Rapat Golkar Tak Membahas Soal “Saya Tidak Bisa Diancam”

Hari ini saya melihat pernyataan saya kemarin menjadi headline di berbagai media massa nasional. Media mengutip pernyataan saya bahwa saya menyatakan tidak bisa diancam terkait sikap Partai Golkar di Pansus Bank Century. Pada umumnya, isi berita mengesankan seolah-olah rapat yang saya pimpin kemarin di kantor Fraksi Partai Golkar di DPR, bersama para menteri, gubernur dan anggota Dewan dari Golkar semata-mata hanya membahas soal kasus Century dan koalisi.

Padahal, rapat yang saya pimpin kemarin, Rabu, 10 Februari 2010, digelar untuk membahas topik yang lebih penting, yaitu membahas jalannya pemerintahan dan pembangunan. Agendanya adalah supaya Golkar sebagai partai pendukung pemerintah dapat mendukung pembangunan yang sedang berlangsung.

Saya kemarin mengatakan kepada semua yang hadir bahwa Partai Golkar tidak boleh menjadi penyebab pemerintahan ini gagal, karena Golkar adalah partai pendukung pemerintah. Kalau pemerintah sampai gagal akan sangat berbahaya. Rakyat akan makin miskin dan pengangguran akan semakin bertambah. Karena itu pembangunan untuk rakyat harus dibuat lebih baik. Bersama para anggota lembaga eksekutif dan legislatif dari Golkar yang hadir saat itu kami bertukar informasi dan pikiran untuk mencari solusi dari persoalan yang sekarang muncul.

Gubernur Riau Rusli Zainal, misalnya, mengatakan sekarang ini jalan di Riau yang dilalui ribuan truk pengangkut sawit dan angkutan lainnya menuju pelabuhan rusak. Akibatnya, waktu tunggu menjadi panjang. Apalagi pelabuhan di sana tergolong kecil. Maka itu saya minta kepada Menteri Perindustrian Pak MS Hidayat supaya segera menginformasikan hal itu kepada Presiden. Supaya diusulkan pembuatan rel kereta api, pelebaran jalan, atau peluasan pelabuhan. Saya juga minta supaya Komisi V DPR ikut membantu memecahkan masalah itu.

Saya katakan juga kepada anggota Komisi V DPR dari Golkar untuk mendukung, agar menyepakati anggaran yang diajukan pemerintah untuk keperluan itu. Ini supaya program-program pembangunan itu berjalan lancar dan tidak terhambat pembangunannya, sehingga manfaatnya tentu akan dirasakan oleh rakyat banyak.

Selain itu, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin melaporkan rencana SEA Games yang pembukaannya akan dilangsungkan di Palembang. Berkait hal ini, saya meminta Menko Kesra Agung Laksono agar segera mengusulkan anggaran dan menjamin pelaksanaannya nanti berlangsung lancar. Saya juga bertanya kepada anggota Golkar di fraksi dan panitia anggaran, apakah hal itu dimungkinkan? Mereka jawab dimungkinkan. Karena itu saya minta Pak Agung Laksono untuk menambah anggaran sampai Rp1,2 triliun untuk kami perjuangkan di DPR.

Di rapat itu, juga hadir Pak Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan dari Golkar. Pak Fadel mengungkapkan betapa pentingnya perekonomian rakyat pesisir. Sayangnya, saat ini masih dominan pandangan bahwa prioritas pembangunan di pesisir masih lebih rendah ketimbang di wilayah non-pesisir. Akibatnya, alokasi dana untuk pembangunan wilayah pesisir sangat kurang. Pak Fadel minta supaya dana bagi pembangunan kelautan dan masyarakat pesisir perlu diperjuangkan di DPR.

Jadi, sebenarnya, masalah-masalah itulah yang dibahas di rapat itu. Saya juga sudah menjelaskan kepada para wartawan sebelumnya bahwa agenda rapat itu adalah untuk membahas masalah-masalah pembangunan. Namun, sayangnya, yang kemudian diberitakan di koran-koran hanyalah topik “Jangan Ancam Saya”. Yang dibesarkan adalah pernyataan saya bahwa “saya tidak akan mengancam dan tidak bisa diancam.” Soal pembangunan yang merupakan agenda utama rapat nyaris tidak diberitakan. Karena itulah, untuk mengklarifikasi munculnya kesan yang keliru tentang agenda rapat itu, saya menulis di blog ini.

Selain itu, di sini saya perlu juga menyampaikan bahwa sikap Fraksi Golkar di Pansus Century tidak ada kaitannya dengan kasus pajak yang dituduhkan kepada saya. Isu yang berkembang di masyarakat, seolah-olah dua hal ini berkaitan dan dihubung-hubungkan.

Mengenai masalah pajak itu, saya ingin mengatakan bahwa di mana-mana di dunia ini selalu terdapat perbedaan pendapat dan tafsir tentang UU Pajak. Dan setiap perselisihan tentang masalah ini harus diselesaikan di pengadilan pajak, tidak boleh diselesaikan di ranah politik ataupun media. Saya minta supaya masalah ini didudukkan pada tempatnya. Janganlah masalah pajak dipolitisasi. Masalah itu harus diselesaikan di tempatnya, yaitu pengadilan pajak, bukan di kancah politik.

Menyelami Youthology, Memahami Anak Muda Indonesia

ical-300x224

Akhir pekan lalu, Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2010, saya mengikuti acara outbond Diklat Penyegaran Kader Penggerak Partai Golkar bersama kader-kader Golkar di Wisma Kinasih, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Dalam kesempatan itu saya mendengar pemaparan yang sangat menarik mengenai kehidupan anak muda dan dunia mereka. Hal ini disampaikan salah satu pemateri dengan materi berjudul “Youthology.” Isinya memaparkan berbagai fakta menarik mengenai kehidupan dan perilaku anak muda zaman sekarang.

Misalnya, dari data yang ada, anak muda sangat dekat dengan dunia maya. Karena itu, media dan situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog, dan sebagainya sangat ramai oleh mereka. Yang lebih menarik lagi, fenomena ini rupanya bukan hanya didominasi anak muda yang tinggal di kota saja, tapi anak muda di pedesaan juga mulai bergerak mengikuti tren ini. Selengkapnya…

Anak Muda Kita Tidak Cuma Senang ke Diskotik

IMG_2199

Akhir bulan Januari lalu, saya mengunjungi sejumlah kota di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Saya pergi bersama pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar untuk melantik beberapa pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di Jambi, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.

Ada pengalaman berkesan dari perjalanan saya, yaitu setiap saya mendarat di setiap provinsi, saya disambut dengan tarian tradisional yang indah. Misalnya saat saya mendarat di Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, saya disambut dengan Tarian Selampit Delapan, tarian khas daerah itu.

Saya dan Pak Akbar Tandjung serta rombongan menyaksikan dengan seksama tarian yang indah itu. Bukan hanya koreografi, dan kostum tradisionalnya saja yang menawan, namun lebih dari itu yang membuat saya terkesan adalah tarian itu dibawakan oleh anak-anak muda yang selama ini dipersepsikan kurang dekat dengan budaya tradisional. Selengkapnya…

Bertukar Gagasan di blog.aburizalbakrie.id

foto-ical-update2-300x300

Usia saya sekarang 63 tahun dan baru sekarang ini saya menulis blog. Kata anak muda sekarang, saya ini termasuk generasi ‘gaptek.’ Tapi, tidak pernah ada kata terlambat, bukan?

Saya, terus terang saja, memang belum lama menggunakan twitter dan BlackBerry. Saya tertarik mengikuti perkembangan teknologi informasi dan media jejaring sosial ini karena melihat dampaknya yang begitu besar terhadap kehidupan kita saat ini. Jarak dan waktu seperti tak ada batasnya lagi. Dalam sekejap, saya bisa bercakap-cakap dengan orang dari segala lapisan, tua maupun muda. Melalui twitter saya (@aburizalbakrie) banyak orang yang tidak saya kenal sebelumnya, tiba-tiba muncul menyapa saya. Senang rasanya bisa bercakap-cakap seperti ini, meski di dunia maya.

Hanya saja, percakapan di twitter terasa amat terbatas, cuma bisa 140 karakter sekali tweet. Karena itu, supaya bisa mengobrol lebih intensif dan panjang, pada hari ini saya meluncurkan blog ini—yang atas saran dan bantuan sejumlah kawan lalu dipadukan dengan twitter, facebook, flickr, dan youtube. Semua hal di sini bisa kita diskusikan secara terbuka, termasuk untuk dikritik dan didebat.
*** Selengkapnya…

Cerita Tak Terlupakan Saat Bang Ical Memimpin Kadin

Oleh: Dewi Motik Pramono

Pengusaha ternama. Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani). None Jakarta, Ratu Luwes Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada) dan Ratu Jakarta Fair pada 1968. Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi).

Pertemanan yang cukup lama membuat hubungan saya dan Bang Ical tumbuh seperti saudara. Kami bisa berbicara tentang banyak hal, mulai dari masalah bisnis hingga keluarga. Kami juga bisa saling melempar kritik dan bercanda. Bahkan ketika banyak orang tidak berani menyampaikan kritik kepadanya, saya bisa.

Saya mengenal Bang Ical sejak massa kanak-kanak. Kebetulan kami bertetangga di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Orang tua kami juga berteman baik. Meski selisih usia sekitar tiga tahun, tapi kami sering bermain bersama, karena kebetulan saya juga berteman dengan adik Bang Ical yaitu Roosmania Odi Bakrie. Selengkapnya…

Saat Terong Balado Bertemu Lidah

Berbicara tentang makanan memang tiada habisnya. Apalagi kalau kita berbicara tentang makanan favorit. Seru dan menarik, karena bagi sebagian orang, makanan merupakan media untuk menikmati hidup.

Salah satu makanan favorit saya: terong balado. Makanan ini berupa masakan tumis dari irisan sayur terong yang dipadu dengan ulekan sambal. Selain nikmat, masakan tradisional ini ternyata memiliki sejumlah keuntungan bagi penggemarnya.

Paling tidak saat memasukkan kata kunci ‘manfaat terong’ dalam mesin pencari di internet muncul ribuan artikel yang seolah berlomba menunjukkan keunggulan terong. Banyak yang menyebut sayur ungu itu berkhasiat untuk menurunkan kolesterol. Ada juga yang mengatakan terong dapat menghambat pembentukan plak-plak lemak.

terong-balado4-300x225Salah satu penelitian memaparkan bahwa terong juga bekerja sebagai antioksidan yang menghalangi pembentukan radikal bebas, sehingga membantu melindungi kerusakan sel membran dan menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Terong merupakan sumber asam folat dam kalium.

Masakan lain yang juga menjadi favorit saya adalah telur balado, semur, dan tempe orek. Sama halnya terong balado, telur balado juga memadukan telur sebagai bahan utama dengan ulekan sambal. Sedangkan tempe orek adalah irisan tempe kering dengan rasa pedas manis. Selengkapnya…

Loyalitas Pak Ical pada Tenis Luar Biasa

Yustejo-11-300x225Oleh: Yustedjo Tarik

Petenis terbaik Indonesia. Peraih medali perak tenis junior se-Asia di Jepang, pada 1972. Medali emas SEA Games di Jakarta, 1979. Meraih emas Asian Games New Delhi, India, 1982.

Kecintaan pada dunia tenis membingkai hubungan persahabatan kami. Saya kebetulan atlet tenis nasional yang berjaya di era 1980-an dan kini menjadi pelatih tenis. Sedangkan Pak Ical adalah pengusaha yang memiliki kecintaan luar biasa pada cabang olahraga tenis.

Kami pertama kali bertemu sekitar tahun 1986. Kala itu, Pak Ical hadir menyaksikan pertandingan tenis pada acara Asian Games di Seoul, Korea Selatan. Pak Ical memang sangat antusias menyaksikan atlet tenis nasional berlaga di kejuaraan tingkat dunia.

Sejak saat itu kami sering bertemu dalam sejumlah kejuaraan tenis. Kebetulan, Pak Ical sering menjadi sponsor dalam sejumlah kegiatan yang berhubungan tenis. Dan, beliau juga sering mengajak kami para atlet bermain tenis bersama.

Hingga akhirnya, secara tidak disengaja terbentuk satu tim pecinta tenis yang terdiri dari delapan orang, termasuk saya dan Pak Ical. Empat di antaranya adalah atlet tenis profesional. Dan, saat ini, kami memiliki jadwal rutin bermain tenis seminggu dua kali di Klub Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan, milik Pak Ical. Selengkapnya…

Geng Kami Bernama ARIA

Lingga-Karim31-300x218Oleh: Lingga Karim, Sahabat Lama

Lebih 55 tahun kami berteman baik. Bermula dari sebuah sekolah taman kanak-kanak (TK) bernama Perwari di kawasan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, persahabatan kami berlanjut.

Selepas TK, kami kembali dipersatukan dalam SD dan SMP yang sama. Masih di kompleks sekolah Perwari. Kami berpisah saat menginjak SMA. Saya di SMAN 1 Jakarta. Sedangkan Pak Aburizal memilih SMAN 3 Jakarta. Meski berbeda sekolah kami tetap dipersatukan dalam sebuah geng bernama: A-R-I-A.

Geng A-R-I-A terbentuk sejak kami masih duduk di bangku SD. A-R-I-A merupakan akronim dari nama-nama anggota geng yaitu dokter Imral yang akrab disapa Al (A), almarhum Rizal Irwan (R), saya sendiri Lingga yang biasa dipaggil Ingga (I), dan Pak Aburizal (A).

Bersama geng A-R-I-A, kami sering menghabiskan waktu bermain bersama. Kebetulan orangtua kami juga saling mengenal sehingga hubungan berlanjut bak keluarga. Kedekatan antaranggota geng A-R-I-A terjalin hingga masa kuliah. Kala itu, Rizal dan Pak Aburizal kuliah di ITB, sedangkan saya dan Al kuliah di Jakarta. Namun, meski terpisah kota, kami tetap berkumpul saat waktu luang atau libur.
Ada peristiwa yang tak terlupakan semasa kami kuliah. Kala itu, bersama geng A-R-I-A dan sejumlah teman lainnya perempuan dan laki-laki, kami berlibur ke Kepulauan Seribu. Saat itu kami semua masih single, belum ada yang menikah. Selengkapnya…