci dalam melahirkan atlet yang berprestasi. Maka jika saat ini prestasi bulutangkis dinilai menurun, tentu solusinya adalah membenahi dan meningkatkan pembinaannya. Sebab hanya dengan pembenahan dan peningkatan pembinaan, kita bisa kembali melahirkan atlet yang baik dan berjaya di kancah dunia.</p>
<p>Saya sering mendapat pertanyaan bagaimana pembinaan bulutangkis yang baik. Saya mengatakan caranya sederhana saja. Adakan turnamen-turnamen seperti yang dibuat Candra ini. Buat sebanyak mungkin pertandingan. Ini penting untuk mengasah bakat dan mendidik mental juara. Dari sana, akan terlihat pemain-pemain bulutangkis yang punya potensi.</p>
<p>Jangan lupa membuat pertandingan untuk junior. Ini penting untuk regenerasi. Dengan demikian 5 sampai 10 tahun lagi, sudah ada lapis-lapis baru pemain nasional kita.</p>
<p>Kedua, yang sangat penting adalah penegakan disiplin. Dahulu dalam pembinaan bulutangkis penegakan disiplinnya luar biasa ketat. Disiplin di sini adalah disiplin latihan dan disiplin waktu. Atlet yang baik harus memiliki disiplin, jika tidak jangan harap dia bisa menjadi juara.</p>
<p>Jika kita ingin bulu tangkis saat ini kembali seperti masa emas dulu, maka dalam pembinaannya penegakan disiplin harus dilakukan. Bahkan harusnya lebih ditingkatkan lagi. Dalam disiplin ini misalnya pemain harus mau ikut pelatih. Seorang pemain, meskipun dia juara dunia, tidak boleh melawan atau tidak patuh pada pelatih. Hal-hal itu yang perlu dibenahi agar kita bisa kembali berprestasi.</p>
<p>Pembinaan dan pembibitan atlit bulutangkis tentu juga memerlukan sebuah wadah atau club. Club saya Pelita Jaya yang sekarang namanya Pelita Bakrie juga masih jalan terus dan melahirkan bibit-bibit pemain bulutangkis masa depan. Saat ini Pelita di pegang oleh Icuk Sugiarto.</p>
<p>Sampai saat ini Pelita terus melahirkan juara dan menunjukkan keberhasilan dalam regenerasi. Tengok saja pemain cilik dari Pelita Bakrie, Melisa Andesti yang keluar sebagai juara pada nomor tunggal anak-anak putri kejuaraan bulu tangkis tingkat nasional usia dini “Tetra Pak Open” 2009. Putra Icuk, Tommy Sugiarto yang juga di Pelita juga menunjukkan hal yang sama. Bayangkan saja, tiga gelar diraihnya sekaligus walau baru berumur 14 tahun, meskipun even yang diikutinya hanya di Kejuaraan Cabang PBSI Jakarta Barat. Juga banyak atlet-atlet lain dari Pelita yang berprestasi di kancah nasional maupun internasional.</p>
<p>Kita sebenarnya memiliki banyak bibit atlet, yang kita butuhkan adalah wadah untuk memupuknya. Memang sudah banyak klub bulutangkis yang disokong perusahaan besar. Tapi alangkah baiknya lagi jika makin banyak perusahaan-perusahaan yang terlibat dan peduli dengan bulutangkis kita. Maka saya serukan pada perusahaan-perusahaan besar, saat ini saatnya kita terlibat dalam membesarkan bulutangkis kita. Semoga penghargaan yang diberikan pada saya juga menjadi inspirasi pengusaha lainnya untuk melakukan hal yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/icuk-%e2%80%93-candra-wijaya-dan-prestasi-bulutangkis-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->