Mengalir Tapi Tak Hanyut

Pidato Pembukaan Rapimnas Partai Golkar 2016

361470_rapimnas-partai-golkar-2016-di-jcc_663_382Pertama-tama saya ingin mengucapkan salam hangat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua kader dari berbagai wilayah yang hadir pada malam yang berbahagia ini. Secara khusus, kepada pimpinan partai dari berbagai daerah dan provinsi yang selama ini menjadi ujung tombak Partai Golkar, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Pada malam ini, kita mengawali sebuah forum penting, yaitu Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar. Forum ini adalah lembaga pemegang mandat tertinggi di bawah Munas dalam memutuskan berbagai hal yang bersifat strategis. Karena itu, marilah kita jadikan Rapimnas ini sebagai sebuah momentum untuk memberi arah pada perjalanan Partai Golkar ke depan.

Lewat forum terhormat ini, kita selesaikan segala persoalan yang ada selama setahun terakhir ini. Selesai, tuntas, dan paripurna: itulah yang harus kita putuskan sekarang, dengan menghimbau kepada semua pihak agar kembali bersatu, melangkah bersama dalam semangat persahabatan demi keutuhan partai yang kita cintai ini.

Partai Golkar harus segera mempersiapkan diri menyongsong berbagai peristiwa penting di depan, seperti Pilkada 2017 dan 2018, serta Pileg dan Pilpres 2019. Dalam kondisi apapun, konsolidasi organisasi mutlak untuk dilakukan, baik vertikal maupun horizontal, di kota dan terlebih lagi di kecamatan hingga di desa-desa. Hanya dengan cara inilah Partai Golkar akan mampu menjaga kiprahnya sebagai kekuatan politik yang disegani.

Selain itu, dalam konteks yang lebih besar, lewat Rapimnas ini Partai Golkar harus terus menyuarakan pentingnya reformasi lebih lanjut dari sistem ketatanegaraan Indonesia. Tanpa terasa Republik Indonesia akan berusia seabad. Adalah tekad kita semua bahwa pada saat itu, Indonesia sudah naik kelas menjadi negara maju. Itulah tujuan besar kita.

Dengan melakukan reformasi ketatanegaraan, lewat Perubahan ke-5 dari UUD 45, Partai Golkar ingin menyempurnakan konstitusi agar menjadi instrumen utama pencapaian tujuan besar kita. Banyak hal dapat dilakukan di sini, di antaranya adalah perumusan kembali posisi GBHN sebagai blueprint sistem pembangunan nasional.

Partai Golkar sudah cukup intensif menyuarakan semua itu dalam sebuah dokumen penting tentang Visi Indonesia 2045. Besar harapan saya bahwa Rapimnas ini akan membahasnya kembali dan memunculkan ide-ide yang lebih kongkret tentang langkah-langkah perwujudannya lebih lanjut.

Mengenai konflik internal di partai kita, proses hukum sedang berjalan dan fakta mengatakan bahwa kemenangan Kubu Munas Bali sudah berada di depan mata. Walau demikian, saya berharap bahwa setelah Rapimnas ini, tidak akan lagi ada kubu Bali atau kubu apapun. Yang ada hanyalah kubu Beringin yang daunnya lebat menaungi setiap kader dan kekuatan Partai Golkar.

Proses hukum memang belum tuntas. Kita masih menunggu satu lagi keputusan Mahkamah Agung. Namun demikian, kita semua tahu bahwa supermasi hukum di negeri kita masih menjadi cita-cita luhur yang belum sepenuhnya terwujud dalam realitas. Selain proses hukum, faktor politik dan kekuasaan masih terus berperan dan menjadi faktor yang tak mungkin diabaikan.

Itulah kenyataan yang harus kita terima di republik tercinta ini. Memang agak pahit, tapi itulah realita kehidupan.

Terhadap semua itu, kita tidak boleh merasa kecil hati atau kehilangan pegangan. Jangan kutuk gelapnya malam, tetapi nyalakanlah pelita untuk meneranginya: itulah kearifan hidup yang harus kita terapkan dalam kondisi yang dihadapi sekarang.

Atau barangkali, ungkapan yang menarik dari pahlawan pendidikan kita, yaitu Ki Hadjar Dewantoro, harus dikatakan lagi saat ini: Ngeli tonpo keli. Mengalir tapi tidak hanyut. Kita mengalir, kita terima realitas politik yang ada, kita memahaminya, kita bergerak bersamanya, tetapi kita tetap menjaga roh dan semangat dasar yang menjadi cita-cita perjuangan Partai Golkar.

Dalam konteks itulah Rapimnas harus segera bersikap mengenai penyelenggaraan Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa). Pada hemat saya, dalam situasi normal, barangkali Munaslub tidak diperlukan. Tetapi kondisi partai yang kita cintai ini mungkin membutuhkan metode penyelesaian di luar jalur normal, dan semua itu hanya bisa diwadahi secara sah dan terlembaga lewat mekanisme Munaslub. Kita harus memahami sikon, kita harus pandai membaca situasi, dan seperti yang saya katakan tadi, di Indonesia terkadang kekuasan politik masih berada di atas supermasi hukum. Kita menerima semua ini untuk mempersatukan kembali kekuatan partai.

Karena semua itulah, dari lubuk hati saya yang terdalam, kepada segenap peserta Rapimnas, saya ingin katakan di sini dengan sejelas-jelasnya: ambillah keputusan yang tuntas dan jelas arahnya, dan saya sebagai Ketua Umum akan patuh serta loyal pada keputusan tersebut. Saudara-saudara yang berhak mengambil keputusan, dan saya yang akan menjadi orang terdepan untuk mengawal agar keputusan tersebut terlaksana dan bersifat paripurna.

Mengenai waktu penyelenggaraan Munaslub, saya sarankan untuk diadakan sebelum bulan puasa tahun ini. Pilakda serentak 2017 harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Karena itu, jika Munaslub kita adakah pada April atau paling lambat Mei mendatang, maka DPP Partai Golkar hasil Munaslub akan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan konsolidasi dalam menyiapkan kader-kader kita untuk bertarung dalam Pilkada 2017.

Saya yakin, jika semua berjalan lancar, maka pada pertengahan 2016, Partai Golkar akan memulai sebuah era baru, sebuah langkah baru di mana kader dan pimpinan partai bergerak seirama, dalam suasana kebersamaan, saling membantu, saling mendukung untuk merebut kembali kejayaan Golkar sebagai kekuatan yang disegani di seluruh penjuru Nusantara.

Masalah mendesak lain yang juga harus dituntaskan lewat Rapimnas ini adalah menyangkut posisi partai kita dalam konstelasi politik sekarang, khususnya posisi yang berhubungan dengan pemerintahan Presiden Jokowi.

Sebagai kekuatan politik, Golkar tidak lahir dalam oposisi. Doktrin partai kita berbeda dengan doktrin partai lainnya. Keahlian kita adalah pada pengelolaan kekuasaan, bukan pada perlawanan terhadap kekuasaan. Partai Golkar adalah partai karya dan kekaryaan, sebuah kekuatan yang positif, konstruktif, terutama dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Kita ahli membangun, jagoan dalam berkarya, tetapi barangkali rikuh dan kehilangan jati diri dalam situasi pertengkaran dan keributan terus menerus.

Karena itulah kita harus segera bersikap, melakukan repositioning demi pengabdian kita pada tujuan yang lebih besar, yaitu kejayaan partai dan kemajuan Republik Indonesia. Sesuai dengan hasil rapat konsultasi nasional di Bali beberapa minggu silam, saya yakin bahwa kader-kader partai kita akan memutuskan lewat Rapimnas ini agar Partai Golkar memilih jalur pengabdian dengan berada bersama kekuatan yang dipimpin oleh Presiden Jokowi.

Dengan begitu, kita berkesempatan untuk berpartisipasi dalam lahirnya kebijakan-kebijakan progresif, membicarakan dan mendiskusikannya sebelum kebijakan tersebut diluncurkan. Itulah kelebihan dan kekuatan Partai Golkar: kerja, karya, dan usaha-usaha yang konstruktif.

Semua itu tidak berarti bahwa kita menjilat ludah sendiri, atau bahwa kita menghamba pada kekuasaan. Power has to have a purpose. Kekuasaan harus memiliki tujuan, dan sejauh tujuan kita adalah pada partisipasi dalam kemajuan Indonesia, maka selebihnya hanyalah masalah taktis yang bersifat kontekstual.

Kepada sahabat-sahabat kita di KMP (Koalisi Merah Putih), harus kita katakan bahwa tali perkawanan kita tidak mengendur sedikit pun. Kita semua tetap berada dalam kubu kebangsaan, kubu Merah Putih, putra dan putri bangsa Indonesia yang ingin mengabdi demi kemajuan Tanah Air. Mimpi dan kerinduan kita sama. Cita-cita kita pun tidak berbeda. Indonesia harus terus melangkah maju lewat tangan dan usaha kita bersama, apapun partai dan pemihakan politik masing-masing.

Karena itu, saya tidak ragu sedikit pun. Tujuan tetap sama. Arah kapal besar kita pun tetap sama. Kita hanya berbelok sedikit. Kita hanya berputar sedikit, karena adanya angin kencang dan jalur perjalanan kita memang harus disesuaikan kembali.

Saya ingin mengingatkan kita kembali akan ungkapan Jendral Omar Bradley, pahlawan Perang Eropa: put your course on the stars, not on the lights of every passing ships. Tetapkan tujuanmu berdasarkan pada bintang-bintang di langit, bukan pada cahaya kapal-kapal kecil yang datang dan pergi. Makna kata-kata inilah yang perlu kita renungkan bersama pada saat-saat penting seperti ini.

Insya Allah, setelah berbagai keputusan penting ditetapkan, dan setelah repositioning dilakukan, layar Partai Golkar akan terkembang kembali, terbuka lebar dan melaju kencang bersama angin buritan dalam mencapai pelabuhan yang menjadi tujuan kita semua.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap panitia penyelenggara Rapimnas ini. Sebagai penutup, seperti tradisi retorika Partai Golkar dalam beberapa tahun terakhir ini, saya ingin membacakan tiga bait pantun:

Laju-laju perahu laju

Ombak meninggi anginnya kencang

Pandai-pandai Golkar melaju

Hindari biduk terhempas karang

Awan menggulung datang dan pergi

Perahu pinisi melawan badai

Mari Bung satukan hati

Rebut kembali kejayaan partai

Dari Solo sampai Jakarta

Menang di sini menang di sana

Presiden Jokowi harapan kita

Junjunglah hukum majulah bangsa

Demikianlah sambutan ini. Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran saudara-saudara semua dalam acara pembukaan Rapimnas 2016 ini. Maju terus Partai Golkar. Maju terus Indonesia tercinta.

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.