“Boarding Pass” Pilpres

12944044553_06dc65bbdbTadi malam saya berkunjung ke kantor sahabat saya Chairul Tanjung di Menara Bank Mega. Saya datang bersama para pengurus Partai Golkar, antara lain Idrus Marham, Fuad Hasan Masyhur, Erwin Aksa, Tantowi Yahya, Rully Chairul Azwar, dan lain-lain. Di sana kami ngobrol dengan Chairul Tanjung dan Peter Gontha, di ruang kerja Chairul.

Kemudian di sana saya juga bertemu dan berdiskusi dengan para pimpinan media yang tergabung dalam Forum Pemred. Chairul Tanjung yang memfasilitasi pertemuan ini lalu meminta saya memaparkan visi dan program saya baik dalam memimpin Partai Golkar maupun sebagai calon presiden (capres). Lalu dilanjut dengan tanya jawab atau diskusi dengan Forum Pemred.

Diskusinya cukup seru. Dalam diskusi itu ada pertanyaan menarik dari Pemred Suara Pembaruan dan Investor Daily Primus Dorimulu. Dia bertanya apakah saya percaya pada survei? Saya jawab bahwa saya percaya survei, tapi yang dilakukan lembaga survei yang kredibel. Saya percaya lembaga survei yang benar. Lembaga survei yang sudah lama jadi lembaga survei, bukan lembaga survei jadi-jadian.

Saya juga mengatakan semua survei dari lembaga survei yang kredibel menempatkan Partai Golkar di urutan teratas atau urutan pertama. Karena itu, saya tidak ragu di Pemilu Legislatif nanti Partai Golkar bisa menang dan mendapatkan kursi 30 persen.

Lalu anggota Forum Pemred bertanya bagaimana dengan elektabilitas saya di survei yang belum teratas seperti Partai Golkar. Saya menjawab, memang benar saya belum teratas, namun di survei capres saya selalu ada di tiga besar. Dari tiga besar itu, hanya saya yang memiliki eligibilitas tertinggi.

Eligibilitas ini penting karena saat berbicara mengenai Pilpres, seorang capres tidak hanya dituntut memiliki popularitas atau elektabilitas tinggi, namun juga harus memenuhi syarat pencalonan agar eligible. Jika Pilpres itu ibarat perjalanan menggunakan pesawat, saya mengibaratkan eligibilitas ini sebagai boarding pass.

Saat ini, yang memiliki boarding pass itu baru saya dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Ini dilihat dari hasil survei, yang mengatakan samapai saat ini, diprediksi hanya dua partai yang mampu memenuhi syarat dan mengusung capres sendiri yaitu Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Karena itu setiap ditanya mengenai saingan terberat saya, saya selalu mengatakan Megawati, sebab selain saya hanya dia yang sudah punya boarding pass.

Lalu bagaimana dengan yang lain? Sesuai dengan aturan dan hasil survei, mereka belum memiliki boarding pass. Meski popularitas atau elektabilitasnya tinggi, tapi kalau tidak memiliki eligibilitas akan susah bersaing di Pilpres. Ibaratnya, mau naik pesawat, banyak yang mendukung dia naik pesawat, namun kalau tidak memiliki boarding pass, maka dia tidak akan diizinkan naik oleh petugas bandara atau petugas maskapai.

Sementara saya dan Megawati sudah punya boarding pass. Saya sudah pasti memakai boarding pass itu, karena partai sudah menugaskan saya menjadi calon presiden. Namun Megawati belum memutuskan apakah akan berangkat menggunakan boarding passnya atau menyerahkannya pada orang lain.

Anggota Forum Pemred juga ada yang menanyakan bagaimana jika Megawati memberikan boarding passnya pada orang lain? Saat itu saya jawab dengan sedikit bercanda bahwa agak sulit juga berharap terbang dengan boarding pass orang lain. Karena boarding pass ini berlaku jika namanya sama, jika namanya beda, belum tentu diizinkan petugas atau komputer bandara.

Kemudian ada anggota Forum Pemred yang bertanya apakah ada strategi khusus jika yang memakai boarding pass Megawati sendiri atau diberikan ke orang lain, misalnya Jokowi? Saya katakan bahwa strateginya sama saja. Dalam menghadapi pemilu baik Pileg dan Pilpres, siapapun rivalnya, strateginya sama saja. Yaitu mendekati rakyat, meyakinkan rakyat, dan membantu mengatasi problem yang mereka hadapi. Jika itu berhasil dilakukan pasti bisa menang karena mendapat kepercayaan dari rakyat.

Itulah sebagian cuplikan diskusi saya dengan Forum Pemred yang difasilitasi oleh Chairul Tanjung. Pernyataan saya soal boarding pass ini bukan bermaksud untuk merendahkan calon dan partai lain, seperti yang muncul di banyak pemberitaan merespon berita seputar diskusi saya dan Forum Pemred tersebut. Saya mengatakan saat ini, berdasarkan data dari berbagai survei. Data survei sampai saat ini mengatakan demikian. Kalau nanti ternyata boarding pass jadi banyak ya bisa saja. Misalnya dari koalisi partai-partai, ya bisa saja, mungkin-mungkin saja. Tapi sekali lagi, jika melihat data survei sampai saat ini, hanya saya dan Megawati yang punya.

Pernyataan saya mengenai boarding pass ini semata juga untuk mengungkapkan apa yang selama ini luput dari perbincangan kita mengenai capres atau pilpres. Selama ini, jika berbicara mengenai hal tersebut, kita hanya terjebak pada masalah popularitas atau elektabilitas. Sementara ada hal lain yang penting namun terlewat yaitu soal eligibilitas.

Alhamdulillah, sekarang jika melihat hasil survei, jika dipadukan antara popularitas, elektabilitas dan eligibilitas, calon Partai Golkar-lah yang tertinggi. Semoga terus bertahan sampai pilpres nanti. Amin.

“Saingan Terberat Saya Bu Mega”

Wawancara dengan VIVAnews

149753_aburizal-bakrie-bertemu-38-ketua-dpd-ii-partai-golkar-se-jawa-timur_663_382Kurang dua bulan lagi menjelang pemungutan suara Pemilu 2014, partai-partai sudah siap siaga melakukan upaya pemenangan. Sejumlah survei mengungkap, ada dua partai yang paling moncer untuk Pemilu kali ini yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Golongan Karya (Golkar). Survei satu temukan Golkar di peringkat pertama, survei lain temukan PDIP yang nomor satu.

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menyatakan, survei-survei ini mengindikasikan Catur Sukses yang digebernya sejak memimpin haluan partai ini menampakkan hasil. Konsolidasi berjalan kuat, kaderisasi bergulir, ide-ide Golkar mendominasi dan keempat, kader-kader Golkar mengisi jabatan legislatif dan eksekutif di seluruh penjuru negeri.

Sekarang tinggal satu “pekerjaan rumah” Golkar, bagaimana mengerek elektabilitas atau keterpilihan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden yang diusung. Kepada VIVAnews, Aburizal Bakrie menyebutkan, soal elektabilitas memang belum menjadi pemuncak, namun soal eligibilitas atau pemenuhan syarat sebagai calon presiden, dia yang teratas.

Aburizal yang kini mempopulerkan akronim ARB untuk namanya itu, menceritakan elektabilitasnya juga terus meningkat. Strateginya yang rajin blusukan ke daerah-daerah menampakkan hasil yang lumayan.

Lalu apa yang hendak dicapai ARB jika jadi Presiden? Kepada Dian Widiyanarko dan Arief Hidayat, Januari 2014 lalu, Aburizal menceritakan sekelumit gagasannya. Berikut wawancara lengkapnya:

Apa yang sudah Anda lakukan saat memimpin partai menghadapi Pemilu 2014 ini?

Yang sudah saya lakukan tentu banyak. Di Golkar, kami memiliki Catur Sukses, yaitu empat program utama sebagai ikhtiar menuju keberhasilan dan kesuksesan Partai Golkar. Disebut Catur Sukses, karena jika empat hal ini dilakukan secara konsisten dan berhasil, akan membawa Partai Golkar meraih kesuksesan.

Catur Sukses yang pertama adalah konsolidasi. Di sini partai terus-menerus melakukan konsolidasi organisasi mulai tingkat pusat hingga daerah. Konsolidasi dilakukan pada hubungan vertikal maupun horisontal. Golkar memiliki 10 organisasi yang bernaung di bawah payung partai. Mereka bisa diandalkan untuk memunculkan kader-kader baru di daerah.

Kedua, adalah kaderisasi. Partai Golkar diarahkan untuk membuat rekrutmen anggota lebih terbuka. Sistem kaderisasi yang ada saat ini diperbaiki dan disesuaikan dengan perubahan yang ada di masyarakat. Termasuk merangkul para pemilih pemula yang merupakan kalangan muda. Kaderisasi juga harus diarahkan pada peningkatan kualitas.

Catur Sukses ketiga adalah menciptakan kreativitas dan ketajaman ide serta pemikiran baru. Golkar harus jadi “The Party of Ideas”. Golkar menawarkan adu ide dan gagasan membangun bangsa, bukan politik yang penuh intrik dan fitnah semata. Golkar juga selalu membuat sikap politik yang jelas serta tidak sembunyi terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat.

Terakhir, Catur Sukses keempat adalah sukses Golkar dalam pemilihan umum, baik pemilu kepala daerah, pemilu legislatif, dan pemilu presiden. Partai nantinya diarahkan untuk memenangkan pemilukada sejumlah daerah dengan dukungan dari Dewan Pimpinan Pusat. Untuk hal yang terakhir ini, saya merasa gembira karena Golkar telah memenangkan lebih dari 50 persen pemilihan umum kepala daerah di seluruh Indonesia. Saya gembira karena semula Golkar menargetkan kemenangan sedikitnya 40 persen. Ternyata, target tersebut berhasil dilampaui, bahkan lebih besar.

Keberhasilan itu merupakan modal besar dan akan membuat Partai Golkar lebih bersemangat merebut kembali kemenangan di Pemilu 2014 nanti. Pemilukada bisa menjadi persiapan dan batu loncatan untuk memenangkan Pemilu 2014.

Selain itu, kami juga telah merumuskan dan mengesahkan blue print pembangunan nasional itu yang diberi nama Visi 2045: Negara Kesejahteraan. Ini adalah visi pembangunan jangka panjang yang ditawarkan Partai Golkar dengan tujuan pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Indonesia, negeri ini menjadi Negara Kesejahteraan, yang bersatu, maju, mandiri, adil, dan sejahtera.

Dalam Visi 2045 ini juga ada catur sukses, yaitu catur sukses pembangunan nasional yang meliputi: pertumbuhan, pemerataan, stabilitas, dan nasionalisme baru.

Catur Sukses Partai Golkar itu juga meliputi persiapan-persiapan, yang telah kami lakukan sejak empat tahun lalu, untuk menyambut Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

Kami juga melakukan sosialisasi terus-menerus sepanjang tahun yang kami sebut “one united campaign”, yaitu integrasi kampanye untuk Pemilu Legislatif sekaligus untuk Pemilu Presiden. Jadi, strategi sosialisasi atau kampanye Partai Golkar tidak dilakukan terpisah atau sendiri-sendiri antara Pemilu Legislatif dengan Pemilu Presiden.

Dalam setiap kegiatan atau momentum partai, kami menyosialisasikan Partai Golkar, para caleg, sekaligus mensosialisasikan calon presiden yang sudah ditetapkan. Itu semua akan terus dilakukan sampai Pemilu nanti. Jadi, sosialisasi atau kampanye kami tidak menunggu nanti menjelang Pemilu, tetapi sudah dilakukan jauh-jauh hari. Agar masyarakat lebih mengenal dan mengetahui program-program baik Partai Golkar maupun calon presidennya.

Berapa target perolehan suara Golkar di Pemilu 2014?

Golkar menargetkan meraih 30 persen suara secara nasional, atau kalau dikonversikan ke dalam jumlah kursi, yaitu 170 kursi DPR RI.

Bagaimana mengukurnya?

Kami punya pertimbangan rasional saat menetapkan target tersebut. Dengan 170 kursi di DPR, Golkar akan menjadi partai yang mayoritas di Parlemen. Salah satu tujuannya adalah untuk memperkuat sistem presidensial, yaitu kekuatan mayoritas Golkar di Parlemen harus menjadi penyokong utama kebijakan-kebijakan Presiden. Tentu tanpa mengabaikan fungsi pengawasan legislatif terhadap eksekutif.

Jadi, kalau Golkar memenangkan Pemilu Legislatif dengan perolehan sekurang-kurangnya 170 kursi DPR RI, dan capres dari Partai Golkar dipercaya rakyat, Presiden akan didukung penuh oleh mayoritas Parlemen.

Data terbaru dari berbagai survei tetap menunjukkan sebuah tren yang jelas, Partai Golkar adalah partai papan atas dengan kemungkinan terbesar untuk keluar sebagai pemenang dalam Pemilu Legislatif 2014.

Berbagai survei tersebut juga menunjukkan bahwa pesaing terdekat kita saat ini adalah PDIP yang dipimpin oleh Ibu Megawati Soekarnoputri. Tentu saja, tren yang ada tidak bersifat linear dalam garis yang lurus. Dalam dunia politik, pasti ada pasang dan surut, serta ada pula tikungan-tikungan yang tak terduga.

Namun kalau diilustrasikan, Pemilu Legislatif nanti adalah bagaikan sebuah lomba lari. Data menunjukkan bahwa sekarang, dari 12 peserta lomba, hanya dua partai yang melesat cukup jauh di depan peserta lainnya dalam mendekati garis finish. Kuning dan Merah berada di depan dalam jarak yang cukup aman, disusul oleh warna-warni lainnya dalam posisi yang silih berganti.

Hasil akhirnya tentu masih menjadi rahasia Allah. Tapi saya yakin, padi sudah semakin menguning sampai ke pelosok-pelosok desa, dan akan panen di 2014.

Apa pendapat Anda mengenai kinerja Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu untuk 2014?

Saya kira bagus, dan KPU serta Bawaslu harus terus bekerja secara independen dan adil sesuai amanat peraturan perundang-undangan. Ibarat pertandingan bola, mereka adalah wasitnya. Wasit yang baik harus menjaga agar pertandingan berlangsung, lancar dan seru.

Apa kendala yang Anda dan partai Anda hadapi di Pemilu 2014 ini?

Secara general sih tidak ada. Alhamdulillah, Partai Golkar siap menghadapi pemilu 2014 dan siap kembali merebut kejayaan.

Kampanye terbuka sangat dibatasi di Pemilu 2014 ini, bagaimana Anda menyikapinya?

Kampanye tidak harus dilakukan di tempat terbuka. Kampanye dengan pengerahan massa sudah bukan zamannya lagi. Sekarang ini ada media seperti televisi yang jangkauanya bisa lebih luas, juga ada internet dan media sosial. Ini saya sebut dengan istilah serangan udara.

Acara yang dihadiri sedikit orang kalau diliput dan disiarkan di media seperti televisi dan dikabarkan di media sosial maka jangkauannya bisa jadi lebih luas. Ini namanya serangan darat dibantu serangan udara.

Menurut Anda, bagaimana peran Internet atau media online di Pemilu 2014 ini?

Perannya tentu saja penting. Meski jangkauannya belum merata, dan relatif lebih kecil dibanding cakupan media konvensional seperti televisi, tapi jumlah penggunanya tidak bisa dibilang sedikit. Tahun 2014 diperkirakan ada sekitar 100 juta pengguna internet di Indonesia.

Internet dan media online, juga media sosial ini juga penting untuk mendekati segmen anak muda atau pemilih pemula. Pemilih pemula ini jumlahnya sekitar 50 juta. Untuk berkomunikasi dengan anak muda ya dengan cara mereka, yaitu melalui internet dan media sosial.

Selain juga dengan cara offline seperti memberikan kuliah umum dan ceramah motivasi kewirausahaan yang ternyata juga menarik minat mereka.

Apakah Anda punya akun Twitter dan Facebook sendiri? Apakah mengoperasikan sendiri?

Saya adalah politisi atau pimpinan parpol yang termasuk pertama kali main social media. Bahkan dulu sebelum yang lain aktif, saya sudah aktif baik di Twitter maupun Facebook. Saya mengoperasikan bersama tim. Jika ada waktu luang saya sempatkan membaca dan membalas mention atau pesan yang masuk.

Akun Twitter saya @aburizalbakrie dan akun Facebook page saya: facebook.com/aburizalbakriepage. Dalam berbagai survei online, social media saya termasuk yang paling populer dan sering diperbincangkan.

Saya juga punya blog pribadi www.blog.aburizalbakrie.id yang berisi pengalaman saya. Tampaknya belum ada tokoh parpol lainnya yang punya blog seperti punya saya. Dari sana, saya berbagi pengalaman dan menerima masukan dari masyarakat.

Bulan lalu, saya juga baru saja soft launching website www.ARB2014.com yang berisi semua kegiatan saya, termasuk roadshow saya ke berbagai daerah di Indonesia.

Apa Anda siap jadi calon presiden di Pemilihan Presiden 2014?

Tentu saja saya siap jadi calon presiden, dan sudah ditugaskan partai untuk itu. Memang jika melihat perjalanan Partai Golkar cenderung mulus menuju Pemilu 2014, perjalanan kandidat capres Partai Golkar kelihatannya lebih mengandung dinamika dan mengundang percakapan publik yang menarik, yang tentu saja saya sambut dengan jiwa yang terbuka, serta saya maknakan sebagai tantangan untuk bekerja lebih keras lagi.

Seperti di pidato deklarasi saya yang judulnya “Mendaki Gunung Semeru”, saya siap terus menempuh seterjal dan sesulit apapun jalannya. Sekali kukembangkan layarku, pantang surut kembali.

Alhamdulillah, kalau kita melihat survei, meski belum teratas, elektabilitas saya trennya naik.

Apa persiapan Anda?

Saya terus bekerja keras, turun ke bawah, berkeliling ke seluruh pelosok wilayah Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Sudah lebih dari 250 kabupaten/ kota yang sudah saya singgahi dalam road show saya. Iklan saya di televisi, semua dibuat dari rekaman kegiatan road show saya, tidak ada yang dibuat di studio.

Saya memotivasi anak-anak muda, berdialog dengan rakyat dari berbagai kalangan. Saya juga menyiapkan visi untuk bangsa Indonesia sampai usianya ke-100 tahun yaitu Visi 2045 yang sudah saya singgung sebelumnya. Visi ini yang kita susun bersama berbagai pakar dan diuji di universitas terkemuka se-Indonesia.

Dengan kerja keras, saya optimistis bisa mencapai taget saya. Pemilu Presiden masih lebih 7 bulan di depan. Dalam jangka waktu ini, masih banyak hal yang bisa terjadi, apalagi dalam masyarakat Indonesia yang semakin cair secara politik. Momentum bisa datang dan pergi begitu saja, dan publik bergonta-ganti pilihan secara cepat seperti mencoba baju di pasar kaget.

Karena itu, sikap terbaik bagi setiap kandidat Capres adalah sikap yang positif: terus bekerja keras meraih simpati rakyat serta mendengarkan suara hati mereka.

Semua survei menyebutkan, hanya ada maksimum dua partai yang kemungkinan bisa ajukan calon presiden sendiri, apakah partai Anda siap berkoalisi untuk ikut Pemilihan Presiden 2014?

Memang jika kita melihat semua survei hanya ada dua partai yang diprediksi bisa mengajukan calon sendiri yaitu Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Karena itu jika ditanya siapa saingan terberat saya, saya selalu mengatakan saingan terberat saya Bu Mega.

Di sinilah pentingnya kita bicara eligibilitas (pemenuhan syarat pencalonan) capres, bukan hanya soal elektabilitas saja. Elektabilitasnya tinggi tapi kalau tidak punya kendaraan ya tidak akan bisa maju atau dipilih. Kalau soal elektabilitas, mungkin saya belum nomor satu, masih tiga besar, tapi kalau elektabilitas digabung dengan eligibilitas, saya nomor satu. Ini bisa dilihat dari survei partai dan capres.

Soal koalisi, saya inginnya Partai Golkar bisa memenuhi syarat untuk bisa mengajukan calon sendiri. Seperti Partai Demokrat di 2009, di mana Pak SBY bebas memilih wakilnya. Namun jika tidak bisa, ya kita berkoalisi.

Apa syarat koalisinya?

Dalam koalisi yang penting ada persamaan visi dalam membangun bangsa ke depan.

Bagi saya pribadi, Pemilu Presiden bukanlah soal data dan survei. Bahkan barangkali bukan pula soal kalah dan menang. Tentu saja, sebagai kandidat Capres Partai Golkar, saya akan berupaya sekuat mungkin untuk menang.

Tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah dedikasi dan pengabdian pada sebuah tujuan besar, yaitu perbaikan nasib serta peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. (umi)

Marco dan Labuan Bajo

12290305685_ff79969470_bAwal pekan lalu (senin, 3 Februari 2014), saya terbang ke Labuan Bajo, untuk bersafari atau roadshow ke sana. Labuan Bajo adalah ibukota Kabupaten Manggarai Barat, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Komodo. Karena di tempat inilah para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Komodo datang dan menginap. Dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo, biasanya wisatawan akan berlayar tiga sampai empat jam dengan perahu tradisional, atau satu jam dengan speed boat.

Jika melihat Labuan Bajo sekarang, yang begitu dikenal sampai mancanegara, mungkin kita tidak akan menyangka bahwa daerah ini dulunya hanya desa nelayan kecil. Keindahan daerah ini, dan fungsinya sebagai pintu gerbang Pulo Komodo, yang kemudian menarik banyak pelancong dan mengubah daerah ini menjadi tujuan wisata.

Saya sendiri menilai Labuan Bajo sebagai salah satu tempat yang terindah di dunia. Potensi wisata di sana juga besar sekali. Bahakan saya berani mengatakan Labuan Bajo bisa berkembang dan maju seperti Bali. Dengan kata lain, Labuan Bajo bisa menjadi Bali kedua.

Tentu saja untuk menuju ke sana tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu pembangunan infrastruktur agar Labuan Bajo bisa menjadi tujuan wisata yang baik. Perkembangan pariwisata sebuah daerah tidak bisa lepas dari pembangunan infrastruktur. Pulau Bali, meningkat pesat pariwisatanya juga setelah infrastruktur di daerah itu dibangun dengan baik.

Karena itu, saya selalu bilang: kuncinya; infrastruktur, infrastruktur, dan infrastruktur.

Maka saat berdialog dengan kader dan masyarakat Labuan Bajo, saya katakan bahwa saya dan kader saya baik di eksekutif maupun legislatif akan membantu berjuang untuk pembangunan infrastruktur itu. Kader saya, terutama yang mewakili daerah sana, terus berjuang untuk itu.

Sebab pembangunan di daerah seperti ini, sesuai dengan misi Partai Golkar untuk “Membangun Indonesia dari Desa”. Ini bukan sekedar slogan, namun sebuah tekad dan misi yang terus kami laksanakan. Karena kami yakin, jika daerah maju, maka Indonesia juga akan maju.

Seperti di Labuan Bajo, jika infrastruktur sudah baik dan pariwisata berkembang pesat, saya yakin masyarakat di sana juga akan mendapatkan kesejahteraan. Persoalan pengangguran juga bisa mendapat solusi, jika pariwisata berkembang. Lihat saja Bali, gubernurnya mengatakan pada saya bahwa pengangguran di daerahnya hanya 1,3 persen. Sektor pariwisata bisa banyak membuka lapangan kerja.

Tapi selain infrastruktur, masyarakat sendiri juga harus “dibangun”. Masyarakat di daerah pariwisata juga harus punya keahlian untuk memanfaatkan potensi yang ada di daerahnya. Di sini pendidikan kewirausahaan sangat diperlukan.

Untuk hal ini saya ada contoh dan cerita menarik.

Saat tiba di Labuan Bajo saya pergi ke restoran Italia namanya “Made in Italy (MII)”. Restoran ini dari luar tampak biasa saja, bangunannya sederhana, namun siapa sangka makanannya luar biasa enaknya. Menu yang istimewa di sana adalah pasta yang dibuat dengan campuran tinta cumi-cumi. Saya lupa namanya, tapi saya tidak lupa rasanya yang enak sekali.

Pemilik restoran ini adalah Marco Bertini, warga Negara Italia yang sudah lama jatuh cinta dengan Indonesia, khusunya Labuhan Bajo. Selain restoran rumah di Jl Sukarno Hatta itu, Marco juga punya restoran terapung, sebuah kapan kecil yang diubah menjadi restoran dengan nama “Made in Italy Boat”. Saya sebenarnya ingin mencoba naik, tapi sayang kemarin gelombang lagi kurang baik, jadi saya batal naik.

Restoran Marco ini terkenal sampai ke mancanegara. Banyak orang yang memuji konsep restoran dan rasa makanannya, dan berbondong-bondong datang ke sana. Usaha Marco pun sukses besar.

Marco ini bisa kita jadikan contoh, bagaimana seseorang dengan semangat kewirausahaan bisa memanfaatkan potensi Labuan Bajo dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Dia awalnya ke Labuan Bajo untuk berlibur, namun menemukan peluang usaha saat melihat potensi daerah tersebut.

Saat berlibur bersama temannya, dia susah menemukan rumah makan yang baik dan berstandar internasional. Makanya ide membuka usaha restorannya muncul. Hasilnya seperti bisa dilihat saat ini, usaha Marco sukses dan restorannya terkenal.

Apa yang dilakukan Marco bisa dicontoh oleh masyarakat. Jika orang asing saja bisa sukses di daerah kita, kita yang tuan rumah, yang lebih mengenal daerah kita tentunya bisa lebih sukses lagi.

Karena itu selain infrastruktur harus dibangun, jiwa atau semangat entrepreneur atau wirausaha masyarakat harus juga dikembangkan. Makanya setiap roadshow keliling ke berbagai pelosok tanah air, saya selalu memberikan ceramah motivasi atau kuliah umum kewirausahaan kepada siswa atau mahasiswa.

Saya yakin, jika infrastruktur sudah baik, dan jiwa wirausaha masyarakat bagus, daerah seperti Labuan Bajo ini dan daerah-daerah lainnya akan maju. Jika daerah maju, maka bangsa Indonesia ini juga akan maju. Saya optimis, sebelum seabad bangsa ini, 2045 nanti, cita-cita kita bersama ini sudah kita capai.

Emas Pertama untuk Indonesia

arb alanTadi malam, saya menjelang istirahat saya menengok akun twitter saya. Ada seorang follower memention saya dan mengirim sebuah foto atau gambar (yang sepertinya captur sebuah video) seorang pebulutangkis memeluk seorang pria berkacamata. Dia menanyakan apakah sosok di foto atau gambar adalah saya?

Meski gambarnya agak buram dan itu kejadian yang sudah sangat lama sekali, saya masih mengenali bahwa pria berkacamata itu adalah saya. Itu adalah foto atau gambar yang merekam momen tahun 1992. Sebuah momen yang tidak akan pernah terlupakan baik bagi saya maupun bagi bangsa Indonesia.

Pebulutangkis di foto itu adalah Alan Budikusuma memeluk saya usai memenangkan pertandingan final tunggal putra di Olimpiade Barcelona. Di pertandingan final Alan mengalahkan pebulutangkis yang juga dari Indonesia, Ardy Wiranata.

Seusai memenangkan pertandingan, Alan memeluk saya yang hadir sebagai salah satu ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Saya masih ingat hari itu, 4 Agustus 1992. Hari bersejarah di mana Indonesia menyapu bersih medali tunggal putra.

Kala itu terjadi all Indonesian final, Alan menang dan mendapat emas, sementara Ardy Wiranata mendapat perak. Sementara di tempat ketiga atau perunggu, juga ada pebulutangkis Indonesia Hermawan Susanto yang berbagi tempat dengan Thomas Stuer Lauridsen dari Denmark.

Yang lebih membanggakan lagi dan membuat moment itu tak terlupakan adalah; ini pertama kalinya Indonesia memperoleh medali emas di Olimpiade. Ini adalah emas pertama Indonesia di Olimpiade setelah 47 tahun Indonesia merdeka.

Memang, Alan bukan orang Indonesia pertama yang memperoleh medali di Olimpiade. Sebelumnya sudah ada Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani, yang berhasil meraih medali perak pada Olimpiade Seoul tahun 1988 dari cabang panahan.

Namun untuk medali emas, Alan lah yang pertama, bersama Susi Susanti yang juga memperoleh medali emas dari tunggal putri bulutangkis. Alan dan Susi, kemudian tidak hanya mengawinkan medali, namun keduanya juga menikah dan menjadi suami istri.

Itulah emas pertama untuk Indonesia yang dipersembahkan Alan dan Susi. Sebuah prestasi yang disambut suka cita seluruh bangsa Indonesia. Bahkan ada yang menyebut saat itu adalah masa puncak atau periode emas prestasi bulutangkis Indonesia.

Sebagai pengurus PBSI kala itu tentu saya ikut bangga. Apalagi saya ikut menyaksikan langsung perjuangan Alan dalam mengharumkan nama Indonesia. Karena itu saya berterima kasih sekali saat ada yang mengingatkan saya atas momen ini.

Apa yang telah diperbuat Alan dan Susi ini saya rasa patut diteladani para penerus mereka. Terutama para atlit dan calon atlit bulutangkis. Agar mereka bisa lebih berprestasi lagi. Agar prestasi bulutangkis Indonesia bisa bangkit lagi.

Kita harus optimis bahwa ke depan prestasi bulutangkis dan olahraga lainnya di Indonesia akan kembali berjaya di tingkat dunia. Kalau Alan dan Susi bisa, tentu putra dan putri Indonesia yang lainnya juga bisa. Maju terus bulutangkis Indonesia!

Tulisan saya lainnya tentang bulutangkis bisa dibaca di sini

Warisan Para Presiden Indonesia

arb abak smp 2“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”.

Itulah pepatah lama yang selalu saya ingat dan mengingatkan saya bahwa seseorang akan dikenang atas apa yang dikerjakannya semasa hidupnya. Orang akan dikenang jika memiliki warisan atau legacy yang berguna bagi sesamanya.

Demikian halnya dengan para pemimpin. Seorang pemimpin akan dikenang atas karya atau warisan yang ditinggalkannya untuk rakyatnya. Bagi saya, terlepas kekurangan yang ada, semua pemimpin bangsa ini memiliki warisan yang baik.

Karena itu, ketika pihak lain lebih suka mencari-cari kelemahan seorang pemimpin, menjelek-jelekkan mantan presiden, dan lain sebagainya, saya lebih suka mengungkapkan apa hal baik yang telah ditinggalkan. Maka dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengungkapkan bahwa semua presiden Indonesia meninggalkan warisan yang baik bagi bangsa ini.

Saya sampaikan hal ini di berbagai kesempatan. Baik di sekolah-sekolah, di kampus, di acara partai, sampai di seminar atau forum di mana saya diminta menjadi pembicara. Di semua kesempatan itu, saya mengatakan bahwa semua pemimpin bangsa ini mempunyai legacy masing-masing.
Kita sudah memiliki enam presiden, dan semua meninggalkan warisan yang baik bagi bangsa ini. Mari kita lihat satu persatu legacy para pemimpin bangsa ini untuk Indonesia.

Yang pertama adalah Presiden Soekarno. Sebagai presiden pertama, proklamator, founding father, Bung Karno mewariskan pondasi bangsa ini. Beliau mewariskan rasa persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

Saya masih teringat dan sering mengutip pidato Bung Karno yang mengatakan:

“Dari Sabang sampai Merauke”, – empat perkataan ini bukanlah sekedar satu rangkaian kata ilmu bumi. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekedar menggambarkan satu geographisch begrip. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar satu “geographical entity”. Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu “national entity”. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu “state entity” yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologis, satu “ideological entity” yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, – satu entity of social-consciousness like a burning fire.”
Kemudian Presiden Soeharto sebagai presiden ke-dua juga meninggalkan lecay yang baik bagi Indonesia. Di tangan Pak Harto, Indonesia makin maju pembangunannya. Bapak pembangunan ini menaikkan ekonomi dan derajat Indonesia dari negara terbelakang menjadi negara berkembang.

Presiden BJ Habibie yang menggantikan Pak Harto juga banyak meninggalkan warisan yang baik bagi bangsa ini. Meski masa pemerintahannya cukup singkat, tetapi Pak Habibie meninggalkan hal yang sangat penting di masa transisi. Beliau meletakkan dasar-dasar demokrasi Indonesia. Pak Habibie juga memisahkan BI dan pemerintah Indonesia. Membuat pers bebas, dan sebagainya.

Selain itu, selama hidupnya, Habibie yang terkenal jenius ini juga memberikan kebanggan bagi kita. Sebuah kebanggaan bahwa kita, bangsa ini, si kulit coklat ini, juga bisa membuat pesawat terbang, tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain.

Setelah Presiden Habibie, ada Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur, yang selama ini dikenal sebagai tokoh demokrasi meninggalkan legacy berupa kesetaraan. Egalitarianisme. Gus Dur mengajarkan kepada kita semua bahwa kita semua sama. Diskriminasi dihilangkan dari berbagai sendi kehidupan, baik dari birokrasi maupun di segala sendi kehidupan. Di masa ini, demokrasi juga dijunjung tinggi.

Lalu Presiden Gus Dur digantikan oleh Presiden Megawati. Bu Mega juga meninggalkan legacy yang baik dan berguna bagi bangsa. Di era Bu Mega, terjadi desentralisasi kekuasaan. Kebijakan pembangunan tidak lagi dilakukan Jakarta tapi di daerah, kabupatan/kota se-Indonesia. Otonomi dijalankan dan manfaatnya bisa dirasakan.

Terakhir adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Presiden SBY. Presiden SBY sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat juga memiliki legacy. Kita harus mengapresiasi langkah penegakan hukum di era ini. Di era Presiden SBY, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, termasuk para pejabat yang terlibat. Di era ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melaju tinggi, bahkan pernah menjadi nomor dua se-dunia.

Itulah warisan para pemimpin bangsa ini. Sekali lagi mereka meninggalkan legacy yang baik bagi bangsa Indonesia. Kekurangan tentu saja ada. Tidak ada pemimpin yang sempurna di dunia ini.

Namun, sebagaimana saya katakana di awal, saya dan Partai Golkar tidak tertarik membahas kekurangannya. Kami lebih memilih mengapresiasi dan menerukan warisan yang ditinggalkan, sembari mengajak semua anak bangsa untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan para pemimpin tersebut.

Maka kemudian saya bersama Partai Golkar kemudian menyusun blue print pembangunan sampai 100 tahun Indonesia yang kami namakan; Visi Indonesia 2045. Ini yang ingin saya jadikan legacy, sesuatu yang ingin saya wariskan kepada bangsa ini.

Saya ingin mempersiapkan Indonesia menjadi negara yang maju, kuat, mandiri, adil, dan sejahtera. Masa di mana anak cucu kita bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain sebagai bangsa maju. Masa di mana anak cucu kita dari Sabang sampai Merauke dengan bangga mengatakan; saya bangga menjadi putra dan putri Bangsa Indonesia.

Mungkin ketika saat itu tiba, saya masih hidup dan masih bisa bermain tenis. Mungkin juga saya sudah tiada. Kalaupun saya sudah tiada, saya sudah tenang, karena sudah meninggalkan sesuatu yang baik untuk negeri saya tercinta; Indonesia.

Oleh karena itu, saya selalu mengajak kita semua, terutama para generasi muda, calon pemimpin bangsa, untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan hal itu. Tugas kita semua memberikan kontibusi masing-masing sesuai peran dan kemampuannya. Kita harus yakin mimpi besar tersebut bisa kita raih. Kita harus terus merawat Indonesia dan mengantarkannya ke pintu gerbang seabad proklamasi.

Mari kita hargai warisan para pemimpin bangsa dengan cara melanjutkannya dengan lebih baik lagi. Yang baik kita warisi dan lanjutkan, yang kurang baik, kita perbaiki dan jadikan pelajaran berharga untuk perjalanan ke depan. Jika itu berhasil kita lakukan, kita akan dikenang atas upaya kita mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.

Sekecil apapun yang akan kita lakukan, kita akan dikenang dengan penuh rasa terima kasih oleh generasi yang akan datang. Kita akan dikenang oleh para anak cucu kita yang akan meneruskan estafet perjalanan bangsa ini, sebagai pewaris jalan menuju negara maju.

Asian Development and Democracy: An Indonesian Account Toward Global Moderation

UMNO’s Annual General Assembly, Kuala Lumpur, December 3rd, 2013

IMG_00000022Honorable guests

Ladies and Gentlemen

Assalaamualaikum Wr. Wb.

It is a great honor to be here with you as a friend of UMNO and of Malaysia. I wish to thank you for inviting me to participate in your Annual General Assembly.

Let me be frank to you. I am always a secret admirer of UMNO and of Malaysia’s great statesman, Mr. Mahathir Mohamad. I have personally known Mr. Mahathir for many years. He is like a teacher to me – I think he is a great teacher to us all. With his sharp intellect, his optimism, and his deep understanding of how to combine leadership and persuasion, he has shown the world how Malaysia could be brought forward and became one of the most successful examples among developing world.

Most importantly, Mr. Mahathir has injected a healthy self-confidence, a sense of purpose, as well as a can-do spirit in the bloodstream of the people of Malaysia, which of course radiated to the region and the world, including Indonesia.

For all that, I wish to use this opportunity to thank the former Prime Minister and to wish him well.

Whenever I think about Mr. Mahathir, I always think also about two other great ASEAN leaders, Mr. Lee Kuan Yew, the former Prime Minister of Singapore, and Mr. Suharto, our former President. They lived in the same age, became something like a triad of power who understood each other. Of course they had their differences, but without their leadership, peace and rapid progress in our region in the 1970s and 1980s would have perhaps been impossible.

As for UMNO, I have a dream that I better tell you up-front. I am Chairman of the Golkar Party, the oldest political party in Indonesia. The election season is coming. In April next year, the Indonesia people are going to choose their legislators and, in July, their new president. If my party wins both elections, I will build a coalition of parties, and if possible, I will persuade some of them to establish a strong permanent coalition, using UMNO and Barisan Nasional as our model.

I do not know whether it is possible to build such a coalition in Indonesia. But at least I am going to give it a try, because I think, to govern a big and plural country like Indonesia, it is much better to do it with unification of forces. Our newly evolving democracy needs a powerful guardian of unity and progress, otherwise the country is perpetually pulled in different directions.

So let us see how far my party can move forward. I hope the people of Indonesia, like the people of Malaysia, are supportive of such idea.

Honorable guests

Ladies and gentlement

As for the topic of our panel today, I think it is very timely. I am hopeful that Malaysia, Indonesia, and other countries in our region can contribute positively to global peace. World harmony is not utopia. It is possible to realize this noble dream as long as we in the community of nations are able to excercise power in moderation, with a healthy dose of common sense, and with respect toward others.

Harmony, respect, and global moderation cannot be achieved only with the languange of might and brute forces. Of course, there must be an architecture of power relationship among nations (such as ASEAN, APEC, NATO, WTO, G-20, the UN and others) that guarantee the possibility of dialogue and peaceful resolution of conflicts.

We also know from history that power is constant and even necessary to guarantee peace. In the era of the Roman Empire two millenia ago, lawful relationship among its subjects, which included many civilized nations of the time, followed the concept of Pax Romana, without which no peace was possible. After Rome, in the dawn and after the birth of modern times, there was Pax Britannica which ruled the waves for some three hundred years, or so it was claimed. Closer to our time in the mid 20th Century, it was the two superpowers, the US and the Soviet Union, who were in constant competition to claim the mantle of the world guardian.

In our time now, in the dawn of the 21st Century, some experts speculate that it has been, or it will be, the era of Pax Americana. With the demise of the Soviet Union, the US is the only superpower left standing, unmatched by the rest of nations in power scale and projections, despite the fact that its economy has been in deep trouble in these last several years.

There might be a grain of truth behind this speculation. But I think we all agree that the world and its people are now different. This is now the age of globalization. The world is getting smaller and everything is moving faster, including money, trade, people, news and information. The subjects of Pax Romana and Pax Brittanica were mostly illeterate. Now, world’s citizens are equipped with smartphones, live much longer, move faster and futher away from their place of birth, with much better education. With this kind of change and transformation, old rules and habits in governing the world have become obsolete.

The concept of superpower is no longer suffice to capture the complexity of the new reality. More so than ever before, the world can no longer be ruled simply by power or force alone. Persuasion, reason and common sense are becoming the main currency of our new international order.

There must be a new paradigm that fits with the changing world reality. And I think, whatever this new paradigm will be, it has to encourage more moderation, more open and responsible excercise of power in the community of nations.

Apart from this new paradigm, I also think that the best and the more lasting way to secure peace is through progress and democracy. With successful economic development, we provide better education, better healthcare and welfare for the people. With democracy, we recognize their rights as individuals, their freedom and their dignity as human beings. With all these, the dream to secure a lasting world harmony has a deeper and stronger foundation.

Fortunately, globalization of the world provides lots of opportunities for poor or developing countries to catch up with economic modernity. It also provides a more solid ground to start democratization. I am not saying that all of these are easy or automatic. But at least, they are possible and the world has already seen some convincing examples of how the two grand objectives were achievable in one or two generations.

Here we have to rejoice as members of the Asian nations, because many of such successes occurred in Asia, particularly in East and Southeast Asia. Malaysia and Indonesia, as well as others like Singapore, Thailand, South Korea, Taiwan, Japan, and China, have given the world some kind of positive examples in achieving either economic development or democracy, or sometimes both.

We have to be proud of these achievements. As an Indonesian, what I am also proud about is the fact that as the world’s largest muslim nation, Indonesia has proven that Islam, modernity, and democracy can go along well. Islam is no threat to modernity and democracy. In fact, it encourages moderation and enriches our sense of togetherness as a people. This is a true success story, especially if we see the fact that Indonesia, with its 240 million people, is one of the world’s most plural societies.

By explaining all that, I am not saying that economic progress and political opening in Asia have all been seamlessly accepted or have been without conflicting implications in world affairs. In the short run, change and transformation will always create ripples and confusing responses.

Here, the best example is the rise of China, our giant neighbor who has rapidly expanding its economy. Because of its size, everything related to China will always be treated with hyperbole. Many countries, including the US, seems to give divided responses on how best to deal with the rising giant. Unfortunately, the confusion was also fueled by the hard-liners in all the parties involved, as we have witnessed recently in the news regarding the posturing in the issue of Senkaku or Diaoyu Islands in the South China Sea.

The posturing by the parties involved (Beijing, Tokyo, Washington) will of course be fading away in the coming weeks. But it is a small example which tells us a bigger picture, that the transformation of China needs to be absorbed by the world with care and responsibility (the awakening dragon needs to be handle with care and friendly gestures).

That is only one examples of many such issues. From India to Japan, there are things to settle with care and responsibility. The same is also true in many regions, from the Middle East, Latin America and Eastern Europe, which of course will be too long here if we discuss them one by one.

In Asia, one thing we always have to remember: more than half of the world population live in our region. Asia is very dynamic, with lots of people: let us direct this dynamism and energy toward peace and prosperity, not toward conflict or petty posturing. In the context of world economy, to certain degree we have created some kind of Pax Asiana. Our great challence now, in the context of politics, security and world peace, is to make the same positive contribution and achievement.

So, Asian countries have a very important role to play in world affairs. I think the best way to excersize our role is to define the issues, to set up the agenda, and to mobilize strong coalition of nations in the direction of our goals. I strongly believe we can do all this. We have been successful in many fronts. Now is the time to help lead the world into a better future.

As a closing for this short remark, I should say that I am proud that a political party like UMNO in Malaysia (which is truly Asia) is thinking far ahead and discussing the topic of power and global moderation in its general assembly meeting.

I congratulate UMNO for this. My party, Golkar, will learn from it. Already, before I flew to Kuala Lumpur yesterday, I had asked my deputies in the Golkar party to plan for a seminar with the topic of the same nature, discussing the future of the world. (But of course, we in Indonesia have a more immediate task early next year, to win the elections for our legislators and to win the presidency. We will talk about the world after that).

Again, I thank you for inviting me to this panel.

Wabillahitaufiq walhidayah,

wassalamualaikum Wr. Wb.

Ketika Layar Sudah Terkembang

Pidato Pembukaan Rapimnas ke-5 Partai Golkar. Jakarta, 22 November 2013

photo (1)Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua

Perkenankanlah saya mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, karena hanya atas rahmatnya kita dapat bertemu pada hari yang berbahagia ini.

Saya juga ingin mengajak kita semua untuk bersyukur bahwa seluruh lapisan Partai Golkar di berbagai daerah terus menunjukkan tekad yang kuat dalam menyambut datangnya momen penting Pemilu 2014. Semoga ke depan partai kita akan terus tumbuh berkembang, bagaikan pohon beringin yang semakin rindang daunnya serta semakin dalam akarnya tertancap di Bumi Pertiwi yang kita cintai ini.

Kepada seluruh pimpinan DPD Tingkat 1 dari berbagai provinsi yang mengikuti Rapimnas ke-5 ini, serta kepada rekan-rekan pimpinan dan pengurus DPP, ormas dan sayap yang tergabung dalam keluarga besar Partai Golkar, serta kepada panitia penyelenggara, saya menghaturkan beribu terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Tak lupa pula, kepada sahabat-sahabat kita, pimpinan atau pengurus dari partai dan kekuatan politik lainnya yang hadir bersama kita pada pagi hari yang berbahagia ini, saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya.

Saudara-saudara yang saya hormati

Hadirin yang saya muliakan

Rapimnas ke-5 Partai Golkar tahun ini sifatnya agak berbeda. Dalam satu hal, Rapimnas ini adalah kelanjutan dari empat Rapimnas yang telah kita adakan setiap tahun dalam masa kepemimpinan saya. Namun di pihak lain, Rapimnas ke-5 ini adalah juga sebuah pertemuan yang merupakan a kind of its own, pertemuan yang sangat strategis. Bahkan boleh dikatakan ia adalah sebuah pertemuan yang merupakan puncak dari empat Rapimnas sebelumnya, sebab dengan pemikiran dan rekomendasi yang kita hasilkan dalam dua hari ini, kita akan mengantarkan Partai Golkar untuk kembali merebut kejayaan pada Pemilu 2014 yang sudah berada di depan mata.

Padi sudah semakin menguning. Warnanya sudah makin matang, siap untuk dipanen empat bulan lagi. Karena itu, manfaatkanlah Rapimnas ke-5 ini sebagai sebuah momentum untuk semakin merapatkan barisan, untuk menyatukan langkah dalam irama yang semakin harmonis, serta untuk membicarakan kepentingan bersama dalam mencapai tujuan besar Partai Golkar.

Karena itu pula, sebelum melanjutkan pidato pembukaan ini, saya ingin bertanya langsung kepada semua kader dan pimpinan Partai Golkar yang ada dalam ruangan ini: Siapkah saudara-saudara untuk bekerjasama demi kemenangan partai kita? Siapkah saudara-saudara untuk merapatkan barisan dan merebut kembali kejayaan Partai Golkar? Siapkah saudara-saudara untuk bekerja keras? (Terimakasih)

Tanpa mengurangi penghargaan kita pada sahabat-sahabat dari partai lainnya, perlu saya laporkan kepada para peserta Rapimnas bahwa data-data terbaru dari berbagai survei tetap menunjukkan sebuah trend yang jelas, yaitu bahwa Partai Golkar adalah partai papan atas dengan kemungkinan terbesar untuk keluar sebagai pemenang dalam Pemilu Legislatif 2014.

Berbagai survei tersebut juga menunjukkan bahwa pesaing terdekat kita saat ini adalah PDIP yang dipimpin oleh Ibu Megawati Soekarnoputri. Tentu saja, trend yang ada tidak bersifat linear dalam garis yang lurus. Dalam dunia politik, pasti ada pasang dan surut, serta ada pula tikungan-tikungan yang tak terduga.

Namun kalau diilustrasikan, Pemilu Legislatif nanti adalah bagaikan sebuah lomba lari. Data menunjukkan bahwa sekarang ini, dari 12 peserta lomba, hanya dua partai yang melesat cukup jauh di depan peserta lainnya dalam mendekati garis finish. Kuning dan Merah berada di depan dalam jarak yang cukup aman, disusul oleh warna-warni lainnya dalam posisi yang silih berganti.

Hasil akhirnya tentu masih menjadi rahasia Allah SWT. Sambil berdoa, marilah kita berusaha lebih giat lagi, menambah gas untuk berlari lebih kencang. Kita tunjukkan bahwa bagi Partai Golkar, kemenangan terindah adalah kemenangan yang diperoleh lewat keringat dan kerja keras.

Kepada PDIP yang sementara ini menjadi pesaing terdekat Partai Golkar, marilah kita tawarkan uluran tangan persaudaraan selebar mungkin. Demikian pula, kepada semua partai peserta pemilu, kita sampaikan pesan bahwa kita berlomba, tetapi kita tetap akrab dan bersahabat. Kuning, merah, atau warna lainnya: Pihak yang menang pada akhirnya haruslah seluruh rakyat Indonesia.

Itulah tanda pengabdian Partai Golkar kepada Tanah Air dan bangsa yang kita cintai ini. Kompetisi yang ketat, tetapi dalam suasana yang damai dan harmonis. Jika kelak Allah SWT ternyata menghendaki Partai Golkar keluar sebagai pemenang Pemilu, maka pohon beringin harus menaungi seluruh anak bangsa, menjadi tempat berteduh yang sejuk bagi semua, tanpa memandang asal-usul partai dan golongan mereka.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Adapun mengenai Pemilu Presiden, dengan besar hati juga saya kabarkan bahwa walaupun belum sepenuhnya sempurna, namun kandidat capres Partai Golkar terus menatap ke depan dengan penuh semangat dan gairah. Dalam saat-saat seperti ini, saya selalu teringat akan sebuah ungkapan dari Sulawesi Selatan: Sudah kukembangkan layarku, pantang bagiku untuk surut kembali.

Jika perjalanan Partai Golkar cenderung mulus menuju Pemilu 2014, perjalanan kandidat capres Partai Golkar kelihatannya lebih mengandung dinamika dan mengundang percakapan publik yang menarik, yang tentu saja saya sambut dengan jiwa yang terbuka, serta saya maknakan sebagai tantangan untuk bekerja lebih keras lagi.

Sejauh ini, data dari berbagai survei memang berbeda-beda, dan agak sedikit membingungkan bagi umumnya kaum awam. Hal ini seolah membuktikan sebuah ungkapan lama, the truth depends upon the eyes of the beholder, kebenaran tergantung dari survei mana yang kita lihat.

Saya ingin mengingatkan kita semua bahwa Pemilu Presiden masih lebih 7 bulan di depan. Dalam jangka waktu ini, masih banyak hal yang bisa terjadi, apalagi dalam masyarakat Indonesia yang semakin cair secara politik. Momentum bisa datang dan pergi begitu saja, dan publik bergonta ganti pilihan secara cepat seperti mencoba baju di pasar kaget.

Karena itu, sikap terbaik bagi setiap kandidat Capres adalah sikap yang positif: terus bekerja keras meraih simpati rakyat serta mendengarkan suara hati mereka.

Bagi saya pribadi, Pemilu Presiden bukanlah soal data dan survei. Bahkan barangkali bukan pula soal kalah dan menang. Tentu saja, sebagai kandidat Capres Partai Golkar, saya akan berupaya sekuat mungkin untuk menang. Tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah dedikasi dan pengabdian pada sebuah tujuan besar, yaitu perbaikan nasib serta peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Saya yakin, semua kandidat Capres dari berbagai partai lainnya adalah tokoh-tokoh terhormat yang juga mencintai Indonesia. Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Joko Widodo, Wiranto, Dahlan Iskan, Pramono Edhi Wibowo, Mahfud MD, dan banyak lagi lainnya. Mereka semua bukan hanya pesaing-pesaing yang tangguh, tetapi yang lebih penting lagi, mereka juga menginginkan hal yang sama, yaitu kemajuan bangsa Indonesia yang lebih membanggakan lagi.

Pasti akan muncul seorang pemenang dalam Pemilu Presiden. Dan siapapun pemenangnya, saya atau tokoh yang lainnya – kepada Sang Pemenang semua pihak harus mengucapkan selamat dan sukses. Kepada mereka yang kalah kita berikan simpati serta kita ucapkan bahwa, kalau nafas masih panjang, silakan mencoba lagi pada pemilu 5 tahun berikutnya.

Di atas segala-galanya, Pemilu Presiden bukanlah pertarungan tokoh dan aktor politik. Ia bukan pula pergesekan ego-ego besar untuk merebut kekuasaan. Bagi saya pribadi, pemilu adalah pertaruhan jutaan nasib anak-anak Indonesia, pertaruhan nasib generasi muda Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang lebih maju, serta pertaruhan harapan 240 juta rakyat kita akan kehidupan yang lebih baik lagi di masa-masa mendatang.

Itulah yang paling penting. Dan itu pula yang memicu semangat saya untuk terus mengembangkan layar, berupaya siang dan malam, berkeliling ke seluruh wilayah Indonesia, mendengar dan menawarkan harapan kepada begitu banyak kalangan yang saya temui.

Saya tahu bahwa semua itu memang tidak mudah. Indonesia adalah bangsa besar, dengan penduduk yang begitu majemuk, dengan wilayah yang sangat luas.

Namun saya yakin, dengan bantuan dan dukungan saudara-saudara, upaya yang saya lakukan sejauh ini akan berujung pada manfaat dan kemenangan bagi kita semua.

Karena itu, sekali lagi saya akan bertanya langsung kepada saudara-saudara yang berada di ruangan ini: Siapkah saudara-saudara untuk memperjuangkan kandidat Capres Partai Golkar? Siapkah saudara-saudara untuk bekerja keras? Sanggupkah saudara-saudara untuk memperjuangkan kemajuan Indonesia? (Terimakasih).

Saudara-saudara yang saya hormati

Hadirin yang saya muliakan

Adalah sebuah kebanggaan bagi saya sebagai Ketua Umum Partai Golkar bahwa dalam Rapimnas ke-5 ini kita akhirnya akan meluncurkan Visi Indonesia 2045, yang berisi ide dan program kongret dalam membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju sebelum bangsa kita berusia seratus tahun.

Saya bangga, sebab dengan itu semua Partai Golkar membuktikan diri sebagai the party of ideas, sebuah partai yang menawarkan ide dan gagasan bagi bangsa kita. Partai Golkar bukanlah sebuah partai yang mengejar kekuasaan, atau memperjuangkan kepentingan orang per orang semata. Dalam menyambut datangnya Pemilu 2014, kita mempersembahkan konsep-konsep dan program yang nyata.

Itulah sebuah partai yang modern. Dengan itu semua, Partai Golkar memberikan kontribusi yang sehat dalam proses pematangan demokrasi Indonesia. Dan karena itu pula, kepada semua kader dan pimpinan partai yang telah menyelesaikan penyusunan Visi Indonesia 2045 tersebut, saya menghaturkan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya.

Sebelum menutup sambutan pembukaan ini, perkenankanlah saya menegaskan sikap Partai Golkar dalam menanggapi sebuah isu penting yang berkembang hangat akhir-akhir ini, yaitu mengenai nasionalisme Indonesia dan tindakan penyadapan dari sebuah negara tetangga, yaitu Australia. Yang disadap tidak main-main, dari Presiden RI hingga tokoh-tokoh pemerintahan kita lainnya.

Terhadap semua itu, pertama-tama yang harus ditegaskan adalah sebuah prinsip, yaitu bahwa Indonesia adalah sebuah negara berdaulat yang bersahabat terhadap siapa pun, apalagi terhadap negara tetangga seperti Australia.

Karena itu, dalam menyikapi isu ini, Indonesia harus tegas. Kalau tetap mau menjadi sahabat yang baik, Australia harus meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Jika itu dilakukan, sebagai bangsa yang besar dan beradab, Indonesia akan membuka pinta maaf yang lebar, dan mengajak negara Kanguru tersebut untuk membangun hubungan yang lebih baik lagi, baik dalam dimensi bilateral, maupun dalam urusan multilateral.

Itulah esensi nasionalisme baru yang sering saya jelaskan di berbagai kesempatan. Kita bersahabat, tetapi kita sanggup bersikap tegas dengan prinsip-prinsip yang terhormat. Kita membuka diri pada dunia luar, tetapi kita harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membela dan memperjuangkan kemajuan rakyat Indonesia.

Bung Karno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki otot kawat dan tulang besi. Diterjemahkan dalam konteks abad ke-21 ini, hal itu berarti bahwa Indonesia harus kuat tetapi lentur; tegas tapi arif; ulet serta pandai melihat kemungkinan yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan rakyat kita.

Selain itu, perlu juga saya ingatkan sekali lagi bahwa ciri khas perjuangan Partai Golkar adalah perjuangan untuk menegakkan pemerintahan yang kuat namun terbuka dan bertanggung jawab, serta pemerintahan yang bersih tapi efektif dan berwibawa. Kita mendukung langkah pemerantasan korupsi yang agresif, tapi kita tidak boleh lupa bahwa yang lebih penting lagi adalah langkah pencegahan korupsi melalui pembaharuan sistem, yaitu reformasi birokrasi serta peningkatan kesejahteraan pegawai.

Namun di atas segalanya, Partai Golkar harus terus menyerukan, bahwa pada saat langkah-langkah semacam itu dilakukan, pemerintah harus membangun sistem perekonomian yang semakin tumbuh cepat dengan pemerataan yang betul-betul adil bagi rakyat kita.

Dalam hubungannya dengan semua itu, mengingat gejolak perekonomian dunia beberapa tahun terakhir, Partai Golkar mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah kongkret dalam pemulihan kondisi ekonomi nasional. Partai Golkar harus terus menyuarakan tuntutan demikian, sebab kondisi itulah yang betul-betul mempengaruhi nasib dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Semboyan kita adalah “suara Golkar suara rakyat.” Kita harus betul-betul memperjuangkan nasib mereka dalam kondisi apapun.

Insya Allah, jika semua itu dapat menjadi pegangan kita, kemajuan Indonesia akan betul-betul terwujud di masa-masa mendatang.

Akhirnya, sebagai penutup, seperti yang telah menjadi tradisi menarik di Partai Golkar, saya akan mempersembahkan tiga bait pantun:

Putri Jogja jalan berjingkat

Matanya berkedip hatiku terbang

Bulat tekadku pemilu mendekat

Partaiku jaya partaiku menang

Di Kuningan kita berjumpa

Bendera kuning berkibar perkasa

Mari kawan mari saudara

Perjuangkan partai perjuangkan bangsa

Orang daerah mampir Jakarta

Lihat Monas amboi indahnya

Kalau kita sudah sekata

Dukung ARB tidak ada matinya

Demikianlah sambutan ini. Sekali lagi, kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya Rapimnas ke-5 ini, saya menghaturkan penghargaan dan terimakasih yang sebesar-besarnya.

Wabillahitaufiq walhidayah

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Islam yang Rahmatan Lil Alamin

ARB Hijriyah JambiUmat Islam baru saja memperingati tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam yang jatuh pada hari Selasa, 5 November 2013 lalu. Saya sendiri berkesempatan memperingati malam tahun baru Hijriyah bersama umat Islam di Jambi. Peringatan ini digelar di Masjid Raya Jambi, pada Senin malam, 4 November 2013.

Acara yang bertajuk “Tabliq Akbar Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam” ini dihadiri banyak umat Islam Jambi, meski saat itu hujan turun membasahi kota Jambi. Acara malam itu, juga diisi oleh Ustad Cepot, da’i asal Banten yang sering muncul di televisi.

Sebelum Ustad Cepot berceramah, saya diberi kesempatan untuk memberikan sambutan. Meskipun bukan da’i atau ulama, saya coba menyampaikan pandangan saya tentang Islam malam itu dihadapan umat Islam Jambi.

Dalam sambutan saya di acara itu, saya menyatakan bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang istimewa. Hanya di Indonesia, Islam – Demokrasi – Modernitas bisa berjalan bersamaan atau berdampingan. Tidak ada satupun negara di dunia ini yang tiga hal tadi bisa berjalan berdampingan. Biasanya kalo demokratis dan modern, Islamnya tidak dapat ruang. Kalo Islamnya dapat ruang, demokrasi dan modernitasnya tidak dapat ruang, dan seterusnya. Hanya di Indonesia lah hal itu ada, bisa berjalan beriringan. Ini kelebihan Indonesia.

Saya juga menyampaikan bahwa saat ini banyak stigma negatif tentang Islam. Banyak aksi kekerasan dan terorisme yang diidentikkan dengan Islam. Padahal itu jauh dari ajaran Islam yang cinta damai. Islam sendiri berasal dari akar kata salam yang artinya damai. Setiap bertemu orang, umat Islam juga dianjurkan mengucapkan salam, ucapan damai untuk sesama manusia.

Karena itu dalam kesempatan itu, saya mengajak semua yang hadir malam itu, dan umat Islam Indonesia umumnya untuk mengenalkan Islam sebagai agama yang damai. Bukan agama yang pro kekerasan, apalagi terorisme. Kita harus menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya; yang sejuk dan damai.

Apalagi selama ini umat Islam di Indonesia ini juga dikenal relatif toleran dibanding negara lainnya. Ini harus diperkuat. Jangan sampai sesama umat Islam bisa berantem hanya karena hal-hal kecil yang sifatnya kilafiyah. Jangan pula mudah terpancing diadu domba dengan umat lain.

Saya juga mengingatkan bahwa Islam mengajarkan kebersihan. Karena itu saya menghimbau agar semua umat Islam membiasakan menjaga kebersihan. Kita mulai dari rumah tangga kita. Mulai dari WC WC kita, kita pelihara agar tetep bersih. Kita pelihara masjid agar tetap bersih. Kita selaku umat Islam harus memberikan contoh.

Ini penting, karena masalah ini sering diabaikan oleh umat Islam Indonesia. Saya masih ingat dua tahun lalu, saat saya ke sebuah daerah saya mampir sholat ke mesjid agung di daerah itu. Saat tiba di sana, saya sengaja masuk dari belakang, bukan dari depan. Ketika saya masuk dari bagian belakang itu, astagfitrullah, tangganya sangat kotor, lampunya juga tidak ada, dan berbahaya bagi yang melintas.

Saat itu saya minta walikotanya untuk memerintahkan agar kebersihan dan penerangan masjid dijaga. Kalo dananya tidak ada, saya akan berikan. Akhirnya walikota menyanggupi dan akan dikerjakan.

Soal kebersihan ini penting, agar orang melihat tempat ibadah kita, rumah Allah, tidak kotor, tidak gelap. Kita saja kalau mau ke kamar mandi, tapi kotor, kita enggan, apalagi kalau mau beribadah. Apalagi dalam Islam kebersiha itu sebagian dari iman. Islam juga mengajarkan berwudlu sebelum sholat. Ini jelas bahwa kebersihan penting dalam Islam.

Selain kebersihan, umat Islam juga perlu memperhatikan ekonomi. Alangkah baiknya jika kita ajarkan kepada anak-anak kita, bahwa tangan di atas lebih baik, dari tangan di bawah. Untuk itu umat Islam harus mandiri, harus kuat ekonominya, jangan jadi peminta-minta, tidak boleh miskin. Jangan sampai orang menilai kalo Islam itu miskin.

Satu lagi yang saya pesankan malam itu, bahwa umat Islam tidak boleh bodoh. Umat Islam harus menguasai ilmu dan pengetahuan. Apalagi dulu di masa jayanya peradaban Islam, umat Islam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Jabar, dan sebagainya. Bahkan bangsa Barat menimba ilmu dari mereka.

Namun untuk hal itu umat Islam jangan cuma melihat ke belakang. Jangan cuma mengenang masa-masa jaya saat Islam mengusai ilmu dan pengetahuan dan peradaban Islam pernah jadi peradaban tertinggi. Tapi kita lihat ke depan. Kita harus buktikan bahwa Islam bisa kembali jadi peradaban tertinggi dunia. Dengan kembali menguasai ilmu dan pengetahuan.

Umat Islam Indonesia saya yakin bisa mengarah ke sana. Umat Islam Indonesia bisa mulai memperhatikan hal-hal yang sepintas kecil atau sepele, namun sejatinya penting itu. Umat Islam Indonesia bisa menjadi contoh umat Islam dunia, atau umat lainnya.

Apa yang saya sampaikan di sini bukan bermaksud menggurui. Saya bukan mubalig, da’i, atau ulama. Saya bukan orang yang tahu betul dan dalam tentang Islam dan tidak banyak hafal ayat. Tapi sebagai umat Islam saya juga punya kewajiban mengingatkan saudara-saudara saya, kita semua. Sebagaimana pesan Al Quran dalam Surah Al Asr ayat 3, agar kita selalu saling mengingatkan dalam kebanaran, dan saling mengingatkan dalam kesabaran.

Karenanya saya tidak ada bosan-bosan untuk selalu mengingatkan agar umat Islam Indonesia menjadi teladan dengan menunjukkan wajah Islam yang baik. Islam yang tidak kotor, tidak miskin, tidak bodoh. Islam yang damai, Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang menjadi rahmat bukan hanya untuk umat Islam, namun juga untuk umat lain, dan alam semesta.