Mau Nilai Musik: Dengarkan, Nilai Buku: Baca!

Wawancara Akmal Nasery Basral di VIVAnews.com

Novel “Anak Sejuta Bintang” diluncurkan Sabtu, akhir bulan Januari lalu. Novel ini bercerita tentang masa kecil Aburizal Bakrie, bersama keluarga dan teman-temannya semasa sekolah Taman Kanak-kanak dan SD/SR Perwari.

Penulis novel biografi tersebut adalah Akmal Nasery Basral. Pria yang lahir di Jakarta 28 April 1968 ini selama ini dikenal sebagai novelis kondang dengan berbagai karya seperti “Imperia”, “Sang Pencerah”, “Naga Bonar Jadi 2”, “Sang Pencerah”, “Presiden Prawiranegara”, dan lain-lain.

Novel ini kemudian ramai diperbincangkan dan muncul tuduhan bahwa ini novel pencitraan, bagian dari strategi 2014 dan lain sebagainya.

Bagaimana proses pembuatan novel ini? Dan bagaimana Akmal merespon pandangan negatif terkait karyanya itu? Berikut petikan wawancara dengan Akmal.

Bagaimana ide awalnya sampai kemudian memutuskan menulis novel ini?

Awalnya saya dihubungi tim penggagas. Terus saya tanya ini dibuat bentuk apa? Kalau buat biografi saya bukan penulis biografi, belum pernah. Tapi kalau dalam bentuk novel, saya novelis, saya mau. Akhirnya setelah beberapa kali diskusi, akhirnya kita sepakat bentuk novel. Cerita waktu masih kecil.

Mengapa periode masa kecil yang dipilih?

Karena masa kecil ini masa ketika karakter-karakter ini dikembangkan. Yang kedua, masa kecil ini juga masa di mana anak menemukan lingkungannya, environment, dan persahabatan. Persahabatan ini sendiri menurut saya menarik karena naik turun. Saat ini bisa deket banget, besok bisa berantem. Karena sebenarnya mereka ini meskipun bocah dan sekolahnya di garasi mereka ini anak-anak orang penting republik waktu itu.

Proses penulisannya sendiri bagaimana? Berapa kali bertemu dan wawancara dengan Pak Ical?

Prosesnya kita bertemu beberapa kali. Sekitar lima kali dalam setahun. Pada awalnya Pak Ical gak inget kenangan masa kecilnya seperti apa. Terutama waktu TK. Jadi saya coba lewat kawan-kawannya. Jadi kayak bola salju. Jadi ada yang inget ini, ada yang inget ini, dikumpulkan terus, dari situ terkumpulah informasi primer.

Saya kemudian juga mewawancarai keluarga inti Pak Ical, ada Ibu Roos (Roosniah Bakrie), adik-adik beliau, dan riset sekunder soal Jakarta waktu itu. Termasuk setting sosial-budaya, terutama trend pada zaman itu. Sehingga ketika orang masuk, settingnya jadi spesifik.

Penulisan novel ini butuh waktu berapa lama?

Dari brain storming sampai malam ini (peluncuran), sekitar setahun .

Kesulitan atau kendala dalam penulisan novel ini seperti apa?

Karena ini novel yang bersifat sejarah, sehingga banyak yang satu ingat yang lain nggak ingat. Nggak semuanya punya ingetan yang sama terhadap satu hal. Yang kedua, karena tokoh-tokohnya masih hidup ada beberapa hal yang bagi seseorang tidak masalah diceritakan, tapi bagi yang lain ini masalah sensitif. Nah menemukan titik ini yang susah.

Misalnya terkait cerita Pak Ical yang naksir Bu Wiwik. Bu Wiwik gak mau dan bilang “Gak mau ah. Kamu kayak monyet Lampung”. Itu Pak Ical gak keberatan dan bilang “Gak papa, tulis aja. Emang kejadiannya kayak gitu kok”. Tapi ada beberapa kawan lain yang bilang “Anda jangan ceritakan”.

Ini beda dengan ketika saya menulis “Presiden Prawiranegara” ini tokohnya sudah tidak ada. Saya juga wawancara dengan keluarganya, namun kan bedanya novel “Anak Sejuta Bintang” ini, di mana tokoh-tokohnya masih hidup semua.

Apakah ada bagian-bagian yang akhirnya diminta untuk tidak boleh diekspose?

Kalau dari Pak Ical tidak ada. Yang paling menarik menurut saya seperti yang sering saya katakan, Pak Ical tidak menggariskan ini boleh dan ini tidak boleh.

Cuma Pak Ical kalau lupa dia jujur mengatakan lupa dan kalau ingat atau menceritakan sesuatu saya diminta mengecek ke teman-teman sekolahnya benar gak seperti itu. Dengan belasan narasumber saya tanya satu persatu. Setelah itu saya balik lagi ke beliau dan beliau mengingat kembali.

Banyak yang bilang bahwa masa muda Pak Ical sampai jadi tokoh lebih menarik, dibanding cerita masa kecilnya. Pendapat anda?

Sebenarnya semua fase kehidupan seseorang bukan hanya Pak Ical menurut saya itu menarik. Terutama bagaimana kita harus menuliskan dan mengungkapkan value dari itu. Memaparkan peristiwa-peristiwa itu sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi bagaimana kita melihat sebuah peristiwa itu punya meaning itulah yang penting. Kalau semua harus dikumpulkan dalam satu buku, akan jadi tebal sekali. Jadi harus ada periodisasi.

Jadi disini saya pilih masa kecil karena saya lihat yang penting bagi keluarga sekarang adalah bagaimana role model orang tua dalam mendidik anak. Ini yang kelihatan bagaimana Pak Achmad Bakrie dan Ibu Roos melakukan itu.

Apakah nanti akan ada sekuel novel ini?

Jadi kalau nanti hasil penjualannya disukai masyarakat, biasanya secara umum nanti ada lanjutannya. Tapi saya tidak bisa bilang ada atau tidak, karena sejak awal saya mempropose saya amau menulis melihat masa kecilnya dulu.

Banyak serangan terhadap anda dan novel ini. Bagaimana anda menyikapi hal itu?

Sebuah karya yang sudah keluar orang bisa memaknai apa saja. Tapi ide tim penggagas yang saya tahu betul, sebenarnya mereka ini ingin memberi kado kepada Pak Ical saat Pak Ical ultah ke 65, tahun lalu. Tim ingin memberi kado yang agak beda yang genuine. Cuma karena dipikir kalau terbitannya November 2011 (saat Pak Ical ultah) kayaknya terbitan lama banget, dan akhirnya momennya di buat tahun ini.

Jadi bagaimana dengan tuduhan ini novel pencitraan untuk politik dan pilpres 2014?

Kalau menurut saya, sebaiknya di baca dulu saja novelnya. Apakah ada indikasi-indikasi seperti itu. Karena buat saya simpel; kalau kita mau menilai foto: lihat, mau menilai music: dengar, mau menilai buku: baca. Setelah baca kalau setelah baca belum tentu harus setuju, tapi kita bisa berbicara dengan bahasa yang sama. Tapi kalau belum dibaca sudah dijudge ya repot.


  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.