<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aburizal Bakrie&#039;s Blog &#187; Pidato</title>
	<atom:link href="http://aburizalbakrie.id/category/pidato/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aburizalbakrie.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Mar 2019 06:13:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Persahabatan Rumpun Melayu: Peran Universitas di Tengah Perubahan Dunia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2017/persahabatan-rumpun-melayu-peran-universitas-di-tengah-perubahan-dunia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2017/persahabatan-rumpun-melayu-peran-universitas-di-tengah-perubahan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2017 10:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan dalam Kuliah Umum di Universiti Utara Malaysia, Kedah, Malaysia, 3 Oktober 2017
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua
Bapak dan Ibu yang saya hormati
Hadirin yang saya muliakan
Pertama-tama saya ingin mengajak kita semua untuk menyampaikan puji dan syukur pada Allah SWT sebab hanya atas rahmatnya kita dapat bertemu dalam acara yang penting ini.
Selanjutnya, pada kesempatan ini ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Disampaikan dalam Kuliah Umum di Universiti Utara Malaysia, Kedah, Malaysia, 3 Oktober 2017</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-857" title="WhatsApp Image 2017-10-03 at 14.09.56" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2017/10/WhatsApp-Image-2017-10-03-at-14.09.56.jpeg" alt="WhatsApp Image 2017-10-03 at 14.09.56" width="356" height="218" />Assalamualaikum Wr. Wb.</p>
<p>Salam sejahtera buat kita semua</p>
<p>Bapak dan Ibu yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Pertama-tama saya ingin mengajak kita semua untuk menyampaikan puji dan syukur pada Allah SWT sebab hanya atas rahmatnya kita dapat bertemu dalam acara yang penting ini.</p>
<p>Selanjutnya, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan serta terima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mengundang serta memberi saya kesempatan untuk menyampaikan satu atau dua pesan di hadapan hadirin yang berbahagia pada hari ini. Saya selalu senang apabila berkunjung ke Malaysia, bertemu dengan saudara-saudara serumpun, terutama di tengah kaum cerdik-pandai yang memiliki banyak ilmu dan kearifan.<span id="more-856"></span></p>
<p>Secara khusus, kepada Universiti Utara Malaysia, saya menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya. Perguruan ini tumbuh cepat dan semakin berwibawa sebagai lembaga pendidikan tinggi. Ia adalah pertanda tumbuhnya kepercayaan diri Malaysia untuk menjadi negara terdepan di Asia dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Sebagai sahabat, saya menyampaikan selamat atas semua pencapaian ini.</p>
<p>Insya Allah, kerjasama antara Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie akan berlanjut dan di tahun-tahun mendatang, menjadi salah satu pilar bagi kerjasama rumpun Melayu dalam merebut kemajuan serta menghasilkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><em>Set your course by the stars, not by the lights of every passing ships</em>, tetapkan tujuanmu pada bintang-bintang di langit, bukan pada kerlap-kerlip lampu kapal yang datang dan pergi. Ungkapan dari Jenderal Omar Bradley ini sangat baik untuk kita jadikan fondasi bagi kerja sama dua universitas yang strategis ini.</p>
<p>Kita harus bertekad bahwa Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie akan mencapai tujuan yang terjauh, yaitu <em>transformation of humanity</em>, perubahan peradaban umat manusia untuk menjadi lebih baik lagi di abad ke-21.</p>
<p>Kita harus yakin, setelah Amerika dan Eropa melakukan revolusi ilmu pengetahuan sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, kali ini bangsa-bangsa di Asia, termasuk Malaysia dan Indonesia, akan berdiri di garis terdepan dalam mendorong tapal batas kemajuan ilmu dalam meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.</p>
<p>Sekarang, China dan Korea Selatan, dan juga Jepang, sudah mulai melangkah cepat dengan memanfaatkan teknologi terbaru baik dalam dunia bisnis, baik dalam dunia <em>e-commerce</em>, transportasi massal, kesehatan dan yang lainnya. Tahun depan, misalnya, di Dubai salah satu perusahaan China akan mulai <em>launching</em> taxi terbang tanpa pengemudi, <em>driverless air taxi</em>, dengan teknologi berbasis drone.</p>
<p>Kalau berhasil, bisa ditebak akan terjadi revolusi dalam transportasi umum, dalam pola manusia bermukim, serta dalam arsitektur pengembangan kota-kota di dunia.</p>
<p>Demikian pula dengan kemajuan teknologi 3D printer. Bayangkan, sekarang teknologi 3D printers telah berhasil membuat 10 rumah dalam 24 jam, dengan harga USD10.000 untuk setiap rumah berukuran 200 m2. Memiliki sebuah rumah dengan harga terjangkau adalah impian setiap keluarga dalam kehidupan mereka. Jika mahasiswa-mahasiswa Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie bisa membuat secara massal semurah dan secepat itu, maka kita akan dikenang masyarakat sebagai pembuat solusi yg sangat berarti bagi kehidupan mereka.</p>
<p>Tentu masih banyak contoh lainnya yang bisa kita jelaskan di sini. Tetapi satu hal sudah jelas, bahwa China dan bangsa-bangsa di Asia sudah mulai menggeliat dan memimpin aplikasi teknologi dan berbagai aspek kehidupan manusia.</p>
<p>Malaysia dan Indonesia sebenarnya juga sudah mulai bangkit. Beberapa inovasi dan perusahaan yang didirikan oleh anak-anak muda, seperti Gojek, Grab, Traveloka, Tokopedia sudah berkembang dan mencuri perhatian kaum investor dunia. Dalam beberapa hal, perkembangan mereka luar biasa. Gojek sekarang sudah mempekerjakan lebih 200 ribu orang, sementara seluruh anak perusahaan Bakrie, misalnya, sebuah usaha yang telah berdiri lebih setengah abad, “hanya” memiliki pegawai sekitar satu pertiga dari itu.</p>
<p>Hal itu membuktikan bahwa, dengan teknologi dan <em>business model</em> yang baru, percepatan dan loncatan jauh ke depan semakin mungkin dilakukan, dengan akibat yang fundamental terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Jadi visi kita tdk boleh hanya jangka pendek dan sekedar untuk kebanggaan saja, tetapi harus visi jangka panjang dengan dampak yang berarti bagi <em>the transformation of</em> <em>human life</em> yang lebih baik. Dengan itulah kita bisa hidup secara berguna bagi masyarakat kita dan dunia.</p>
<p>Dalam bidang ilmu dan teknologi lainnya, telah terjadi berbagai perkembangan pesat. Dalam biologi, dalam <em>neuroscience</em>, <em>artificial intelligence</em>, dalam aeronotika, <em>computer science</em>, dan semacamnya.<em> The frontiers of human mind will forever expand to the delight of us all</em>.</p>
<p>Ilmu pengetahuan akan terus berkembang, dan untuk itulah semua usaha harus kita fokuskan dalam merebut serta mengarahkannya.</p>
<p>Bapak dan Ibu yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Dengan semua itu, sekali lagi saya ingin menekankan bahwa kerjasama antar-universitas seperti yang dilakukan Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie sangat bermanfaat dan bersifat strategis bagi wilayah dan kawasan kita di tahun-tahun mendatang.</p>
<p>Sejak setengah abad terakhir, pertumbuhan dunia berlangsung sangat cepat dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia menjadi sebuah jaringan negara dengan sistem ekonomi yang saling berhubungan dan diberi sebuah istilah populer, yaitu <em>global village</em>.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia di berbagai bangsa menjadi begitu dekat, saling mempengaruhi, dan saling berdagang – semua ini menghasilkan sebuah kecenderungan baru yang oleh Profesor Richard Baldwin disebut sebagai <em>the great convergence</em>.</p>
<p>Kita tentu bangga dan bersyukur bahwa dalam perkembangan baru tersebut, bukan hanya Amerika dan Eropa yang bergerak maju, tetapi juga Asia, termasuk Malaysia dan Indonesia. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebenarnya salah satu pusat terpenting dari dinamisme pertumbuhan dunia dalam beberapa dekade terakhir justru terjadi di Asia.</p>
<p>Dari Jepang, Korea, dan Taiwan, hingga Singapura, Malaysia, Indonesia, serta dua raksasa Asia, yaitu China dan India: walau dalam tingkat yang berbeda-beda, semua negara Asia ini menunjukkan kreatifitas serta dinamisme yang mengagumkan. Seperti dalam formasi angsa terbang, <em>the flying geese formation</em>, negara-negara Asia ini satu per satu mencapai kemajuan dalam berbagai bidang sekaligus, seperti pertumbuhan GDP, peningkatan bisnis, serta peningkatan level pendidikan umum.</p>
<p>Singkatnya, dengan semua pencapaian tersebut, Asia berhasil mengejar ketertinggalan dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini adalah sebuah prestasi tersendiri, suatu pencapaian yang saat ini menjadi contoh bagi banyak negara lainnya.</p>
<p>Tentu saja, dengan semua itu, kita tidak boleh lengah dan merasa puas diri. Walaupun prestasi Asia sudah sangat bagus, jalan yang harus kita tempuh masih cukup panjang. Dan khususnya negara seperti Malaysia dan Indonesia, tingkat kemajuan rakyat kita masih terpaut relatif jauh dengan tingkat kemajuan peradaban di Amerika dan Eropa.</p>
<p>Artinya, justru kita sekarang harus bergerak lebih cepat lagi. Dan karena itulah saya berkata di awal tadi bahwa peran universitas dan kerjasama antar-perguruan tinggi seperti yang telah dilakukan oleh Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie bersifat sangat strategis. Di awal abad ke-21 ini, kalau kita mau bergerak cepat, tidak bisa lain kita harus mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Malaysia, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumber daya alam atau hanya menjadi produsen barang-barang kebutuhan yang sifatnya <em>low-tech</em>. Kita juga tidak bisa lagi hanya bersandar pada konsep <em>comparative advantage</em> yang dibangun berdasarkan jumlah pekerja yang masif, dengan gaji relatif rendah.</p>
<p>Kata kuncinya sekarang adalah inovasi, kreatifitas, kualitas manusia dan pendidikan tinggi. Inilah <em>our new philosopher’s stones</em>, rahasia sukses untuk merebut kemajuan lebih lanjut di abad ke-21.</p>
<p>Jadi pada intinya, di masa kini dan terutama di masa depan, Indonesia, Malaysia serta negara-negara Asia lainnya harus semakin bersandar pada mutu dan kemampuan universitas kita untuk menjadi <em>the centerpiece</em> dari semua itu.</p>
<p>Bapak dan Ibu yang saya muliakan</p>
<p>Hadirin yang saya cintai</p>
<p>Sejauh kita berbicara tentang universitas, kita tidak perlu berkecil hati untuk mengakui fakta bahwa perguruan tinggi modern adalah institusi yang relatif baru dalam masyarakat kita. Di Indonesia, universitas terbesar dan tertua seperti ITB, UI dan UGM belum berusia satu abad, sementara Harvard University di AS sudah berusia hampir 400 tahun, dan universitas di Eropa, seperti Oxford, Sorbonne dan Bologna, sudah berumur sekitar 1.000 tahun.</p>
<p>Jadi, harus diakui bahwa universitas sebagai pusat pencarian pengetahuan modern memang masih relatif baru dalam masyarakat kita. Tapi usia muda bukanlah sebuah hambatan, malah justru sebaliknya.</p>
<p>Dalam hal ini, barangkali kita perlu belajar dari prestasi Stanford University di Palo Alto, Amerika Serikat. Universitas ini juga masih berusia sangat muda, dan pada tahun 1930-an masih dianggap perguruan desa yang terpencil. Namun, dengan langkah-langkah pengembangan yang tepat, dalam waktu singkat Stanford University menjadi pusat ilmu dan teknologi dengan melahirkan mikrocip dan mikroprosesor, sebuah penemuan yang sejajar dengan penemuan mesin uap di abad ke-18.</p>
<p>Dari lingkungan Stanford University telah muncul banyak pemenang Hadiah Nobel, termasuk sejumlah enterpreneur yang melahirkan begitu banyak perusahan teknologi kelas dunia (Hawlett-Packard, Intel, Apple, Google, dan sebagainya) yang membentuk sebuah wilayah yang dikenal sebagai Lembah Silikon, <em>Silicon Valley</em>. Praktis, dalam setengah abad terakhir ini, tidak ada penemuan besar yang mengubah wajah masyarakat modern yang tidak berasal atau setidaknya difasilitasi oleh Stanford University.</p>
<p>Karena itulah, walau masih berusia relatif muda, Stanford University kini dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik dan paling bergengsi di dunia.</p>
<p>Kalau Stanford University bisa, saya yakin bahwa universitas di negeri kita, khususnya Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie juga pasti bisa, sejauh kita mempunyai <em>vision</em> ke arah itu.</p>
<p>Kata kuncinya adalah <em>the willingness to strive for the improvement of human life</em>.</p>
<p>Kalau berhasil, maka saya yakin bahwa dalam satu generasi ke depan Malaysia dan Indonesia akan menjadi negara yang sepenuhnya maju serta menjadi contoh bagi negara-negara sedang berkembang lainnya.</p>
<p>Kita berharap dan yakin bahwa pada saatnya nanti Malaysia dan Indonesia dapat melahirkan inovator-inovator besar seperti Steve Jobs dan Elon Musk yang mengubah dunia dengan otak dan kreatifitas mereka. Kita akan menjadi pelaku aktif yang memberi kontribusi positif pada peradabad dunia abad ke-21.</p>
<p>Alangkah bangganya kita yang hidup sekarang jika semua itu memang terjadi kelak.</p>
<p>Saudara-saudara yang saya muliakan</p>
<p>Hadirin yang saya hormati</p>
<p>Sebelum menutup sambutan ini, saya ingin mengingatkan pada fakta historis serta pada fakta geografis yang menjadi pengikat kita sebagai rumpun Melayu. Malaysia dan Indonesia terletak dalam semanjung dan kepulauan yang menghubungkan dua lautan besar, yaitu Samudera Indonesia (atau Samudera India, Indian Ocean) dan Samudera Pasifik. Kita juga persis diapit oleh Benua Asia dan Australia.</p>
<p>Karena lokasi strategis inilah, kita adalah masyarakat yang terbentuk karena pergaulan dan saling-pengaruh antar-bangsa lebih seribu tahun yang lalu. Pada awalnya adalah pengaruh India dan Cina, kemudian Arab dan bangsa-bangsa Eropa: semua pengaruh dan pergaulan ini kita serap dan dengan kreatif kita jadikan milik kita sendiri.</p>
<p>Dari proses historis itulah lahir Bahasa Melayu dan kebudayaan Melayu. Karena itu, kalau bisa disimpulkan, kekuatan dan tradisi kita bersandar pada keterbukaan dan kemampuan adaptif untuk mengintegrasikan elemen-elemen yang berbeda menjadi suatu keseluruhan yang dinamis, toleran, dan berpandangan ke depan, seperti laut lepas dengan horizon yang luas.</p>
<p>Itulah esensi rumpun Melayu. Kita tidak boleh menjadikan kebudayaan Melayu sebagai kebudayaan primordial dan hanya bergantung pada pemerintah. Kita harus bersandar pada tradisi asli kita yang terbuka, pekerja keras, independen, dinamis dan selalu optimistis melihat masa depan.</p>
<p>Kebudayaan serta warisan sejarah semacam itu sangat cocok untuk menjadi pendorong dalam konteks globalisasi yang terjadi sekarang. Dunia berputar semakin cepat, semakin terbuka, dan karena itulah, kebudayaan serta persaudaraan Melayu sudah semestinya menjadi pelaku terdepan yang merebut kemajuan di masa mendatang.</p>
<p>Akhirnya, sesuai dengan tradisi Melayu, perkenankanlah saya menutup sambutan ini dengan membacakan dua bait pantun:</p>
<p><em>Kalau tidak ada tinta</em></p>
<p><em>Tulis di pasir ungkapkan hati </em></p>
<p><em>Kalau bukan karena cinta</em></p>
<p><em>Tidak berkunjung beta kemari</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Waktu berjalan seperti terburu</em></p>
<p><em>Pesawat berangkat sebentar lagi</em></p>
<p><em>Kalau ada kata yang keliru</em></p>
<p><em>Maafkan beta sepenuh hati</em></p>
<p>Demikianlah sambutan singkat ini. Sekali lagi, saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada panitia penyelenggara serta kepada tuan rumah, yaitu Universiti Utara Malaysia.</p>
<p>Wabillahi taufiq walhidayah</p>
<p>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2017/persahabatan-rumpun-melayu-peran-universitas-di-tengah-perubahan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>485</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majulah Negeriku</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2017/majulah-negeriku/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2017/majulah-negeriku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Aug 2017 07:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=852</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie ke-15, 22 Agustus 2017, di Jakarta.
Hadirin yang saya hormati
Saudara-saudara yang saya muliakan
 
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunianya maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie ke-15, 22 Agustus 2017, di Jakarta.</strong></p>
<p><em><img class="size-medium wp-image-853 alignright" title="Penghargaan Achmad Bakrie XV/2017" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2017/08/MS_635A0158-300x168.jpg" alt="Penghargaan Achmad Bakrie XV/2017" width="300" height="168" />Hadirin yang saya hormati</em></p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya muliakan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Assalamualaikum Wr. Wb.</em></p>
<p><em>Salam sejahtera bagi kita semua</em></p>
<p>Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunianya maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti Malam Penghargaan Achmad Bakrie yang ke-15.</p>
<p>Perkenankanlah saya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh yang pada malam ini menerima penghargaan, yaitu Saiful Mujani, Terawan Agus Putranto, Ebiet G. Ade, dan Nadiem Makarim.<span id="more-852"></span></p>
<p>Tokoh-tokoh ini telah memberikan dedikasi, dharma bakti, serta sumbangan positif dalam bidang ilmu dan pengabdian masing-masing. Mereka membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki putra-putra terbaik, anak-anak bangsa yang bekerja dengan tekun, kreatif dan penuh dedikasi, sehingga sanggup berkarya dengan pencapaian yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Mereka telah memperkaya kebudayaan Indonesia modern, memperdalam pandangan kita tentang sejarah dan masyarakat kita sendiri; mengingatkan kita semua akan pentingnya seni, sastra dan ketajaman perasaan manusia untuk menikmati keindahan serta mengagumi kebesaran Tuhan yang mahaesa; sambil tak lupa pula membuka horizon pengetahuan baru dalam berbagai kajian ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi, serta dalam pengabdian pada dunia kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Karena itulah, kepada tokoh-tokoh dan lembaga yang menerima penghargaan pada malam ini sudah selayaknya seluruh bangsa Indonesia menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya.</p>
<p>Selain itu, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara acara ini, yaitu Yayasan Bakrie untuk Negeri, TVONE dan ANTV, segenap Dewan Juri, Universitas Bakrie dan Freedom Institute. Tradisi penghargaan ini telah dimulai sejak tahun 2003. Tanpa terasa pada tahun 2017 ini kita sudah memasuki tahun ke-15, tanpa terputus sekalipun, dengan daftar penerima penghargaan yang sudah cukup panjang, lebih dari 60 tokoh dan lembaga dalam berbagai bidang ilmu dan pengabdian.</p>
<p>Insya Allah, tradisi pemberiaan penghargaan ini memang membawa manfaat, betapapun kecilnya, bagi kemajuan bangsa dan negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Hadirin yang saya muliakan</em></p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya hormati</em></p>
<p>Sejak awal, sengaja saya berpesan kepada panitia penyelenggara agar acara Malam Penghargaan Achmad Bakrie selalu diadakan di seputar perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Inilah bentuk keikutsertaan kita dalam memperkaya substansi perayaan Hari Proklamasi Republik Indonesia.</p>
<p>Kemerdekaan adalah sebuah rahmat, atau seperti kata Bung Karno: Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas untuk menuju pada suatu cita-cita mulia, yaitu sebuah bangsa yang maju dan modern, sebuah bangsa yang kuat jiwa dan raganya, serta sebuah bangsa yang adil dan makmur.</p>
<p>Lewat pemberian penghargaan ini, kita ingin menitipkan sebuah pesan agar bangsa Indonesia terus membuka kemungkinan baru, terus mengembangkan cakrawala dalam berbagai bidang ilmu, agar cita-cita mulia yang lahir lewat Proklamasi Kemerdekaan memang dapat tercapai.</p>
<p>Seminggu yang lalu, kita turut merasa bangga pada inisiatif baru Presiden Joko Widodo dalam berbagai acara menyambut kemerdekaan RI yang ke-72. Dengan pakaian adat Bugis serta Aceh, beliau menegaskan penghargaan kita pada tradisi daerah di Nusantara yang kaya dan penuh warna. Selain itu, lewat <em>display of color and the beauty of our common tradition</em>, beliau sekali lagi menegaskan komitmen bangsa kita pada sebuah prinsip mulia yang akan terus kita junjung tinggi sampai kapan pun, yaitu prinsip Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun satu jua.</p>
<p>Semoga di masa depan komitmen mulia seperti itu mampu untuk terus kita pertahankan. Tentu saja, kita bisa menambahkan dengan sebuah harapan bahwa tradisi yang berakar tersebut hendaknya juga diiringi oleh kemajuan bersama yang bersifat progresif, sebuah kemajuan yang terjadi karena kreatifitas dan pencapaian kita dalam dunia ilmu pengetahuan, teknologi, dan <em>enterpreneurship</em>.</p>
<p>Selain itu, kita juga berharap bahwa manusia Indonesia, terutama di kalangan generasi muda, memiliki perasaan yang tajam dan peka untuk menikmati keindahan yang ada dalam kehidupan ini. Belajar dan menuntut ilmu sangat penting. Tetapi puisi, lagu, sastra dan cinta: semua ini adalah elemen kehidupan yang memperkaya manusia sebagai manusia.</p>
<p>Sambil membaca buku dan menggali teori-teori yang rumit di universitas, alangkah menyenangkannya bagi anak-anak muda kita untuk sesekali mendengarkan lagu Ebiet G. Ade, misalnya <em>Elegi Esok Pagi,</em> dengan potongan syairnya berikut ini:</p>
<p><em>Barangkali di tengah telaga</em></p>
<p><em>Ada tersisa butiran cinta</em></p>
<p><em>Dan semoga kerindua ini</em></p>
<p><em>Bukan jadi mimpi di atas mimpi</em></p>
<p>Tentu saja pilihan untuk mengungkapkan perasaan dan kerinduan yang mendalam bisa mengambil bentuk apa saja. Yang penting, dengan semua itu, rasa dan cinta menjadi bagian dari proses pembentukan manusia yang lebih utuh dan lengkap.</p>
<p>Jika semua itu terjadi, maka Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang juga lengkap, maju dan menyenangkan; sebuah negeri dengan jati diri yang kokoh bersandar pada bumi dan kebudayaan sendiri; sebuah negeri yang merebut kemajuan lewat kreatifitas generasi muda, lewat karya kaum pemikir, teknolog, budayawan, dokter, dan kaum pengusaha yang terus mencipta serta merebut peluang-peluang baru dalam dunia yang semakin kompetitif dan terbuka.</p>
<p>Singkatnya, jika semua itu terjadi, Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah negeri yang membanggakan kita semua, sebuah negeri yang namanya harum di empat penjuru angin.</p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya hormati</em></p>
<p><em>Hadirin yang saya muliakan</em></p>
<p>Baru-baru ini saya membaca sebuah berita ekonomi bahwa Ali Baba, perusahaan <em>e-commerce</em> di China yang dipimpin oleh Jack Ma, telah berhasil mencapai kapitalisasi pasar dengan nilai USD 400 miliar. Ali Baba telah menjadi raksasa baru dan melangkah secara pasti mendekati raksasa lainnya di Amerika Serikat, seperti Amazon, Google dan Apple.</p>
<p>Apple sendiri, perusahaan teknologi terbesar AS, kini mencapai kapitalisasi pasar senilai USD 800 miliar, atau kalau kita rupiahkan jumlahnya adalah sekitar sepuluh ribu triliun rupiah – kira-kira sama dengan seluruh produksi bruto perekonomian nasional Indonesia, atau sekitar lima kali lipat dari nilai APBN pemerintah Republik Indonesia.</p>
<p>Fakta-fakta ini harus menyadarkan kita bahwa <em>the game now is science and technology</em>. Sejak 50 tahun silam sebenarnya hal ini juga sudah terjadi, tetapi di awal abad ke-21 ini kecepatan, karakteristik dan skalanya yang sudah jauh berbeda. Dari sepuluh perusahaan terbesar AS saat ini, tujuh di antaranya adalah<em> tech companies</em>, dan sebagian dari perusahaan ini masih berusia sangat muda untuk ukuran perusahaan raksasa. Artinya: semakin lama peran ilmu dan teknologi akan semakin menjadi <em>the primary driver</em> dari dunia bisnis, pergerakan roda perekonomian, serta kemajuan dan peningkatan kesejahteraan umum – bahkan bisa pula dikatakan bahwa ilmu dan teknologi akan semakin mewarnai peradaban dan segala aspek kehidupan manusia di masa-masa mendatang.</p>
<p>Karena itu, Indonesia tidak boleh tertinggal dalam “permainan” baru ini. Kita bersyukur bahwa sejak beberapa tahun terakhir, anak-anak muda Indonesia juga sudah mulai menggeliat, dengan mendirikan <em>start</em>-<em>ups</em>. Beberapa di antaranya kini sudah menjadi <em>unicorns</em>, seperti Gojek, Tokopedia dan Traveloka. Kita berharap bahwa di masa mendatang, akan muncul lebih banyak lagi anak-anak muda Indonesia yang melahirkan perusahaan-perusahaan teknologi di berbagai bidang, dengan inovasi baru yang mampu menyaingi kreatifitas anak muda AS di Universitas Stanford dan di Lembah Silikon.</p>
<p>Yang penting, Indonesia tidak boleh tertinggal terlalu jauh. Harus kita akui, beberapa negara Asia lainnya, seperti China, India, dan Korea Selatan sudah berjalan di depan kita. Mereka sudah melahirkan beberapa tokoh, perusahaan, serta produk-produk kelas dunia.</p>
<p>Dibandingkan dengan mereka, bisa dikatakan bahwa kita sekarang barangkali masih atau sedang menggeliat. Kalau mengutip puisi penyair Chairil Anwar, mungkin kita bisa berkata bahwa Indonesia saat ini sedang berada “di garis batas antara pernyataan dan impian.” Kita sudah cukup maju, <em>but we are not quite there yet</em>. Kita punya banyak potensi, namun realisasinya belum sepenuhnya terwujud.</p>
<p>Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, baik tokoh maupun perusahaan, lembaga pemerintah, lembaga swasta, serta lembaga pendidikan, terutama universitas besar seperti ITB, UI, UGM, dan lain sebagainya, berhasil menciptakan kawah candradimuka  yang menjadi pusat-pusat baru pendorong kemajuan bangsa kita.</p>
<p>Jika semua itu terjadi,  saya yakin Indonesia akan tumbuh cepat. Bahkan bukan tidak mungkin, dalam merayakan Hari Proklamasi yang ke-100 kelak di tahun 2045, yang tinggal satu generasi lagi, anak-anak muda Indonesia dapat dengan bangga berkata bahwa merekalah yang saat itu berdiri di garis terdepan kemajuan umat manusia.</p>
<p>Saat itu kita juga berharap bahwa Indonesia sudah melepaskan predikat sebagai negeri berpendapatan menengah, tetapi sudah naik kelas menjadi negeri yang maju sepenuhnya.</p>
<p>Tentu, saya dan generasi saya tidak akan lagi merasakan momen kebanggaan tersebut. Kami pasti sudah akan menjadi bagian dari masa lalu. Tapi terus terang, saya pribadi sudah sangat senang jika berpikir dan bermimpi bahwa suatu saat kelak Indonesia akan memasuki era yang membanggakan tersebut, yaitu era 100 tahun proklamasi yang menjadi simbol keberhasilan kita sebagai sebuah negara maju.</p>
<p>Indonesia yang maju dan modern. Indonesia yang gagah, terbuka dan merangkul semua. Indonesia yang penuh percaya diri serta memberi sumbangan positif bagi perkembangan peradaban dunia, baik dalam bidang kesusasteraan, kebudayaan, kedokteran, maupun dalam dunia ilmu dan teknologi.</p>
<p>Insya Allah semua itu akan segera terwujud. Amiien.</p>
<p><em>Hadirin yang saya hormati</em></p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya cintai</em></p>
<p>Akhirnya, sekali lagi kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya acara Malam Penghargaan ini, dari lubuk hati yang tulus saya mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Demikian pula, kepada para penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2017 (Saiful Mujani, Terawan Agus Putranto, Ebiet G. Ade dan Nadiem Makarim), sekali lagi saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang sebesar-besarnya. Semoga karya dan dedikasi saudara-saudara menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam menempuh hidup dan kehidupan ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Wabillahi taufiq walhidayah</em></p>
<p><em>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2017/majulah-negeriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Garis Batas Pernyataan, dan Impian</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2016/indonesia-garis-batas-pernyataan-dan-impian/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2016/indonesia-garis-batas-pernyataan-dan-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2016 20:57:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=845</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Malam Penghargaan Achmad Bakrie ke-14, Jakarta, 20 Agustus 2016.
 
Assalamualikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua
Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunia-NYA maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti Malam Penghargaan Achmad Bakrie yang ke-14.
Perkenankanlah saya mengucapkan ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Malam Penghargaan Achmad Bakrie ke-14, Jakarta, 20 Agustus 2016.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-846" title="ARB achmad bakrie 2016" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2016/10/ARB-achmad-bakrie-2016.jpg" alt="ARB achmad bakrie 2016" width="334" height="193" />Assalamualikum Wr. Wb.</p>
<p>Salam sejahtera buat kita semua</p>
<p>Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunia-NYA maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti Malam Penghargaan Achmad Bakrie yang ke-14.</p>
<p>Perkenankanlah saya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh yang pada malam ini menerima penghargaan, yaitu Mona Lohanda, Afrizal Malna, Danny Hilman Natawijaya, Rino R. Mukti, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.<span id="more-845"></span></p>
<p>Tokoh-tokoh dan lembaga penelitian ini telah memberikan dedikasi, dharma bakti, dan sumbangan positif dalam bidang ilmu dan pengabdian masing-masing. Dunia mereka bukanlah dunia yang gemerlap. Pengabdian dan profesi pada bidang penelitian, pemikiran dan penulisan bukanlah sebuah profesi yang bertaburan materi, kekuasaan dan tepuk tangan. Dunia mereka adalah dunia yang sepi.</p>
<p>Namun demikian, dalam segala keterbatasan yang ada, tokoh-tokoh yang menerima penghargaan Achmad Bakrie pada malam ini telah membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki putra dan putri terbaik, anak-anak bangsa yang bekerja dengan tekun dan penuh dedikasi, sehingga sanggup berkarya dengan pencapaian yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Mereka telah memperkaya kebudayaan Indonesia modern, memperdalam pandangan kita tentang sejarah dan masyarakat kita sendiri, serta membuka horizon pengetahuan baru dalam berbagai kajian ilmu pengetahuan, serta dalam pengabdian dunia kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Karena itulah, kepada tokoh-tokoh dan lembaga yang menerima penghargaan pada malam ini sudah selayaknya seluruh bangsa Indonesia menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya.</p>
<p>Khusus mengenai Sdr. Afrizal Malna yang tidak bersedia menerima penghargaan ini, sikap dan apresiasi kita terhadap beliau tidak berkurang sedikit pun. Sdr. Afrizal telah memberikan sumbangan penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Kita menghargai sumbangan penting ini,  sambil terus mendorong agar kaum seniman dan kaum sastrawan Indonesia mencetak karya-karya yang membuka cakrawala serta mempertajam kepekaan manusia Indonesia atas diri dan lingkungannya.</p>
<p>Selain itu, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara acara ini, yaitu Yayasan Bakrie untuk Negeri, Tvone dan ANTV, segenap Dewan Juri, Universitas Bakrie dan Freedom Institute. Tradisi penghargaan ini telah dimulai sejak tahun 2003. Tanpa terasa pada tahun 2016 ini kita sudah memasuki tahun ke-14, dengan daftar penerima penghargaan yang sudah cukup panjang, lebih dari 50 tokoh dan lembaga dalam berbagai bidang ilmu dan pengabdian.  Insya Allah, tradisi pemberiaan penghargaan yang telah kita rintis ini dapat membawa manfaat, betapapun kecilnya, bagi kemajuan bangsa dan negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejak awal, sengaja saya berpesan bahwa acara Malam Penghargaan Achmad Bakrie selalu diadakan di seputar perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Inilah bentuk keikutsertaan kita dalam memperkaya substansi perayaan Hari Proklamasi Republik Indonesia.</p>
<p>Kemerdekaan adalah sebuah rahmat, atau seperti kata Bung Karno: Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas untuk menuju pada suatu cita-cita mulia, yaitu sebuah bangsa yang maju dan modern, sebuah bangsa yang kuat jiwa dan raganya, serta sebuah bangsa yang adil serta makmur.</p>
<p>Salah satu favorit saya dari puisi yang dikumpulkan oleh ayahanda, Almarhum Achmad Bakrie, berbunyi sebagai berikut:</p>
<p><em>Freedom makes opportunities</em></p>
<p><em>Opportunities make hope</em></p>
<p><em>Hope makes life and future</em></p>
<p>Kemerdekaan membuka kesempatan, kesempatan membentangkan harapan, dan harapan menumbuhkan kehidupan serta mewujudkan masa depan.</p>
<p>Karena itulah, lewat pemberian penghargaan ini, kita ingin menitipkan pesan agar bangsa Indonesia terus membuka kemungkinan baru, terus mengembangkan cakrawala dalam berbagai bidang ilmu, agar cita-cita mulia yang lahir lewat Proklamasi Kemerdekaan memang dapat tercapai.</p>
<p>Dalam mengisi kemerdekaan, perjalanan bangsa Indonesia sudah cukup jauh. Kemajuan telah berhasil dicapai, betapapun masih banyak kekurangan di sana-sini. Kita juga sudah semakin matang dalam berdemokrasi, tanpa mengorbankan kemajemukan yang memang menjadi ciri khas kita.</p>
<p>Dalam perjalanan di tahun-tahun mendatang, kita perlu memberi catatan bahwa kemajuan bangsa akan semakin terkait dengan kemampuan kita dalam mengolah pikiran, dalam mengembangkan kreatifitas untuk menjawab berbagai kebutuhan praktis manusia.</p>
<p>Sejak awal abad ke-21 hampir semua inovasi terbaru yang mempengaruhi cara hidup manusia sekarang ini berasal sebuah daerah kecil di Pantai Barat Amerika Serikat, dengan koridor wilayah tidak lebih 150 km, yang membentang dari San Francisco ke San Jose, melewati gugusan lembah dan perbukitan agak gersang yang lebih dikenal sebagai Silicon Valley, Lembah Silikon.</p>
<p>Revolusi <em>personal computer</em>, dunia digital, internet, smartphone, Facebook, Google dan berbagai inovasi lainnya telah mengubah cara hidup manusia, baik dalam bekerja, berbisnis, hingga dalam kehiduipan sosial dan dalam mencari ilmu pengetahuan. Bahkan Elon Musk, yang kini menjadi ikon terbesar Silicon Valley setelah Steve Jobs, sedang berada dalam tahap akselerasi untuk mengubah sama sekali metode konvensional dalam transportasi, energi, dan eksplorasi angkasa luar.</p>
<p>Dalam soal yang terakhir ini, yaitu eksplorasi angkasa luar, Elon Musk telah melahirkan sebuah revolusi lagi, yang oleh NASA sekalipun gagal dilakukan selama tiga atau empat dekade terakhir, yaitu penciptaan roket yang mampu mendarat kembali setelah melepaskan muatannya ke angkasa luar. Semua ini dilakukan oleh Elon Musk sebagai tahapan awal untuk mewujudkan mimpi masa kecilnya, yaitu untuk mendaratkan dan membuat koloni manusia di Planet Mars.</p>
<p>Luar biasa. Kita tidak tahu apakah kaum pionir seperti Elon Musk pada akhirnya akan berhasil atau tidak dalam mewujudkan mimpinya. Dia seperti Christopher Columbus dan Ferdinand Magellan di abad ke-15. Garis batas cakrawala manusia seperti mereka jauh melampaui imajinasi kita.</p>
<p>Paling jauh kita bisa berharap bahwa kaum sastrawan, kaum penulis dan kaum intelektual lainnya sanggup memahami perubahan dan membuat karya-karya besar dalam dunia fiksi, juga dengan imajinasi yang jauh, tentang kemungkinan-kemungkinan baru tersebut.</p>
<p>Julius Verne di abad ke-19 melakukannya lewat berbagai novel yang masih dibaca sampai hari ini, seperti <em>20.000 Leagues under the Sea</em>, serta <em>Around the World in 80 Days</em>. Demikian pula, di pertengahan abad ke-20, dengan imajinasi yang agak kelam, George Orwell menghasilkan sebuah karya besar, <em>1984</em>, yang menggambarkan nasib yang menanti manusia di ujung perkembangan sejarah.</p>
<p>Singkatnya, Silicon Valley dan kaum pionir seperti Steve Jobs dan Elon Musk telah membuka begitu banyak kemungkinan baru, baik dalam dunia penulisan, penelitian, bisnis, produksi, transportasi, hiburan, dan sebagainya. Dunia berubah begitu cepat, begitu serempak, dan sekarang kita menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya.</p>
<p>Terus terang, saya tidak pernah berhenti mengagumi serta terheran-heran: bagaimana bisa daerah sekecil Silicon Valley menyebabkan perubahan dunia yang begitu besar? Bagaimana bisa, dengan anak-anak muda yang begitu informal, dengan blue jeans, T-shirt, dan sepatu Nike, melahirkan gelombang perubahan dunia susul-menyusul tanpa henti selama dua dekade terakhir?</p>
<p>Sejak Prof. William Shockley menemukan prinsip semikonduktor di Universitas Stanford dan memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1956, daerah kecil yang dijepit oleh Gurun Pasir Nevada dan Lautan Pasifik itu terus menjadi kawah candradimuka yang meramu dan mempertemukan <em>pure curiosity</em>, kreatifitas anak-anak muda, inovasi teknologi, dengan kesempatan bisnis dan akumulasi kapital yang luar biasa, baik dalam kecepatan maupun skalanya.</p>
<p>Barangkali jawaban semua itu terletak pada kombinasi beberapa hal, seperti kebebasan dan sistem universitas yang sangat baik, yang dibingkai oleh peran pemerintah dan peran swasta yang tepat. Selain itu, satu faktor ini juga tidak boleh dilupakan, yaitu peran anak-anak muda yang berjiwa enterpreneur dengan kemampuan keilmuan yang piawai, seperti Robert Noyce dan Gordon Moore (pendiri INTEL), Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sergey Brin, dan pionir-pionir semacamnya.</p>
<p>Apapun sebab dan faktor-faktor yang melahirkan kondisi seperti di Silicon Valley, Indonesia harus segera belajar dan mencoba mengikutinya, tentu dengan konteks dan metode yang sesuai dengan kemampuan kita.</p>
<p>Yang penting, jangan sampai kita tertinggal terlalu jauh. Harus kita akui, beberapa negara Asia lainnya, seperti Cina, India, dan Korea Selatan sudah berjalan di depan kita. Mereka sudah melahirkan beberapa tokoh, perusahaan, serta produk-produk kelas dunia.</p>
<p>Indonesia barangkali masih atau sedang menggeliat. Kalau mengutip puisi penyair Chairil Anwar, mungkin kita bisa berkata bahwa Indonesia saat ini sedang berada “di garis batas (antara) pernyataan dan impian.” Kita sudah cukup maju, <em>but we are not quite there yet</em>. Kita punya banyak potensi, namun realisasinya belum sungguh-sungguh terwujud.</p>
<p>Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, baik tokoh maupun perusahaan, lembaga pemerintah, lembaga swasta, serta lembaga pendidikan, terutama universitas besar seperti ITB, UI, UGM, dan lain sebagainya, berhasil menciptakan kawah candradimuka  yang menjadi pusat-pusat baru pendorong kemajuan bangsa kita.</p>
<p>Dalam mencapai semua itu, kita jangan terlalu membuang waktu. Walau demokrasi adalah sebuah rahmat, kita jangan sering ribut sendiri, mencari-cari kesalahan orang lain. Kita harus melangkah bersama merebut kemajuan di masa depan.</p>
<p>Jika semua itu terjadi,  saya yakin Indonesia akan tumbuh sebagai sebuah negeri yang semakin membanggakan kita. Bahkan bukan tidak mungkin, dalam merayakan Hari Proklamasi yang ke-100 kelak di tahun 2045, yang tinggal satu generasi lagi, anak-anak muda Indonesia dapat dengan bangga berkata bahwa merekalah yang saat itu berdiri di garis terdepan kemajuan umat manusia.</p>
<p>Saat itu kita juga berharap bahwa Indonesia sudah melepaskan predikat sebagai negeri berpendapatan menengah, tetapi sudah naik kelas menjadi negeri yang maju sepenuhnya.</p>
<p>Tentu, saya dan generasi saya tidak akan lagi merasakan momen kebanggaan tersebut. Kami pasti sudah akan menjadi bagian dari masa lalu. Tapi terus terang, berpikir dan bermimpi tentang saat yang membanggakan tersebut saat ini sebenarnya sudah sangat membesarkan hati saya.</p>
<p>Indonesia yang maju. Indonesia yang gagah, terbuka dan merangkul semua, dengan kepercayaan diri yang besar turut serta memberi arti dan sumbangan positif bagi perkembangan peradaban dunia.</p>
<p>Insya Allah semua itu akan segera terwujud. Amiien.</p>
<p>Akhirnya, sekali lagi kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya acara Malam Penghargaan ini, dari lubuk hati yang tulus saya mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Demikian pula, kepada para penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2016 (Mona Lohanda, Afrizal Malna, Danny Hilman Natawijaya, Rino R. Mukti, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman), sekali lagi saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang sebesar-besarnya. Semoga karya dan dedikasi saudara-saudara menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam menempuh hidup dan kehidupan ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Wabillahi taufiq walhidayah</p>
<p>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2016/indonesia-garis-batas-pernyataan-dan-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>136</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengalir Tapi Tak Hanyut</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2016/mengalir-tapi-tak-hanyut/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2016/mengalir-tapi-tak-hanyut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2016 08:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Pembukaan Rapimnas Partai Golkar 2016
 
Pertama-tama saya ingin mengucapkan salam hangat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua kader dari berbagai wilayah yang hadir pada malam yang berbahagia ini. Secara khusus, kepada pimpinan partai dari berbagai daerah dan provinsi yang selama ini menjadi ujung tombak Partai Golkar, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Pada malam ini, ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Pembukaan Rapimnas Partai Golkar 2016</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><img class="size-full wp-image-2296 alignright" title="361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2016/01/361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382.jpg" alt="361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382" width="325" height="187" />Pertama-tama saya ingin mengucapkan salam hangat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua kader dari berbagai wilayah yang hadir pada malam yang berbahagia ini. Secara khusus, kepada pimpinan partai dari berbagai daerah dan provinsi yang selama ini menjadi ujung tombak Partai Golkar, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.</p>
<p>Pada malam ini, kita mengawali sebuah forum penting, yaitu Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar. Forum ini adalah lembaga pemegang mandat tertinggi di bawah Munas dalam memutuskan berbagai hal yang bersifat strategis. Karena itu, marilah kita jadikan Rapimnas ini sebagai sebuah momentum untuk memberi arah pada perjalanan Partai Golkar ke depan.<span id="more-412"></span><br />
<span id="more-2294"> </span></p>
<p>Lewat forum terhormat ini, kita selesaikan segala persoalan yang ada selama setahun terakhir ini. Selesai, tuntas, dan paripurna: itulah yang harus kita putuskan sekarang, dengan menghimbau kepada semua pihak agar kembali bersatu, melangkah bersama dalam semangat persahabatan demi keutuhan partai yang kita cintai ini.</p>
<p>Partai Golkar harus segera mempersiapkan diri menyongsong berbagai peristiwa penting di depan, seperti Pilkada 2017 dan 2018, serta Pileg dan Pilpres 2019. Dalam kondisi apapun, konsolidasi organisasi mutlak untuk dilakukan, baik vertikal maupun horizontal, di kota dan terlebih lagi di kecamatan hingga di desa-desa. Hanya dengan cara inilah Partai Golkar akan mampu menjaga kiprahnya sebagai kekuatan politik yang disegani.</p>
<p>Selain itu, dalam konteks yang lebih besar, lewat Rapimnas ini Partai Golkar harus terus menyuarakan pentingnya reformasi lebih lanjut dari sistem ketatanegaraan Indonesia. Tanpa terasa Republik Indonesia akan berusia seabad. Adalah tekad kita semua bahwa pada saat itu, Indonesia sudah naik kelas menjadi negara maju. Itulah tujuan besar kita.</p>
<p>Dengan melakukan reformasi ketatanegaraan, lewat Perubahan ke-5 dari UUD 45, Partai Golkar ingin menyempurnakan konstitusi agar menjadi instrumen utama pencapaian tujuan besar kita. Banyak hal dapat dilakukan di sini, di antaranya adalah perumusan kembali posisi GBHN sebagai <em>blueprint</em> sistem pembangunan nasional.</p>
<p>Partai Golkar sudah cukup intensif menyuarakan semua itu dalam sebuah dokumen penting tentang Visi Indonesia 2045. Besar harapan saya bahwa Rapimnas ini akan membahasnya kembali dan memunculkan ide-ide yang lebih kongkret tentang langkah-langkah perwujudannya lebih lanjut.</p>
<p>Mengenai konflik internal di partai kita, proses hukum sedang berjalan dan fakta mengatakan bahwa kemenangan Kubu Munas Bali sudah berada di depan mata. Walau demikian, saya berharap bahwa setelah Rapimnas ini, tidak akan lagi ada kubu Bali atau kubu apapun. Yang ada hanyalah kubu Beringin yang daunnya lebat menaungi setiap kader dan kekuatan Partai Golkar.</p>
<p>Proses hukum memang belum tuntas. Kita masih menunggu satu lagi keputusan Mahkamah Agung. Namun demikian, kita semua tahu bahwa supermasi hukum di negeri kita masih menjadi cita-cita luhur yang belum sepenuhnya terwujud dalam realitas. Selain proses hukum, faktor politik dan kekuasaan masih terus berperan dan menjadi faktor yang tak mungkin diabaikan.</p>
<p>Itulah kenyataan yang harus kita terima di republik tercinta ini. Memang agak pahit, tapi itulah realita kehidupan.</p>
<p>Terhadap semua itu, kita tidak boleh merasa kecil hati atau kehilangan pegangan. Jangan kutuk gelapnya malam, tetapi nyalakanlah pelita untuk meneranginya: itulah kearifan hidup yang harus kita terapkan dalam kondisi yang dihadapi sekarang.</p>
<p>Atau barangkali, ungkapan yang menarik dari pahlawan pendidikan kita, yaitu Ki Hadjar Dewantoro, harus dikatakan lagi saat ini: <em>Ngeli tonpo keli</em>. Mengalir tapi tidak hanyut. Kita mengalir, kita terima realitas politik yang ada, kita memahaminya, kita bergerak bersamanya, tetapi kita tetap menjaga roh dan semangat dasar yang menjadi cita-cita perjuangan Partai Golkar.</p>
<p>Dalam konteks itulah Rapimnas harus segera bersikap mengenai penyelenggaraan Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa). Pada hemat saya, dalam situasi normal, barangkali Munaslub tidak diperlukan. Tetapi kondisi partai yang kita cintai ini mungkin membutuhkan metode penyelesaian di luar jalur normal, dan semua itu hanya bisa diwadahi secara sah dan terlembaga lewat mekanisme Munaslub. Kita harus memahami sikon, kita harus pandai membaca situasi, dan seperti yang saya katakan tadi, di Indonesia terkadang kekuasan politik masih berada di atas supermasi hukum. Kita menerima semua ini untuk mempersatukan kembali kekuatan partai.</p>
<p>Karena semua itulah, dari lubuk hati saya yang terdalam, kepada segenap peserta Rapimnas, saya ingin katakan di sini dengan sejelas-jelasnya: ambillah keputusan yang tuntas dan jelas arahnya, dan saya sebagai Ketua Umum akan patuh serta loyal pada keputusan tersebut. Saudara-saudara yang berhak mengambil keputusan, dan saya yang akan menjadi orang terdepan untuk mengawal agar keputusan tersebut terlaksana dan bersifat paripurna.</p>
<p>Mengenai waktu penyelenggaraan Munaslub, saya sarankan untuk diadakan sebelum bulan puasa tahun ini. Pilakda serentak 2017 harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Karena itu, jika Munaslub kita adakah pada April atau paling lambat Mei mendatang, maka DPP Partai Golkar hasil Munaslub akan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan konsolidasi dalam menyiapkan kader-kader kita untuk bertarung dalam Pilkada 2017.</p>
<p>Saya yakin, jika semua berjalan lancar, maka pada pertengahan 2016, Partai Golkar akan memulai sebuah era baru, sebuah langkah baru di mana  kader dan pimpinan partai bergerak seirama, dalam suasana kebersamaan, saling membantu, saling mendukung untuk merebut kembali kejayaan Golkar sebagai kekuatan yang disegani di seluruh penjuru Nusantara.</p>
<p>Masalah mendesak lain yang juga harus dituntaskan lewat Rapimnas ini adalah menyangkut posisi partai kita dalam konstelasi politik sekarang, khususnya posisi yang berhubungan dengan pemerintahan Presiden Jokowi.</p>
<p>Sebagai kekuatan politik, Golkar tidak lahir dalam oposisi. Doktrin partai kita berbeda dengan doktrin partai lainnya. Keahlian kita adalah pada pengelolaan kekuasaan, bukan pada perlawanan terhadap kekuasaan. Partai Golkar adalah partai karya dan kekaryaan, sebuah kekuatan yang positif, konstruktif, terutama dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Kita ahli membangun, jagoan dalam berkarya, tetapi barangkali rikuh dan kehilangan jati diri dalam situasi pertengkaran dan keributan terus menerus.</p>
<p>Karena itulah kita harus segera bersikap, melakukan <em>repositioning</em> demi pengabdian kita pada tujuan yang lebih besar, yaitu kejayaan partai dan kemajuan Republik Indonesia. Sesuai dengan hasil rapat konsultasi nasional di Bali beberapa minggu silam, saya yakin bahwa kader-kader partai kita akan memutuskan lewat Rapimnas ini agar Partai Golkar memilih jalur pengabdian dengan berada <em>bersama</em> kekuatan yang dipimpin oleh Presiden Jokowi.</p>
<p>Dengan begitu, kita berkesempatan untuk berpartisipasi dalam lahirnya kebijakan-kebijakan progresif, membicarakan dan mendiskusikannya sebelum kebijakan tersebut diluncurkan. Itulah kelebihan dan kekuatan Partai Golkar: kerja, karya, dan usaha-usaha yang konstruktif.</p>
<p>Semua itu tidak berarti bahwa kita menjilat ludah sendiri, atau bahwa kita menghamba pada kekuasaan. <em>Power has to have a purpose</em>. Kekuasaan harus memiliki tujuan, dan sejauh tujuan kita adalah pada partisipasi dalam kemajuan Indonesia, maka selebihnya hanyalah masalah taktis yang bersifat kontekstual.</p>
<p>Kepada sahabat-sahabat kita di KMP (Koalisi Merah Putih), harus kita katakan bahwa tali perkawanan kita tidak mengendur sedikit pun. Kita semua tetap berada dalam kubu kebangsaan, kubu Merah Putih, putra dan putri bangsa Indonesia yang ingin mengabdi demi kemajuan Tanah Air. Mimpi dan kerinduan kita sama. Cita-cita kita pun tidak berbeda. Indonesia harus terus melangkah maju lewat tangan dan usaha kita bersama, apapun partai dan pemihakan politik masing-masing.</p>
<p>Karena itu, saya tidak ragu sedikit pun. Tujuan tetap sama. Arah kapal besar kita pun tetap sama. Kita hanya berbelok sedikit. Kita hanya berputar sedikit, karena adanya angin kencang dan jalur perjalanan kita memang harus disesuaikan kembali.</p>
<p>Saya ingin mengingatkan kita kembali akan ungkapan Jendral Omar Bradley, pahlawan Perang Eropa: <em>put your course on the stars, not on the lights of every passing ships</em>. Tetapkan tujuanmu berdasarkan pada bintang-bintang di langit, bukan pada cahaya kapal-kapal kecil yang datang dan pergi. Makna kata-kata inilah yang perlu kita renungkan bersama pada saat-saat  penting seperti ini.</p>
<p>Insya Allah, setelah berbagai keputusan penting ditetapkan, dan setelah <em>repositioning</em> dilakukan, layar Partai Golkar akan terkembang kembali, terbuka lebar dan melaju kencang bersama angin buritan dalam mencapai pelabuhan yang menjadi tujuan kita semua.</p>
<p>Akhirnya, saya ingin mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap panitia penyelenggara Rapimnas ini. Sebagai penutup, seperti tradisi retorika Partai Golkar dalam beberapa tahun terakhir ini, saya ingin membacakan tiga bait pantun:</p>
<p><em>Laju-laju perahu laju</em></p>
<p><em>Ombak meninggi anginnya kencang</em></p>
<p><em>Pandai-pandai Golkar melaju</em></p>
<p><em>Hindari biduk terhempas karang</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Awan menggulung datang dan pergi</em></p>
<p><em>Perahu pinisi melawan badai</em></p>
<p><em>Mari Bung satukan hati</em></p>
<p><em>Rebut kembali kejayaan partai</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dari Solo sampai Jakarta</em></p>
<p><em>Menang di sini menang di sana</em></p>
<p><em>Presiden Jokowi harapan kita</em></p>
<p><em>Junjunglah hukum majulah bangsa</em></p>
<p>Demikianlah sambutan ini. Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran saudara-saudara semua dalam acara pembukaan Rapimnas 2016 ini. Maju terus Partai Golkar. Maju terus Indonesia tercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2016/mengalir-tapi-tak-hanyut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7780</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyatukan Kembali Partai Golkar</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2015/menyatukan-kembali-partai-golkar/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2015/menyatukan-kembali-partai-golkar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2015 09:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Sambutan pada Acara Silaturahmi Nasional Partai Golkar
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Salam Sejahtera bagi kita semua,
Om Swastyasu.
Segala puja dan syukur patut kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas tuntunan dan pemeliharaanNya, kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat wal’afiat untuk mengikuti acara Silaturahmi Nasional Partai Golkar pada malam hari ini.
Alangkah indahnya bila orang-orang bersaudara ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sambutan pada Acara Silaturahmi Nasional Partai Golkar</strong></p>
<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-2281" title="golkar bersatu" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2015/11/golkar-bersatu.jpg" alt="golkar bersatu" width="420" height="280" />Assalamu’alaikum Wr.Wb.</em></p>
<p><em>Salam Sejahtera bagi kita semua,</em></p>
<p><em>Om Swastyasu.</em></p>
<p>Segala puja dan syukur patut kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas tuntunan dan pemeliharaanNya, kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat wal’afiat untuk mengikuti acara Silaturahmi Nasional Partai Golkar pada malam hari ini.<span id="more-416"></span></p>
<p>Alangkah indahnya bila orang-orang bersaudara yang berteduh di bawah rindangnya pohon beringin, datang dari seluruh penjuru tanah air untuk duduk bersama, bersilaturahmi, saling memadu rindu dan bertukar pengalaman, membicarakan masalah bangsa dan masalah internal Partai Golkar yang sama-sama kita cintai. Malam silaturahmi nasional ini terasa semakin bermakna, karena sudah hampir setahun cakrawala perpolitikan nasional, dilanda “kabut asap” yang pekat akibat terbakarnya dahan dan ranting soliditas internal pohon beringin.</p>
<p>Kita patut bersyukur, karena kabut asap itu kini semakin menipis setelah datangnya siraman “hujan kepastian hukum” dan semangat bersilaturahmi. Malam silaturahmi nasional ini, merupakan pengejawantahan semangat kebersamaan sebagai satu partai, semangat untuk mengurai perbedaan menjadi kekuatan baru guna membangun soliditas internal Partai Golkar untuk terus mengaktualisasikan doktrin, ikrar maupun paradigma perjuangan Partai Golkar.</p>
<p><em>Hadirin Malam Silaturahmi yang saya hormati</em>,</p>
<p>Kita tahu bersama, bahwa kehadiran Partai Golkar, bukan untuk dirinya sendiri. Motivasi dasar pendirian Partai Golkar, adalah untuk mengukir karya-karya nyata demi persatuan dan kesatuan bangsa, demi kemajuan bangsa di segenap aras dan aspek, yang semuanya diperuntukkan bagi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, dari Talaud sampai ke Rote.</p>
<p>Oleh karena itu, sebelum membahas berbagai tantangan internal, ijinkan saya mengajak kita semua untuk memberi perhatian sungguh-sungguh terhadap sekurang-kurangnya tiga permasalahan bangsa yang sedang kita hadapi dewasa ini.</p>
<p><em>Pertama</em>, fenomena pelambatan ekonomi nasional beserta seluruh dampak yang ditimbulkannya. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS, menurunnya produksi akibat beratnya beban ekonomi, dan meningkatnya PHK yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat akibat menurunnya pendapatan masyarakat. Selain itu, angka kemiskinan dan pengangguran terus menunjukan tren kenaikan yang mengkawatirkan karena berdampak langsung bagi menurunnya aksesibilitas masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan pokok dan transportasi serta aksesibilitas terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas.</p>
<p>Oleh karena itu, saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk bersama-sama Pemerintah, Pelaku Bisnis, partai-partai politik dan semua kekuatan bangsa lainnya, untuk saling bahu membahu menyumbangkan segala yang terbaik yang kita miliki untuk menghentikan laju pelambatan ekonomi nasional, sekaligus memulihkan dan menggairahkan kembali roda perekonomian bangsa. Saya menghimbau kepada seluruh kader Partai Golkar yang berkarya di bidang legislatif maupun eksekutif, baik di pusat maupun daerah, untuk bekerja sekuat-kuatnya meningkatkan daya serap anggaran pembangunan, terutama belanja modal untuk pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat agar dapat memicu kembali perputaran roda perekonomian masyarakat. Begitu juga kader kader yang bergerak di bidang swasta saya ajak untuk menggagas program-program padat karya untuk menolong masyarakat yang kini semakin berat beban hidupnya karena merasakan dampak langsung dari melambatnya roda perekonimian nasional.</p>
<p><em>Kedua</em>, bencana asap akibat terbakarnya lahan dan hutan. Bencana asap kini telah menjadi bencana bagi banyak daerah, semakin meluas, yang semula hanya di pulau Kalimantan dan Sumatera,  kini telah menjangkau pulau Jawa, Maluku, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara, bahkan hingga ke Negara-negara tetangga. Akibatnya, bencana asap telah menimbulkan dampak serius tidak saja di bidang transportasi, pendidikan dan kesehatan melainkan sudah meminta korban jiwa yang tidak sedikit. Saya mengajak kita semua untuk membantu Pemerintah dalam mengatasi bencana asap ini, agar bila terjadi lagi pada tahun-tahun mendatang, kita akan cepat menanggulanginya. Sekurang-kurangnya ada tiga aspek yang harus dibenahi ke depan, yakni soal tata kelola perinjinan, soal penegakkan hukum dan soal penanggulangan kebakaran. Selain ketiga hal ini, satu tantangan yang sangat mendesak yang membutuhkan perhatian kita semua adalah bagaimana menanggulangi korban-korban bencana asap yang jumlahnya telah mencapai ratusan ribu orang.</p>
<p><em>Ketiga</em>, terganggunya harmoni sosial akibat konflik horizontal. Akhir-akhir ini berkembang fenomena sosial yang sangat memprihatinkan, yakni gejala rapuhnya nilai-nilai harmoni sosial, suburnya anarkhisme dan menguatnya sentiment primordial yang seakan-akan mengingkari jati diri Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang plural dan multicultural. Gejala ini harus segera dihentikan, dengan mencari dan memecahkan akar permasalahannya, karena bila dibiarkan berkembang pasti akan memperlemah, bahkan dapat merapuhkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagaimana seruan Ikrar Partai Golkar yang ketiga : “<em>Kami warga Partai Golkar adalah Pembina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak setia kawan</em>”, saya mengajak seluruh kader partai Golkar untuk mengaktualisasikan ikrar luhur ini untuk membangun solidaritas dan harmoni sosial, mengembangkan cara hidup yang berwatak setia kawan dan toleran, menggantikan politik identitas dengan politik kebangsaan, demi memperkokoh akar-akar persatuan dan kesatuan bangsa di tempatnya masing-masing..</p>
<p><em>Saudara-saudara Hadirin Forum Silaturahmi Nasional Partai Golkar yang saya hormati,</em></p>
<p>Ijinkan saya mengajak saudara-saudara untuk mencermati dinamika internal Partai Golkar satu tahun terakhir. Setelah merayakan ulang tahunnya yang ke 50, tahun lalu, Partai Golkar menghadapi tantangan internal yang cukup serius. Perbedaan pendapat dalam forum-forum internal partai, baik Rapat Harian, Rapat Pimpinan Nasional maupun Musyawarah Nasional telah memicu perpecahan dalam partai, baik dualisme kepengurusan maupun pertentangan antar kader partai.</p>
<p>Saya mencermati, bahwa reformasi nasional 1998, yang merubah secara mendasar format perpolitikan nasional ke arah yang semakin demokratis dan konstitusional, membawa dampak terhadap kultur dan format politik internal partai-partai politik, termasuk Partai Golkar. Salah satu dampak dari perubahan ini, adalah berkembangnya faksionalisme dalam partai, yang dalam kadar tertentu daoat mengganggu soliditas internal dan kinerja politik partai-partai politik.</p>
<p>Khusus di dalam Partai Golkar, faksionalisme internal muncul dan berkembang disaat penyelenggaraan Munaslub 1998 dan Pemilihan Presiden Tahun 1999. Sejak saat itu, faksionalisme internal Partai Golkar terus terjadi dalam dua momentum utama, yakni <em>suksesi kepemimpinan nasional</em> dan <em>suksesi kepemimpinan Partai Golkar</em>. Kita bisa melihat bagaimana pertentangan internal yang terjadi disaat Konvensi Nasional 2004, Putaran I dan II Pilpres 2004, Munas VII, Bali, 2004, Munas VIII, Pekanbaru, 2009, Pilpres 2014 maupun Munas IX 2014. Perpecahan internal ini, menimbulkan dampak serius bagi Partai Golkar, baik karena terjadi pembelahan partai hingga ke struktur partai terendah, maupun gerak eksodus kader-kader Partai Golkar untuk membentuk partai-partai politik baru.</p>
<p>Sekalipun demikian, sebagaimana kita saksikan bersama, bahwa pertentangan internal yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Munas IX 2014, tidak menggoyahkan akar-akar “beringin” yang terus terpatri kuat di hati rakyat. Partai Golkar tetap berdiri teguh mengemban panji-panji perjuangannya demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Bahkan Partai Golkar justru menjadi kekuatan politik nasional yang dihormati kawan dan disegani lawan. Hal ini desababkan karena seluruh kader Partai Golkar memiliki komitmen yang kuat untuk mengelola konflik secara dewasa, menggunakan akal sehat, dan tetap berpegang teguh pada konstitusi partai dan hukum nasional. Kita memilih untuk menggunakan cara-cara beradab dalam mengatasi pertentangan internal, betapapun beratnya tantangan itu.</p>
<p>Itulah sebabnya kita semua sepakat untuk memilih jalur hukum sebagai cara terbaik dalam menyelesaikan pertentangan internal, walaupun jalan ini membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik dari segi waktu, tenaga, moril maupun materil. Jalan hukum, adalah jalan terbaik, terbaik bagi partai, terbaik bagi para kader dan juga terbaik bagi bangsa dan Negara sebagai tempat kita mengabdi. Penyelesaian melalui jalur hukum selain menempatkan hukum sebagai panglima, juga merupakan pembelajaran politik bagi seluruh komponen bangsa untuk terus memperkuat salah satu sendi dasar kebangsaan, yakni Indonesia sebagai Negara hukum dan bukan Negara kekuasaan.</p>
<p>Selain menempuh jalur hukum, terdapat dua ciri kedewasaan mengelola konflik internal Partai Golkar satu tahun terakhir, yakni komitmen  untuk mengedepankan kepentingan Partai Golkar di atas kepentingan kelompok dan kesadaran bersama untuk terus mendorong dan membangun semangat silaturahmi sebagai jalan menuju islah. Semua ini telah kita buktikan dalam proses seleksi calon kepala daerah menghadapi Pilkada serentak 9 Desember 2015 yang akan datang.</p>
<p>Hingga awal Juli 2015, Partai Golkar belum dapat memastikan diri ikut serta dalam Pilkada serentak. Publik politik umumnya berpendapat bahwa menjadi suatu “kemustahilan”, bila Partai Golkar bisa ikut dalam Pilkada 2015. Ada pula kekuatan-kekuatan politik yang berusaha baik secara langsung maupun tidak langsung agar Partai Golkar tidak ikut Pilkada 2015. Namun kita semua tetap yakin dan terus mencari “jalan terbaik”  untuk mewujudkan hak konstitusional Partai Golkar dalam Pilkada 2015.</p>
<p>Bermula dari penandatanganan Kesepakatan Islah, tanggal 30 Mei 2015, yang diprakarsai dan dimediasi oleh Tokoh Senior Partai Golkar, Jusuf Kalla, dibentuklah Tim  Pilkada Pusat DPP Partai Golkar yang dipimpin Saudara M. S. Hidayat dan Yorrys Raweyai, yang lebih dikenal dengan nama Tim 10. Tim ini bekerja keras siang dan malam untuk merumuskan Kriteria dan Tatacara penjaringan, pembahasan dan penetapan calon kepala daerah/wakil kepala daerah dari Partai Golkar. Saya mencatat, bahwa sekalipun dihadapkan pada tuntutan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan, bahkan pada saat Hari Raya Idulfitri, Tim 10 terus bekerja bahkan hingga dini hari.</p>
<p>Kita semua juga patut memberi apresiasi khusus kepada Bapak Jusuf Kalla, yang karena kecintaannya bagi Partai Golkar, telah memediasi pembahasan para pihak untuk merubah PKPU No 9 menjadi PKPU No 12 Tahun 2015, yang menjadi landasan keikutsertaan Partai Golkar dalam Pilkada 2015, dimana kedua pihak yang berkonflik harus <em>mengajukan nama pasangan calon yang sama</em> sebagai prasyarat untuk ikut dalam Pilkada mendatang.</p>
<p>Sekalipun persyaratan ini cukup sulit, apalagi dalam waktu yang demikian singkat, Partai Golkar akhirnya memastikan diri ikut serta dalam Pilkada Serentak 9 Desember 2015. Dari 269 Pilkada, Partai Golkar dapat ikut serta dalam Pilkada di 246 daerah ( 91, 44 %),  dimana di 202 daerah Partai Golkar ikut serta sebagai Partai Pengusung (75,09 %), di 44 daerah, Partai Golkar hanya muncul sebagai partai pendukung (16,35%)  sementara di 23 daerah (8,55 %), Partai Golkar tidak memiliki calon karena berbagai alasan.</p>
<p>Melihat hasil ini, saya ingin menyampaikan apresiasi khusus kepada Tim 10  yang beranggotakan : Yoris Raweyai, Ibnu Munzir, Lorens Siburian, Lamhot Sinaga dan Melky Lakalena dari pihak Agung Laksono serta M. S. Hidayat, Theo L. Sambuaga, H.A.M. Nurdin Halid, Indra Bambang Utoyo dan Ahmadi Nur Supit dari pihak ARB. Tim ini dipimpin oleh politisi senior Partai Golkar, yakni saudara M.S. Hidayat dan Yorrys Raweyai.</p>
<p><em>Saudara saudara hadirin, peserta dan undangan Silaturahmi Nasional partai Golkar yang saya hormati,</em></p>
<p>Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kita semua untuk bersatu padu membangun Partai Golkar yang satu, utuh dan demokratis. Saya berharap, tidak ada lagi pengelompokkan internal di dalam Partai Golkar. Mari kita bekerjasama untuk mengatasi tiga dampak negatif dari perpecahan yang kita alami hampir satu tahun terakhir.</p>
<p><em>Pertama,</em> mari kita bersama melakukan konsolidasi secara menyeluruh untuk menyatukan kepengurusan, membangkitkan semangat kebersamaan dan membangun kembali soliditas internal partai kita yang mengalami perpecahan hingga ke tingkat Pimpinan Kecamatan.</p>
<p><em>Kedua</em>, mari kita bangun kembali citra positif Partai Golkar di kalangan publik politik, yang hampir setahun disuguhi beragam informasi tentang konflik internal Partai Golkar, yang saya duga turut menggerus kepercayaan rakyat terhadap Partai Golkar.</p>
<p><em>Ketiga</em>, mari kita bersama-sama membangun kinerja politik Partai Golkar agar dapat mengoptimalkan pelaksanaan fungsi-fungsi Partai Golkar dalam ikut serta mewujudkan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, baik di pusat maupun di daerah.</p>
<p>Untuk menghadapi pilkada serentak, saya menginstruksikan kepada semua kader Partai Golkar diseluruh Indonesia untuk bekerja sekuat tenaga memenangkan calon-calon kepala daerah dalam Pilkada Serentak 2015, baik yang diusung maupun di dukung Partai Golkar. Dengan langkah-langkah  ini kita dapat meyakini, bahwa Partai Golkar akan tampil sebagai pemenang pada Pileg dan Pilpres 2019</p>
<p>Sekali lagi saya ingin memberi penghargaan kepada Bapak Jusuf Kalla dan Bapak Luhut Panjaitan, yang telah memberikan pengarahan-pengarahan kepada kami, untuk penyelenggaraan acara ini.</p>
<p>Akhirnya, saya juga secara khusus ingin menyampaikan terimakasih kepada 2 (dua) orang penggagas acara Silaturahmi ini: Saudara Nurdin Halid dan Saudara Yorrys Raweyai, yang bekerja keras menyatukan pendapat agar acara Silaturahmi Nasional ini dapat berjalan dengan sukses.</p>
<p>Tidak lupa, saya pun ingin mengucapkan terimakasih secara khusus kepada para pengurus DPD I dan II yang telah menjaga keutuhan Partai Golkar di daerah-daerah, yang tanpa Saudara-Saudara, tidak mungkin kita sampai saat ini : kita duduk bersama dalam Silaturahmi Nasional ini.</p>
<p>Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini.</p>
<p><em>Wa Billahi Taufik Wal Hidayah Wa’salamualaikum Wr.Wb.</em></p>
<p><em>Salam Sejahtera bagi kita semua,</em></p>
<p><em>Om Shanti Shanti Shanti Om.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2015/menyatukan-kembali-partai-golkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Datangnya Zaman Emas Indonesia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2015/menyongsong-datangnya-zaman-emas-indonesia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2015/menyongsong-datangnya-zaman-emas-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2015 09:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie ke-XIII. Jakarta, 21 Agustus 2015
Hadirin yang saya muliakan
Saudara-saudara yang saya hormati
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua
Pertama-tama, saya ingin menghaturkan salam hangat dan terima kasih kepada semua hadirin yang hadir bersama kita pada malam yang berbahagia ini, yaitu Malam Penghargaan Achmad Bakrie 2015.
Saya juga ingin menghaturkan penghargaan dan apresiasi ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie ke-XIII. </strong><strong>Jakarta, 21 Agustus 2015</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-2269" title="image" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2015/08/image.jpg" alt="image" width="371" height="214" />Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Saudara-saudara yang saya hormati</p>
<p>Assalamualaikum Wr. Wb.</p>
<p>Salam sejahtera buat kita semua</p>
<p>Pertama-tama, saya ingin menghaturkan salam hangat dan terima kasih kepada semua hadirin yang hadir bersama kita pada malam yang berbahagia ini, yaitu Malam Penghargaan Achmad Bakrie 2015.</p>
<p>Saya juga ingin menghaturkan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para tokoh yang menerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun ini, yaitu Azyumardi Azra, Ahmad Tohari, Tigor Silaban, Suryadi Ismadji, Kaharuddin Djenod, serta ilmuwan muda Suharyo Sumowidagdo.<span id="more-422"></span><br />
<span id="more-2265"> </span></p>
<p>Keenam tokoh ini telah menunjukkan dedikasi dan pencapaian yang membanggakan pada bidang masing-masing. Indonesia patut berterima kasih kepada mereka semua. Kita berharap bahwa semangat dan pengabdian mereka akan menjadi sumber inspirasi bagi kaum muda kita untuk meraih prestasi yang juga membanggakan di masa-masa mendatang.</p>
<p>Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara, kepada Dewan Juri, serta kepada Yayasan Bakrie Untuk Negeri, tvOne, antv, VIVA.co.id, serta Freedom Institute.</p>
<p>Tanpa terasa, acara penghargaan ini sudah memasuki usia yang sudah cukup panjang, sudah memasuki tahun yang ke-13. Memang, perjalanan kita masih cukup jauh kalau dibandingkan dengan penghargaan Nobel di Swedia yang sudah berusia lebih seabad. Tapi setidaknya kita sudah memulai sebuah langkah penting, dan saya senang sebab dari tahun ke tahun panitia penyelenggara Penghargaan Achmad Bakrie ini terus berusaha memberikan yang terbaik. Di masa-masa mendatang, insya Allah acara ini akan terus meningkat semakin baik lagi.</p>
<p>Saudara-saudara yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Sebagaimana yang telah menjadi tradisi setiap tahun sejak dimulainya pemberian penghargaan ini pada tahun 2003 yang silam, kita ingin ikut serta dalam merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan adalah rahmat. Kemerdekaan adalah sebuah kemungkinan untuk merebut kemajuan dan tumbuh sebagai bangsa yang besar.</p>
<p>Republik Indonesia telah berusia 70 tahun. Waktu tampaknya akan berputar semakin cepat. Kita semua tentu layak untuk bermimpi, bahwa sebelum memasuki usia seabad pada tahun 2045, atau tepatnya tiga dekade lagi, Indonesia sudah naik kelas menjadi negara maju, dengan nama yang harum di empat penjuru angin.</p>
<p>Kalau Indonesia sudah berusia 70 tahun, negeri tetangga kita, yaitu Singapura, baru saja merayakan usianya yang ke-50. Sahabat-sahabat kita di Singapura merayakan kelahiran negeri mereka dengan penuh suka cita dan penuh kebanggaan, sebab dalam usia setengah abad, mereka sudah meraih prestasi gemilang, menjadi salah satu negara terkaya dan paling maju di dunia, menyamai Amerika Serikat, serta melampaui begitu banyak negara-negara Eropa dalam berbagai ukuran kesejahteraan, pendidikan, serta dinamisme ekonomi.</p>
<p>Kalau Singapura bisa, tentu Indonesia juga bisa. Bahkan, barangkali tidak berlebihan jika kita berkata bahwa sebenarnya potensi Indonesia jauh lebih besar.</p>
<p>Yang penting, kita harus mengubah cara berpikir kita: kemajuan sebuah bangsa tidak tergantung pada kandungan emas dan cadangan minyak bangsa tersebut. <em>Oil and gold can be a blessing, but they can also be a curse</em>. Singapura, serta Jepang dan Korea Selatan, tidak memiliki apa-apa selain sumber daya manusia yang handal, manusia-manusia kreatif yang mampu bekerja keras, disiplin, serta terbuka pada dunia, sanggup untuk terus menerus belajar, menimba ilmu, serta beradaptasi dengan perkembangan kehidupan.</p>
<p>Itulah kunci kemajuan. Itu jugalah yang menjadi pesan dari Penghargaan Achmad Bakrie ini. Dengan memberi penghargaan kepada tokoh-tokoh dari beragam disiplin ilmu dan pengabdian, kita ingin memberikan inspirasi kepada generasi muda Indonesia: Jadilah orang yang berilmu. Bentangkanlah pandanganmu di horizon seluas mungkin. Jadilah manusia yang kreatif dan penuh dedikasi di bidang masing-masing.</p>
<p>Saya yakin, dengan semua itu, Indonesia akan menjadi bangsa yang maju. Dan bahkan sebelum perayaan seabad Proklamasi Indonesia, kita akan menyandang predikat yang membanggakan itu, dengan rakyat yang sehat dan semakin sejahtera, dengan universitas yang berkembang menjadi pusat-pusat ilmu yang disegani di dunia, dengan prestasi di berbagai bidang yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Itulah zaman keemasan Indonesia, sebuah zaman yang lebih gemilang dibanding beberapa periode keemasan Nusantara di masa lalu. Insya Allah, jika diberi rahmat oleh Allah SWT dengan usia yang panjang dan badan yang sehat, saya masih akan melihat dan merasakan datangnya zaman baru ini.</p>
<p>Tentu, peran saya akan berada di balik layar, mendoakan sambil mendorong semampu yang saya bisa. Jenderal Mac Arthur pernah berkata, <em>old soldiers never die, they just fade away</em>. Saya dan generasi seangkatan saya akan surut ke belakang, membuka kesempatan, mendorong, serta terus mendoakan agar generasi muda kita kelak sungguh akan berhasil membawa Indonesia memasuki zaman keemasan tersebut.</p>
<p>Saudara-saudara yang saya muliakan</p>
<p>Hadirin yang saya hormati</p>
<p>Pada kesempatan ini, barangkali perlu saya jelaskan secara singkat sosok seorang Achmad Bakrie. Almarhum tumbuh dari sebuah keluarga bersahaja di sebuah kota kecil, yaitu di Kalianda, Lampung. Sejak awal ia sudah mulai belajar berdagang dengan berjualan roti di zaman Jepang. Merantau ke Jakarta pada usia sangat muda, Achmad Bakrie merintis berbagai usaha, praktis mulai dari nol hingga menjadi sebuah grup bisnis yang cukup disegani, dengan jumlah karyawan mencapai puluhan ribu.</p>
<p>Walaupun tidak banyak mengikuti pendidikan formal, beliau adalah seorang otodidak. Kepada kami anak-anaknya, beliau lebih banyak memberi contoh, dan sering menekankan betapa pentingnya ilmu bagi setiap manusia. Selain itu, walaupun hidup dan aliran darahnya adalah sebagai pelaku bisnis, beliau juga adalah sosok yang sangat mencintai dunia kesusastraan, terutama puisi dan peribahasa. Jika berlibur keluar negeri, beliau selalu menyempatkan diri mencari serta mengumpulkan kata dan ungkapan-ungkapan indah tentang kehidupan.</p>
<p>Salah satu ungkapan kegemarannya saya hapal di luar kepala:</p>
<p><em>Freedom makes opportunity</em></p>
<p><em>Opportunity makes hope</em></p>
<p><em>Hope makes life and future</em></p>
<p>Puisi kegemaran Achmad Bakrie juga menyinggung soal kekuasaan, dengan cara yang ringan tapi mengandung kearifan mendalam:</p>
<p><em>Kekuasaan adalah api</em></p>
<p><em>Kalau terlalu jauh kita kedinginan</em></p>
<p><em>Kalau terlalu dekat kita bisa terbaka</em>r</p>
<p>Saya tidak tahu, tapi tampaknya makna ungkapan tentang kekuasaan ini perlu terus diingat, termasuk oleh saya sendiri. Puisi dan ungkapan lainnya lagi tidak kurang arifnya:</p>
<p><em>Those who think about money are beggars</em></p>
<p><em>Those who think about love are kings</em></p>
<p>Puisi lainnya juga tidak pernah saya lupakan, karena begitu romantis dan lembut:</p>
<p><em>I have journeyed tonight</em></p>
<p><em>On borrowed wings</em></p>
<p><em>Through misty air</em></p>
<p><em>To steal a kiss from your moisted lips</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>There is a memory in my heart</em></p>
<p><em>That passing years cannot take away</em></p>
<p><em>An empty space no one can fill</em></p>
<p><em>I love you still and always will</em></p>
<p>Maaf, saya tidak pernah tahu dari mana ayahanda saya menyadur atau sumber apa yang beliau gunakan saat mencatat ungkapan dan puisi indah tersebut. Yang saya tahu, beliau sangat menikmati puisi-puisi romantik dan kata-kata yang arif tentang kehidupan tersebut, dan masih banyak lagi koleksi ungkapan lainnya, yang tidak mungkin saya bacakan satu per satu pada kesempatan ini.</p>
<p>Barangkali, dari semua itu kita bisa belajar bahwa betapapun sibuknya seseorang, atau betapapun suksesnya dalam dunia bisnis, atau dalam karir apapun, manusia tidak pernah boleh kehilangan kepekaan pada dimensi-dimensi yang subtil dari kehidupan, sebuah ranah yang lebih bersifat etis dan estetis. Dengan semua inilah manusia menjadi manusia yang utuh.</p>
<p>Dan barangkali pula, itulah salah satu pesan yang patut disampaikan lewat Malam Penghargaan Achmad Bakrie ini. Menjadi bangsa yang maju. Menjadi manusia yang sejahtera dan berilmu, tetapi dengan tetap berpijak pada kebudayaan, dengan tetap menjadi manusia yang utuh dan sunggup menghargai keindahan, kebaikan, dan kearifan budi.</p>
<p>Akhirnya, perkenankanlah saya, mewakili segenap keluarga besar Achmad Bakrie, sekali lagi mengucapkan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Azyumardi Azra, Ahmad Tohari, Tigor Silaban, Suryadi Ismadji, Kaharuddin Djenod, dan Suharyo Sumowidagdo. Semoga mereka terus berkarya, dan semoga dedikasi mereka menjadi inspirasi bagi bangsa kita untuk menyongsong masa depan yang lebih baik lagi.</p>
<p>Semoga Tuhan yang mahabesar terus membimbing perjalanan bangsa kita di masa mendatang. Maju terus Indonesia. Maju terus negeriku yang tercinta.</p>
<p><em>Wabillahi taufiq walhidayah</em></p>
<p><em>Wassalamualaikum Wr. Wb.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2015/menyongsong-datangnya-zaman-emas-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>50 Tahun Golkar: Pengabdian Tiada Akhir</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2014/50-tahun-golkar-pengabdian-tiada-akhir/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2014/50-tahun-golkar-pengabdian-tiada-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2014 09:26:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Pidato HUT ke-50 Partai Golkar. Jakarta, 28 Oktober 2014
Pertama-tama, saya ingin mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah yang Mahabesar. Hanya atas berkahnyalah kita dapat berkumpul pada malam yang penuh rahmat ini. Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara semua untuk merayakan 50 Tahun lahirnya Golongan Karya, serta untuk memperingati peristiwa bersejarah ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato HUT ke-50 Partai Golkar. Jakarta, 28 Oktober 2014</strong></p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignright size-medium wp-image-2246" title="276128_hut-emas-partai-golkar-ke-50-tahun_663_382" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2014/10/276128_hut-emas-partai-golkar-ke-50-tahun_663_382-300x172.jpg" alt="276128_hut-emas-partai-golkar-ke-50-tahun_663_382" width="300" height="172" />Pertama-tama, saya ingin mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah yang Mahabesar. Hanya atas berkahnyalah kita dapat berkumpul pada malam yang penuh rahmat ini. Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara semua untuk merayakan 50 Tahun lahirnya Golongan Karya, serta untuk memperingati peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang dimotori oleh para pendiri bangsa kita 86 tahun yang silam.</p>
<p>Secara khusus, saya ingin mengucapkan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kehadiran Bapak Jusuf Kalla pada malam yang berbahagia ini. Di tengah kesibukan mempersiapkan dan memimpin pemerintahan yang baru terbentuk, beliau masih menyempatkan diri untuk hadir bersama kita. Inilah sebuah tanda persahabatan, sebuah <em>gesture</em> untuk bahu membahu dalam membangun Indonesia. Oleh karena itu,  kepada seluruh kader dan pimpinan Partai Golkar yang berada di ruangan ini, marilah sekali lagi kita memberikan applause yang meriah kepada Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia.<span id="more-427"></span><br />
<span id="more-2241"> </span></p>
<p>Pada kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan selamat bekerja kepada segenap menteri anggota kabinet yang baru dilantik kemarin. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berdiri di garis terdepan, membantu Presiden dalam mewujudkan sebuah tekad untuk membangun negeri yang kita cintai ini.</p>
<p>Terus terang, saya turut merasa senang bahwa nama kabinet baru ini adalah “Kabinet Kerja,” sebab maknanya tidak jauh berbeda dengan makna “golongan karya”. Kerja yang baik akan menjadi sebuah karya, dan karya yang positif pasti akan didukung sepenuhnya oleh Partai Golongan Karya. Oleh karena itu, walaupun kader-kader kami tidak berada dalam Kabinet Kerja, namun karena semangatnya sama, dan tekadnya juga pasti sama untuk membangun Indonesia, maka Partai Golkar akan selalu mengulurkan tangan, serta manakala dibutuhkan, akan siap menawarkan solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada.</p>
<p>Apalagi, seperti yang disampaikan Bapak Presiden dalam pidato pelantikan di Senayan seminggu lalu, pemerintahan eksekutif yang beliau pimpin akan berusaha mewujudkan ajaran Trisakti dari Bung Karno, yaitu negara yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, serta berkepribadian secara budaya. Bung Karno adalah Sang Proklamator yang menjadi milik semua partai dan golongan. Ajaran dan cita-cita beliau adalah juga cita-cita kita bersama, sebuah cita-cita mulia yang tak akan lekang oleh zaman.</p>
<p>Oleh karena itulah, saya yakin bahwa bukan hanya Partai Golkar, tetapi juga seluruh kekuatan besar yang berada dalam barisan Koalisi Merah Putih akan mendukung sepenuh hati upaya Bapak Presiden dalam mewujudkan ajaran Trisakti secara tepat dan konsisten.</p>
<p>Demikian pula, kami semua bersyukur bahwa Bapak Presiden bertekad untuk menghidupkan kembali gagasan negara maritim sebagai konsep pembangunan yang utama. Laut bukanlah pemisah, namun pemersatu gugusan kepulauan di Nusantara. Sejak masa perjuangan kebangsaan di awal abad ke-20, kaum intelektual, pemikir dan sastrawan, seperti Sutan Takdir Alihsjabana, telah menyerukan bahwa gelombang samudera dan horizon di laut lepas adalah panggilan bagi sebuah bangsa yang ingin menjadi bangsa besar gilang gemilang. Laut bukanlah masa lalu, namun merupakan  masa depan kita, dan karenanya perlu dikelola dengan penuh kesungguhan.</p>
<p>Bung Karno pernah berkata, bahwa “dari Sabang sampai Merauke” bukanlah untaian empat kata semata, namun merupakan kesatuan administratif, politik, kesatuan kebudayaan, dan yang lebih penting lagi, kesatuan semangat dan cita-cita dari selurun anak bangsa untuk menyongsong masa depan yang cerah.</p>
<p>Tentu saja, merumuskan arah baru, mewujudkan sebuah konsep besar, serta memimpin 250 juta manusia Indonesia yang begitu beragam tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tapi insya Allah, karena begitu besarnya harapan rakyat, serta berkat doa dan dukungan kita semua, pemerintahan yang dipimpin oleh Bapak Jokowi insyaAllah akan mengukir sukses di masa-masa mendatang.</p>
<p>Semua Presiden Indonesia telah memberikan dedikasi serta kontribusi yang positif. Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, dan Pak SBY: mereka semua adalah putra dan putri terbaik bangsa kita, tokoh-tokoh sejarah yang telah berbakti dan mengukir <em>legacies</em> yang akan terus kita kenang dengan penuh rasa syukur. Saya dan seluruh kader Partai Golkar yakin bahwa pada waktunya nanti, Insya Allah Pak Jokowi juga akan mengukir prestasi besar dan menjadi pemimpin kebanggaan kita semua.</p>
<p>Para pelaut Bugis sering berkata: layarku sudah terkembang, lebih baik tenggelam  daripada aku surut kembali. Pak Jokowi sekarang adalah nahkoda Indonesia. Kita berlayar bersama, mengarungi gelombang, menantang angin, untuk mencapai pelabuhan idaman. <em>Your success is our success</em>, keberhasilan Sang Nahkoda adalah keberhasilan kita semua. Selamat bekerja dan semoga sukses, Bapak Presiden. Insya Allah, perjalanan bangsa Indonesia akan direstui oleh Tuhan yang Maha-pengasih dan penyayang.</p>
<p>Bapak Wakil Presiden yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Golongan Karya kini telah berusia 50 tahun, setengah abad, sebuah usia yang sudah cukup matang.  Sejak awal era reformasi, Golkar telah melakukan metamorfosis menjadi sebuah partai politik, dan saat ini dapat dikatakan bahwa Golkar adalah partai politik paling senior di Indonesia.</p>
<p>Pada kesempatan ulang tahun emas yang berbahagia ini, dengan besar hati saya ingin menyampaikan bahwa Partai Golkar memberikan anugrah dan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang telah memberikan dharma baktinya, bukan hanya buat Partai Golkar, tetapi lebih luas lagi, yaitu kepada negeri kita tercinta. Mereka adalah almarhum Jendral  Ahmad Yani, almarhum Hamengkubuwono IX, almarhum Wahono dan almarhum Haji Mochamad Said. Kami juga memberikan penghargaan kepada Mayjen Purnawiranan Amin Syam, mantan Ketua DPD Tingkat 1, Sulsel, serta seorang rekan anggota DPR RI yang belakangan ini sangat populer di media massa, yaitu Ibu Popong Otje Djundjunan.</p>
<p>Kepada tokoh-tokoh tersebut, atau kepada keluarga yang mewakili mereka, Partai Golkar menghaturkan apresiasi yang setinggi-tingginya.</p>
<p>Dalam pasang dan surut, Partai Golkar telah mengawal Republik  Indonesia. Kami bersyukur bahwa betapapun terbatasnya, partai kami telah memberikan kontribusi positif, baik dalam mempertahankan pancasila sbg dasar dan ideologi negara,menjaga integrasi bangsa, membangun ekonomi dan manusia indonesia,maupun dalam menciptakan stabilitas politik serta mewujudkan kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Dengan usia yang semakin matang, kami bertekad untuk berusaha lebih baik lagi, berkembang bersama perkembangan zaman, tanpa meninggalkan warisan mulia yang menjadi jati diri kebangsaan kita, khususnya Pancasila, NKRI, UUD 45, serta semangat Bhineka Tunggal Ika.</p>
<p>Ulang tahun Golkar sebenarnya jatuh pada  20 Oktober yang lalu, tepat pada saat pelantikan Bpk Presiden dan Wakil presiden. Tetapi sengaja peringatan ulang tahun ke-50 ini kami adakan hari ini, pada tanggal 28 Oktober. Dengan ini Partai Golkar ingin mengajak semua pihak untuk tidak pernah melupakan sebuah peristiwa besar pada 28 Oktober 1928, yaitu Sumpah Pemuda. Pada saat itulah bangsa Indonesia bertekad untuk menyatu dalam satu payung kebangsaan, dengan satu bahasa nasional. Peristiwa tersebut adalah perwujudan lebih lanjut dari bangkitnya gerakan kebangsaan yang lahir 20 tahun sebelumnya, yang diawali dengan pembentukan organisasi Budi Oetomo. Kedua peristiwa sejarah inilah yang memungkinkan tercapainya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.</p>
<p>Dengan menyinggung semua itu, Partai Golkar ingin mengingatkan bahwa perjalanan bangsa Indonesia kini telah cukup jauh dan secara bersama-sama kita harus memastikan bahwa Indonesia harus  berkembang menuju arah yang benar, yaitu kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila. Kita pun harus meyakini, bahwa seperti apapun besarnya tantangan yang kelak kita hadapi, warisan sejarah adalah kekayaan kita, sumber inspirasi manakala kita berhadapan dengan pilihan-pilihan yang sulit.</p>
<p>Demokrasi Indonesia harus terus diperkuat, dan kita bangga bahwa Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, di mana demokrasi, Islam dan modernitas hidup berdampingan secara damai. Kita juga bangga dan bersyukur bahwa kemajemukan dan perbedaan yang ada di masyarakat Indonesia bukanlah sumber pemecah belah, namun justru menjadi sumber kekayaan dan kelenturan kultural kita.</p>
<p>Lewat dua pemilu besar beberapa bulan yang silam, sekali lagi kita membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah tumbuh semakin arif dan dewasa. Dengan segala kekurangannya,pemilu kita adalah salah satu pemilu yang paling kompleks di dunia, namun kita berhasil melewati semua tahapnya, dan kini secara <em>fair</em> dan konsisten kita menerima dan mensyukuri hasil-hasilnya. Tentu saja, dalam proses besar dan kompleks ini, terjadi berbagai dinamika yang terkadang cukup tajam dan menggetarkan hati. Namun semua ini bukanlah merupakan isyarat perpecahan atau kehancuran, namun justru merupakan pertanda besarnya semangat, <em>passion</em>, dan keterlibatan perasaan kita dalam sebuah partisipasi politik bersama.</p>
<p>Itulah tanda bahwa demokrasi Indonesia melangkah semakin maju. Setelah pemilu selesai, tidak ada lagi menang dan kalah. Era kompetisi sudah berlalu. Pemenangnya hanya satu, yaitu seluruh bangsa dan rakyat Indonesia.</p>
<p>Indonesia telah menjadi sebuah model perkembangan positif di negara-negara yang sedang berkembang. Dunia melihat Indonesia, dan yang mereka saksikan adalah sebuah perkembangan yang mengagumkan, sebuah negeri besar dengan pluralitas yang begitu penuh warna, tetapi terus bergerak menjaga keterbukaan, kebebasan, persahabatan, serta senantiasa berusaha mewujudkan tingkat kesejahteraan yang semakin tinggi bagi seluruh rakyatnya.</p>
<p>Dengan semua itulah kita menjadikan Sumpah Pemuda dan perjuangan kebangsaan di masa lalu menjadi perwujudan yang nyata di masyarakat. Sejarah menjadi nilai yang kita wujudkan pada hari ini, dan masa depan menjadi pelita harapan yang memotivasi kita untuk bekerja lebih baik lagi.</p>
<p>Bapak Wakil Presiden yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Dalam usianya yang setengah abad, Partai Golkar bertekad untuk menjadi kekuatan politik yang semakin konstruktif bagi semua pihak. Kami sepakat bahwa demokrasi yang sehat menghendaki peranan penyeimbangan di parlemen, bukan peranan oposisi yang asal-berbeda atau asal-menentang. Eksekutif dan legislatif: kedua lembaga ini harus menjalankan perannya masing-masing, saling mengontrol, saling mendorong dalam pencapaian kemajuan bersama.</p>
<p>Partai Golkar kini memasuki sebuah fase baru, di mana konsentrasi peranan kami akan lebih banyak bertumpu di lembaga legislatif dan lembaga non-pemerintahan lainnya. Bersama rekan-rekan di Koalisi Merah Putih, Kami akan memainkan peranan sebagai seorang sahabat yang loyal dan terbuka, mendorong kehidupan parlemen yang dinamis dan bertanggung jawab. Dengan koalisi yang semakin solid, Partai Golkar mendukung kerjasama partai ke dalam dua atau tiga tenda besar, sehingga pada ujungnya terjadi penyederhaan kehidupan politik secara sehat dan alamiah, dan pada gilirannya hal ini juga memperkuat sistem presidensial di negeri kita.</p>
<p>Terhadap pemerintah sebagai eksekutif, kami akan terus mengulurkan tangan dan membesarkan hati. Tetapi sahabat yang sejati tidak akan mengatakan hal-hal yang baik saja. Sahabat yang loyal tidak akan menjadi yes-men, hanya memuji dan hanya mengatakan hal-hal yang menyenangkan saja.</p>
<p>Karena itu, manakala diperlukan, dari waktu ke waktu Partai Golkar akan mengingatkan dan bersikap kritis. Partai Golkar juga akan selalu menyiapkan solusi alternatif, agar sikap kritis kami tidak menjadi sekadar ungkapan perbedaan, tetapi lebih merupakan ajakan untuk mencari penyelesaian sebuah masalah.</p>
<p>Itulah sikap dasar Partai Golkar. Kami akan terus menjaga keseimbangan politik yang dinamis. Partai Golkar tidak akan meminta, tetapi akan terus memberi kontribusi positif pada sahabat-sahabat kami. Partai Golkar tidak akan mempertajam perbedaan, tetapi justru akan terus mencari persamaan dengan partai dan kekuatan politik lainnya demi mewujudkan mimpi menjadikan Indonesia sebagai sebuah negeri maju, sebuah negeri besar yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Akhirnya, perkenankanlah saya, mewakili segenap kader dan pimpinan Partai Golkar, untuk sekali lagi mengucapkan apresiasi dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh hadirin. Semoga kita semua memperoleh rahmat dari Allah yang Maha Pemurah dan semoga bangsa Indonesia terus bertahan mengarungi perjalanan zaman.</p>
<p>Sebagai penutup, sebagaimana yang menjadi tradisi di Partai Golkar, perkenankanlah saya menutup pidato ini dengan membacakan tiga bait pantun:</p>
<p><em>Aku di sini kau di sana</em></p>
<p><em>Bergoyang lenso senang sendiri</em></p>
<p><em>Tapi kita bisa jalan bersama</em></p>
<p><em>Berjabat tangan membangun negeri</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Pakai batik pakai kebaya</em></p>
<p><em>Berwarna-warni menarik bergaya</em></p>
<p><em>Alangkah indah langit Jakarta</em></p>
<p><em>Kalau gaya memang menghasilkan karya</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Selendang kuning meliuk dan menari</em></p>
<p><em>Gadis manis menghibur hati</em></p>
<p><em>Partai Golkar kawan sejati</em></p>
<p><em>Selamat bekerja Presiden Jokowi</em></p>
<p>Dirgahayu Partai Golkar</p>
<p>Maju terus negeriku</p>
<p>Maju terus Indonesia tercinta</p>
<p>Wabillahi taufiq walhidayah</p>
<p>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2014/50-tahun-golkar-pengabdian-tiada-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moment of Decision: Kepentingan Nasional adalah Tujuan Tertinggi Partai Golkar</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2014/moment-of-decision-kepentingan-nasional-adalah-tujuan-tertinggi-partai-golkar/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2014/moment-of-decision-kepentingan-nasional-adalah-tujuan-tertinggi-partai-golkar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2014 09:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Sambutan Rapimnas VI Partai Golkar, Jakarta 18 Mei 2014.
Pertama-tama perkenankanlah saya mengajak kita semua untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Atas rahmat dan izinnya semata, maka kita semua dapat berkumpul dalam Rapimnas yang maha-penting pada hari bersejarah ini.
Selanjutnya, saya juga ingin menghaturkan apresiasi yang sedalam-dalamnya kepada seluruh peserta Rapimnas ini, khususnya kepada seluruh ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pidato Sambutan Rapimnas VI Partai Golkar, Jakarta 18 Mei 2014.</strong></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2220" title="Bn4vn3RIYAAeanC" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2014/05/Bn4vn3RIYAAeanC-300x225.jpg" alt="Bn4vn3RIYAAeanC" width="300" height="225" />Pertama-tama perkenankanlah saya mengajak kita semua untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Atas rahmat dan izinnya semata, maka kita semua dapat berkumpul dalam Rapimnas yang maha-penting pada hari bersejarah ini.</p>
<p>Selanjutnya, saya juga ingin menghaturkan apresiasi yang sedalam-dalamnya kepada seluruh peserta Rapimnas ini, khususnya kepada seluruh pimpinan DPD dari 33 provinsi yang datang dari berbagai daerah di negeri kita tercinta ini, dari Provinsi Nanggro Aceh Darussalam di ujung barat hingga Provinsi Papua di ujung timur, dan juga kepada 8 ormas yang mendirikan dan didirikan oleh Partai Golkar, serta dua sayap partai kita.<span id="more-436"></span><br />
<span id="more-2219"> </span></p>
<p>Saya merasakan denyut nadi, merasakan besarnya antusiasme dari pimpinan partai, ormas serta sayap partai kita dari berbagai daerah untuk mengikuti Rapimnas bersejarah Partai Golkar pada hari yang berbahagia ini.</p>
<p>Hari ini pantas disebut sebagai sebuah <em>moment of decision</em>, suatu hari yang sangat menentukan. Di depan kita terbentang percabangan jalan sejarah. Kita akan memutuskan ke arah mana Partai Golkar akan melangkah. Keputusan kita dalam Rapimnas hari ini bukan hanya akan menentukan arah Partai Golkar, tetapi juga arah perjalanan seluruh bangsa Indonesia.</p>
<p>Singkatnya, <em>history is in the making</em>, sejarah sedang berputar cepat. Dan kita semua merasa bangga dan bersyukur bahwa Partai Golkar turut serta dalam menentukan arah serta kecepatan perputaran sejarah ini. Seluruh mata dan telinga bangsa Indonesia sedang tertuju pada ruangan ini. Tidak berlebihan jika saya berkata bahwa sekarang ini bangsa Indonesia sedang menunggu keputusan yang dilahirkan dalam Rapimnas kita hari ini.</p>
<p>Karena itulah, sebelum melanjutkan lebih jauh sambutan saya ini, terlebih dahulu saya ingin bertanya langsung kepada segenap kader dan pimpinan Partai Golkar yang ada dalam ruangan ini: Apakah saudara-saudara siap mengambil keputusan yang terbaik? Apakah saudara-saudara siap mengambil keputusan dengan mengutamakan kepentingan seluruh bangsa Indonesia? (Terima kasih).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Saudara-saudara yang saya hormati</strong></p>
<p><strong>Hadirin yang saya muliakan</strong></p>
<p>Sebagai sebuah <em>background</em>, izinkanlah saya menjelaskan sedikit apa yang terjadi dalam Pemilu Legislatif pada 9 April silam, serta apa yang terjadi setelahnya.</p>
<p>Seluruh kader dan pimpinan Partai Golkar, di pusat dan di daerah, telah berupaya maksimal untuk meraih kemenangan. Sebagai Ketua Umum, saya merasa bangga dan menyampaikan apresiasi yang sedalam-dalamnya atas upaya kita untuk menambah perolehan suara serta menjaga nama besar partai kita tercinta ini.</p>
<p>Memang, dengan besar hati harus kita akui bahwa hasil akhirnya memang tidak sesuai dengan harapan kita semula. Dan untuk itu, sebagai Ketua Umum, saya menyatakan bertanggung jawab sepenuhnya. Jangan mencari kesalahan pada pihak lain. Saya adalah pimpinan tertinggi partai kita, dan karenanya saya adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas segala kekurangan yang ada. Untuk itu, di hadapan saudara-saudara semua, saya menyampaikan permohonan maaf dari hati saya yang terdalam.</p>
<p>Dengan mengatakan semua itu, saya tidak ingin mengajak saudara-saudara memasuki alam melankoli dan larut dalam pesimisme. Malah sebaliknya, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat satu sisi baik serta sebuah pencapaian yang sebenarnya bermakna sangat positif. Walaupun jumlah kursi DPR RI yang berhasil kita peroleh menurun, yaitu dari 106 menjadi 91 kursi, dukungan suara nasional bagi Partai Golkar yang telah diumumkan resmi oleh KPU adalah lebih dari 18 juta suara, atau 14,75 persen suara nasional, yang berarti bahwa kita mendapat tambahan lebih dari 4 juta dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu sebelumnya.</p>
<p>Jadi, jumlah dukungan rakyat bagi partai kita meningkat dibandingkan dengan perolehan pada Pileg 2009.  Walaupun peningkatan suara ini relatif kecil, namun sebenarnya, kalau dilihat dari perspektif kesejarahan, maknanya sangat penting. Dalam setiap pemilu di masa reformasi, perolehan suara Partai Golkar cenderung terus menurun, yaitu 24% pada Pemilu 1999, menjadi 21% pada Pemilu 2004, kemudian merosot lagi menjadi 14.5% pada Pemilu 2009.</p>
<p>Karena itu, dengan perolehan suara sebesar 14.75% pada Pileg 2014, kita dapat berkata bahwa untuk pertama kalinya dalam pemilu di masa reformasi, suara rakyat bagi Partai Beringin tidak lagi terus menurun. <em>The historical decline has been arrested</em>: kita sudah berhasil menghentikan <em>trend</em> sejarah yang terus menurun tersebut, dan atas upaya kita bersama, kini kita telah membawa partai yang kita cintai ini dalam sebuah posisi <em>rebound</em>, sebuah posisi dengan fondasi yang jauh lebih baik untuk merebut kembali kejayaan partai dalam pemilu di masa-masa mendatang.</p>
<p>Lebih jauh lagi, dengan pencapaian tersebut, kita tetap menempatkan posisi Partai Beringin dalam sebuah posisi terhormat. Bersama sahabat kita, yaitu PDIP di bawah pimpinan Ibu Megawati Sukarnoputri, Partai Golkar tetap menjadi kekuatan politik papan atas, sebuah kekuatan politik besar yang mewakili aspirasi rakyat, yang belakangan ini disebut dengan istilah sebagai sebuah kapal tanker dalam lautan politik Indonesia.</p>
<p>Dengan begitu banyaknya jumlah dukungan rakyat yang berada di belakang kita, serta dengan pengalaman panjang dalam dunia pemerintahan, baik di lembaga eksekutif maupun di lembaga legislatif, maka segenap lapisan kepemimpinan dalam kapal tanker Partai Golkar memiliki tanggung jawab lebih, sebuah kehormatan yang menuntut kita semua untuk betul-betul memikirkan serta menempatkan kepentingan rakyat dan kepentingan nasional di atas semua kepentingan yang ada.</p>
<p><strong>Saudara-saudara yang saya hormati</strong></p>
<p><strong>Hadirin yang saya muliakan</strong></p>
<p>Setelah Pileg, kini kita akan menyambut satu lagi peristiwa besar yang akan berlangsung pada 9 Juli mendatang, yaitu pemilu presiden. Pilpres ini adalah sebuah peristiwa maha-penting sebab ia akan menghasilkan pemerintahan baru di lembaga eksekutif yang akan menentukan perjalanan bangsa kita 5 tahun ke depan.</p>
<p>Satu fakta penting yang ada dalam pilpres ini adalah bahwa tidak ada satu partai pun, termasuk PDIP dan Partai Golkar, yang dapat mengajukan Capres dan Cawapresnya secara sendiri-sendiri. Karena suara dukungan rakyat tersebar relatif merata kepada banyak partai dalam pileg baru lalu, maka <em>the nature of the game</em> dalam pilpres mendatang adalah <em>the neccessity of coalition</em>, keharusan untuk menkonsentrasikan dan menggabungkan kekuatan dalam gumpalan yang lebih besar bersama partai-partai lainnya.</p>
<p>Untuk itulah, dalam sebulan terakhir, sebagai Ketua Umum dan mandataris partai kita, saya telah membangun hubungan komunikasi yang intensif, serta bertemu langsung dengan semua pimpinan partai politik. Semua pertemuan dan komunikasi ini mendapat liputan dan perhatian yang sangat luas dan antusias dari berbagai media massa, baik di pusat maupun di daerah.</p>
<p>Saya akan menjelaskan hasil dan rincian berbagai pertemuan ini dalam sebuah forum tersendiri nanti. Tetapi pada intinya dengan bangga dapat saya laporkan ke hadapan saudara-saudara saat ini bahwa semua pertemuan dan komunikasi tersebut berjalan dengan baik, produktif, serta dalam suasana persahabatan yang akrab. Praktis semua partai menyatakan keinginan untuk membangun kerjasama erat dengan partai kita, baik dalam membentuk koalisi sebelum maupun setelah berlangsungnya Pilpres pada Juli mendatang.</p>
<p>Karena itulah, pada hari ini, lewat Rapimnas di ruangan ini, kita sekarang harus memutuskan serta mengambil sikap yang tuntas dan paripurna ke arah mana, serta dalam bentuk apa, pembentukan koalisi yang sesuai dengan aspirasi Partai Golkar. Inilah keputusan yang saya sebut di awal tadi sebagai keputusan yang bersifat historis, sebuah keputusan Rapimnas yang mengarahkan tujuan kapal tanker Partai Golkar, serta lebih jauh lagi, mengarahkan arah dan tujuan perjalanan bangsa Indonesia di tahun-tahun mendatang.</p>
<p>Untuk itu semua, lewat Rapimnas terhormat ini, saya memohon kepada saudara-saudara untuk memperbaharui serta menyesuaikan mandat penuh yang sudah saudara-saudara berikan kepada saya lewat Rapimnas III pada tahun 2012 yang lalu. Penyesuaian mandat ini saya perlukan agar langkah-langkah saya sebagai Ketua Umum pada putaran dan tikungan terakhir ini sesuai dengan konteks situasi yang ada, sesuai dengan ruang gerak yang secara riil kita miliki, serta sesuai pula dengan kebutuhan praktis untuk mengambil keputusan secara secara cepat dan bertanggung jawab.</p>
<p>Secara pribadi sudah sering saya sampaikan bahwa bagi saya dan bagi Partai Golkar, posisi kekuasaan atau kursi jabatan bukanlah tujuan akhir, tetapi semata-mata hanyalah sebuah instrumen untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu pencapaian kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Karena itu, saya tidak memiliki beban dan ambisi pribadi yang berlebihan. Sikap yang akan saya tegakkan di saat-saat terakhir ini dan di tikungan paling ujung ini akan sepenuhnya bersandar pada beberapa prinsip dasar, yaitu pertama, untuk menjaga kehormatan dan marwah Partai Golkar; kedua, untuk mencapai atau turut serta mencapai kemenangan dalam Pilpres mendatang; serta yang ketiga atau yang terpenting adalah untuk menyiapkan fondasi agar Republik Indonesia memiliki sebuah pemerintahan yang kuat dan efektif, sebuah pemerintahan yang sukses dalam 5 tahun mendatang untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Saya ingin menegaskan sekali lagi prinsip Partai Golkar dalam mengikuti Pemilu 2014. Kemenangan bukanlah tujuan akhir kita, sebab esensi pemilu adalah bahwa siapapun yang menang, kemenangan tersebut harus dipersembahkan bagi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Jangan pernah lupa bahwa dari ujung Banda Aceh sampai Tanah Papua, kita semua bersaudara.</p>
<p>Singkatnya, fokus utama saya bukanlah hanya sekadar mencari kursi dan kekuasaan, atau hanya untuk mencapai kemenangan pada Pilpres 9 Juli nanti. Pikiran dan hati saya akan saya tujukan untuk mencari jalan agar seluruh bangsa Indonesia dapat merajut kembali kebersamaan, bergandengan tangan bersama di bawah pemerintahan eksekutif yang kuat, dengan dukungan mayoritas yang memadai di parlemen, agar Indonesia terus tumbuh menjadi sebuah negeri yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Karena itu, kalau saudara-saudara izinkan, saya akan memberi nama atau julukan bagi mandat yang saudara-saudara berikan nanti sebagai keputusan Rapimnas ini. Ungkapan persisnya adalah “Satu Mandat, Satu Nama, serta Satu Tujuan Besar.” Lewat ungkapan ini, esensi yang ada pada otoritas yang saudara-saudara akan berikan kepada saya sebagai Ketua Umum akan bulat, utuh, jelas, dan tegas.</p>
<p>Dengan semua itu, dengan segala kerendahan hati, sekali lagi saya ingin bertanya langsung kepada saudara-saudara peserta Rapimnas dalam ruangan ini: Apakah suadara-saudara siap mengambil keputusan terbaik pada hari ini? Apakah saudara-saudara siap untuk memberi mandat kepada Ketua Umum untuk kejayaan partai dan Bangsa Indonesia? (Terima kasih).</p>
<p>Sebagai rasa terima kasih saya, seperti biasa dalam tradisi orasi Partai Golkar, perkenankanlah saya menyampaikan dua bait pantun:</p>
<p><em>Di pagi hari senyumku mekar</em></p>
<p><em>Melihat wajah cantik jelita</em></p>
<p><em>Selendang kuning melambai berkibar</em></p>
<p><em>Rakyat sejahtera dambaan kita</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Pemilu Presiden akan digelar</em></p>
<p><em>Rakyat menunggu keputusan kita</em></p>
<p><em>Maju terus Partai Golkar</em></p>
<p><em>Maju terus Indonesia tercinta</em></p>
<p>Akhirnya, sebagai penutup, saya ingin mengaturkan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kepercayaan saudara-saudara semua. Semoga partai dan bangsa yang kita cintai ini terus diberikan rahmat oleh Allah SWT untuk menjadi bangsa yang besar dengan masa depan yang gilang gemilang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2014/moment-of-decision-kepentingan-nasional-adalah-tujuan-tertinggi-partai-golkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->