Mengobrol di Komunitas Blogger Langsat

Setelah sempat tertunda, diskusi di komunitas Langsat terlaksana, Selasa, 1 Juni 2010, kemarin. Di sana saya berjumpa dan berdiskusi dengan banyak teman yang selama ini aktif di blog, twitter maupun jejaring sosial lain.

Saya datang bersama anak saya, Anin (Anindya Bakrie), untuk berdialog mengenai berbagai isu aktual. Banyak sekali pertanyaan yang ditujukan kepada saya dari peserta diskusi. Yang menarik, selain disampaikan langsung, ada pula yang bertanya, berkomentar, dan juga mengritik melalui twitter dengan hashtag #obsat yang ditayangkan di layar.

Tanya jawab sangat banyak jika ditulis satu persatu. Karena itu di blog ini saya akan menulis beberapa topik saja yang sering ditanyakan kepada saya. Diskusi yang berlangsung di Rumah Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu dipandu oleh Pemimpin Redaksi detikcom Budiono Darsono dan Wakil Pemimpin Redaksi Tempo Interaktif Wicaksono atau ndorokakung. Berikut intisarinya.

Golkar dan Capres

Pertanyaan: Sebagai pemain tenis dan pemain politik, Anda seperti sama-sama menikmati kedua bidang itu. Nah, sekarang permainan masih akan berjalan sekian set ke depan sampai 2014. Munculnya ketua umum Partai Demokrat dari kalangan muda ternyata track record-nya belum cukup untuk menjadi calon pemimpin di 2014. Sehingga tokoh yang akan muncul di 2014 dipastikan hanya Pak Ical dan Prabowo. Pertanyaan saya, apakah Bapak menyiapkan diri saat ini untuk fight di 2014 untuk jadi presiden?

Jawab: Menyiapkan diri jadi presiden? Sampai sekarang terpikirkan saja belum. Yang pasti, saya sekarang menyiapkan agar Partai Golkar menjadi pemenang di 2014. Semua upaya Golkar diarahkan ke situ. Partai Golkar memiliki empat catur sukses. Pertama konsolidasi organisasi, kaderisasi, sukses pembangunan nasional, dan keempat adalah pilkada. Jadi berdasarkan itulah maka langkah-langkah yang saya ambil untuk kemenangan Partai Golkar di 2014. Itu yang kami siapkan, bukan menyiapkan saya pribadi untuk jadi presiden. Golkar belum menentukan siapa yang akan menjadi capres dari Partai Golkar di 2014. Tentu, kemenangan partai berarti kemenangan pemilu legislatif dan kemenangan pilpres. Tapi siapa calon presiden dari Partai Golkar belum tahu. Masih terlalu lama.

Pertanyaan: Obama kan lima tahun menyiapkan diri.

Jawab: Itu kalau Obama. Kalau saya belum menyiapkan diri, tuh. Jadi memang belum terpikirkan oleh saya. Belum terpikir sama sekali.

Budiono Darsono: Kalau keinginan nggak ada, Pak? Kalau terpikir mungkin belum, tapi keinginan jadi presiden?

Jawab: President Taxi mungkin iya … hahaha.

Budiono Darsono: Apa yang akan membuat Pak Ical bersedia menjadi calon presiden?

Jawab: Saya selalu mengatakan kenapa saya mau masuk menjadi ketua umum Golkar, karena Golkar waktu itu dalam keadaan terpuruk, kalah pemilu. Waktu jadi Ketua Umum Kadin dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) juga begitu. Andaikata negara membutuhkan, saya selalu siap. Saat diminta menjadi Menko Perekonomian semula saya katakan kalau jadi penasehat boleh, kalau masuk kabinet nggak mau. Lalu Presiden mengatakan kepada saya kalau berani basah, nyebur sekalian, bantu saya. Jadi itu alurnya. Saya tidak tahu rencana Allah nanti bagaimana. Saya tidak tahu alurnya. Saya selalu percaya Allah yang selalu menentukan saya menjadi apa.

Pertanyaan: Ini pertanyaannya beda, Pak. Tadi kan politik sudah. Saya ingin tanya soal olahraga. Pak Ical dan Bakrie itu kan punya Pelita Jaya, dulu komitmennya ada delapan cabang, sekarang kenapa tinggal dua, sepak bola dan basket. Apa komitmen Bakrie terhadap olahraga sekarang menurun?

Jawab: Duite gak ono (uangnya tidak ada) … hahaha.

Pertanyaan: Bujet Bakrie Untuk Negeri untuk olahraga itu berapa, Pak? Apakah ada rencana untuk membangun klub atau cabang baru?

Jawab: Mengenai masalah Bakrie Untuk Negeri itu ketuanya Anin. Bakrie Untuk Negeri itu bukan hanya olahraga. Sejak 1995 saya mendirikan koperasi untuk orang-orang yang tidak mendapat Jamkesmas. Jadi, operasi mata, pengobatan bayi segala macam itu saya berikan cuma-cuma. Sebanyak 80 persen mahasiswa di Universitas Bakrie adalah orang-orang yang tidak berpunya dan mereka 100 persen dibiayai oleh keluarga Bakrie. Salah satunya, ada anak seorang tukang ojek. Saya ingat karena waktu saya

berkunjung ke Universitas Bakrie, saya bertanya ke seorang mahasiwa, bapaknya kerja apa? Dia bilang ayah saya pengusaha transportasi. Saya tanya lagi, transportasi apa? “Ojek, Pak,” katanya.

Selain itu untuk Bakrie Peduli untuk olahraga. Untuk sepakbola besar sekali budgetnya, Pelita Jaya untuk bulutangkis masih ada tenis juga masih ada. Sepeda tidak ada lagi renang tidak ada lagi. Komitmennya masih. Bakrie untuk negeri itu mesti memilih

yang mana. Sekarang ini tampaknya pada olahraga masih besar tapi untuk masyarakat luas juga banyak.

Soal Sri Mulyani

Pertanyaan: Pak Ical, kalau membaca di twitter dan lainnya Pak Ical ini kok sangat berkuasa sih. Saya pingin tahu sebenarnya bagaimana hubungan Pak Ical dengan Sri Mulyani kok bisa seperti ini?

Jawab: Maksudnya bagaimana?

Pertanyaan: Kalau baca di media kenapa Pak Ical tega banget nguyek-uyek Sri Mulyani yang perempuan, yang tidak punya partai, sehingga sekarang ada juga gerakan yang mendukung Sri Mulyani.

Jawab: Harus dong, dia orang baik.

Pertanyaan: Sebenarnya gimana sih hubungan Pak Ical dengan Sri Mulyani? Apa Pak Ical pernah ditolak cintanya oleh Sri Mulyani? … hahaha

Jawab: Apakah ada ucapan saya di media massa yang mengatakan bahwa saya dengan Sri Mulyani berseberangan? Yang ada Bu Sri sendiri waktu itu membuat pernyataan berseberangan dengan saya seperti dimuat di Wall Street Journal. Waktu itu ada wartawan TV bertanya kepada saya. Pak, apa tidak dengar statement dari Ibu Sri Mulyani di Wall Street Journal? Dia bilang Ibu Sri Mulyani mengatakan bahwa saya tidak suka dia. Jawaban saya waktu itu, “Oh, kalau itu yang dikatakan Bu Sri Mulyani, gimana ya? Dia sudah bersuami dan saya sudah beristri. Jadi bagaimana saya bisa suka? … Hehehe

Saya pribadi dengan Ibu Sri Mulyani tidak ada masalah. Sebagai orang yang lebih muda, setiap Lebaran dia datang ke rumah saya. Perbedaan yang prinsipil adalah cara melihat pembangunan ini. Bu Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa keberhasilan ekonomi dinilai dari economic growth. Saya menilai keberhasilan ekonomi, selain dari economic growth, juga tidak kalah pentingnya adalah siapa yang menjalankan perekonomian itu. Kalau perekonomian sepenuhnya dijalankan oleh orang asing atau oleh sebagian kecil atau segelintir masyarakat Indonesia, maka pembangunan ekonomi itu tidak berhasil.

Nah, tadi pagi Presiden bicara mengenai pentingnya intervensi pemerintah. Beliau mengatakan ekonomi kapitalistik dan liberiberalistik sudah ketinggalan, apalagi ekonomi sosialistik. Kita lihat Obama sukses memperjuangan UU Kesehatan yang akan membuat 95 persen rakyatnya diproteksi asuransi kesehatan. Nah, jadi sudah tidak ada lagi ekonomi liberalistik

seperti itu. Intervensi pemerintah selalu diperlukan.

Tentu dalam kabinet selalu ada perdebatan antara intervensi vs non intervensi pemerintah. Itu masalah pokoknya. Jadi, tidak ada masalah pribadi. Hanya soal masalah cara melihat. Yang dianut Bu Sri Mulyani juga baik. Tapi, saya melihat bahwa kalau semua orang bule, kalau semua orang keturunan yang berada di hotel-hotel besar, mal-mal besar, dan masyarakat luas hanya bisa ngiler saja, pembangunan tidak berhasil, walau growth-nya 10 persen.

Karena itu saya mengatakan intervensi pemerintah harus selalu ada. Intervensi pemerintah dalam hal subsidi, pendidikan, intervensi dalam soal jaminan kesehatan, untuk beras masyarakat miskin, dan lainnya. Sekarang ada tiga juta anak yang tidak mampu bersekolah. Terhadap kasus seperti ini, harus ada intervensi pemerintah. Pada waktu ini ditolak, saya merasa kecewa. Ada juga soal orang yang penghasilannya selama tiga tahun berturut-turut hanya Rp700 ribu yang kemudian diberi program Heluarga

Harapan. It’s not enough.

Juga harus ada intervensi pemerintah terhadap masyarakat Papua. Problem di Papua adalah problem kesejahteraan rakyat. Mereka bukan mau merdeka. Mereka merasa dipinggirkan. Di pegunungan harga satu sak semen Rp1,4 juta. Jika pemerintah tak mengintervensi membuat jalan dari pegunungan ke pantai maka Papua akan tetap termarjinalkan. Permintaan saya waktu itu ditolak Bu Sri Mulyani. Kami sudah hitung dibutuhkan dana Rp560 miliar dalam waktu empat tahun untuk Papua. Namun, waktu itu hanya diberi Rp200 miliar.

Ke depan harus ditentukan kita mau memilih yang mana. Apakah kita mau memilih ekonomi yang liberal dan selalu melihat growth saja. Saya mengatakan tidak. Harus ada manusia-manusia Indonesia yang berkulit coklat untuk pembangunan ini. Saya bukan mendikotomikan pribumi-non pribumi. Tidak. Tapi kesempatan yang lebih besar harus diberikan kepada rakyat kita. Jangan yang

kulit coklat hanya Bakrie, Arifin Panigoro dan sebagainya. Kita bentuk yang lebih besar lagi.

Jadi, dengan Bu Sri Mulyani tentu ada perbedaan, tapi hanya perbedaan dalam melihat kebijakan ekonomi saja. Tidak ada masalah pribadi.

Wicaksono membacakan pertanyaan dari twitter: Tadi Bapak mengatakan intervensi pemerintah diperlukan. Apakah Grup Bakrie pernah diuntungkan intervensi pemerintah dalam berbisnis?

Jawab: Tidak ada. Karena grup kami sudah besar, sehingga tidak perlu intervensi dari pemerintah. Tapi perusahaan kecil perlu, terutama perusahaan yang baru mulai, apalagi intervensi pemerintah dalam hal jaminan.

Dana untuk Andi Mallarangeng

Wicaksono membacakan pertanyaan dari twitter: Seberapa besar dana yang dikucurkan Pak Ical untuk Freedom Institute tiap tahun dan berapa besar dana yang kemarin dikucurkan untuk Andi Mallarangeng maju sebagai calon ketua umum Partai Demokrat?

Jawab: Yang kedua jawabnya gampang: tidak ada. Untuk Andi Mallarangeng saya tidak kasih dana apa-apa. Mereka cukup besar dengan adanya perusahaan keluarga mereka, Fox Indonesia. Fox itu cukup besar untuk mendanai kampanye

sendiri.

Soal pertanyaan pertama, Freedom Institute itu kita dirikan untuk mendiskusikan berbagai permasalahan demokrasi, globalisasi, dan nasionalisme. Saya ini kan orang yang sekolahnya cuma sampai S1, anak saya S2. Saya ingin mengumpulkan orang-orang yang pandai dari berbagai bidang. Waktu itu saya tantang Rizal Mallarangeng untuk membuat lembaga semacam ini. Kami memberikan dana operasional tiap tahun, juga untuk menyekolahkan orang-orang melalui Freedom Institute. Saya tidak tahu berapa persisnya.

Mungkin kira-kira sekitar Rp3-4 miliar tiap tahun. Itu di luar tugas yang diberikan kepada Freedom Institute untuk mengelola Penghargaan Ahmad Bakrie untuk para ilmuwan Indonesia yang berprestasi.

KPC dan Lumpur Sidoarjo

Pertanyaan: Saya penasaran, apa kiat Kaltim Prima Coal (KPC) untuk menang dalam kasus pajak di Mahkamah Agung, Pak? Lalu soal Lumpur Lapindo kapan beresnya ya, Pak?

Jawab: Jawaban untuk yang pertama mudah: bersih menjalankan suatu pekerjaan. Kalau kita bersih, kita lurus, maka percayalah hukum akan membela yang bersih dan yang lurus. Itu saja. Bersih, lurus, dan berani fight. Yang lain nggak berani fight. Kalau KPC, mereka berani fight kalau mereka lurus dan benar. Saya hanya bisa menjelaskan. Saya sudah lama tidak di bisnis, tapi kalau mereka mau fight, saya hargai.

Biasanya pengusaha kalau pemerintah menerapkan kekuasaannya, meski tanpa wewenang, dia ikut saja karena takut. Bahwa KPC berani fight saya gembira sekali. Saya laki-laki, saya berani fight untuk apa yang saya yakini benar.

Yang kedua soal Lapindo. Lumpur Sidoarjo itu terjadi empat tahun yang lalu. Semburan itu tidak terjadi di tempat pengeboran dia, tapi berada kurang lebih 200 meter dari tempat pengeboran. Dan kalau kita lihat masalah gunung lumpur dan semburan lumpur seperti ini di dunia ada 700 titik. Yang terbesar di Azerbaijan. Di Indonesia sendiri, semburan lumpur terjadi berbagai macam.

Yang terakhir di Porong tidak bisa dilihat siapa yang menyebabkannya, karena itu memang fenomena alam.

Menurut para ahli dari daerah Purworejo sampai Madura itu memang ada sesar patahan. Namanya sesar Watu Kosek. Sesar ini, di daerah Jawa Tengah masih ada, yaitu Bledug Kuwu. Itu masih ada, masih hidup, dan sudah 60 tahun lamanya. Ini fenomena alam. Ini pertama kali dikemukakan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia dan kemudian oleh BPPT. Di Kalimantan kita lihat ada lumpur keluar dari tanah, di Indramayu, Jawa Barat, keluar besar sekali, juga di Sumatra Selatan terjadi seperti itu. Berapa lama lagi lumpur

Sidoarjo? Menurut teori 31 tahun akan berjalan seperti itu. Kalau di Azerbaijan tempat itu diambil alih oleh pemerintah dan kemudian pemerintah menyatakannya sebagai daerah berbahaya.

Lapindo itu perusahaan kecil. Bagi keluarga Bakrie, mustinya gampang sekali. Perusahaan kecil dituntut ya bangkrut dan tidak ada kewajiban lagi. Misalnya dikatakan itu karena kelalaian manusia, ya dinyatakan saja salah penanggung jawab pengeborannya. Tapi apa yang dilakukan? Ini faktor ibu saya. Ibu saya memerintahkan kepada saya, “Silakan ke pengadilan. Tapi terlepas kamu kalah

atau menang, kamu harus bantu semua, karena kamu rejekinya banyak.” Maka itu yang kami lakukan waktu itu.

Saya tidak mau mengatakan saya bersalah. Saya tidak mau mengatakan ganti rugi, yang ada adalah jual beli antara masyarakat dengan Lapindo. Dari mana duitnya? Dari kantong keluarga Bakrie. Keluarga kami melakukannya karena perintah dari Ibunda. Bagi saya, perintah Ibunda adalah titah.

Kami membeli tanah di wilayah tanggul dengan harga 20 kali NJOP. Jadi, kemarin ada pengajian di Sidoarjo, warga datang menyatakan syukur pada Allah SWT. Karena dengan konpensasi sebegitu besar mereka juga mendapat lebih besar. Mereka bisa naik haji, rumahnya bagus, dan sebagainya.

Yang diliput media kan ada 200 orang, dari total 12 ribu orang, di wilayah peta terdampak yang belum mendapatkan pembayaran dari pembelian seperti itu. Itu karena mereka tidak mau, dan hanya 200 dari 12 ribu warga. Tapi pembayaran untuk 11.800 warga lainnya sudah selesai, sesuai terminnya.

Pada waktu Lapindo diputus pengadilan tidak bersalah Ibu saya mendengar hal itu dan mengatakan, “Saya tidak peduli kalah atau menang. Jual beli itu laksanakan agar rakyat bisa hidup dengan baik.”

Budiono Darsono: Pak, 200 orang yang belum selesai itu masalahnya apa?

Jawab: Mereka tidak mau dengan skema itu. Di era sekarang, kalau 11.800 warga sudah setuju, apakah yang 200 orang harus ikut yang 11.800 atau bagaimana? Dia tidak boleh jadi tirani minoritas, dong.

Budiono Darsono: Berapa duit yang sudah dikeluarkan dari kantong keluarga Bakrie, Pak Ical?

Jawab: Rp7,8 triliun. Itu didapat dengan cara menjual saham keluarga. Apa boleh buat. Saham kami tinggal kecil sekali di beberapa perusahaan. Tidak ada saham keluarga Bakrie yang mayoritas. Di Bumi Resources, saham Bakrie and Brothers sebagai perusahaan. Keluarga Bakrie hanya punya 25 persen. Di Bakrie and Brothers itu keluarga Bakrie hanya punya 40 persen. Jadi berapa kepemilikan keluarga Bakrie di Bumi Resources jawabannya 40 persen x 22 persen, jadi hanya 8,8 persen. Selebihnya punya masyarakat. Ada masyarakat asing dan dalam negeri. Bumi Resources ini julukannya saham sejuta umat karena banyak yang punya saham di sana. Wartawan juga banyak yang punya saham di sana. Tapi untuk menyerang kami, itu tetap dikatakan milik keluarga

Bakrie. Padahal, masyarakat memiliki 91,2 persen.

Saya merasa kalau saya waktu itu tidak berada di dalam kabinet dan saat ini saya tidak menjadi Ketua Umum Partai Golkar, apalagi tidak menjadi ketua harian koalisi, serangan itu akan kecil.

Soal Sekretariat Gabungan Koalisi

Pertanyaan (Metro TV): Bagaimana menghadapi kegigihan Dirjen Pajak yang masih memperjuangkan selisih tunggakan pajak KPC. Apakah kemenangan di MA karena intervensi dan keberadaan Pak Ical di Sekretariat Gabungan Koalisi?

Jawab: Orang yang mengucapkan begitu seperti orang kalah main tenis. Kalau tidak bilang akibat wasitnya yang curang, dia akan bilang dia kalah karena bolanya gepeng. Saya hadapi saja. Ini jelas politik. Ada 15 perusahaan dalam daftar perkara MA, tapi yang disorot hanya KPC. Ini kan semata karena ada Aburizal Bakrie.

Soal Setgab, kesepakatan koalisi pada 15 Oktober 2009 itu adalah landasannya. Golkar masuk koalisi diputuskan sebelum 15 Oktober. Dalam konteks ini kita sepakat menginginkan pembangunan berhasil. Koalisi diperbolehkan untuk memberikan kritik pada pemerintah. Koalisi itu untuk pertukaran ide, tidak untuk mengambil alih kebijakan pemerintah. Dulu format koalisi adalah seperti pemadam kebakaran atas kebijakan pemerintah. Sekarang, diikutsertakan di mana Presiden sebagai Ketua Koalisi memberitahukan kebijakan yang akan diambil dan arah kebijakan itu. Dengan demikian partai koalisi mengerti apa yang harus dibela.

Jadi, dalam koalisi ini tidak ada intervensi hukum apalagi untuk membuat kekuatan untuk menekan rakyat. Baiknya, ada juga forum oposisi yang berisi partai-partai yang tak terlibat dalam koalisi pemerintah, sehingga di parlemen ada dua forum: koalisi pemerintah dan oposisi.

Ada satu sabda Nabi yang saya ingat: kita akan mendapat pahala dan dosa kita berpindah ke orang lain, apabila kita difitnah, dicaci, dan kita menerimanya.

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.