Memperjuangkan Nasib Pedagang Kecil

Kemarin siang (Minggu, 23 September), saya pergi ke pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di sana saya bertemu dan berdialog dengan para pedagang kaki lima dan pedagang kecil lainnya anggota Asosiasi Usaha Mikro (ASUMI) yang dipimpinan Yudi Lazuardi. Berkeliling lapak-lapak dan menampung keluhan dan aspirasi mereka.

Di tempat itu, tepatnya di belakang pasar dan terminal Pasar Minggu, juga diadakan acara deklarasi dukungan para pedagang ini kepada saya sebagai calon presiden (capres). Para pedagang kecil atau PKL yang mendukung saya ini tergabung dalam relawan “Sahabat ARB”. Sahabat ARB sendiri adalah gabungan relawan di luar Partai Golkar yang ikut bekerja untuk mensukseskan saya di Pemilu Presiden (Pilpres).

Dalam kesempatan itu, saya menjelaskan kepada mereka alasan saya mau maju sebagai capres, dan resmi mendeklarasikan diri sebagai capres 1 Juli 2012 lalu. Pencalonan saya ini bukanlah ambisi pribadi untuk kekuasaan semata. Saya tidak menjadi capres untuk harta, karena alhamdulillah saya sudah diberi Allah rejeki yang cukup banyak. Bukan juga untuk popularitas, karena saya sudah dikenal oleh masyarakat luas saat ini.

Bukan juga untuk keluarga saya. Karena justru merekalah yang paling dirugikan dalam pencapresan saya ini. Karena waktu saya banyak tersita dengan perjuangan ini. Kalau boleh memilih, tentu lebih enak main dengan cucu di rumah. Namun keluarga saya rela, tabah serta mendukung sepenuhnya, sebab mereka memahami bahwa langkah yang saya tempuh bukanlah untuk mencapai ambisi pribadi, tetapi untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri yang kita cintai ini. Saya sendiri juga telah memutuskan untuk mengabdikan sisa hidup saya untuk bangsa dan negara, untuk mensejahterakan rakyat. Itulah mengapa saya mau maju capres.

Dalam memajukan dan mensejahterakan bangsa, saya tentu juga akan memperjuangkan para pedagang kecil dan UMKM. Perjuangan brsama mereka ini bukan hal baru bagi saya. Saya sudah lama akrab dengan mereka, sejak memimpin Kadin Indonesia, sampai menjadi Menko Perekonomian dan Menko Kesra. Bahkan saya juga pernah belajar berdagang dengan menjadi pedagang kecil.

Hal itu saya ceritakan kepada para pedagang tersebut di tempat acara. Saya menceritakan bagaimana dulu saya berjualan layangan, benang, kaos, tas, dan lain sebagainya. Saya ceritakan juga bagaimana ayah saya Achmad Bakrie membangun Grup Bakrie juga dimulai dari usaha kecil-kecilan sejak zaman Jepang.

Mulai dari berdagang roti, hasil bumi, dan sebagainya di Kalianda, Lampung. Pendidikannya hanya tamatan setingkat sekolah dasar. Tetapi ia pekerja keras, tangguh, mandiri, dan selalu belajar mengembangkan dirinya. Pada akhir hidupnya, dia berhasil mewariskan sebuah kelompok usaha dengan ribuan pegawai.

Saya ceritakan hal itu kepada mereka untuk memotivasi mereka untuk maju. Tentu saja, saya tidak hanya memotivasi. Saya juga akan bekerja membela, membantu dan memberdayakan mereka. Itulah mengapa saya mau maju sebagai capres.

Pengusaha kecil dan menengah, serta sektor informal dan koperasi ini sangat penting bagi saya. Ada sekitar 50 juta penduduk yang terlibat di sektor ini. Dalam perjalanan saya ke berbagai daerah, serta dalam pengalaman panjang sebagai pengusaha di masa lalu, saya punya pengalaman bertemu begitu banyak pengusaha dan pedagang kecil, tua dan muda, pria dan wanita.

Dari dialog dengan mereka, saya menemukan benang merah persoalan utama yang dihadapi mereka. Masalah atau kebutuhan mereka adalah akses terhadap modal. Mereka sanggup berkembang, atau paling tidak sanggup membuka kesempatan kerja bagi diri dan lingkungan sekitarnya jika akses seperti itu cukup terbuka dan mudah diperoleh.

Karena itulah, saya akan mendorong peningkatan berbagai program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) serta program lainnya yang ditujukan untuk memberdayakan sektor kecil dan menengah ini. Program ini menjadi salah satu program yang saya siapkan jika nanti diberi kesempatan memimpin bangsa ini.

Untuk pembiayaan atau permodalan pedagang dan usaha kecil ini bukanlah hal yang sulit. Kita bisa memanfaatkan instrumen fiskal pemerintah serta potensi bank-bank milik negara, seperti BRI, Bukopin, BTN, Bank Mandiri, BNI 1946 dan Bank Exim. Kita harus mengarahkan kekuatan fiskal pemerintah agar lebih agresif dalam kebijakan pro-rakyat.

Demikian pula, kita harus mendorong agar bank milik negara jangan berpangku tangan dan hanya menunggu. Mereka perlu lebih giat lagi terjun ke berbagai sektor memberdayakan rakyat, seperti yang telah dilakukan dengan baik oleh BRI selama ini. Saya yakin, dengan semua itu, fondasi pembangunan ekonomi Indonesia akan menjadi lebih berakar dan bermanfaat buat semua.

Saya selalu sampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi semata tidak ada artinya tanpa perbaikan kehidupan masyarakat kecil. Tugas seorang pemimpin adalah meningkatkan taraf hidup rakyatnya dan mensejahterakan mereka. Program yang pro pedagang kecil harus dihadirkan sebagai bentuk keberpihakan kita terhadap mereka.

Saat ini tim Partai Golkar juga sedang menyusun cetak biru untuk bangsa Indonesia ke depan. Cetak biru ini disusun dengan melibatkan ahli dari berbagai bidang, bahkan juga mendengarkan pendapat dari partai lain.

Partai Golkar dan saya berharap, dalam waktu satu generasi ke depan, Indonesia harus mampu naik kelas, dari negara sedang berkembang menjadi negara maju. Dengan tingkat pendidikan, teknologi, keuangan, industri, pertanian yang sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Kita harus bertekad bahwa sebelum Republik Indonesia berusia 100 tahun pada tahun 2045 kelak, kita sudah berhasil mewujudkan visi besar tersebut.

Itulah alasan dan salah satu program saya sebagai capres yang saya sampaikan kepada para pedagang kecil dan relawan saya lainnya. Saya katakan pada mereka bahwa perjuangan menjadi capres memang berat. Maka saya menyebutnya seperti “Mendaki Gunung Semeru”. Tapi jika mereka semua membantu saya, jika rakyat membantu saya, saya yakin akan sampai di puncak.

Rakyatlah kuncinya. Mereka pemilih bangsa ini. Karena itu Partai Golkar selalu fokus bekerja untuk rakyat. Suara Golkar, Suara Rakyat. Rakyat Maju, Bangsa Maju.

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.