Saya “Manfaatkan” Pak Ical untuk Batik

Oleh: Iman Sucipto Umar

Presiden Direktur PT Trypolyta Indonesia, Ketua Umum Yayasan Kadin, mantan Sekjen PII, mantan Sekjen /Direktur Eksekutif Kadin

DRI_Sucipto_008Saya mengenal Pak Aburizal Bakrie sejak menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hubungan kami semakin dekat karena memiliki hubungan keluarga. Adik Pak Ical, Ibu Odi, kebetulan menikah dengan kakak ipar saya atau kakak istri saya.

Pernikahan ini membuat hubungan di antara dua keluarga yang sudah erat menjadi semakin erat.Sejak dulu, jika lebaran atau Idul Fitri, keluarga saya selalu ke tempat Pak Achmad Bakrie, orangtua Pak Ical. Anak saya Bobby Gafur Umar, sekarang Presiden Direktur Bakrie & Brothers, juga sangat dekat dengan Pak Ical. Kedekatan Bobby dengan Pak Ical terjalin sejak Bobby sekolah di AS. Setiap Pak Ical ke Amerika, selalu menghubungi Bobby dan ia meminta Bobby bekerja di perusahaannya bila telah lulus.

Selain itu, kedekatan kami juga karena kami sering bekerja sama di organisasi. Dalam aktivitas organisasi, saya dikenal sebagai Sekjen yang mendampingi Pak Ical di Persatuan Insinyur Indonesia (PII) maupun di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

Kisah Pak Ical memimpin PII menarik. Pada awalnya dia menolak maju memimpin para insinyur, dengan alasan memasang saklar saja tidak bisa, dan mengakui keahliannya berbisnis. Namun setelah kita yakinkan bahwa yang dibutuhkan adalah jiwa kepemimpinan bukan soal teknis, akhirnya Pak Ical bersedia. Sebagai tim sukses, saya menyusun formatur dan akhirnya Pak Ical meminta saya menjadi Sekjennya.

Saat memimpin PII sejak tahun 1989 sampai 1994, banyak kenangan yang membekas mengenai sosok Pak Ical. Sebagai pemimpin, dia mampu menunjukkan sebagai pemimpin yang teguh pada komitmen yang telah dibuatnya. Hal ini merupakan ciri khas dia dalam memimpin organisasi. Sikap seperti itulah yang membuat saya mendukung dia dan membantunya memimpin. Dalam kerjasama lima tahun di PII, kita bekerjasama membuat banyak sekali program. Kadang dia yang mencetuskan, namun kadang kami yang memutuskan. Kerjasama kita dalam kepemimpinannya yang baik berjalan mulus sampai akhir.

Rupanya chemistry saya dan Pak Ical cocok. Maka seusai memimpin di PII, pada tahun 1994, ada pemilihan ketua umum Kadin. Lalu dia maju dan saya menjadi semacam manajer kampanye.

Sama seperti di PII, waktu dia jadi Ketua Umum Kadin, Pak Ical meminta saya jadi Sekjen. Saya katakan siap, apalagi pada waktu itu izin pemerintah yang saya perlukan, mengingat saya masih menjadi Staf Ahli Menteri Perindustrian, secara lisan hari itu juga kaluar. Di tengah-tengah suasana “agak canggung”, pada awalnya karena calon pemerintah untuk menduduki jabatan ketua umum Kadin tidak terpilih dalam Munas, secara bertahap kadin diakui sebagai wadah dunia usaha nasional yang didirikan berdasarkan undang-undang.

Munas Kadin berikutnya, yakni pada 1999, pak Ical terpilih lagi. Saya diminta lagi menjadi Sekjen (yang beberapa waktu kemudian disebut Direktur Eksekutif). Waktu itu saya tidak bersedia. Namun Pak Ical tetap meminta saya dengan mengatakan “Jangan gitu dong mas, masak saya ditinggal”. Akhirnya saya yang saat itu bekerja di Barito Group bersedia asal diizinkan membagi waktu atau menjadi part timer di organisasi. Saya mau menjabat, tapi saya bebas menentukan jadwal. Saya di Kadin pukul 07.00 WIB, dan pukul 09.00 WIB saya sudah sampai di kantor Barito Group, atau di Kadin pagi sampai siang, dan siang sampai selesai saya di kantor.

Waktu Pak Ical menjadi Menko Perekonomian, dia mau mengajak saya lagi. Wah saya pikir cukup lah, saya merasa tak mampu lagi dari segi fisik. Dua kali saya dipanggil untuk jadi Sekretaris Menteri Perekonomian, namun saya menolak. Baliau pasti kecewa, namun saya yakin Beliau mengerti.

Saat menjabat Menko Kesra saya “memanfaatkan” posisi dia untuk menggolkan batik jadi warisan dunia UNESCO. Saya bersama Yayasan Kadin sudah empat tahun berjuang untuk itu. Pak Ical menyambut baik dan membantu, akhirnya perjuangan batik menemui hasil. Tanggal 2 Oktober 2009 batik resmi diakui jadi warisan dunia.

Target Golkar Kembali Menang di Pemilu 2014

Pidato Pembukaan Rakernas Partai Golkar, Ancol 26 Februari 2010

Saudara-saudara yang saya muliakan, hadirin yang berbahagia

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada panitia penyelenggara Rakernas 2010 ini. Saya juga ingin menyampaikan selamat datang ke para peserta, khususnya kader dan pimpinan partai kita yang datang dari berbagai daerah.

Setiap kali bertemu dengan kader dan pimpinan Partai Golkar dari berbagai daerah, semangat dan tekad saya selalu menguat kembali. Ada sekian gubernur serta begitu banyak bupati dan walikota – hampir 40% pimpinan daerah Indonesia adalah kader-kader beringin! Dalam hal distribusi pemimpin di daerah, Golkar adalah partai terdepan, primus interpares di antara partai-partai besar lainnya.

Kenyataan ini seharusnya menyadarkan kita akan potensi Partai Golkar. Jika langkah bisa disatukan, jika program-program bisa dibuat, maka saya yakin Golkar akan tumbuh lebih besar lagi, merebut kembali posisi sebagai lokomotif politik Indonesia.

Hari ini dan besok, kita akan mengikuti Rakernas, yang salah satu tujuannya adalah melakukan hal tersebut. Menyatukan langkah di pusat dan daerah, menggalang koordinasi antara DPP dan DPD I&II, merumuskan langkah-langkah praktis agar terjadi sinergi dari berbagai elemen yang ada dalam partai kita.

Sinergi pusat-daerah serta penggabungan kekuatan besar partai kita akan membawa berbagai hal positif. Dalam soal polkada yang beberapa bulan lagi akan berlangsung hamper serentak di begitu banyak daerah, kader-kader partai harus didorong agar mampu menang di sebanyak mungkin daerah.

Target saya adalah, menjelang pemilu 2014, lebih dari 50% pimpinan pemerintah di daerah adalah kader-kader Golkar. Inilah yang saya maksud dengan “kuningisasi” Indonesia, pada saat sejarah Munas yang lalu, dan insyaallah dalam dua tiga tahun ke depan Partai Golkar mampu mencapai tujuan ini.

Salah satu instrument partai untuk mencapai tujuan ini adalah penggunaan survei akademik dalam pemilihan kandidat. Dengan survei yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan ini, partai memiliki ukuran objektif. Kita memilih kader yang tinggi popularitas dan elektabilitas, sebab kita ingin Golkar menang.

Dengan cara ini, kader di daerah tidak lagi perlu mencari-cari dukungan dari atas, tetapi langsung terjun ke bawah membangun simpati rakyat di daerahnya. Hal ini bagus buat sang kader sendiri, serta bagus pula buat partai kita.

Saudara-saudara yang saya hormati, hadirin yang saya muliakan

Sejak Munas di Pekanbaru beberpa bulan silam, konsolidasi organisasi telah berjalan dengan baik. Pada tingkat DPD I, Musda telah diselenggaraku berjalan di semua daerah. Tetapi pada tingkat II, Musda baru berjalan 80%. Mustinya sesuai target saya, pada akhir Februari ini Musda DPD II sudah berlangsung 100%. Karena itu saya berpesan agar segera dirampungkan pelaksanaan Musda ini, untuk selanjutnya segenap kader berkonsentrasi pada pencapaian-pencapaian kongkret dalam menarik simpati rakyat dan membesarkan partai.

Dalam hal ini perlu saya ingatkan sekali lagi komitmen Golkar sebagai partai terbuka. Sekarang ini, dengan suasana baru di partai kita, banyak tokoh yang tertarik bergabung, baik yang dulu pernah pindah, maupun orang-orang yang sama sekali baru.

Sejauh kriteria objektif terpenuhi, kita harus membuka pintu seluas-luasnya kepada mereka. AD/ART partai memungkinkan hal ini. Kita harus mampu membujuk anak-anak bangsa yang memiliki potensi. PDIP dan Partai Demokrat dalam dua atau tiga bulan ke depan akan melakukan Munas. Mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Jadi kita harus mulai lebih awal, lebih dahulu menarik tokoh-tokoh yang memang potensial untuk memperkuat partai kita dan merebut lagi kejayaan pada pemilu 2014.

Saudara-saudara yang saya muliakan, hadirin yang saya hormati

Dalam beberapa bulan terakhir ini, dengan berita di seputar Pansus Century, langkah-langkah Partai Golkar mendapat sorotan yang luas. Partai kita menjadi penentu sekaligus agenda setter dalam soal ini. Saya menyampaikan terimakasih kepada kader-kader Golkar yang telah bekerja siang malam dalam membawa nama partai menyelesaikan persoalan ini. Mereka telah bekerja dengan baik, berlandaskan prinsip-prinsip yang benar.

Setelah sidang pleno DPR minggu depan, kelanjutan kasus Century akan masuk wilayah “normal”, yaitu wilayah hukum yang tidak bolah lagi diwarnai politik. Biarkan hukum dan tata kelembagaan yang berjalan sebagaimana mestinya, dan dengan itulah tujuan Partai Golkar tercapai, yaitu peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik, benar, dan bertanggungjawab.

Setelah itu, harus melihat ke depan, beyond Century. Jangan terpaku pada satu soal ini saja. Jangan terpaku pada satu atau dua soal saja. Kita harus melihat pada tujuan yang lebih besar, yaitu menang pada pemilu 2014, serta dengan itu mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Politik adalah sebuah seni memanfaatkan berbagai kemungkinan. Politik adalah sebuah instrument. Kita harus tahu kapan menohok dan kapan harus merangkul. Kapan harus berjalan di depan, kapan harus bergandengan tangan dengan partai-partai demi kemaslahatan bersama.

Jangan sampai kita terpaku dengan gemerlap sesaat, tetapi terpuruk pada momen yang terpenting yaitu pemilu 2014. Karena itu segenap kader Golkar harus memperhatikan berbagai isu stretegis lainnya. Isu-isu ini harus segera disiapkan penanganannya secara simultan, dengan intensitas yang terus terjaga.

Dalam waktu dekat ini, berbagai isu penting akan datang dan pergi. Reshuffle kabinet dan kelanjutan koalisi; kunjungan presidan Obama; krisis listrik; ketahanan pangan; energi dan air; banjir, longsor dan bencana alam lainnya, dan sebagainya.

Terhadap semua itu, Golkar harus mampu memberikan pendapat, opini, serta solusi praktis jika memang dibutuhkan. Di parlemen dan di luar parlemen, kader-kader Golkar harus memberi arti, memberikan warna tersendiri, sehingga masyarakat dapat melihat bahwa Golkar bukanlah partai masa lalu, tetapi justru sebuah partai yang terus menyegarkan diri, sebuah partai yang membawa harapan baru.

Saudara-saudara yang saya muliakan, hadirin yang saya hormati

Di atas segala-galanya, Partai Golkar harus terus menjadi pengawal terhadap kebinekaan Indonesia. Kemajemukan adalah kekayaan dan kekuatan kita. Perbedaan adalah rahmat. Kita menerima perbedaan tetapi tidak membeda-bedakan. Semua suku, golongan, agama, dan daerah, dari Sabang sampai Merauke, adalah bagian dari kebesaran Indonesia. Inilah warisan kita yang paling luhur, dan Golkar harus bertekad untuk terus menjaganya.

Demokratisasi dan desentralisasi harus terus didorong dan diperkuat. Kita bangga menjadi bangsa demokratis. Kita bangga bahwa daerah-daerah di Indonesia kini memiliki ruang yang lebih besar untuk mengatur diri mereka sendiri. Makna demokrasi yaitu pemerintahan dengan kekuasaan rakyat, kini telah semakin terwujud. Karena itu juga, semboyan Golkar adalah “Suara Rakyat, Suara Golkar” dan “Suara Golkar, Suara Rakyat”.

Tetapi pada saat yang sama, persatuan dan keutuhan Indonesia tidak boleh dipertaruhkan oleh siapapun. Demokrasi dan desentralisasi justru harus memperkuat kesatuan dan kebinekaan kita. Partai Golkar harus memastikan bahwa Indonesia mampu untuk terus menerus secara kreatif mencari perimbangan yang sehat antara kebebasan dan kebersamaan, antara persatuan dan otonomi, serta antara pusat dan daerah.

Dalam melakukan semua itu, Parai Golkar harus terus berpegang pada falsafah dasar pembentukannya, yeitu filosofi kekaryaan. Filosofi ini melekat pada nama parai, dan dalam sejarah Indonesia lahir dari suatu masa yang unik, yaitu masa ketika ideologi dan irrasionalisme mencapai puncaknya di awal tahun 1960an.

Dengan filosofi karya, Partai Golkar ingin menunjukkan bahwa politik tidak boleh hanya untuk politik semata. Power should not be only for powes’s sake. Tetapi demi sebuah tujuan besar yang kongkret, yaitu peningkatan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. Panglima kita bukanlah politik, ekonomi, atau apa pun. Panglima kita adalah rakyat dari Sabang sampai Merauke. Panglima kita adalah hidup anak-anak mereka, nasib mereka, sandang pangan mereka, dan masa depan mereka.

Itulah yang menjadi tujuan kita berpolitik dan berpartai. Itulah yang menjadi raison d’entre dari proses kekuasaan di mana kita semua melibatkan diri. Jika insyaallah Golkar kembali Berjaya pada pemilu 2014, maka bukan kita, tetapi rakyatlah yang akan menikmatinya.

Sekolah akan semakin baik, puskesmas dan irigasi akan dibangun lebih intensif, ilmu dan teknologi dikembangkan dengan lebih sistematis. Padi akan semakin menguning, persatuan dan kesatuan seluruh bangsa akan menjadi lebih kokoh. Dan pada akhirnya masa depan seluruh bangsa Indonesia akan menjadi lebih baik lagi.

Semua hal itu harus menjadi perhatian utama dari seluruh kader Partai Golkar, di pusat dan daerah dalam menjalankan aktivitas kepartaian sehari-hari. Jangan pernah berpaling dari tujuan-tujuan dasar kita.

Semua itu sengaja saya sampaikan dalam Rakernas di Ancol ini, untuk mengingatkan kita semua agar tidak terjebak hanya berfikir tentang masalah-masalah kekinian, atau memperhatikan isu-isu politik kontemporer semata. Hari ini adalah landasan masa depan. Hari ini adalah persiapan bagi pencapaian-pencapaian besar di tahun-tahun mendatang.

Kita harus tetap memperhatikan isu-isu terkini dan politik kontemporer. Tetapi semua itu harus dibingkai dan diarahkan untuk mencapai masa depan yang lebih cerah bagi semua bangsa.

Karena itulah Rakernas 2010 ini menjadi penting dan bermakna. Besar harpan saya bahwa segenap kader parai yang berperisipasi Selama dua hari di Rakernas ini dapat membangun pengertian bersama, merumuskan jalan yang lebih baik, sekarang dan di masa depan. Bagi Parai Golkar, serta bagi seluruh bangsa Indonesia.

Dengan semua itu, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrohim, saya nyatakan bahwa Rakernas Partai Golkar 2010 dengan resmi dibuka.

Wabillahitaufik wal hidayah

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarukatuh

Soal Century, Biarkan Hukum yang Menyelesaikannya

Belakangan ini saya selalu dicecar berbagai macam pertanyaan seputar kasus Bank Century. Pertanyaan paling banyak, mencari tahu sikap Partai Golkar, partai yang saya pimpin. Saya tegaskan lagi, sikap Partai Golkar tidak pernah berubah. Golkar akan tetap berada dalam posisi membela kepentingan rakyat. Karena itu, dalam masalah Bank Century Golkar secara aktif melakukan koreksi terhadap fakta dan data yang kita anggap salah. Komitmen kami, Golkar melalui wakilnya di Panitia Khusus Century di DPR akan konsisten menuntaskan kasus ini.

Saat saya bertemu Tim Sembilan Century, Selasa 23 Februari 2010 lalu, ada yang bertanya apakah sebagai pemimpin partai peserta koalisi saya pernah diajak bertemu SBY untuk diminta mengubah sikap. Saya katakan, saya sebagai pemimpin partai peserta koalisi tentu saja beberapa kali bertemu dengan Beliau. Saat bertemu, kami juga tentu saja selalu berdiskusi. Namun, perlu saya tegaskan di sini, tidak pernah ada tekanan apapun dari Presiden untuk mengubah sikap Partai Golkar. Saya juga ingin menjelaskan di sini bahwa sikap Partai Golkar tentang kasus Century tidak pernah berubah.

Lalu ada juga yang bertanya apakah ada deal tertentu antara saya dan Presiden. Saya jawab: deal itu adalah deal untuk berbuat yang terbaik bagi Bangsa dan Negara.

Pertanyaan berikutnya lalu muncul: apakah Golkar masih nyaman berada di dalam koalisi pemerintahan? Saya tegaskan, sebagaimana sering saya tekankan dalam berbagai kesempatan, Golkar masih nyaman berada di dalamnya. Golkar belum berpikir untuk keluar dari koalisi, dan tetap akan bersama dalam koalisi untuk mengawal pemerintahan supaya solid.

Meski demikian, berada dalam koalisi bukanlah berarti tidak boleh berbeda pendapat. Dalam masalah Century Golkar mungkin berbeda pendapat, tapi sikap Golkar ini semata berlandaskan pada fakta dan data yang kami temukan dan dalami. Golkar tidak akan melakukan fitnah dan akan tetap berpegang pada data dan fakta. Rekan-rekan Golkar di Pansus juga tidak bisa memvonis seorang bersalah. Ini semata dugaan yang didasarkan pada data dan fakta semata. Untuk penyelesaiannya, kami minta dituntaskan melalui proses hukum. Biarkan hukum yang menyelesaikannya. Kami sadar bahwa proses hukum tidak bisa dilakukan partai politik. Tempatnya bukan di ranah politik, namun di pengadilan.

Keteguhan kepada prinsip ini sering ditafsirkan macam-macam. Partai Golkar dituduh ingin melakukan pemakzulan, misalnya memakzulkan Wakil Presiden Boediono. Saya tegaskan di sini, tidak ada sedikit pun niat Partai Golkar untuk melengserkan Wakil Presiden. Selain itu, Golkar juga sering dituduh memiliki kepentingan politik lain di balik kasus Century. Saya tegaskan lagi, tuduhan itu tidak benar. Kami berpendapat masalah Century ini harus dituntaskan. Alasannya jelas, negara menanggung kerugian cukup besar dan rasa keadilan masyarakat terkoyak. Saya yakin semua pihak sepakat kasus ini harus dituntaskan. Karena itu, tidaklah benar jika dikatakan kasus ini digelindingkan untuk kepentingan Pemilu 2014, bahkan berkait pencalonan presiden. Tentang hal itu, terpikir saja belum.

Saat bertemu Tim Sembilan ada juga wartawan yang menanyakan soal kasus pajak dan hubungannya dengan sikap Golkar. Saya katakan, semua warga negara wajib membayar pajak sesuai peraturan yang berlaku. Tapi, pemungut pajak juga harus memungut sesuai peraturan yang berlaku. Bila pembayar dan pemungut memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan peraturan, selesaikanlah di pengadilan pajak, bukan di ranah politik. Karena itu, apa pun keputusan terkait masalah pajak ini, tidak ada hubungannya dengan Partai Golkar. Pemilahannya harus jelas dan clear. Ada soal pribadi, ada soal perusahaan, ada soal partai politik. Apa pun keputusan pengadilan nanti, apakah dinyatakan bersalah atau tidak bersalah, itu urusan perusahaan. Sikap Partai Golkar tidak akan berubah: kami bertekad menuntaskan kasus Century.

Itu jawaban saya. Semoga semuanya menjadi jelas dan jernih.

Birokrasi Praktis Ala Pak Ical

Oleh: Zulham Mubarak

Wartawan Jawa Pos

foto-kenang-kengan1-300x199Memori itu masih segar di ingatan saya. Hari Rabu 25 Januari 2009. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB ketika saya menerima pesan singkat dari editor saya. Tolong siapkan wawancara khusus dengan Menko Kesra Aburizal Bakrie untuk edisi Jumat 27 Januari. Halaman sudah siap. Pesan yang datang malam itu bagai petir bagi seorang wartawan yang baru bertugas selama enam bulan di pos Menko Kesra. Menyiapkan sesi wawancara dalam waktu kurang dari 48 jam dengan seorang menteri yang juga orang terkaya di Asia Tenggara, apakah mungkin?

Jawabannya bisa anda akses di link ini http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=49751 . Saya memang beruntung karena berhasil mewawancarai sang menteri secara langsung dalam tempo yang cukup singkat. Namun, itu lebih dari sekedar keberuntungan. Karena ternyata, Pak Ical (panggilan akrab Aburizal Bakrie) adalah sosok pejabat yang tidak menyukai sistem birokrasi yang berbelit.

Didukung salah seorang staf khusus beliau yang juga mantan juru warta yakni Pak Lalu Mara Satriawangsa, segala urusan birokrasi yang berbelit ternyata dapat dengan mudah dipangkas. Hasilnya, siapa saja yang ingin bertemu beliau pasti akan terfasilitasi dengan baik.

Jangankan wartawan, seorang kyai yang hendak menyampaikan usul kepada Pak Ical juga bisa dengan mudah bertemu dengan dengan beliau di kantornya. Tak perlu izin yang berbelit-belit, cukup dengan mengutarakan saja keinginan dan keperluan secara terus terang, dan jaminan untuk bertemu empat mata dengan beliau pasti akan terlaksana.
Kapanpun dan dimanapun.

Kembali lagi ke pertemuan saya dengan beliau. Usai menyaksikan latihan tenis antara Pak Ical melawan Rizal Malarangeng di klub Rasuna, Jakarta, kami melanjutkan dengan wawancara. Harapan melewatkan sesi wawancara di salah satu fasilitas klub elit itu sirna ketika Pak Ical membawa rombongan rekan-rekannya, termasuk saya, ke sebuah rumah makan di Pasar Festival. Sore itu, dua asumsi saya tentang sosok Aburizal Bakrie terpatahkan. Selain tak mengenal birokrasi berbelit, ternyata Pak Ical juga orang yang sederhana.

“Saya memang suka Ikan dan saya pikir makanan itu bukan soal mahal atau murah, tapi soal rasa. Ayo makan,” ujar dia sambil berbagi seekor ikan bakar dengan saya. ’’Ayo jangan malu-malu ikannya banyak dagingnya. Saya pasti tidak habis. Takut Mubazir,’’ sambungnya tanpa rasa canggung. Pertemuan di sore yang hangat itu pun berlanjut hingga
saat ini.

Seorang mantan Presiden RI pernah berkata kepada saya. “Berkawan dengan wartawan ibarat berteman dengan singa. Kita tidak akan pernah tahu kapan singa itu akan lapar dan memangsa kita. Tapi di satu sisi, adalah sebuah kebanggaan karena berkawan dengan singa artinya kita termasuk orang yang terhormat dan berani,” Ujar petinggi negara itu lantas tertawa.

Berangkat dari kalimat bernada canda itu, saya melihat Pak Ical termasuk orang dalam kategori kedua. Yakni, orang yang bangga dan berani menempuh resiko dengan menjaga komunikasi intensif dengan Juru Warta. Uniknya, selama saya diberi mandat memimpin Forum Wartawan Menko Kesra selama 2008-2010, tak sekalipun saya melihat singa-singa itu berbalik menerkam. Bila sebagian pejabat memilih menggunakan cara hitam dengan iming iming bantuan finansial untuk mengatur dan mengarahkan para pencari berita yang keblinger, Pak Ical adalah pelopor pejabat yang menjauhi itu. Beliau tidak pernah sekalipun menilai kami dari sekedar uang dan amplop yang sejatinya merendahkan profesi wartawan. Secara personal saya menghormati hal tersebut dan berharap itu akan ditiru
oleh generasi pejabat di lingkungan kementerian di masa sekarang dan masa mendatang.

Singkatnya, teori Max Webber tentang birokrasi telah diaplikasikan dengan cara baru yang lebih fresh dan praktis oleh alumnus ITB itu. Bolehlah kiranya saya sebut ini teori birokrasi ala Pak Ical. Seperti apa konsepnya? tanya saja resepnya pada beliau secara langsung lewat twitter, pasti akan dijawab. Mengakhiri tulisan ini, dengan kerendahan hati, saya sampaikan salam sukses selalu buat Pak Ical. Semoga sehat selalu dan dalam lindungan Allah SWT.(*)

Musik Klasik Paling Asyik

Kebiasaan saya saat beristirahat setelah lelah beraktivitas adalah mendengarkan musik. Musik terbukti membantu saya rileks dan mengusir penat. Musik juga sering menemani saya saat menjalani aktivitas sehari-hari.

Selera musik orang tentu berbeda-beda. Ada yang suka musik pop, jazz, dangdut, musik tradisional, sampai heavy-metal. Tergantung selera masing-masing. Saya sendiri suka musik klasik atau musik opera. Bagi saya, musik klasik adalah musik yang paling asik untuk dinikmati—menenangkan hati dan bisa saya mengerti. Selain itu, banyak artikel dan hasil penelitian menunjukkan musik klasik punya segudang manfaat positif, seperti untuk kesehatan dan kecerdasan. Terlepas dari itu, saya memang menyukai dan terbiasa mendengarkan musik klasik sejak kecil.

Ada beberapa penyanyi musik klasik yang saya suka. Salah satunya adalah Luciano Pavarotti dengan musik operanya. Saya juga sering mendengarkan Il Divo yang beraliran klasik-pop. Grup ini menarik. Selain suaranya bagus, kelompok ini juga unik karena personilnya lintas negara. Carlos Marín, penyanyi opera asal Spanyol bersuara bariton, Urs Bühler asal Swiss bersuara bass, David Miller asal Amerika Serikat bersuara tenor, dan ada penyanyi Perancis yang bercita rasa pop, Sébastien Izambard. Kata ‘divo’ sendiri diambil dari bahasa Italia. Ditambah Produser Simon Cowell yang asal Inggris, maka semakin lengkaplah grup ini sebagai grup lintas negara. Tapi alasan utama saya menyukai mereka, tentu saja karena nyanyian mereka yang indah dan sesuai dengan selera saya.

Selain yang saya sebutkan tadi, masih banyak lagi musik klasik dari penyanyi lain yang sering menemani keseharian saya. Saya mendengarkan musik klasik di mana saja. Jika ada waktu luang, konser musik klasik pun tak akan saya lewatkan. Untuk musik opera, saya selalu menyempatkan menonton jika saya kebetulan sedang berkunjung ke Eropa. Apala gi kalau sedang berada di Praha, Republik Ceko, pasti saya sempatkan waktu untuk menikmati musik kesukaan saya ini.

Meski saya paling menggemari musik klasik, bukan berarti hanya musik jenis itu yang bisa saya nikmati. Saya bisa juga menikmati jenis musik lainnya. Tentu saya juga dapat menikmati musik jenis jazz, pop, dan lainnya. Tapi, terus terang saja, saya belum bisa menikmati aliran musik baru, seperti house music atau metal. Supaya enak di telinga, saya mungkin perlu mempelajarinya lebih dulu… Yang jelas, buat saya saat ini, musik klasik yang paling asyik.

Rapat Golkar Tak Membahas Soal “Saya Tidak Bisa Diancam”

Hari ini saya melihat pernyataan saya kemarin menjadi headline di berbagai media massa nasional. Media mengutip pernyataan saya bahwa saya menyatakan tidak bisa diancam terkait sikap Partai Golkar di Pansus Bank Century. Pada umumnya, isi berita mengesankan seolah-olah rapat yang saya pimpin kemarin di kantor Fraksi Partai Golkar di DPR, bersama para menteri, gubernur dan anggota Dewan dari Golkar semata-mata hanya membahas soal kasus Century dan koalisi.

Padahal, rapat yang saya pimpin kemarin, Rabu, 10 Februari 2010, digelar untuk membahas topik yang lebih penting, yaitu membahas jalannya pemerintahan dan pembangunan. Agendanya adalah supaya Golkar sebagai partai pendukung pemerintah dapat mendukung pembangunan yang sedang berlangsung.

Saya kemarin mengatakan kepada semua yang hadir bahwa Partai Golkar tidak boleh menjadi penyebab pemerintahan ini gagal, karena Golkar adalah partai pendukung pemerintah. Kalau pemerintah sampai gagal akan sangat berbahaya. Rakyat akan makin miskin dan pengangguran akan semakin bertambah. Karena itu pembangunan untuk rakyat harus dibuat lebih baik. Bersama para anggota lembaga eksekutif dan legislatif dari Golkar yang hadir saat itu kami bertukar informasi dan pikiran untuk mencari solusi dari persoalan yang sekarang muncul.

Gubernur Riau Rusli Zainal, misalnya, mengatakan sekarang ini jalan di Riau yang dilalui ribuan truk pengangkut sawit dan angkutan lainnya menuju pelabuhan rusak. Akibatnya, waktu tunggu menjadi panjang. Apalagi pelabuhan di sana tergolong kecil. Maka itu saya minta kepada Menteri Perindustrian Pak MS Hidayat supaya segera menginformasikan hal itu kepada Presiden. Supaya diusulkan pembuatan rel kereta api, pelebaran jalan, atau peluasan pelabuhan. Saya juga minta supaya Komisi V DPR ikut membantu memecahkan masalah itu.

Saya katakan juga kepada anggota Komisi V DPR dari Golkar untuk mendukung, agar menyepakati anggaran yang diajukan pemerintah untuk keperluan itu. Ini supaya program-program pembangunan itu berjalan lancar dan tidak terhambat pembangunannya, sehingga manfaatnya tentu akan dirasakan oleh rakyat banyak.

Selain itu, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin melaporkan rencana SEA Games yang pembukaannya akan dilangsungkan di Palembang. Berkait hal ini, saya meminta Menko Kesra Agung Laksono agar segera mengusulkan anggaran dan menjamin pelaksanaannya nanti berlangsung lancar. Saya juga bertanya kepada anggota Golkar di fraksi dan panitia anggaran, apakah hal itu dimungkinkan? Mereka jawab dimungkinkan. Karena itu saya minta Pak Agung Laksono untuk menambah anggaran sampai Rp1,2 triliun untuk kami perjuangkan di DPR.

Di rapat itu, juga hadir Pak Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan dari Golkar. Pak Fadel mengungkapkan betapa pentingnya perekonomian rakyat pesisir. Sayangnya, saat ini masih dominan pandangan bahwa prioritas pembangunan di pesisir masih lebih rendah ketimbang di wilayah non-pesisir. Akibatnya, alokasi dana untuk pembangunan wilayah pesisir sangat kurang. Pak Fadel minta supaya dana bagi pembangunan kelautan dan masyarakat pesisir perlu diperjuangkan di DPR.

Jadi, sebenarnya, masalah-masalah itulah yang dibahas di rapat itu. Saya juga sudah menjelaskan kepada para wartawan sebelumnya bahwa agenda rapat itu adalah untuk membahas masalah-masalah pembangunan. Namun, sayangnya, yang kemudian diberitakan di koran-koran hanyalah topik “Jangan Ancam Saya”. Yang dibesarkan adalah pernyataan saya bahwa “saya tidak akan mengancam dan tidak bisa diancam.” Soal pembangunan yang merupakan agenda utama rapat nyaris tidak diberitakan. Karena itulah, untuk mengklarifikasi munculnya kesan yang keliru tentang agenda rapat itu, saya menulis di blog ini.

Selain itu, di sini saya perlu juga menyampaikan bahwa sikap Fraksi Golkar di Pansus Century tidak ada kaitannya dengan kasus pajak yang dituduhkan kepada saya. Isu yang berkembang di masyarakat, seolah-olah dua hal ini berkaitan dan dihubung-hubungkan.

Mengenai masalah pajak itu, saya ingin mengatakan bahwa di mana-mana di dunia ini selalu terdapat perbedaan pendapat dan tafsir tentang UU Pajak. Dan setiap perselisihan tentang masalah ini harus diselesaikan di pengadilan pajak, tidak boleh diselesaikan di ranah politik ataupun media. Saya minta supaya masalah ini didudukkan pada tempatnya. Janganlah masalah pajak dipolitisasi. Masalah itu harus diselesaikan di tempatnya, yaitu pengadilan pajak, bukan di kancah politik.

Menyelami Youthology, Memahami Anak Muda Indonesia

ical-300x224

Akhir pekan lalu, Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2010, saya mengikuti acara outbond Diklat Penyegaran Kader Penggerak Partai Golkar bersama kader-kader Golkar di Wisma Kinasih, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Dalam kesempatan itu saya mendengar pemaparan yang sangat menarik mengenai kehidupan anak muda dan dunia mereka. Hal ini disampaikan salah satu pemateri dengan materi berjudul “Youthology.” Isinya memaparkan berbagai fakta menarik mengenai kehidupan dan perilaku anak muda zaman sekarang.

Misalnya, dari data yang ada, anak muda sangat dekat dengan dunia maya. Karena itu, media dan situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog, dan sebagainya sangat ramai oleh mereka. Yang lebih menarik lagi, fenomena ini rupanya bukan hanya didominasi anak muda yang tinggal di kota saja, tapi anak muda di pedesaan juga mulai bergerak mengikuti tren ini. Selengkapnya…

Anak Muda Kita Tidak Cuma Senang ke Diskotik

IMG_2199

Akhir bulan Januari lalu, saya mengunjungi sejumlah kota di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Saya pergi bersama pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar untuk melantik beberapa pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di Jambi, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.

Ada pengalaman berkesan dari perjalanan saya, yaitu setiap saya mendarat di setiap provinsi, saya disambut dengan tarian tradisional yang indah. Misalnya saat saya mendarat di Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, saya disambut dengan Tarian Selampit Delapan, tarian khas daerah itu.

Saya dan Pak Akbar Tandjung serta rombongan menyaksikan dengan seksama tarian yang indah itu. Bukan hanya koreografi, dan kostum tradisionalnya saja yang menawan, namun lebih dari itu yang membuat saya terkesan adalah tarian itu dibawakan oleh anak-anak muda yang selama ini dipersepsikan kurang dekat dengan budaya tradisional. Selengkapnya…