<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aburizal Bakrie&#039;s Blog &#187; Profil</title>
	<atom:link href="http://aburizalbakrie.id/category/profil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aburizalbakrie.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Mar 2019 06:13:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Warisan Para Presiden Indonesia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2013/warisan-para-presiden-indonesia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2013/warisan-para-presiden-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Dec 2013 03:18:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”.
Itulah pepatah lama yang selalu saya ingat dan mengingatkan saya bahwa seseorang akan dikenang atas apa yang dikerjakannya semasa hidupnya. Orang akan dikenang jika memiliki warisan atau legacy yang berguna bagi sesamanya.
Demikian halnya dengan para pemimpin. Seorang pemimpin akan dikenang atas karya atau warisan ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-2125" title="arb abak smp 2" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2013/12/arb-abak-smp-2-300x172.jpg" alt="arb abak smp 2" width="300" height="172" />“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”.</p>
<p>Itulah pepatah lama yang selalu saya ingat dan mengingatkan saya bahwa seseorang akan dikenang atas apa yang dikerjakannya semasa hidupnya. Orang akan dikenang jika memiliki warisan atau <em>legacy</em> yang berguna bagi sesamanya.</p>
<p>Demikian halnya dengan para pemimpin. Seorang pemimpin akan dikenang atas karya atau warisan yang ditinggalkannya untuk rakyatnya. Bagi saya, terlepas kekurangan yang ada, semua pemimpin bangsa ini memiliki warisan yang baik.<span id="more-2123"></span></p>
<p>Karena itu, ketika pihak lain lebih suka mencari-cari kelemahan seorang pemimpin, menjelek-jelekkan mantan presiden, dan lain sebagainya, saya lebih suka mengungkapkan apa hal baik yang telah ditinggalkan. Maka dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengungkapkan bahwa semua presiden Indonesia meninggalkan warisan yang baik bagi bangsa ini.</p>
<p>Saya sampaikan hal ini di berbagai kesempatan. Baik di sekolah-sekolah, di kampus, di acara partai, sampai di seminar atau forum di mana saya diminta menjadi pembicara. Di semua kesempatan itu, saya mengatakan bahwa semua pemimpin bangsa ini mempunyai <em>legacy </em>masing-masing.<br />
Kita sudah memiliki enam presiden, dan semua meninggalkan warisan yang baik bagi bangsa ini. Mari kita lihat satu persatu <em>legacy</em> para pemimpin bangsa ini untuk Indonesia.</p>
<p>Yang pertama adalah Presiden Soekarno. Sebagai presiden pertama, proklamator, <em>founding father</em>, Bung Karno mewariskan pondasi bangsa ini. Beliau mewariskan rasa persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.</p>
<p>Saya masih teringat dan sering mengutip pidato Bung Karno yang mengatakan:</p>
<p>“Dari Sabang sampai Merauke”, – empat perkataan ini bukanlah sekedar satu rangkaian kata ilmu bumi. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekedar menggambarkan satu geographisch begrip. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar satu “geographical entity”. Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu “national entity”. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu “state entity” yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologis, satu “ideological entity” yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, – satu entity of social-consciousness like a burning fire.”<br />
Kemudian Presiden Soeharto sebagai presiden ke-dua juga meninggalkan lecay yang baik bagi Indonesia. Di tangan Pak Harto, Indonesia makin maju pembangunannya. Bapak pembangunan ini menaikkan ekonomi dan derajat Indonesia dari negara terbelakang menjadi negara berkembang.</p>
<p>Presiden BJ Habibie yang menggantikan Pak Harto juga banyak meninggalkan warisan yang baik bagi bangsa ini. Meski masa pemerintahannya cukup singkat, tetapi Pak Habibie meninggalkan hal yang sangat penting di masa transisi. Beliau meletakkan dasar-dasar demokrasi Indonesia. Pak Habibie juga memisahkan BI dan pemerintah Indonesia. Membuat pers bebas, dan sebagainya.</p>
<p>Selain itu, selama hidupnya, Habibie yang terkenal jenius ini juga memberikan kebanggan bagi kita. Sebuah kebanggaan bahwa kita, bangsa ini, si kulit coklat ini, juga bisa membuat pesawat terbang, tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain.</p>
<p>Setelah Presiden Habibie, ada Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur, yang selama ini dikenal sebagai tokoh demokrasi meninggalkan <em>legacy</em> berupa kesetaraan. Egalitarianisme. Gus Dur mengajarkan kepada kita semua bahwa kita semua sama. Diskriminasi dihilangkan dari berbagai sendi kehidupan, baik dari birokrasi maupun di segala sendi kehidupan. Di masa ini, demokrasi juga dijunjung tinggi.</p>
<p>Lalu Presiden Gus Dur digantikan oleh Presiden Megawati. Bu Mega juga meninggalkan <em>legacy </em>yang baik dan berguna bagi bangsa. Di era Bu Mega, terjadi desentralisasi kekuasaan. Kebijakan pembangunan tidak lagi dilakukan Jakarta tapi di daerah, kabupatan/kota se-Indonesia. Otonomi dijalankan dan manfaatnya bisa dirasakan.</p>
<p>Terakhir adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Presiden SBY. Presiden SBY sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat juga memiliki <em>legacy</em>. Kita harus mengapresiasi langkah penegakan hukum di era ini. Di era Presiden SBY, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, termasuk para pejabat yang terlibat. Di era ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melaju tinggi, bahkan pernah menjadi nomor dua se-dunia.</p>
<p>Itulah warisan para pemimpin bangsa ini. Sekali lagi mereka meninggalkan l<em>egacy </em>yang baik bagi bangsa Indonesia. Kekurangan tentu saja ada. Tidak ada pemimpin yang sempurna di dunia ini.</p>
<p>Namun, sebagaimana saya katakana di awal, saya dan Partai Golkar tidak tertarik membahas kekurangannya. Kami lebih memilih mengapresiasi dan menerukan warisan yang ditinggalkan, sembari mengajak semua anak bangsa untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan para pemimpin tersebut.</p>
<p>Maka kemudian saya bersama Partai Golkar kemudian menyusun <em>blue print</em> pembangunan sampai 100<sup> </sup>tahun Indonesia yang kami namakan; Visi Indonesia 2045. Ini yang ingin saya jadikan <em>legacy</em>, sesuatu yang ingin saya wariskan kepada bangsa ini.</p>
<p>Saya ingin mempersiapkan Indonesia menjadi negara yang maju, kuat, mandiri, adil, dan sejahtera. Masa di mana anak cucu kita bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain sebagai bangsa maju. Masa di mana anak cucu kita dari Sabang sampai Merauke dengan bangga mengatakan; saya bangga menjadi putra dan putri Bangsa Indonesia.</p>
<p>Mungkin ketika saat itu tiba, saya masih hidup dan masih bisa bermain tenis. Mungkin juga saya sudah tiada. Kalaupun saya sudah tiada, saya sudah tenang, karena sudah meninggalkan sesuatu yang baik untuk negeri saya tercinta; Indonesia.</p>
<p>Oleh karena itu, saya selalu mengajak kita semua, terutama para generasi muda, calon pemimpin bangsa, untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan hal itu. Tugas kita semua memberikan kontibusi masing-masing sesuai peran dan kemampuannya. Kita harus yakin mimpi besar tersebut bisa kita raih. Kita harus terus merawat Indonesia dan mengantarkannya ke pintu gerbang seabad proklamasi.</p>
<p>Mari kita hargai warisan para pemimpin bangsa dengan cara melanjutkannya dengan lebih baik lagi. Yang baik kita warisi dan lanjutkan, yang kurang baik, kita perbaiki dan jadikan pelajaran berharga untuk perjalanan ke depan. Jika itu berhasil kita lakukan, kita akan dikenang atas upaya kita mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.</p>
<p>Sekecil apapun yang akan kita lakukan, kita akan dikenang dengan penuh rasa terima kasih oleh generasi yang akan datang. Kita akan dikenang oleh para anak cucu kita yang akan meneruskan estafet perjalanan bangsa ini, sebagai pewaris jalan menuju negara maju.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2013/warisan-para-presiden-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tak Terlupakan Saat Bang Ical Memimpin Kadin</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/cerita-tak-terlupakan-saat-bang-ical-memimpin-kadin/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/cerita-tak-terlupakan-saat-bang-ical-memimpin-kadin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 02:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/2010/cerita-tak-terlupakan-saat-bang-ical-memimpin-kadin/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dewi Motik Pramono
Pengusaha ternama. Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani). None Jakarta, Ratu Luwes Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada) dan Ratu Jakarta Fair pada 1968. Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi). 
Pertemanan yang cukup lama membuat hubungan saya dan Bang Ical tumbuh seperti saudara. Kami bisa berbicara tentang banyak hal, mulai dari masalah bisnis hingga ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dewi Motik Pramono</strong></p>
<p><strong></strong><em>Pengusaha ternama. Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani). None Jakarta, Ratu Luwes Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada) dan Ratu Jakarta Fair pada 1968. Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi). </em></p>
<p>Pertemanan yang cukup lama membuat hubungan saya dan Bang Ical tumbuh seperti saudara. Kami bisa berbicara tentang banyak hal, mulai dari masalah bisnis hingga keluarga. Kami juga bisa saling melempar kritik dan bercanda. Bahkan ketika banyak orang tidak berani menyampaikan kritik kepadanya, saya bisa.</p>
<p>Saya mengenal Bang Ical sejak massa kanak-kanak. Kebetulan kami bertetangga di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Orang tua kami juga berteman baik. Meski selisih usia sekitar tiga tahun, tapi kami sering bermain bersama, karena kebetulan saya juga berteman dengan adik Bang Ical yaitu Roosmania Odi Bakrie.<span id="more-357"></span></p>
<p>Sebagai orang yang mengenal Bang Ical sejak kecil, saya sangat mengenali karakternya. Bang Ical memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Keberaniannya mengambil risiko kerja sungguh mengagumkan. Dan, saya tak akan lupa dengan kisahnya ‘melawan’ kekuasaan Presiden Soeharto saat mencalonkan diri sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).</p>
<p>Kala itu sekitar tahun 1994. Dengan dukungan sejumlah pengusaha termasuk saya, Bang Ical mencalonkan diri sebagai Ketua Kadin periode 1994-1999. Saya katakan, itu keputusan yang luar biasa berani, mengingat calon lainnya adalah pengusaha yang mendapat dukungan penuh dari Pak Harto. Hasilnya, Bang Ical menang mengalahkan ‘orang-orang’ Pak Harto.</p>
<p>Kami sungguh bahagia dengan kemenangan Bang Ical saat itu. Namun, sekaligus khawatir karena kepengurusan Kadin tidak mendapat dukungan Pak Harto. Bagaimana tidak, saat kami datang menghadap ke Istana, Pak Harto hanya mengangguk-angguk dan salaman. Bahkan, Pak Harto tak bersedia berfoto bersama kami, para pengurus Kadin yang baru.</p>
<p>Di masa orde baru, tidak mendapat dukungan dari Pak Harto tentu membuat kami syok. Tapi, justru di situlah terlihat peran kepemimpinan Bang Ical. Kepada para anggota Kadin kala itu, Bang Ical selalu mengatakan agar tidak takut untuk dimusuhi. Bang Ical justru mengajak anggotanya untuk menunjukkan reaksi dengan karya yang baik. Sebagai pemimpin, Bang Ical mampu menenangkan kami.</p>
<p>Di mata saya, Bang Ical memang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Terbukti, ia kembali dipercaya memimpin Kadin pada periode selanjutnya yaitu 1999-2004. Menurut saya, kalau tidak bisa memimpin dengan baik, tidak mungkin dia sukses seperti sekarang ini.</p>
<p>Di luar kesuksesan kariernya, saya melihat Bang Ical sebagai sosok manusia pada umumnya. Bang Ical sosok yang <em>low profile</em>, senang bercanda, dan mengagumi kecantikan perempuan. Bang Ical sangat perhatian dengan sahabat dan keluarga. Ia juga sangat terbuka, bahkan untuk kritik yang sangat pedas.</p>
<p>Dan, sebagai saudara, saya selalu berharap Bang Ical mampu mempertahankan karakternya. Saya berharap Bang Ical dapat menjadi pemimpin yang terbuka terhadap kritik dan loyal terhadap kebenaran. Sukses selalu untuk Bang Ical!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/cerita-tak-terlupakan-saat-bang-ical-memimpin-kadin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>239</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Terong Balado Bertemu Lidah</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/saat-terong-balado-bertemu-lidah/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/saat-terong-balado-bertemu-lidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 02:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aburizal Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang makanan memang tiada habisnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang makanan favorit. Seru dan menarik, karena bagi sebagian orang, makanan merupakan media untuk menikmati hidup.
Salah satu makanan favorit saya: terong balado. Makanan ini berupa masakan tumis dari irisan sayur terong yang dipadu dengan ulekan sambal. Selain nikmat, masakan tradisional ini ternyata memiliki sejumlah keuntungan ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang makanan memang tiada habisnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang makanan favorit. Seru dan menarik, karena bagi sebagian orang, makanan merupakan media untuk menikmati hidup.</p>
<p>Salah satu makanan favorit saya: terong balado. Makanan ini berupa masakan tumis dari irisan sayur terong yang dipadu dengan ulekan sambal. Selain nikmat, masakan tradisional ini ternyata memiliki sejumlah keuntungan bagi penggemarnya.</p>
<p>Paling tidak saat memasukkan kata kunci ‘manfaat terong’ dalam mesin pencari di internet muncul ribuan artikel yang seolah berlomba menunjukkan keunggulan terong. Banyak yang menyebut sayur ungu itu berkhasiat untuk menurunkan kolesterol. Ada juga yang mengatakan terong dapat menghambat pembentukan plak-plak lemak.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-372" title="terong-balado4-300x225" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2010/01/terong-balado4-300x225.jpg" alt="terong-balado4-300x225" width="300" height="225" />Salah satu penelitian memaparkan bahwa terong juga bekerja sebagai antioksidan yang menghalangi pembentukan radikal bebas, sehingga membantu melindungi kerusakan sel membran dan menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Terong merupakan sumber asam folat dam kalium.</p>
<p>Masakan lain yang juga menjadi favorit saya adalah telur balado, semur, dan tempe orek. Sama halnya terong balado, telur balado juga memadukan telur sebagai bahan utama dengan ulekan sambal. Sedangkan tempe orek adalah irisan tempe kering dengan rasa pedas manis.<span id="more-354"></span></p>
<p>Sementara produk hewani yang menjadi favorit saya adalah olahan ikan. Untuk makanan olahan ikan, rumah makan ‘Aroma Sulawesi’ di Kuningan, Jakarta, adalah salah satu yang menurut saya menjanjikan cita rasa enak. Rasa nikmatnya semakin menjadi, mungkin karena pemiliknya adalah mantan pemain tenis nasional haha… –kebetulan tenis adalah olahraga favorit saya–.</p>
<p>Dalam berbagai literatur dan artikel kesehatan, konsumsi ikan ternyata baik untuk kualitas kerja jantung. Hal itu dibuktikan dengan rendahnya angka penderita penyakit jantung pada masyarakat yang memiliki tingkat konsumsi ikan tinggi seperti di Jepang.</p>
<p>Terlepas dari segala manfaat yang ditawarkan makanan-makanan itu, yang pasti pilihan jatuh atas dasar rasa. Pilihan favorit jatuh atas dasar kenikmatan yang ditawarkan makanan itu saat menyentuh lidah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/saat-terong-balado-bertemu-lidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Geng Kami Bernama ARIA</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/geng-kami-bernama-aria/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/geng-kami-bernama-aria/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 10:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Lingga Karim, Sahabat Lama
Lebih 55 tahun kami berteman baik. Bermula dari sebuah sekolah taman kanak-kanak (TK) bernama Perwari di kawasan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, persahabatan kami berlanjut.
Selepas TK, kami kembali dipersatukan dalam SD dan SMP yang sama. Masih di kompleks sekolah Perwari. Kami berpisah saat menginjak SMA. Saya di SMAN 1 Jakarta. Sedangkan Pak ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><strong> </strong></strong><img class="alignleft size-full wp-image-376" title="Lingga-Karim31-300x218" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2010/01/Lingga-Karim31-300x218.jpg" alt="Lingga-Karim31-300x218" width="300" height="218" /><strong>Oleh: Lingga Karim, Sahabat Lama</strong></p>
<p>Lebih 55 tahun kami berteman baik. Bermula dari sebuah sekolah taman kanak-kanak (TK) bernama Perwari di kawasan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, persahabatan kami berlanjut.</p>
<p>Selepas TK, kami kembali dipersatukan dalam SD dan SMP yang sama. Masih di kompleks sekolah Perwari. Kami berpisah saat menginjak SMA. Saya di SMAN 1 Jakarta. Sedangkan Pak Aburizal memilih SMAN 3 Jakarta. Meski berbeda sekolah kami tetap dipersatukan dalam sebuah geng bernama: A-R-I-A.</p>
<p>Geng A-R-I-A terbentuk sejak kami masih duduk di bangku SD. A-R-I-A merupakan akronim dari nama-nama anggota geng yaitu dokter Imral yang akrab disapa Al (A), almarhum Rizal Irwan (R), saya sendiri Lingga yang biasa dipaggil Ingga (I), dan Pak Aburizal (A).</p>
<p>Bersama geng A-R-I-A, kami sering menghabiskan waktu bermain bersama. Kebetulan orangtua kami juga saling mengenal sehingga hubungan berlanjut bak keluarga. Kedekatan antaranggota geng A-R-I-A terjalin hingga masa kuliah. Kala itu, Rizal dan Pak Aburizal kuliah di ITB, sedangkan saya dan Al kuliah di Jakarta. Namun, meski terpisah kota, kami tetap berkumpul saat waktu luang atau libur.<br />
Ada peristiwa yang tak terlupakan semasa kami kuliah. Kala itu, bersama geng A-R-I-A dan sejumlah teman lainnya perempuan dan laki-laki, kami berlibur ke Kepulauan Seribu. Saat itu kami semua masih single, belum ada yang menikah.<span id="more-338"></span></p>
<p>Kami menumpang speedboat milik Pak Aburizal. Dalam perjalanan menuju sebuah pulau, tiba-tiba kapal mengalami gangguan mesin dan timbul percikan api. Kami semua panik. Spontan, kami pun terjun ke laut untuk menyelamatkan diri. Beruntung kerusakan saat itu tidak fatal, sehingga kami bisa kembali melanjutkan acara liburan.</p>
<p>Tamat kuliah, hubungan geng A-R-I-A tetap terjalin. Saya bahkan bergabung dalam perusahaan grup Bakrie. Namun, kesibukan masing-masing membuat geng A-R-I-A tak lagi dapat berkumpul seintensif saat muda. Silaturahmi terjaga dalam peristiwa-peristiwa tertentu seperti ketika Lebaran atau acara kantor.</p>
<p>Dan, satu hal yang menarik dalam hubungan persahabatan kami. Saya dan beliau memiliki tanggal kelahiran yang sama yaitu 15 November 1946. Waktu kecil kami sering merayakan bersama. Sementara saat beliau sudah sukses, saya ikut saja dalam setiap perayaan ulang tahun yang beliau adakan hehehe…</p>
<p>Selama lebih 55 tahun menjalin persahabatan, tak sekalipun pernah terjadi konflik menegangkan. Persahabatan mengalir dengan baik. Pak Aburizal sangat perhatian dengan sahabat dan lingkungannya terutama di bidang kesehatan dan pendidikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/geng-kami-bernama-aria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Hidup</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/perjalanan-hidup/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/perjalanan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 10:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[[media id=13 width=460 height=380]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">[media id=13 width=460 height=380]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/perjalanan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Karir</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2010/perjalanan-karir/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2010/perjalanan-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 10:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[[media id=14 width=460 height=380]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">[media id=14 width=460 height=380]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2010/perjalanan-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->