<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aburizal Bakrie&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://aburizalbakrie.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aburizalbakrie.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Mar 2019 06:13:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Apresiasi untuk Petenis Berprestasi</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2018 05:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setiap hari saya main tenis. Jika hari biasa saya main tenis bersama teman-teman saya, pagi itu, Sabtu, 1 September 2018, saya main tenis dengan partner dan lawan tanding istimewa. Mereka adalah peraih medali emas Asian Games 2018.
Pagi itu, saya mengundang Christoper Rungkat dan Adila Sutjiadi yang berhasil memperoleh medali emas tenis ganda campuran di ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-908" title="ARB tenis 1" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/09/ARB-tenis-1-300x225.jpg" alt="ARB tenis 1" width="300" height="225" />Hampir setiap hari saya main tenis. Jika hari biasa saya main tenis bersama teman-teman saya, pagi itu, Sabtu, 1 September 2018, saya main tenis dengan partner dan lawan tanding istimewa. Mereka adalah peraih medali emas Asian Games 2018.</p>
<p>Pagi itu, saya mengundang Christoper Rungkat dan Adila Sutjiadi yang berhasil memperoleh medali emas tenis ganda campuran di Asian Games 2018. Saya bermaksud memberikan apresiasi berupa pemberian bonus untuk pasangan yang telah mengharumkan nama Indonesia ini.</p>
<p>Agar tidak dinilai orang bahwa saya cari nama atau cari tenar mendompleng prestasi atlet tenis, saya sebelum memberikan bonus, izin pada Ketum PB PELTI Rildo Anwar. Pak Rildo mempersilahkan dengan senang hati. Bahkan Pak Rildo mengatakan itu bukan izin tapi perintah, sebab saya ini masih sebagai pelindung PB PELTI dan sudah sejak dahulu saya banyak berkontribusi membantu dunia tenis.<span id="more-907"></span></p>
<p>Dari zaman Yayuk Basuki (rekam jejak saya mendukung tenis Indonesia bisa dibaca di <a href="http://aburizalbakrie.id/2014/harapan-saya-pada-tenis-indonesia/">tulisan saya yang ini</a>), dll. Bahkan Christoper Rungkat dan Adila Sutjiadi sendiri tidak asing dengan saya. Sejak yunior mereka sudah dikenalkan kepada saya oleh teman-teman tenis saya.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-909" title="ARB tenis 2" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/09/ARB-tenis-2-300x225.jpg" alt="ARB tenis 2" width="300" height="225" /></p>
<p>Soal bonus yang saya berikan, memang tidak sebesar yang diberikan pemerintah. Namun semoga ini bisa membantu mereka untuk modal meningkatkan karirnya. Saya berpesan pada mereka, agar bonus yang didapat dijadikan modal penunjang untuk meningkatkan prestasi atau karir mereka. Sebab perjalanan mereka masih panjang.</p>
<p>Lalu di pagi itu, setelah memberikan bonus, saya main tenis bersama mereka. Christoper berpasangan dengan saya, sementara Adila berpasangan dengan Hadiman. Hadiman ini adalah petenis legenda yang dahulu juga peraih medali emas Asian Games. Dia juga saya kasih bonus, karena dia yang dulu membawa Adila kepada saya.</p>
<p>Wasit dipertandingan ini tak kalah istimewa. Dia adalah Yustedjo Tarik, teman saya yang juga legenda tenis Indonesia. Tedjo ini juga peraih medali emas Asian Games dan saat pembukaan Asian Games 2018 lalu juga tampil membawa obor.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-913" title="ARB tenis 4" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/09/ARB-tenis-4-300x200.jpg" alt="ARB tenis 4" width="300" height="200" /></p>
<p>Saya dan Christoper menang. Ini tampaknya terjadi karena Adila dan Hadiman ngalah. Sementara Christo tidak mau mengalah hehe.</p>
<p>Saya senang melihat anak muda yang berprestasi ini. Apalagi awalnya saya tidak menyangka mereka akan menang dan menghapus puasa emas tenis yang sudah cukup lama. Saya berharap Christopher dan Adila terus meningkatkan prestasinya. Semoga bisa meraih cita dan mencapai targetnya.</p>
<p>Semoga semakin banyak petenis muda yang lahir. Semoga semakin banyak pula pecinta tenis yang mau memberikan apresiasi bagi para petenis berprestasi. Agar para atlet bersemangat dan tenis Indonesia semakin maju lagi.</p>
<p>Bukan tidak mungkin masuk Grand Slam. India saja bisa, masak kita tidak bisa. Indonesia Bisa!</p>
<p><iframe width="500" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/Sxv0ivOCYE4" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2018/apresiasi-untuk-petenis-berprestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5589</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Habibie, R80, dan Bangkitnya Industri Dirgantara Indonesia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2018/pak-habibie-r80-dan-bangkitnya-industri-dirgantara-indonesia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2018/pak-habibie-r80-dan-bangkitnya-industri-dirgantara-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2018 07:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya dan Kesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=893</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pergi ke Jerman, salah satu tempat yang “wajib” saya tuju adalah rumah Pak BJ Habibie. Seperti kemarin, saya yang ditemani sahabat saya Fuad Hasan Masyhur, dan Lalu Mara, kembali bertamu ke rumah senior Partai Golkar dan Presiden Indonesia ke-3 ini.
Pak Habibie menyambut kami dengan Susana yang hangat dan ceria. Saya bersyukur, Alhamdulillah. Beliau sehat ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-894" title="30726735_10155751632014332_7749005408764690432_n" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/30726735_10155751632014332_7749005408764690432_n-300x300.jpg" alt="30726735_10155751632014332_7749005408764690432_n" width="300" height="300" />Setiap pergi ke Jerman, salah satu tempat yang “wajib” saya tuju adalah rumah Pak BJ Habibie. Seperti kemarin, saya yang ditemani sahabat saya Fuad Hasan Masyhur, dan Lalu Mara, kembali bertamu ke rumah senior Partai Golkar dan Presiden Indonesia ke-3 ini.</p>
<p>Pak Habibie menyambut kami dengan Susana yang hangat dan ceria. Saya bersyukur, Alhamdulillah. Beliau sehat dan segar bugar.Ini menjawab kerisauan saya akibat beberapa waktu belakangan banyak broadcast yang masuk ke ponsel saya mengabarkan bahwa beliau sakit. Maka pertemuan dengan beliau hari itu menggugurkan kekhawatiran saya.<span id="more-893"></span></p>
<p>Di rumahnya di Munchen, Pak Habibe, mengatakan dirinya sehat walafiat dan mengatakan dirinya serasa terlahir kembali. Pak Habibie lalu mengajak kami makan malam di Waldwirtschaft Mawi sambil ngobrol-ngobrol.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-895" title="30716096_10155749629709332_572817808287596544_n" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/30716096_10155749629709332_572817808287596544_n-225x300.jpg" alt="30716096_10155749629709332_572817808287596544_n" width="225" height="300" /></p>
<div>
Obrolan kami bukan saja soal kesehatan beliau, tapi juga kelanjutan Pesawat R80, pesawat rancangan beliau yang pendanaannya melibatkan sumbangan rakyat Indonesia (crowdfunding). Menarik sekali soal Pesawat R80 ini. Karena itu seusai berbincang dengan Pak Habibie saya langsung memposting di media sosial saya ajakan untuk mendukung R80.</p>
<p>Mengapa kita harus mendukung Pesawat R80?</p>
<p>Untuk menjawab hal itu, kita perlu melihat sebuah perusahaan dirgantara nun jauh di Brazil sana yaitu Embraer. Perusahaan dirgantara Brazil yang didukung penuh pemerintahnya ini baru mulai dikembangkan sesudah PT Dirgantara Indonesia (DI) bisa membuat kapal terbang N235 dan N250. Tapi sekarang Embraer sudah maju pesat dan bahkan jadi saingan negara-negar maju dalam membuat pesawat, bukan saja pesawat komersial, tapi juga pesawat pribadi.</p>
<p>Siapa di balik berkembangnya Embraer?</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-896" title="30743517_10155749629784332_2540816821687156736_n" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/30743517_10155749629784332_2540816821687156736_n-225x300.jpg" alt="30743517_10155749629784332_2540816821687156736_n" width="225" height="300" />Ternyata mereka adalah insinyur-insinyur Indonesia yang dulu bekerja di PT DI. Seperti diketahui ribuan insinyur Indonesia kehilangan pekerjaan setelah PT DI &#8220;dimatikan&#8221; tahun 1997. Tenaga ahli Indonesia ini kemudian ditampung oleh Embraer untuk mengembangkan pesawat buatannya.</p>
<p>Tak hanya Brazil, sekarang, Malaysia tetangga kita pun, sudah mencanangkan akan menjadi pembuat pesawat termaju dan termodern. Mereka ternyata juga menggunakan insinyur-insinyur Indonesia yang sebelumnya bekerja di Embraer. Sebab saat tenaga lokal Brazil sudah bisa alih kemampuan, maka insinyur Indonesia kemudian banyak dipulangkan.</p>
<p>Kita sudah punya modal, industrinya kita lebih dahulu dari Brazil dan Malaysia. SDMnya ada, dan terbukti dipakai di Brazil dan Malaysia. Tapi yang tidak ada di kita adalah dukungan konkrit pemerintah Indonesia terhadap aerospace industry! Padahal pemerintah cukup menaruh dana 20%, serta berbagai kemudahan lain, kita akan menjadi salah satu negara aerospace industry yang termaju di dunia.<img class="alignright size-medium wp-image-897" title="30716096_10155749629709332_572817808287596544_n" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/30716096_10155749629709332_572817808287596544_n1-225x300.jpg" alt="30716096_10155749629709332_572817808287596544_n" width="225" height="300" /></p>
<p>Bayangkan saja subcontractor lokalnya jumlahnya bisa ribuan. Lebih dari itu, yang terpenting, kemampuan engineering akan membuat suatu negara lebih cepat tumbuh dan berkembang. Bukankan kita ingin Indonesia menjadi negara maju?</p>
<p>Maka kita harus dukung Pak Habibie dan Pesawat R80. Saatnya pesawat buatan anak bangsa terbang di angkasa nusantara dan dunia.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2018/pak-habibie-r80-dan-bangkitnya-industri-dirgantara-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>501</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membela Dokter Terawan</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2018/membela-dokter-terawan/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2018/membela-dokter-terawan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2018 09:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya dan Kesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, saya membuat “gerakan” di media sosial untuk membela Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto yang dipecat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena dinilai melakukan pelanggaran etik berat. Saya memakai hastag #SaveDokterTerawan pada postingan saya di akun media sosial saya untuk membelanya.
Rupanya gara-gara “garakan” saya ini, isu dipecatnya dr Terawan oleh IDI ini kemudian menjadi perhatian ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-883" title="599baa7ce841f-terawan-agus-putranto_665_374" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/599baa7ce841f-terawan-agus-putranto_665_374-300x168.jpg" alt="599baa7ce841f-terawan-agus-putranto_665_374" width="300" height="168" />Kemarin, saya membuat “gerakan” di media sosial untuk membela Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto yang dipecat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena dinilai melakukan pelanggaran etik berat. Saya memakai hastag #SaveDokterTerawan pada postingan saya di akun media sosial saya untuk membelanya.</p>
<p>Rupanya gara-gara “garakan” saya ini, isu dipecatnya dr Terawan oleh IDI ini kemudian menjadi perhatian luas. Tidak hanya di media sosial melainkan juga di media mainstream. Respon atas hal itu pun beragam, banyak yang bertanya pada saya mengapa saya membela dr Terawan? Ada apa?<span id="more-882"></span></p>
<p>Maka melalui tulisan di blog ini, saya akan menjelaskan hal tersebut.</p>
<p>Kalo berbicara tentang dr Terawan, ingatan saya langsung kembali ke tahun 2012 silam. Saat itu saya sedang makan siang dengan anak saya Anindya Bakrie. Saat akan menyuapkan makan ke mulut, tiba-tiba tangan saya tidak bisa mengarah pas ke mulut. Anin sempat membantu, tapi saat saya mau menyuap sendiri tidak bisa lagi. Lalu singkat cerita, keadaan memburuk, dan saya sampai tidak sadarkan diri. Keluarga saya pun melarikan saya ke salah satu rumah sakit di Jakarta.</p>
<p>Karena keadaan makin menghawatirkan, saat itu Prof dr Djoko Rahardjo, dokter kepresidenan, yang juga masih besan adik saya, menyarankan saya dipindahkan ke RSPAD Gatot Soebroto. Kepada istri, anak, dan adik-adik saya Prof Djoko meminta izin agar dilakukan tindakan DSA kepada saya. Lalu dilakukanlah terapi yang juga dikenal sebagai “cuci otak” itu.</p>
<p>Sekitar 30 menit terapi (menurut kesaksian istri saya, karena saya tidak sadar) saya langsung sadar dan kembali bugar. Pagi dilakukan tindakan, jam sore saya sudah dibolehkan pulang. Bayangkan dari tidak sadar dan kondisi menghawatirkan, sampai keluarga saya histeris, tidak lama setelah tindakan saya kembali sadar dan bugar.</p>
<p>Saya masih ingat ketika itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai menelepon saya dan mengatakan; “Alhamdulillah Pak Ical sdh sembuh jangan sakit, masih banyak yang bisa diperbuat bagi bangsa dan negara ini”.</p>
<p>Itulah awal saya kenal dengan dr Terawan. Bisa dibilang saya hutang nyawa pada Allah melalui dr Terawan. Sejak saat itu jika ada keluhan yang diduga gejala stroke, saya juga minta bantuan dr Terawan. Seingat saya sudah 4 kali saya menjalani terapi DSA atau “cuci otak” dengan dia.</p>
<p>Kalau yang pertama tidak sadar, yang berikutnya saya sadar dan melihat metodenya memang unik. Karena ada lagu, atau nyanyi-nyanyinya, lalu komunikatif dengan pasien dan saya bisa melihat prosesnya. Proses kateter masuk dari paha sampai ke atas, rasa panas (seperti mint) di mulut saya saluran yang buntu “disemprot” dan lain sebagainya.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-884" title="dr terawan 3" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/dr-terawan-3-300x168.jpg" alt="dr terawan 3" width="300" height="168" /></p>
<div>
<p>Saya tidak mengerti dunia medis, tapi dari pengalam saya tidak ada yang aneh dari apa yang dilakukan oleh dr Terawan. Bagi saya, dampak kesembuhan itu ada. Karena itu saya banyak kirim orang untuk berobat kepada dr Terawan. Banyak yang terbantu dan merasakan manfaatnya, kecuali yang kondisinya sudah terlambat. Bahkan ada teman main tenis saya yang sudah mencong mulutnya dan  tangan gak bisa gerak, setelah diterapi, sekarang sudah sembuh dan bisa main tenis lagi.</p>
<p>Tokoh nasional pun banyak yang terbantu oleh dr Terawan. Ada Pak SBY, Pak Tri Soetrisno, Pak AM Hendro Priyono, Pak Sutiyoso yang dalam bukunya juga menuliskan testimoninya mengenai dr Terawan, dan banyak tokoh lainnya. Maka kepada para wartawan saya persilahkan meminta testimony dari para tokoh dan siapa saja yang pernah tertolong oleh dr Terawan.</p>
<p>Sudah puluhan ribu orang yang tertolong oleh metode yang dikembangkan dr Terawan. Apa yang dilakukan juga telah ditulisnya dalam disertasinya saat mengambil S3. Penghargaan luar negeri juga banyak didapatnya. Pasiennya juga banyak dari luar negeri. Bahkan ada dokter dari Amerika dan Jerman yang belajar dan minta ilmunya di share ke sana.</p>
<p>Selain itu, dr Terawan yang sekarang menjabat sebagai Kepala RSPAD ini juga tidak bekerja sendiri tapi juga ada tim yang ada dokter syaraf dan dokter spesialis terkait lainnya. Dia juga mengajarkan ilmunya kepada dokter-dokter lainnya. Makanya metode ini tidak hanya dilakukan di RSPAD tapi juga di rumah sakit lainnya.</p>
<p>Banyak orang merasa terbantu. Bayangkan saja diterapi sebentar langsung terasa khasiatnya, bahkan tidak ada obat apa pun pasca terapi itu. Badan langsung bugar.</p>
<p>Memang banyak dokter masih mempertanyakan metode ini. Tapi saya percaya bahwa ilmu, termasuk ilmu kedokteran itu berkembang. Lihat saja perkembangan ilmu dan teknologi yang ada. Hal yang merupakan kemajuan seringkali awalnya dianggap tidak lazim dan dipertanyakan, tapi belakangan diterima dan umum dipakai.</p>
<p>Karena itulah, saya terkejut saat IDI memberikan sanksi pemberhentian pada dr Terawan. Saya tidak tahu mengapa, dan saya tidak mau suudzon juga bahwa ada pihak yang tidak suka dengan keberhasilan dr Terawan dan metodenya yang menolong banyak orang. Yang jelas saya percaya bahwa Allah memberikan kelebihan pada siapapun yang dikehendakinya. Jadi kita tidak boleh dengki.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-885" title="dr Terawan1" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/dr-Terawan1-300x168.jpg" alt="dr Terawan1" width="300" height="168" />Kepada IDI saya tidak mau bersuudzon dan menuduh apapun. Saya hanya berharap IDI meninjau lagi keputusannya dan memperbolehkan dr Terawan praktek lagi. Itulah alasan mengapa saya membela dr Terawan dan kemudian diikuti banyak orang.</p>
<p>Di sini saya tidak ada kepentingan politik atau bisnis. Ini murni kemanusiaan. Karena saya tahu sendiri banyak orang yang tertolong. Apalagi dr Terawan ini orangnya juga sangat baik. Dia santun, low profile, tidak sombong, dan hormat pada orang lain meskipun pangkatnya Mayjen.</p>
<p>Kemarin, saat saya menelpon dia, dr Terawan yang low profile ini malah sempat seolah putus asa dan mau menerima saja hal itu, tapi saya yang bilang jangan. Sebab dokter punya tugas untuk menolong lebih banyak lagi orang. Sekarang ini yang anti untuk menerima pengobatan dari dr Terawan sudah panjang. Kalau tiba-tiba tidak boleh lagi berpraktek dan tidak bisa menolong orang lalu bagaimana?</p>
<p>Maka saya sebagai satu dari ribuan orang yang pernah tertolong oleh dr Terawan, merasa memiliki kewajiban untuk membelanya. Saya berkewajiban menyampaikan ini ke masyarakat luas. Apa adanya. Seraya berdoa, semoga masalah ini bisa diselesaikan dengan baik dan dr Terawan bisa melanjutkan tugasnya menolong lebih banyak orang lagi.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2018/membela-dokter-terawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2856</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nu.Rul.i untuk Bandung yang Geulis dan Harmonis</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2018/nu-rul-i-untuk-bandung-yang-geulis-dan-harmonis/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2018/nu-rul-i-untuk-bandung-yang-geulis-dan-harmonis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2018 08:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini saya kembali berkunjung ke Bandung. Kota Kembang ini memang selalu istimewang bagi saya. Di kota ini dulu saya pernah tinggal dan menuntut ilmu. Banyak kenangan di kota ini.
Tujuan saya ke Bandung kali ini adalah Jalan Tambong No 48. Tempat itu adalah posko pemenangan pasangan Calon Walikota-Wakil Walikota Nurul Arifin &#8211; Chairul Yaqin Hidayat ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 4pt; font-family: Helvetica; font-size: 10.5pt; color: #1d2129;"><span style="color: #4b4b4b; font-family: Roboto, sans-serif; font-size: 15px; white-space: pre-wrap;"><img class="alignleft size-medium wp-image-868" title="WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.37.50" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-13.37.50-300x225.jpg" alt="WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.37.50" width="300" height="225" /></span></p>
<p>Hari ini saya kembali berkunjung ke Bandung. Kota Kembang ini memang selalu istimewang bagi saya. Di kota ini dulu saya pernah tinggal dan menuntut ilmu. Banyak kenangan di kota ini.</p>
<p>Tujuan saya ke Bandung kali ini adalah Jalan Tambong No 48. Tempat itu adalah posko pemenangan pasangan Calon Walikota-Wakil Walikota Nurul Arifin &#8211; Chairul Yaqin Hidayat (Nu.Rul.i). Saya memang datang ke Bandung untuk memberikan dukungan kepada Nu.Rul.i<span id="more-867"></span></p>
<p>Saya sangat mengenal Nurul. Meski dikenal lebih dulu sebagai artis, namun dia memiliki kompetensi. Bahkan saat saya masih Ketua Umum Partai Golkar, Nurul adalah salah satu yang saya tunjuk jadi juru bicara partai.</p>
<p>Nurul juga tamat S2 di UI bidang politik. Dia pernah duduk sebagai anggota DPR dari Partai Golkar di Komisi II yang memang khusus membidangi bidang pemerintahan. Jadi kompetansinya dan pemahamannya dalam soal pemerintahan tidak bisa dipandang sebelah mata.</p>
<p>Kota Bandung sendiri sudah dipimpin 26 walikota. Dari 26 pemimpin Bandung itu, tidak ada yang perempuan, alias kesemuanya laki-laki. Nah ini adalah kesempatan bagi Nurul. Karena saya yakin Nurul bisa mencetak sejarah sebagai walikota wanita pertama di kota Bandung.</p>
<p>Dengan “Bandung Geulis Harmonis” yang diusung Nurul-Ruli, saya yakin Bandung akan lebih baik. Nurul kuat di bidang pemerintahan, sementara Ruli berlatar belakang pengusaha. Ini perpaduan yang pas dan bagus.</p>
<p style="margin: 0in; font-family: Calibri; font-size: 11.0pt;">
<div style="display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; color: #1d2129; font-size: 14px;">
<p style="margin: 6px 0px; font-family: inherit; text-align: center;"><img class="aligncenter size-large wp-image-869" title="WhatsApp Image 2018-04-02 at 14.08.37" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-14.08.37-1024x682.jpg" alt="WhatsApp Image 2018-04-02 at 14.08.37" width="517" height="344" /><img class="aligncenter size-large wp-image-870" title="WhatsApp Image 2018-04-02 at 14.08.35" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-14.08.35-1024x682.jpg" alt="WhatsApp Image 2018-04-02 at 14.08.35" width="517" height="344" /><img class="aligncenter size-large wp-image-871" title="WhatsApp Image 2018-04-02 at 14.08.41" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-14.08.41-1024x682.jpg" alt="WhatsApp Image 2018-04-02 at 14.08.41" width="517" height="344" /><img class="size-large wp-image-872 alignleft" title="WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.51.49" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-13.51.49-768x1024.jpg" alt="WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.51.49" width="430" height="574" /><img class="alignleft size-large wp-image-873" title="WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.47.57" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2018/04/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-13.47.57-768x1024.jpg" alt="WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.47.57" width="430" height="574" /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2018/nu-rul-i-untuk-bandung-yang-geulis-dan-harmonis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>178</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persahabatan Rumpun Melayu: Peran Universitas di Tengah Perubahan Dunia</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2017/persahabatan-rumpun-melayu-peran-universitas-di-tengah-perubahan-dunia/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2017/persahabatan-rumpun-melayu-peran-universitas-di-tengah-perubahan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2017 10:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan dalam Kuliah Umum di Universiti Utara Malaysia, Kedah, Malaysia, 3 Oktober 2017
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua
Bapak dan Ibu yang saya hormati
Hadirin yang saya muliakan
Pertama-tama saya ingin mengajak kita semua untuk menyampaikan puji dan syukur pada Allah SWT sebab hanya atas rahmatnya kita dapat bertemu dalam acara yang penting ini.
Selanjutnya, pada kesempatan ini ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Disampaikan dalam Kuliah Umum di Universiti Utara Malaysia, Kedah, Malaysia, 3 Oktober 2017</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-857" title="WhatsApp Image 2017-10-03 at 14.09.56" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2017/10/WhatsApp-Image-2017-10-03-at-14.09.56.jpeg" alt="WhatsApp Image 2017-10-03 at 14.09.56" width="356" height="218" />Assalamualaikum Wr. Wb.</p>
<p>Salam sejahtera buat kita semua</p>
<p>Bapak dan Ibu yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Pertama-tama saya ingin mengajak kita semua untuk menyampaikan puji dan syukur pada Allah SWT sebab hanya atas rahmatnya kita dapat bertemu dalam acara yang penting ini.</p>
<p>Selanjutnya, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan serta terima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mengundang serta memberi saya kesempatan untuk menyampaikan satu atau dua pesan di hadapan hadirin yang berbahagia pada hari ini. Saya selalu senang apabila berkunjung ke Malaysia, bertemu dengan saudara-saudara serumpun, terutama di tengah kaum cerdik-pandai yang memiliki banyak ilmu dan kearifan.<span id="more-856"></span></p>
<p>Secara khusus, kepada Universiti Utara Malaysia, saya menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya. Perguruan ini tumbuh cepat dan semakin berwibawa sebagai lembaga pendidikan tinggi. Ia adalah pertanda tumbuhnya kepercayaan diri Malaysia untuk menjadi negara terdepan di Asia dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Sebagai sahabat, saya menyampaikan selamat atas semua pencapaian ini.</p>
<p>Insya Allah, kerjasama antara Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie akan berlanjut dan di tahun-tahun mendatang, menjadi salah satu pilar bagi kerjasama rumpun Melayu dalam merebut kemajuan serta menghasilkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><em>Set your course by the stars, not by the lights of every passing ships</em>, tetapkan tujuanmu pada bintang-bintang di langit, bukan pada kerlap-kerlip lampu kapal yang datang dan pergi. Ungkapan dari Jenderal Omar Bradley ini sangat baik untuk kita jadikan fondasi bagi kerja sama dua universitas yang strategis ini.</p>
<p>Kita harus bertekad bahwa Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie akan mencapai tujuan yang terjauh, yaitu <em>transformation of humanity</em>, perubahan peradaban umat manusia untuk menjadi lebih baik lagi di abad ke-21.</p>
<p>Kita harus yakin, setelah Amerika dan Eropa melakukan revolusi ilmu pengetahuan sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, kali ini bangsa-bangsa di Asia, termasuk Malaysia dan Indonesia, akan berdiri di garis terdepan dalam mendorong tapal batas kemajuan ilmu dalam meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.</p>
<p>Sekarang, China dan Korea Selatan, dan juga Jepang, sudah mulai melangkah cepat dengan memanfaatkan teknologi terbaru baik dalam dunia bisnis, baik dalam dunia <em>e-commerce</em>, transportasi massal, kesehatan dan yang lainnya. Tahun depan, misalnya, di Dubai salah satu perusahaan China akan mulai <em>launching</em> taxi terbang tanpa pengemudi, <em>driverless air taxi</em>, dengan teknologi berbasis drone.</p>
<p>Kalau berhasil, bisa ditebak akan terjadi revolusi dalam transportasi umum, dalam pola manusia bermukim, serta dalam arsitektur pengembangan kota-kota di dunia.</p>
<p>Demikian pula dengan kemajuan teknologi 3D printer. Bayangkan, sekarang teknologi 3D printers telah berhasil membuat 10 rumah dalam 24 jam, dengan harga USD10.000 untuk setiap rumah berukuran 200 m2. Memiliki sebuah rumah dengan harga terjangkau adalah impian setiap keluarga dalam kehidupan mereka. Jika mahasiswa-mahasiswa Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie bisa membuat secara massal semurah dan secepat itu, maka kita akan dikenang masyarakat sebagai pembuat solusi yg sangat berarti bagi kehidupan mereka.</p>
<p>Tentu masih banyak contoh lainnya yang bisa kita jelaskan di sini. Tetapi satu hal sudah jelas, bahwa China dan bangsa-bangsa di Asia sudah mulai menggeliat dan memimpin aplikasi teknologi dan berbagai aspek kehidupan manusia.</p>
<p>Malaysia dan Indonesia sebenarnya juga sudah mulai bangkit. Beberapa inovasi dan perusahaan yang didirikan oleh anak-anak muda, seperti Gojek, Grab, Traveloka, Tokopedia sudah berkembang dan mencuri perhatian kaum investor dunia. Dalam beberapa hal, perkembangan mereka luar biasa. Gojek sekarang sudah mempekerjakan lebih 200 ribu orang, sementara seluruh anak perusahaan Bakrie, misalnya, sebuah usaha yang telah berdiri lebih setengah abad, “hanya” memiliki pegawai sekitar satu pertiga dari itu.</p>
<p>Hal itu membuktikan bahwa, dengan teknologi dan <em>business model</em> yang baru, percepatan dan loncatan jauh ke depan semakin mungkin dilakukan, dengan akibat yang fundamental terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Jadi visi kita tdk boleh hanya jangka pendek dan sekedar untuk kebanggaan saja, tetapi harus visi jangka panjang dengan dampak yang berarti bagi <em>the transformation of</em> <em>human life</em> yang lebih baik. Dengan itulah kita bisa hidup secara berguna bagi masyarakat kita dan dunia.</p>
<p>Dalam bidang ilmu dan teknologi lainnya, telah terjadi berbagai perkembangan pesat. Dalam biologi, dalam <em>neuroscience</em>, <em>artificial intelligence</em>, dalam aeronotika, <em>computer science</em>, dan semacamnya.<em> The frontiers of human mind will forever expand to the delight of us all</em>.</p>
<p>Ilmu pengetahuan akan terus berkembang, dan untuk itulah semua usaha harus kita fokuskan dalam merebut serta mengarahkannya.</p>
<p>Bapak dan Ibu yang saya hormati</p>
<p>Hadirin yang saya muliakan</p>
<p>Dengan semua itu, sekali lagi saya ingin menekankan bahwa kerjasama antar-universitas seperti yang dilakukan Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie sangat bermanfaat dan bersifat strategis bagi wilayah dan kawasan kita di tahun-tahun mendatang.</p>
<p>Sejak setengah abad terakhir, pertumbuhan dunia berlangsung sangat cepat dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia menjadi sebuah jaringan negara dengan sistem ekonomi yang saling berhubungan dan diberi sebuah istilah populer, yaitu <em>global village</em>.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia di berbagai bangsa menjadi begitu dekat, saling mempengaruhi, dan saling berdagang – semua ini menghasilkan sebuah kecenderungan baru yang oleh Profesor Richard Baldwin disebut sebagai <em>the great convergence</em>.</p>
<p>Kita tentu bangga dan bersyukur bahwa dalam perkembangan baru tersebut, bukan hanya Amerika dan Eropa yang bergerak maju, tetapi juga Asia, termasuk Malaysia dan Indonesia. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebenarnya salah satu pusat terpenting dari dinamisme pertumbuhan dunia dalam beberapa dekade terakhir justru terjadi di Asia.</p>
<p>Dari Jepang, Korea, dan Taiwan, hingga Singapura, Malaysia, Indonesia, serta dua raksasa Asia, yaitu China dan India: walau dalam tingkat yang berbeda-beda, semua negara Asia ini menunjukkan kreatifitas serta dinamisme yang mengagumkan. Seperti dalam formasi angsa terbang, <em>the flying geese formation</em>, negara-negara Asia ini satu per satu mencapai kemajuan dalam berbagai bidang sekaligus, seperti pertumbuhan GDP, peningkatan bisnis, serta peningkatan level pendidikan umum.</p>
<p>Singkatnya, dengan semua pencapaian tersebut, Asia berhasil mengejar ketertinggalan dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini adalah sebuah prestasi tersendiri, suatu pencapaian yang saat ini menjadi contoh bagi banyak negara lainnya.</p>
<p>Tentu saja, dengan semua itu, kita tidak boleh lengah dan merasa puas diri. Walaupun prestasi Asia sudah sangat bagus, jalan yang harus kita tempuh masih cukup panjang. Dan khususnya negara seperti Malaysia dan Indonesia, tingkat kemajuan rakyat kita masih terpaut relatif jauh dengan tingkat kemajuan peradaban di Amerika dan Eropa.</p>
<p>Artinya, justru kita sekarang harus bergerak lebih cepat lagi. Dan karena itulah saya berkata di awal tadi bahwa peran universitas dan kerjasama antar-perguruan tinggi seperti yang telah dilakukan oleh Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie bersifat sangat strategis. Di awal abad ke-21 ini, kalau kita mau bergerak cepat, tidak bisa lain kita harus mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Malaysia, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumber daya alam atau hanya menjadi produsen barang-barang kebutuhan yang sifatnya <em>low-tech</em>. Kita juga tidak bisa lagi hanya bersandar pada konsep <em>comparative advantage</em> yang dibangun berdasarkan jumlah pekerja yang masif, dengan gaji relatif rendah.</p>
<p>Kata kuncinya sekarang adalah inovasi, kreatifitas, kualitas manusia dan pendidikan tinggi. Inilah <em>our new philosopher’s stones</em>, rahasia sukses untuk merebut kemajuan lebih lanjut di abad ke-21.</p>
<p>Jadi pada intinya, di masa kini dan terutama di masa depan, Indonesia, Malaysia serta negara-negara Asia lainnya harus semakin bersandar pada mutu dan kemampuan universitas kita untuk menjadi <em>the centerpiece</em> dari semua itu.</p>
<p>Bapak dan Ibu yang saya muliakan</p>
<p>Hadirin yang saya cintai</p>
<p>Sejauh kita berbicara tentang universitas, kita tidak perlu berkecil hati untuk mengakui fakta bahwa perguruan tinggi modern adalah institusi yang relatif baru dalam masyarakat kita. Di Indonesia, universitas terbesar dan tertua seperti ITB, UI dan UGM belum berusia satu abad, sementara Harvard University di AS sudah berusia hampir 400 tahun, dan universitas di Eropa, seperti Oxford, Sorbonne dan Bologna, sudah berumur sekitar 1.000 tahun.</p>
<p>Jadi, harus diakui bahwa universitas sebagai pusat pencarian pengetahuan modern memang masih relatif baru dalam masyarakat kita. Tapi usia muda bukanlah sebuah hambatan, malah justru sebaliknya.</p>
<p>Dalam hal ini, barangkali kita perlu belajar dari prestasi Stanford University di Palo Alto, Amerika Serikat. Universitas ini juga masih berusia sangat muda, dan pada tahun 1930-an masih dianggap perguruan desa yang terpencil. Namun, dengan langkah-langkah pengembangan yang tepat, dalam waktu singkat Stanford University menjadi pusat ilmu dan teknologi dengan melahirkan mikrocip dan mikroprosesor, sebuah penemuan yang sejajar dengan penemuan mesin uap di abad ke-18.</p>
<p>Dari lingkungan Stanford University telah muncul banyak pemenang Hadiah Nobel, termasuk sejumlah enterpreneur yang melahirkan begitu banyak perusahan teknologi kelas dunia (Hawlett-Packard, Intel, Apple, Google, dan sebagainya) yang membentuk sebuah wilayah yang dikenal sebagai Lembah Silikon, <em>Silicon Valley</em>. Praktis, dalam setengah abad terakhir ini, tidak ada penemuan besar yang mengubah wajah masyarakat modern yang tidak berasal atau setidaknya difasilitasi oleh Stanford University.</p>
<p>Karena itulah, walau masih berusia relatif muda, Stanford University kini dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik dan paling bergengsi di dunia.</p>
<p>Kalau Stanford University bisa, saya yakin bahwa universitas di negeri kita, khususnya Universiti Utara Malaysia dan Universitas Bakrie juga pasti bisa, sejauh kita mempunyai <em>vision</em> ke arah itu.</p>
<p>Kata kuncinya adalah <em>the willingness to strive for the improvement of human life</em>.</p>
<p>Kalau berhasil, maka saya yakin bahwa dalam satu generasi ke depan Malaysia dan Indonesia akan menjadi negara yang sepenuhnya maju serta menjadi contoh bagi negara-negara sedang berkembang lainnya.</p>
<p>Kita berharap dan yakin bahwa pada saatnya nanti Malaysia dan Indonesia dapat melahirkan inovator-inovator besar seperti Steve Jobs dan Elon Musk yang mengubah dunia dengan otak dan kreatifitas mereka. Kita akan menjadi pelaku aktif yang memberi kontribusi positif pada peradabad dunia abad ke-21.</p>
<p>Alangkah bangganya kita yang hidup sekarang jika semua itu memang terjadi kelak.</p>
<p>Saudara-saudara yang saya muliakan</p>
<p>Hadirin yang saya hormati</p>
<p>Sebelum menutup sambutan ini, saya ingin mengingatkan pada fakta historis serta pada fakta geografis yang menjadi pengikat kita sebagai rumpun Melayu. Malaysia dan Indonesia terletak dalam semanjung dan kepulauan yang menghubungkan dua lautan besar, yaitu Samudera Indonesia (atau Samudera India, Indian Ocean) dan Samudera Pasifik. Kita juga persis diapit oleh Benua Asia dan Australia.</p>
<p>Karena lokasi strategis inilah, kita adalah masyarakat yang terbentuk karena pergaulan dan saling-pengaruh antar-bangsa lebih seribu tahun yang lalu. Pada awalnya adalah pengaruh India dan Cina, kemudian Arab dan bangsa-bangsa Eropa: semua pengaruh dan pergaulan ini kita serap dan dengan kreatif kita jadikan milik kita sendiri.</p>
<p>Dari proses historis itulah lahir Bahasa Melayu dan kebudayaan Melayu. Karena itu, kalau bisa disimpulkan, kekuatan dan tradisi kita bersandar pada keterbukaan dan kemampuan adaptif untuk mengintegrasikan elemen-elemen yang berbeda menjadi suatu keseluruhan yang dinamis, toleran, dan berpandangan ke depan, seperti laut lepas dengan horizon yang luas.</p>
<p>Itulah esensi rumpun Melayu. Kita tidak boleh menjadikan kebudayaan Melayu sebagai kebudayaan primordial dan hanya bergantung pada pemerintah. Kita harus bersandar pada tradisi asli kita yang terbuka, pekerja keras, independen, dinamis dan selalu optimistis melihat masa depan.</p>
<p>Kebudayaan serta warisan sejarah semacam itu sangat cocok untuk menjadi pendorong dalam konteks globalisasi yang terjadi sekarang. Dunia berputar semakin cepat, semakin terbuka, dan karena itulah, kebudayaan serta persaudaraan Melayu sudah semestinya menjadi pelaku terdepan yang merebut kemajuan di masa mendatang.</p>
<p>Akhirnya, sesuai dengan tradisi Melayu, perkenankanlah saya menutup sambutan ini dengan membacakan dua bait pantun:</p>
<p><em>Kalau tidak ada tinta</em></p>
<p><em>Tulis di pasir ungkapkan hati </em></p>
<p><em>Kalau bukan karena cinta</em></p>
<p><em>Tidak berkunjung beta kemari</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Waktu berjalan seperti terburu</em></p>
<p><em>Pesawat berangkat sebentar lagi</em></p>
<p><em>Kalau ada kata yang keliru</em></p>
<p><em>Maafkan beta sepenuh hati</em></p>
<p>Demikianlah sambutan singkat ini. Sekali lagi, saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada panitia penyelenggara serta kepada tuan rumah, yaitu Universiti Utara Malaysia.</p>
<p>Wabillahi taufiq walhidayah</p>
<p>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2017/persahabatan-rumpun-melayu-peran-universitas-di-tengah-perubahan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>485</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majulah Negeriku</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2017/majulah-negeriku/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2017/majulah-negeriku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Aug 2017 07:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=852</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie ke-15, 22 Agustus 2017, di Jakarta.
Hadirin yang saya hormati
Saudara-saudara yang saya muliakan
 
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunianya maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie ke-15, 22 Agustus 2017, di Jakarta.</strong></p>
<p><em><img class="size-medium wp-image-853 alignright" title="Penghargaan Achmad Bakrie XV/2017" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2017/08/MS_635A0158-300x168.jpg" alt="Penghargaan Achmad Bakrie XV/2017" width="300" height="168" />Hadirin yang saya hormati</em></p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya muliakan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Assalamualaikum Wr. Wb.</em></p>
<p><em>Salam sejahtera bagi kita semua</em></p>
<p>Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunianya maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti Malam Penghargaan Achmad Bakrie yang ke-15.</p>
<p>Perkenankanlah saya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh yang pada malam ini menerima penghargaan, yaitu Saiful Mujani, Terawan Agus Putranto, Ebiet G. Ade, dan Nadiem Makarim.<span id="more-852"></span></p>
<p>Tokoh-tokoh ini telah memberikan dedikasi, dharma bakti, serta sumbangan positif dalam bidang ilmu dan pengabdian masing-masing. Mereka membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki putra-putra terbaik, anak-anak bangsa yang bekerja dengan tekun, kreatif dan penuh dedikasi, sehingga sanggup berkarya dengan pencapaian yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Mereka telah memperkaya kebudayaan Indonesia modern, memperdalam pandangan kita tentang sejarah dan masyarakat kita sendiri; mengingatkan kita semua akan pentingnya seni, sastra dan ketajaman perasaan manusia untuk menikmati keindahan serta mengagumi kebesaran Tuhan yang mahaesa; sambil tak lupa pula membuka horizon pengetahuan baru dalam berbagai kajian ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi, serta dalam pengabdian pada dunia kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Karena itulah, kepada tokoh-tokoh dan lembaga yang menerima penghargaan pada malam ini sudah selayaknya seluruh bangsa Indonesia menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya.</p>
<p>Selain itu, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara acara ini, yaitu Yayasan Bakrie untuk Negeri, TVONE dan ANTV, segenap Dewan Juri, Universitas Bakrie dan Freedom Institute. Tradisi penghargaan ini telah dimulai sejak tahun 2003. Tanpa terasa pada tahun 2017 ini kita sudah memasuki tahun ke-15, tanpa terputus sekalipun, dengan daftar penerima penghargaan yang sudah cukup panjang, lebih dari 60 tokoh dan lembaga dalam berbagai bidang ilmu dan pengabdian.</p>
<p>Insya Allah, tradisi pemberiaan penghargaan ini memang membawa manfaat, betapapun kecilnya, bagi kemajuan bangsa dan negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Hadirin yang saya muliakan</em></p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya hormati</em></p>
<p>Sejak awal, sengaja saya berpesan kepada panitia penyelenggara agar acara Malam Penghargaan Achmad Bakrie selalu diadakan di seputar perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Inilah bentuk keikutsertaan kita dalam memperkaya substansi perayaan Hari Proklamasi Republik Indonesia.</p>
<p>Kemerdekaan adalah sebuah rahmat, atau seperti kata Bung Karno: Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas untuk menuju pada suatu cita-cita mulia, yaitu sebuah bangsa yang maju dan modern, sebuah bangsa yang kuat jiwa dan raganya, serta sebuah bangsa yang adil dan makmur.</p>
<p>Lewat pemberian penghargaan ini, kita ingin menitipkan sebuah pesan agar bangsa Indonesia terus membuka kemungkinan baru, terus mengembangkan cakrawala dalam berbagai bidang ilmu, agar cita-cita mulia yang lahir lewat Proklamasi Kemerdekaan memang dapat tercapai.</p>
<p>Seminggu yang lalu, kita turut merasa bangga pada inisiatif baru Presiden Joko Widodo dalam berbagai acara menyambut kemerdekaan RI yang ke-72. Dengan pakaian adat Bugis serta Aceh, beliau menegaskan penghargaan kita pada tradisi daerah di Nusantara yang kaya dan penuh warna. Selain itu, lewat <em>display of color and the beauty of our common tradition</em>, beliau sekali lagi menegaskan komitmen bangsa kita pada sebuah prinsip mulia yang akan terus kita junjung tinggi sampai kapan pun, yaitu prinsip Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun satu jua.</p>
<p>Semoga di masa depan komitmen mulia seperti itu mampu untuk terus kita pertahankan. Tentu saja, kita bisa menambahkan dengan sebuah harapan bahwa tradisi yang berakar tersebut hendaknya juga diiringi oleh kemajuan bersama yang bersifat progresif, sebuah kemajuan yang terjadi karena kreatifitas dan pencapaian kita dalam dunia ilmu pengetahuan, teknologi, dan <em>enterpreneurship</em>.</p>
<p>Selain itu, kita juga berharap bahwa manusia Indonesia, terutama di kalangan generasi muda, memiliki perasaan yang tajam dan peka untuk menikmati keindahan yang ada dalam kehidupan ini. Belajar dan menuntut ilmu sangat penting. Tetapi puisi, lagu, sastra dan cinta: semua ini adalah elemen kehidupan yang memperkaya manusia sebagai manusia.</p>
<p>Sambil membaca buku dan menggali teori-teori yang rumit di universitas, alangkah menyenangkannya bagi anak-anak muda kita untuk sesekali mendengarkan lagu Ebiet G. Ade, misalnya <em>Elegi Esok Pagi,</em> dengan potongan syairnya berikut ini:</p>
<p><em>Barangkali di tengah telaga</em></p>
<p><em>Ada tersisa butiran cinta</em></p>
<p><em>Dan semoga kerindua ini</em></p>
<p><em>Bukan jadi mimpi di atas mimpi</em></p>
<p>Tentu saja pilihan untuk mengungkapkan perasaan dan kerinduan yang mendalam bisa mengambil bentuk apa saja. Yang penting, dengan semua itu, rasa dan cinta menjadi bagian dari proses pembentukan manusia yang lebih utuh dan lengkap.</p>
<p>Jika semua itu terjadi, maka Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang juga lengkap, maju dan menyenangkan; sebuah negeri dengan jati diri yang kokoh bersandar pada bumi dan kebudayaan sendiri; sebuah negeri yang merebut kemajuan lewat kreatifitas generasi muda, lewat karya kaum pemikir, teknolog, budayawan, dokter, dan kaum pengusaha yang terus mencipta serta merebut peluang-peluang baru dalam dunia yang semakin kompetitif dan terbuka.</p>
<p>Singkatnya, jika semua itu terjadi, Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah negeri yang membanggakan kita semua, sebuah negeri yang namanya harum di empat penjuru angin.</p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya hormati</em></p>
<p><em>Hadirin yang saya muliakan</em></p>
<p>Baru-baru ini saya membaca sebuah berita ekonomi bahwa Ali Baba, perusahaan <em>e-commerce</em> di China yang dipimpin oleh Jack Ma, telah berhasil mencapai kapitalisasi pasar dengan nilai USD 400 miliar. Ali Baba telah menjadi raksasa baru dan melangkah secara pasti mendekati raksasa lainnya di Amerika Serikat, seperti Amazon, Google dan Apple.</p>
<p>Apple sendiri, perusahaan teknologi terbesar AS, kini mencapai kapitalisasi pasar senilai USD 800 miliar, atau kalau kita rupiahkan jumlahnya adalah sekitar sepuluh ribu triliun rupiah – kira-kira sama dengan seluruh produksi bruto perekonomian nasional Indonesia, atau sekitar lima kali lipat dari nilai APBN pemerintah Republik Indonesia.</p>
<p>Fakta-fakta ini harus menyadarkan kita bahwa <em>the game now is science and technology</em>. Sejak 50 tahun silam sebenarnya hal ini juga sudah terjadi, tetapi di awal abad ke-21 ini kecepatan, karakteristik dan skalanya yang sudah jauh berbeda. Dari sepuluh perusahaan terbesar AS saat ini, tujuh di antaranya adalah<em> tech companies</em>, dan sebagian dari perusahaan ini masih berusia sangat muda untuk ukuran perusahaan raksasa. Artinya: semakin lama peran ilmu dan teknologi akan semakin menjadi <em>the primary driver</em> dari dunia bisnis, pergerakan roda perekonomian, serta kemajuan dan peningkatan kesejahteraan umum – bahkan bisa pula dikatakan bahwa ilmu dan teknologi akan semakin mewarnai peradaban dan segala aspek kehidupan manusia di masa-masa mendatang.</p>
<p>Karena itu, Indonesia tidak boleh tertinggal dalam “permainan” baru ini. Kita bersyukur bahwa sejak beberapa tahun terakhir, anak-anak muda Indonesia juga sudah mulai menggeliat, dengan mendirikan <em>start</em>-<em>ups</em>. Beberapa di antaranya kini sudah menjadi <em>unicorns</em>, seperti Gojek, Tokopedia dan Traveloka. Kita berharap bahwa di masa mendatang, akan muncul lebih banyak lagi anak-anak muda Indonesia yang melahirkan perusahaan-perusahaan teknologi di berbagai bidang, dengan inovasi baru yang mampu menyaingi kreatifitas anak muda AS di Universitas Stanford dan di Lembah Silikon.</p>
<p>Yang penting, Indonesia tidak boleh tertinggal terlalu jauh. Harus kita akui, beberapa negara Asia lainnya, seperti China, India, dan Korea Selatan sudah berjalan di depan kita. Mereka sudah melahirkan beberapa tokoh, perusahaan, serta produk-produk kelas dunia.</p>
<p>Dibandingkan dengan mereka, bisa dikatakan bahwa kita sekarang barangkali masih atau sedang menggeliat. Kalau mengutip puisi penyair Chairil Anwar, mungkin kita bisa berkata bahwa Indonesia saat ini sedang berada “di garis batas antara pernyataan dan impian.” Kita sudah cukup maju, <em>but we are not quite there yet</em>. Kita punya banyak potensi, namun realisasinya belum sepenuhnya terwujud.</p>
<p>Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, baik tokoh maupun perusahaan, lembaga pemerintah, lembaga swasta, serta lembaga pendidikan, terutama universitas besar seperti ITB, UI, UGM, dan lain sebagainya, berhasil menciptakan kawah candradimuka  yang menjadi pusat-pusat baru pendorong kemajuan bangsa kita.</p>
<p>Jika semua itu terjadi,  saya yakin Indonesia akan tumbuh cepat. Bahkan bukan tidak mungkin, dalam merayakan Hari Proklamasi yang ke-100 kelak di tahun 2045, yang tinggal satu generasi lagi, anak-anak muda Indonesia dapat dengan bangga berkata bahwa merekalah yang saat itu berdiri di garis terdepan kemajuan umat manusia.</p>
<p>Saat itu kita juga berharap bahwa Indonesia sudah melepaskan predikat sebagai negeri berpendapatan menengah, tetapi sudah naik kelas menjadi negeri yang maju sepenuhnya.</p>
<p>Tentu, saya dan generasi saya tidak akan lagi merasakan momen kebanggaan tersebut. Kami pasti sudah akan menjadi bagian dari masa lalu. Tapi terus terang, saya pribadi sudah sangat senang jika berpikir dan bermimpi bahwa suatu saat kelak Indonesia akan memasuki era yang membanggakan tersebut, yaitu era 100 tahun proklamasi yang menjadi simbol keberhasilan kita sebagai sebuah negara maju.</p>
<p>Indonesia yang maju dan modern. Indonesia yang gagah, terbuka dan merangkul semua. Indonesia yang penuh percaya diri serta memberi sumbangan positif bagi perkembangan peradaban dunia, baik dalam bidang kesusasteraan, kebudayaan, kedokteran, maupun dalam dunia ilmu dan teknologi.</p>
<p>Insya Allah semua itu akan segera terwujud. Amiien.</p>
<p><em>Hadirin yang saya hormati</em></p>
<p><em>Saudara-saudara yang saya cintai</em></p>
<p>Akhirnya, sekali lagi kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya acara Malam Penghargaan ini, dari lubuk hati yang tulus saya mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Demikian pula, kepada para penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2017 (Saiful Mujani, Terawan Agus Putranto, Ebiet G. Ade dan Nadiem Makarim), sekali lagi saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang sebesar-besarnya. Semoga karya dan dedikasi saudara-saudara menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam menempuh hidup dan kehidupan ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Wabillahi taufiq walhidayah</em></p>
<p><em>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2017/majulah-negeriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Garis Batas Pernyataan, dan Impian</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2016/indonesia-garis-batas-pernyataan-dan-impian/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2016/indonesia-garis-batas-pernyataan-dan-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2016 20:57:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=845</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Malam Penghargaan Achmad Bakrie ke-14, Jakarta, 20 Agustus 2016.
 
Assalamualikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua
Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunia-NYA maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti Malam Penghargaan Achmad Bakrie yang ke-14.
Perkenankanlah saya mengucapkan ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Malam Penghargaan Achmad Bakrie ke-14, Jakarta, 20 Agustus 2016.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-846" title="ARB achmad bakrie 2016" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2016/10/ARB-achmad-bakrie-2016.jpg" alt="ARB achmad bakrie 2016" width="334" height="193" />Assalamualikum Wr. Wb.</p>
<p>Salam sejahtera buat kita semua</p>
<p>Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunia-NYA maka kita berada bersama-sama pada malam yang berbahagia ini untuk mengikuti Malam Penghargaan Achmad Bakrie yang ke-14.</p>
<p>Perkenankanlah saya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh yang pada malam ini menerima penghargaan, yaitu Mona Lohanda, Afrizal Malna, Danny Hilman Natawijaya, Rino R. Mukti, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.<span id="more-845"></span></p>
<p>Tokoh-tokoh dan lembaga penelitian ini telah memberikan dedikasi, dharma bakti, dan sumbangan positif dalam bidang ilmu dan pengabdian masing-masing. Dunia mereka bukanlah dunia yang gemerlap. Pengabdian dan profesi pada bidang penelitian, pemikiran dan penulisan bukanlah sebuah profesi yang bertaburan materi, kekuasaan dan tepuk tangan. Dunia mereka adalah dunia yang sepi.</p>
<p>Namun demikian, dalam segala keterbatasan yang ada, tokoh-tokoh yang menerima penghargaan Achmad Bakrie pada malam ini telah membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki putra dan putri terbaik, anak-anak bangsa yang bekerja dengan tekun dan penuh dedikasi, sehingga sanggup berkarya dengan pencapaian yang membanggakan kita semua.</p>
<p>Mereka telah memperkaya kebudayaan Indonesia modern, memperdalam pandangan kita tentang sejarah dan masyarakat kita sendiri, serta membuka horizon pengetahuan baru dalam berbagai kajian ilmu pengetahuan, serta dalam pengabdian dunia kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Karena itulah, kepada tokoh-tokoh dan lembaga yang menerima penghargaan pada malam ini sudah selayaknya seluruh bangsa Indonesia menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya.</p>
<p>Khusus mengenai Sdr. Afrizal Malna yang tidak bersedia menerima penghargaan ini, sikap dan apresiasi kita terhadap beliau tidak berkurang sedikit pun. Sdr. Afrizal telah memberikan sumbangan penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Kita menghargai sumbangan penting ini,  sambil terus mendorong agar kaum seniman dan kaum sastrawan Indonesia mencetak karya-karya yang membuka cakrawala serta mempertajam kepekaan manusia Indonesia atas diri dan lingkungannya.</p>
<p>Selain itu, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara acara ini, yaitu Yayasan Bakrie untuk Negeri, Tvone dan ANTV, segenap Dewan Juri, Universitas Bakrie dan Freedom Institute. Tradisi penghargaan ini telah dimulai sejak tahun 2003. Tanpa terasa pada tahun 2016 ini kita sudah memasuki tahun ke-14, dengan daftar penerima penghargaan yang sudah cukup panjang, lebih dari 50 tokoh dan lembaga dalam berbagai bidang ilmu dan pengabdian.  Insya Allah, tradisi pemberiaan penghargaan yang telah kita rintis ini dapat membawa manfaat, betapapun kecilnya, bagi kemajuan bangsa dan negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sejak awal, sengaja saya berpesan bahwa acara Malam Penghargaan Achmad Bakrie selalu diadakan di seputar perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Inilah bentuk keikutsertaan kita dalam memperkaya substansi perayaan Hari Proklamasi Republik Indonesia.</p>
<p>Kemerdekaan adalah sebuah rahmat, atau seperti kata Bung Karno: Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas untuk menuju pada suatu cita-cita mulia, yaitu sebuah bangsa yang maju dan modern, sebuah bangsa yang kuat jiwa dan raganya, serta sebuah bangsa yang adil serta makmur.</p>
<p>Salah satu favorit saya dari puisi yang dikumpulkan oleh ayahanda, Almarhum Achmad Bakrie, berbunyi sebagai berikut:</p>
<p><em>Freedom makes opportunities</em></p>
<p><em>Opportunities make hope</em></p>
<p><em>Hope makes life and future</em></p>
<p>Kemerdekaan membuka kesempatan, kesempatan membentangkan harapan, dan harapan menumbuhkan kehidupan serta mewujudkan masa depan.</p>
<p>Karena itulah, lewat pemberian penghargaan ini, kita ingin menitipkan pesan agar bangsa Indonesia terus membuka kemungkinan baru, terus mengembangkan cakrawala dalam berbagai bidang ilmu, agar cita-cita mulia yang lahir lewat Proklamasi Kemerdekaan memang dapat tercapai.</p>
<p>Dalam mengisi kemerdekaan, perjalanan bangsa Indonesia sudah cukup jauh. Kemajuan telah berhasil dicapai, betapapun masih banyak kekurangan di sana-sini. Kita juga sudah semakin matang dalam berdemokrasi, tanpa mengorbankan kemajemukan yang memang menjadi ciri khas kita.</p>
<p>Dalam perjalanan di tahun-tahun mendatang, kita perlu memberi catatan bahwa kemajuan bangsa akan semakin terkait dengan kemampuan kita dalam mengolah pikiran, dalam mengembangkan kreatifitas untuk menjawab berbagai kebutuhan praktis manusia.</p>
<p>Sejak awal abad ke-21 hampir semua inovasi terbaru yang mempengaruhi cara hidup manusia sekarang ini berasal sebuah daerah kecil di Pantai Barat Amerika Serikat, dengan koridor wilayah tidak lebih 150 km, yang membentang dari San Francisco ke San Jose, melewati gugusan lembah dan perbukitan agak gersang yang lebih dikenal sebagai Silicon Valley, Lembah Silikon.</p>
<p>Revolusi <em>personal computer</em>, dunia digital, internet, smartphone, Facebook, Google dan berbagai inovasi lainnya telah mengubah cara hidup manusia, baik dalam bekerja, berbisnis, hingga dalam kehiduipan sosial dan dalam mencari ilmu pengetahuan. Bahkan Elon Musk, yang kini menjadi ikon terbesar Silicon Valley setelah Steve Jobs, sedang berada dalam tahap akselerasi untuk mengubah sama sekali metode konvensional dalam transportasi, energi, dan eksplorasi angkasa luar.</p>
<p>Dalam soal yang terakhir ini, yaitu eksplorasi angkasa luar, Elon Musk telah melahirkan sebuah revolusi lagi, yang oleh NASA sekalipun gagal dilakukan selama tiga atau empat dekade terakhir, yaitu penciptaan roket yang mampu mendarat kembali setelah melepaskan muatannya ke angkasa luar. Semua ini dilakukan oleh Elon Musk sebagai tahapan awal untuk mewujudkan mimpi masa kecilnya, yaitu untuk mendaratkan dan membuat koloni manusia di Planet Mars.</p>
<p>Luar biasa. Kita tidak tahu apakah kaum pionir seperti Elon Musk pada akhirnya akan berhasil atau tidak dalam mewujudkan mimpinya. Dia seperti Christopher Columbus dan Ferdinand Magellan di abad ke-15. Garis batas cakrawala manusia seperti mereka jauh melampaui imajinasi kita.</p>
<p>Paling jauh kita bisa berharap bahwa kaum sastrawan, kaum penulis dan kaum intelektual lainnya sanggup memahami perubahan dan membuat karya-karya besar dalam dunia fiksi, juga dengan imajinasi yang jauh, tentang kemungkinan-kemungkinan baru tersebut.</p>
<p>Julius Verne di abad ke-19 melakukannya lewat berbagai novel yang masih dibaca sampai hari ini, seperti <em>20.000 Leagues under the Sea</em>, serta <em>Around the World in 80 Days</em>. Demikian pula, di pertengahan abad ke-20, dengan imajinasi yang agak kelam, George Orwell menghasilkan sebuah karya besar, <em>1984</em>, yang menggambarkan nasib yang menanti manusia di ujung perkembangan sejarah.</p>
<p>Singkatnya, Silicon Valley dan kaum pionir seperti Steve Jobs dan Elon Musk telah membuka begitu banyak kemungkinan baru, baik dalam dunia penulisan, penelitian, bisnis, produksi, transportasi, hiburan, dan sebagainya. Dunia berubah begitu cepat, begitu serempak, dan sekarang kita menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya.</p>
<p>Terus terang, saya tidak pernah berhenti mengagumi serta terheran-heran: bagaimana bisa daerah sekecil Silicon Valley menyebabkan perubahan dunia yang begitu besar? Bagaimana bisa, dengan anak-anak muda yang begitu informal, dengan blue jeans, T-shirt, dan sepatu Nike, melahirkan gelombang perubahan dunia susul-menyusul tanpa henti selama dua dekade terakhir?</p>
<p>Sejak Prof. William Shockley menemukan prinsip semikonduktor di Universitas Stanford dan memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1956, daerah kecil yang dijepit oleh Gurun Pasir Nevada dan Lautan Pasifik itu terus menjadi kawah candradimuka yang meramu dan mempertemukan <em>pure curiosity</em>, kreatifitas anak-anak muda, inovasi teknologi, dengan kesempatan bisnis dan akumulasi kapital yang luar biasa, baik dalam kecepatan maupun skalanya.</p>
<p>Barangkali jawaban semua itu terletak pada kombinasi beberapa hal, seperti kebebasan dan sistem universitas yang sangat baik, yang dibingkai oleh peran pemerintah dan peran swasta yang tepat. Selain itu, satu faktor ini juga tidak boleh dilupakan, yaitu peran anak-anak muda yang berjiwa enterpreneur dengan kemampuan keilmuan yang piawai, seperti Robert Noyce dan Gordon Moore (pendiri INTEL), Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sergey Brin, dan pionir-pionir semacamnya.</p>
<p>Apapun sebab dan faktor-faktor yang melahirkan kondisi seperti di Silicon Valley, Indonesia harus segera belajar dan mencoba mengikutinya, tentu dengan konteks dan metode yang sesuai dengan kemampuan kita.</p>
<p>Yang penting, jangan sampai kita tertinggal terlalu jauh. Harus kita akui, beberapa negara Asia lainnya, seperti Cina, India, dan Korea Selatan sudah berjalan di depan kita. Mereka sudah melahirkan beberapa tokoh, perusahaan, serta produk-produk kelas dunia.</p>
<p>Indonesia barangkali masih atau sedang menggeliat. Kalau mengutip puisi penyair Chairil Anwar, mungkin kita bisa berkata bahwa Indonesia saat ini sedang berada “di garis batas (antara) pernyataan dan impian.” Kita sudah cukup maju, <em>but we are not quite there yet</em>. Kita punya banyak potensi, namun realisasinya belum sungguh-sungguh terwujud.</p>
<p>Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, baik tokoh maupun perusahaan, lembaga pemerintah, lembaga swasta, serta lembaga pendidikan, terutama universitas besar seperti ITB, UI, UGM, dan lain sebagainya, berhasil menciptakan kawah candradimuka  yang menjadi pusat-pusat baru pendorong kemajuan bangsa kita.</p>
<p>Dalam mencapai semua itu, kita jangan terlalu membuang waktu. Walau demokrasi adalah sebuah rahmat, kita jangan sering ribut sendiri, mencari-cari kesalahan orang lain. Kita harus melangkah bersama merebut kemajuan di masa depan.</p>
<p>Jika semua itu terjadi,  saya yakin Indonesia akan tumbuh sebagai sebuah negeri yang semakin membanggakan kita. Bahkan bukan tidak mungkin, dalam merayakan Hari Proklamasi yang ke-100 kelak di tahun 2045, yang tinggal satu generasi lagi, anak-anak muda Indonesia dapat dengan bangga berkata bahwa merekalah yang saat itu berdiri di garis terdepan kemajuan umat manusia.</p>
<p>Saat itu kita juga berharap bahwa Indonesia sudah melepaskan predikat sebagai negeri berpendapatan menengah, tetapi sudah naik kelas menjadi negeri yang maju sepenuhnya.</p>
<p>Tentu, saya dan generasi saya tidak akan lagi merasakan momen kebanggaan tersebut. Kami pasti sudah akan menjadi bagian dari masa lalu. Tapi terus terang, berpikir dan bermimpi tentang saat yang membanggakan tersebut saat ini sebenarnya sudah sangat membesarkan hati saya.</p>
<p>Indonesia yang maju. Indonesia yang gagah, terbuka dan merangkul semua, dengan kepercayaan diri yang besar turut serta memberi arti dan sumbangan positif bagi perkembangan peradaban dunia.</p>
<p>Insya Allah semua itu akan segera terwujud. Amiien.</p>
<p>Akhirnya, sekali lagi kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya acara Malam Penghargaan ini, dari lubuk hati yang tulus saya mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Demikian pula, kepada para penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2016 (Mona Lohanda, Afrizal Malna, Danny Hilman Natawijaya, Rino R. Mukti, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman), sekali lagi saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang sebesar-besarnya. Semoga karya dan dedikasi saudara-saudara menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam menempuh hidup dan kehidupan ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Wabillahi taufiq walhidayah</p>
<p>Wassalamu alaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2016/indonesia-garis-batas-pernyataan-dan-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>136</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengalir Tapi Tak Hanyut</title>
		<link>http://aburizalbakrie.id/2016/mengalir-tapi-tak-hanyut/</link>
		<comments>http://aburizalbakrie.id/2016/mengalir-tapi-tak-hanyut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2016 08:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aburizalbakrie.id/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Pembukaan Rapimnas Partai Golkar 2016
 
Pertama-tama saya ingin mengucapkan salam hangat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua kader dari berbagai wilayah yang hadir pada malam yang berbahagia ini. Secara khusus, kepada pimpinan partai dari berbagai daerah dan provinsi yang selama ini menjadi ujung tombak Partai Golkar, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Pada malam ini, ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Pidato Pembukaan Rapimnas Partai Golkar 2016</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><img class="size-full wp-image-2296 alignright" title="361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382" src="http://aburizalbakrie.id/wp-content/uploads/2016/01/361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382.jpg" alt="361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382" width="325" height="187" />Pertama-tama saya ingin mengucapkan salam hangat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua kader dari berbagai wilayah yang hadir pada malam yang berbahagia ini. Secara khusus, kepada pimpinan partai dari berbagai daerah dan provinsi yang selama ini menjadi ujung tombak Partai Golkar, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.</p>
<p>Pada malam ini, kita mengawali sebuah forum penting, yaitu Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar. Forum ini adalah lembaga pemegang mandat tertinggi di bawah Munas dalam memutuskan berbagai hal yang bersifat strategis. Karena itu, marilah kita jadikan Rapimnas ini sebagai sebuah momentum untuk memberi arah pada perjalanan Partai Golkar ke depan.<span id="more-412"></span><br />
<span id="more-2294"> </span></p>
<p>Lewat forum terhormat ini, kita selesaikan segala persoalan yang ada selama setahun terakhir ini. Selesai, tuntas, dan paripurna: itulah yang harus kita putuskan sekarang, dengan menghimbau kepada semua pihak agar kembali bersatu, melangkah bersama dalam semangat persahabatan demi keutuhan partai yang kita cintai ini.</p>
<p>Partai Golkar harus segera mempersiapkan diri menyongsong berbagai peristiwa penting di depan, seperti Pilkada 2017 dan 2018, serta Pileg dan Pilpres 2019. Dalam kondisi apapun, konsolidasi organisasi mutlak untuk dilakukan, baik vertikal maupun horizontal, di kota dan terlebih lagi di kecamatan hingga di desa-desa. Hanya dengan cara inilah Partai Golkar akan mampu menjaga kiprahnya sebagai kekuatan politik yang disegani.</p>
<p>Selain itu, dalam konteks yang lebih besar, lewat Rapimnas ini Partai Golkar harus terus menyuarakan pentingnya reformasi lebih lanjut dari sistem ketatanegaraan Indonesia. Tanpa terasa Republik Indonesia akan berusia seabad. Adalah tekad kita semua bahwa pada saat itu, Indonesia sudah naik kelas menjadi negara maju. Itulah tujuan besar kita.</p>
<p>Dengan melakukan reformasi ketatanegaraan, lewat Perubahan ke-5 dari UUD 45, Partai Golkar ingin menyempurnakan konstitusi agar menjadi instrumen utama pencapaian tujuan besar kita. Banyak hal dapat dilakukan di sini, di antaranya adalah perumusan kembali posisi GBHN sebagai <em>blueprint</em> sistem pembangunan nasional.</p>
<p>Partai Golkar sudah cukup intensif menyuarakan semua itu dalam sebuah dokumen penting tentang Visi Indonesia 2045. Besar harapan saya bahwa Rapimnas ini akan membahasnya kembali dan memunculkan ide-ide yang lebih kongkret tentang langkah-langkah perwujudannya lebih lanjut.</p>
<p>Mengenai konflik internal di partai kita, proses hukum sedang berjalan dan fakta mengatakan bahwa kemenangan Kubu Munas Bali sudah berada di depan mata. Walau demikian, saya berharap bahwa setelah Rapimnas ini, tidak akan lagi ada kubu Bali atau kubu apapun. Yang ada hanyalah kubu Beringin yang daunnya lebat menaungi setiap kader dan kekuatan Partai Golkar.</p>
<p>Proses hukum memang belum tuntas. Kita masih menunggu satu lagi keputusan Mahkamah Agung. Namun demikian, kita semua tahu bahwa supermasi hukum di negeri kita masih menjadi cita-cita luhur yang belum sepenuhnya terwujud dalam realitas. Selain proses hukum, faktor politik dan kekuasaan masih terus berperan dan menjadi faktor yang tak mungkin diabaikan.</p>
<p>Itulah kenyataan yang harus kita terima di republik tercinta ini. Memang agak pahit, tapi itulah realita kehidupan.</p>
<p>Terhadap semua itu, kita tidak boleh merasa kecil hati atau kehilangan pegangan. Jangan kutuk gelapnya malam, tetapi nyalakanlah pelita untuk meneranginya: itulah kearifan hidup yang harus kita terapkan dalam kondisi yang dihadapi sekarang.</p>
<p>Atau barangkali, ungkapan yang menarik dari pahlawan pendidikan kita, yaitu Ki Hadjar Dewantoro, harus dikatakan lagi saat ini: <em>Ngeli tonpo keli</em>. Mengalir tapi tidak hanyut. Kita mengalir, kita terima realitas politik yang ada, kita memahaminya, kita bergerak bersamanya, tetapi kita tetap menjaga roh dan semangat dasar yang menjadi cita-cita perjuangan Partai Golkar.</p>
<p>Dalam konteks itulah Rapimnas harus segera bersikap mengenai penyelenggaraan Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa). Pada hemat saya, dalam situasi normal, barangkali Munaslub tidak diperlukan. Tetapi kondisi partai yang kita cintai ini mungkin membutuhkan metode penyelesaian di luar jalur normal, dan semua itu hanya bisa diwadahi secara sah dan terlembaga lewat mekanisme Munaslub. Kita harus memahami sikon, kita harus pandai membaca situasi, dan seperti yang saya katakan tadi, di Indonesia terkadang kekuasan politik masih berada di atas supermasi hukum. Kita menerima semua ini untuk mempersatukan kembali kekuatan partai.</p>
<p>Karena semua itulah, dari lubuk hati saya yang terdalam, kepada segenap peserta Rapimnas, saya ingin katakan di sini dengan sejelas-jelasnya: ambillah keputusan yang tuntas dan jelas arahnya, dan saya sebagai Ketua Umum akan patuh serta loyal pada keputusan tersebut. Saudara-saudara yang berhak mengambil keputusan, dan saya yang akan menjadi orang terdepan untuk mengawal agar keputusan tersebut terlaksana dan bersifat paripurna.</p>
<p>Mengenai waktu penyelenggaraan Munaslub, saya sarankan untuk diadakan sebelum bulan puasa tahun ini. Pilakda serentak 2017 harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Karena itu, jika Munaslub kita adakah pada April atau paling lambat Mei mendatang, maka DPP Partai Golkar hasil Munaslub akan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan konsolidasi dalam menyiapkan kader-kader kita untuk bertarung dalam Pilkada 2017.</p>
<p>Saya yakin, jika semua berjalan lancar, maka pada pertengahan 2016, Partai Golkar akan memulai sebuah era baru, sebuah langkah baru di mana  kader dan pimpinan partai bergerak seirama, dalam suasana kebersamaan, saling membantu, saling mendukung untuk merebut kembali kejayaan Golkar sebagai kekuatan yang disegani di seluruh penjuru Nusantara.</p>
<p>Masalah mendesak lain yang juga harus dituntaskan lewat Rapimnas ini adalah menyangkut posisi partai kita dalam konstelasi politik sekarang, khususnya posisi yang berhubungan dengan pemerintahan Presiden Jokowi.</p>
<p>Sebagai kekuatan politik, Golkar tidak lahir dalam oposisi. Doktrin partai kita berbeda dengan doktrin partai lainnya. Keahlian kita adalah pada pengelolaan kekuasaan, bukan pada perlawanan terhadap kekuasaan. Partai Golkar adalah partai karya dan kekaryaan, sebuah kekuatan yang positif, konstruktif, terutama dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Kita ahli membangun, jagoan dalam berkarya, tetapi barangkali rikuh dan kehilangan jati diri dalam situasi pertengkaran dan keributan terus menerus.</p>
<p>Karena itulah kita harus segera bersikap, melakukan <em>repositioning</em> demi pengabdian kita pada tujuan yang lebih besar, yaitu kejayaan partai dan kemajuan Republik Indonesia. Sesuai dengan hasil rapat konsultasi nasional di Bali beberapa minggu silam, saya yakin bahwa kader-kader partai kita akan memutuskan lewat Rapimnas ini agar Partai Golkar memilih jalur pengabdian dengan berada <em>bersama</em> kekuatan yang dipimpin oleh Presiden Jokowi.</p>
<p>Dengan begitu, kita berkesempatan untuk berpartisipasi dalam lahirnya kebijakan-kebijakan progresif, membicarakan dan mendiskusikannya sebelum kebijakan tersebut diluncurkan. Itulah kelebihan dan kekuatan Partai Golkar: kerja, karya, dan usaha-usaha yang konstruktif.</p>
<p>Semua itu tidak berarti bahwa kita menjilat ludah sendiri, atau bahwa kita menghamba pada kekuasaan. <em>Power has to have a purpose</em>. Kekuasaan harus memiliki tujuan, dan sejauh tujuan kita adalah pada partisipasi dalam kemajuan Indonesia, maka selebihnya hanyalah masalah taktis yang bersifat kontekstual.</p>
<p>Kepada sahabat-sahabat kita di KMP (Koalisi Merah Putih), harus kita katakan bahwa tali perkawanan kita tidak mengendur sedikit pun. Kita semua tetap berada dalam kubu kebangsaan, kubu Merah Putih, putra dan putri bangsa Indonesia yang ingin mengabdi demi kemajuan Tanah Air. Mimpi dan kerinduan kita sama. Cita-cita kita pun tidak berbeda. Indonesia harus terus melangkah maju lewat tangan dan usaha kita bersama, apapun partai dan pemihakan politik masing-masing.</p>
<p>Karena itu, saya tidak ragu sedikit pun. Tujuan tetap sama. Arah kapal besar kita pun tetap sama. Kita hanya berbelok sedikit. Kita hanya berputar sedikit, karena adanya angin kencang dan jalur perjalanan kita memang harus disesuaikan kembali.</p>
<p>Saya ingin mengingatkan kita kembali akan ungkapan Jendral Omar Bradley, pahlawan Perang Eropa: <em>put your course on the stars, not on the lights of every passing ships</em>. Tetapkan tujuanmu berdasarkan pada bintang-bintang di langit, bukan pada cahaya kapal-kapal kecil yang datang dan pergi. Makna kata-kata inilah yang perlu kita renungkan bersama pada saat-saat  penting seperti ini.</p>
<p>Insya Allah, setelah berbagai keputusan penting ditetapkan, dan setelah <em>repositioning</em> dilakukan, layar Partai Golkar akan terkembang kembali, terbuka lebar dan melaju kencang bersama angin buritan dalam mencapai pelabuhan yang menjadi tujuan kita semua.</p>
<p>Akhirnya, saya ingin mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap panitia penyelenggara Rapimnas ini. Sebagai penutup, seperti tradisi retorika Partai Golkar dalam beberapa tahun terakhir ini, saya ingin membacakan tiga bait pantun:</p>
<p><em>Laju-laju perahu laju</em></p>
<p><em>Ombak meninggi anginnya kencang</em></p>
<p><em>Pandai-pandai Golkar melaju</em></p>
<p><em>Hindari biduk terhempas karang</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Awan menggulung datang dan pergi</em></p>
<p><em>Perahu pinisi melawan badai</em></p>
<p><em>Mari Bung satukan hati</em></p>
<p><em>Rebut kembali kejayaan partai</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dari Solo sampai Jakarta</em></p>
<p><em>Menang di sini menang di sana</em></p>
<p><em>Presiden Jokowi harapan kita</em></p>
<p><em>Junjunglah hukum majulah bangsa</em></p>
<p>Demikianlah sambutan ini. Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran saudara-saudara semua dalam acara pembukaan Rapimnas 2016 ini. Maju terus Partai Golkar. Maju terus Indonesia tercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aburizalbakrie.id/2016/mengalir-tapi-tak-hanyut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7780</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->