Alasan Saya Maju Jadi Calon Presiden

Banyak orang menilai bahwa saya maju sebagai calon presiden Partai Golkar merupakan ambisi pribadi saya. Ini jelas sebuah penilaian yang salah. Karena sejak kecil saya tidak pernah bercita-cita menjadi presiden. Perjalanan hidup dan pengabdian kepada bangsa lah yang mengantarkan saya kepada keputusan tersebut.

Saya selalu menceritakan hal ini kepada mereka yang menanyakan alasan saya bersedia maju sebagai calon presiden (capres) di berbagai kesempatan. Seperti Jumat kemarin, 26 April 2013, saat acara silaturahmi dengan karyawan ANTV dan VIVA group. Di dalam acara itu, saya menceritakan latar belakang mengapa saya akhirnya bersedia maju sebagai capres.

Memang sejak dulu saya suka berorganisasi, mulai menjadi ketua kelas, ketua OSIS, ketua umum Senat Mahasiswa Elektro ITB, dan Ketua Dewan Mahasiswa ITB. Saya juga mendirikan HIPMI dan jadi ketua HIPMI yang ke tiga, kemudian jadi ketua umum Persatuan Insinyur Indonesia dan ketua umum Kadin. Meski selalu menjadi pemimpin di setiap organisasi, saya belum pernah terfikir untuk menjadi pemimpin bangsa ini.

Saya ingat saat akan lulus SMA, saat itu tahun 1964. Saya dan teman-teman menulis surat wasiat yang berisi cita-cita kami, lalu menempatkannya di dalam box untuk kita buka pada tahun 1996. Waktu itu ada teman yang mengatakan ingin menjadi pemimpin besar revolusi (istilah presiden pada waktu itu), namun ternyata dia jadi pengusaha. Ada yang ingin berjuang bawa senjata (jadi TNI), ternyata jadi guru.

Rupanya antara cita-cita dan kenyataannya berbeda-beda. Dari semua, yang paling tepat adalah saya. Saya tulis di situ saya ingin menjadi insinyur dan pengusaha besar, dan ketika dibuka box cita-cita itu pada 1996, cita-cita saya itu tercapai. Kemudian kehidupan saya memang lebih banyak berkecimpung dalam dunia usaha. (Pengalaman saya di dunia usaha bisa dibaca di artikel ini).

Sampai pada 2004, Saya akhirnya masuk ke pemerintahan dan meninggalkan dunia usaha. Yang meminta saya masuk ke pemerintahan adalah Pak Jusuf Kalla. Saya memang akrab dan sering berdiskusi dengan beliau, karena saya ketua umum Kadin dan beliau pernah menjadi ketua Kadin Sulsel. Saat beliau menjadi Wakil Presiden, beliau menawarkan jabatan Menko Perekonomian kepada saya, tapi saya tolak. Kalau pun harus masuk di pemerintahan, saya hanya ingin menjadi penasihat presiden di bidang ekonomi saja. Saat itu bulan puasa dan Pak JK meminta saya pikir-pikir dulu. Malamnya setelah berbuka, beliau menelepon lagi dan bilang pada saya, bahwa saya harus masuk kabinet.

“Saya ini tidak punya temen di kabinet yang dari bisnis yang mengerti pemikiran-pemikiran saya. Kamu harus ikut, kalau mau berjuang harus basah, jangan cuma cuci-cuci muka,” kata Pak JK, yang kemudian membuat saya mau masuk pemerintahan dan menerima jabatan Menko Perekonomian.

Selama menjadi Menko Perekonomian banyak hal yang sudah saya lakukan. Misalnya saya berhasil melakukan negosiasi dengan Exxon di Blok Cepu. Awalnya Exxon memiliki sebesar 30 persen dan sudah disetujui pemerintah. Tapi saya berhasil menjadikan 3,5 persen. Sehingga negara bisa mendapat 93 persen, dan sisanya 3,5 persen milik Pertamina. Dari sisi manajemannya, saya buat jika direktur utamanya Exxon, maka presiden komisarisnya harus dari Pertamina. Jika wakil direktur utama Pertamina, wakil komisarisnya Exxon, dan begitu seterusnya. Selama negosiasi, saya terbang ke tempat-tempatnya Exxon itu pun saya tidak memakai uang negara, tapi memakai dana pribadi saya.

Suatu waktu, saya menaikkan harga BBM dengan guidance dari Pak JK dan presiden. Saya mengumumkan kenaikan BBM 114 persen dan itu menyelamatkan ekonomi Indonesia pada saat itu. Tentu dengan kompensasi pada masyarakat miskin di bidang pendidikan (BOS) dan kesehatan (Askeskin). Subsidi BBM yang sebelumnya sebagian besar dinikmati orang kaya kita alihkan ke orang miskin. Saya ambil tanggungjawab mengumumkan keputusan yang tidak populis ini. Saya didemo dan dihujat di mana-mana.

Sampai akhirnya saya dipindah jadi Menko Kesra. Terus terang pada awalnya saya marah atas keputusan presiden itu. Saya merasa kecewa, saya merasa dibuang. Bahkan saya mengekspresikan kemarahan saya dengan memakai dasi saya warnanya ungu saat pelantikan.

Namun kemudian seiring berjalannya waktu saya mendapat hikmahnya. Saya justru merasa berterimakasih dan bersyukur kepada Allah atas pemindahan saya jadi Menko Kesra. Sebab dengan jabatan ini ternyata saya mendapatkan banyak pelajaran berharga yang mengubah hidup saya.

Jika menjadi Menko Perekonomian, saya mungkin tidak akan banyak belajar sebagaimana di Kesra. Jika tetap jadi Menko Perekonomian, saya hanya akan berkutat dengan masalah ekonomi dan keuangan yang sebenarnya adalah makanan sehari-hari saya yang berlatar belakang seorang pengusaha. Tetapi, dengan menjadi Menko Kesra saya punya banyak pengalaman baru.Saat menjadi Menko Kesra, saya bisa berinteraksi dengan warga miskin secara langsung. Mempelajari atau melihat kemiskinan di literatur dengan berinteraksi dengan mereka secara langsung itu sangat berbeda. Saya jadi mengetahui problem-problem kesejahteraan rakyat secara langsung di lapangan, dengan mata kepala saya sendiri.

Persepsi saya juga banyak berubah. Dulu saya takut dengan orang yang menderita HIV/AIDS. Jangankan bersalaman, berdekatan saja saya takut. Namun dengan menjadi Menko Kesra saya mendapat informasi dan berinteraksi langsung dengan mereka. Saya kemudian berani berpelukan dengan mereka. Bahkan saya mengangkat penderita HIV/AIDS menjadi salah satu anggota komisi penanggulangan HIV/AIDS, meski banyak yang menentang awalnya.

Contoh lain dulu saya tidak mau makan ikan lele, ikan ini menurut saya kotor dan jorok. Tetapi setelah jadi menteri dan melihat sendiri peternakannya, saya jadi suka ikan lele. Selain itu, masih banyak contoh lainnya yang kesemuanya meninggalkan pengalaman berharga bagi saya.

Namun dari semua pengalaman itu ada satu pengalaman yang paling berkesan, yaitu pengalaman di Yahukimo, Papua. Saat saya berhasil menanggulangi bencana kelaparan di sana (pengalaman saya di Yahukimo, bisa dibaca di artikel ini).

Alhamdulilla dengan kerja keras itu bukan hanya kelaparan yang dapat diatasi, namun banyak juga saudara kita yang sebelumnya memilih bergabung dengan Organisasi Papua Merdeka, mau kembali ke NKRI, setelah kita memberikan mereka kesejahteraan (tulisan soal ini bisa dibaca di artikel ini).

Selain itu semua tentu saja masih banyak pengalaman menarik dan berharga lainnya saat saya menjadi Menko Kesra. Seperti cara penanggulangan kemiskinan (tulisan soal ini bisa dibaca di artikel ini), PNPM Mandiri (tulisan soal ini bisa dibaca di artikel ini), dan program-program kesejahteraan rakyat lainnya yang masih berjalan sampai saat ini.

Untuk pengabdian saya di Kemenko Kesra ini, bahkan mendapat apresiasi dari negara. Jumat, 12 Agustus 2011, saya mendapatkan Penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana atas pencapaian saya selama mengabdi sebagai Menko Kesra. Tapi tentu saja pengalaman yang saya dapat selama terjun ke masyarakat dan menanggulangi segala problemanya jauh lebih berharga.

Setelah tidak lagi di pemerintahan pada tahun 2009, saya kemudian menjadi ketua umum Partai Golkar. Sampai di sini masih belum terpikir juga keinginan untuk maju sebagai capres. Karena itu, dulu setiap ditanya apakah mau jadi capres, saya selalu bilang: terpikirkan saja belum.

Tetapi dengan berjalannya waktu, saya mulai berpikir, dengan segala pengalaman saya itu, apakah pengalaman yang diberikan Allah itu saya buang sia-sia, atau saya abdikan kepada rakyat. Lalu saya mulai membicarakan hal itu dengan istri saya. Istri saya pada awalnya tidak setuju. Lalu saya bilang pada ibu saya, jawabannya sama, juga tidak setuju. Anak-anak dan saudara saya juga tidak setuju.

Ibu saya bahkan mengatakan saya boleh maju jadi capres jika beliau sudah wafat. Karena Ibu saya dan keluarga saya tidak tahan melihat saya diserang, dihina, dan difitnah, jika maju sebagai capres. Ini yang membuat saya selalu menunda, ketika kader saya di Partai Golkar mendesak saya maju jadi capres (Soal pencapresan saya di Partai Golkar bisa dibaca di artikel ini).

Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk maju. Saya maju bukan untuk ambisi pribadi saya. Bukan untuk harta, karena Alhamdulillah Allah member saya rejeki yang cukup banyak. Buka untuk jabatan atau popularitas, karena Alhamdulillah saya juga sudah cukup populer dan dikenal. Bahkan pula untuk kepentingan keluarga saya, karena justru merekalah yang paling menderita dengan keputusan saya ini. Karena waktunya dengan saya jadi berkurang, ikut mendapatkan dampak serangan dari lawan-lawan politik, dan sebagainya.

Bahkan mungkin jika orang di posisi saya, mereka lebih memilih menimang cucu dan jalan-jalan ke luar ngeri menikmati hidup, daripada capek-capek turun ke daerah-daerah, menghabiskan banyak waktu, dana, dan tenaga. Tapi itu bukan pilihan saya lebih memilih pengabdian pada bangsa dan negara dengan cara maju sebagai capres.

Saya ingin pengalaman saya berguna untuk memajukan dan mensejahterakan bangsa ini. Apalagi, dari kandidat yang ada, saya lihat belum ada yang mempunyai pengalaman selengkap saya. Khususnya dalam upaya mensejahterakan rakyat.

Saya tidak ngoyo, karena ini bukan ambisi, tapi sebuah pengabdian. Jika masyarakat tidak memberikan kepercayaan pada saya, dan Allah tidak mengizinkan saya jadi presiden, saya legowo dan akan mengabdi pada tempat lain. Makanya saat ada majalah yang maksudnya mengejek saya dengan judul mengatakan: hanya Tuhan yang bisa menjadikan ARB presiden. Saya senyum saja. Karena itu benar. Yang bisa menjadikan saya presiden memang Tuhan, karena hidup kita ini di tangan Allah. Kalau Dia menghendaki semua terjadi, begitu pula sebaliknya.

Tapi saya sangat optimis dan bekerja keras untuk mencapai hal itu. Bagi saya dengan optimis saja kita sudah separuh menang. Saya sadar perjuangan untuk itu sangat panjang dan terjal. Saya mengibaratkannya seperti mendaki Gunung Semeru. Tapi saya senang dengan tantangan, karena tantangan membuat adrenalin saya naik. Tantangan lah yang sesungguhnya membuat hidup kita lebih berarti dan bermakna. Alhamdulillah selama ini banyak tantangan dalam hidup ini yang berhasil saya lewati dan selesaikan dengan baik.

Saya sudah memilih. Saya siap dengan segala resikonya. Ibarat sebuah pohon: makin tinggi pohon makin kencang anginnya. Tapi saya memilih jadi pohon yang tinggi, meski angin begitu kencang menyerang. Saya tidak mau menjadi rumput yang ada di bawah. Karena meski tak diterpa angin kencang, rumput diinjak-injak orang.

Itulah cerita mengapa saya maju menjadi capres. Sebuah proses pengabdian bagi bangsa, bukan sebuah ambisi pribadi. Semoga Allah SWT meridhoi melancarkan jalan saya, dan semoga rakyat Indonesia mendukung saya untuk memajukan dan mensejahterakan bangsa ini.

Visi 2045 untuk Kemajuan Indonesia

Salah satu persoalan yang menghambat kemajuan bangsa ini adalah tidak adanya grand design atau blue print perencanaan jangka panjang atas pembangunan yang bersifat strategis dan visioner. Akibatnya, pembangunan nasional berjalan tanpa roh dan panduan yang jelas, serta cenderung pragmatis dan berorientasi jangka pendek.

Kita semua tahu, di Era Reformasi sistem politik ketatanegaraan kita berubah secara mendasar. Salah satunya dihapusnya kewenangan MPR untuk menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dengan tidak adanya GBHN ini maka pelaksanaan pembangunan nasional hanya didasarkan pada visi dan misi Presiden terpilih. Ini yang kemudian dijadikan dasar bagi penyusunan Rencana Kerja Pembangunan (RKP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dalam suatu undang-undang.

Tentu saja itu semua daya ikat dan kekuatan hukumnya tidak sama dengan dasar hukum penetapan GBHN. Konsekuensinya, berganti pemimpin berganti pula kebijakannya, sehingga aspek kontinuitas pembangunan terabaikan. Lebih dari itu, pembangunan nasional kehilangan sisi visionernya, bahkan cenderung direduksi sekadar sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan politik jangka pendek.

Pembangunan nasional juga seakan hanya menjadi urusan dan tanggung jawab pemerintah dan elite kekuasaan dan dunia bisnis semata. Rakyat dan berbagai potensi masyarakat hanya sebagai objek atau sebagai penonton, jauh dari berpartisipasi apalagi menjadi subjek dan pelaku pembangunan nasional.

Karena itu tanpa bermaksud mengglorifikasikan masa lalu, dan tidak juga untuk kembali ke sistem pembangunan Orde Baru yang telah kita perbaharui dan koreksi, saat ini kita memerlukan Blue Print Pembangunan Nasional seperti GBHN yang memuat dasar, strategi, tujuan dan pelaksanaan pembangunan nasional secara menyeluruh, terpadu, sistematis, bertahap, berkesinambungan, serta menjadi pedoman dan panduan bagi seluruh penyelenggara negara dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional.

Merespon hal tersebut, Partai Golkar kemudian menyusun Blue Print Pembangunan Nasional itu yang diberi nama: “Visi 2045: Negara Kesejahteraan”. Ini adalah visi pembangunan jangka panjang yang ditawarkan Partai Golkar dengan tujuan pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Indonesia, negeri ini menjadi Negara Kesejahteraan, yang Bersatu, Maju, Mandiri, Adil, dan Sejahtera.

Secara umum, Visi 2045 menekankan prioritas pembangunan pada sektor: Reformasi Birokrasi, Pendidikan, Kesehatan, Industri, Pertanian, Kelautan, Infrastruktur, UMKM dan Koperasi. Keseluruhan prioritas ini dilaksanakan secara simultan dan terintegrasi melalui Catur Sukses Pembangunan Nasional, yakni : Pertumbuhan, Pemerataan, Stabilitas dan Nasionalisme Baru.

Pertumbuhan yang berkualitas bukanlah pertumbuhan yang dihasilkan oleh strategi yang growth oriented dan berbasis paham market fundamentalism. Sebab, selain akan mengabaikan prinsip dan dimensi pemerataan, juga akan berpihak kepada sekelompok kecil pelaku yang kuat. Karenanya, ia akan cenderung melakukan akumulasi modal untuk mengejar keuntungan ekonomis setinggi-tingginya.

Pemerataan adalah perspektif yang diorientasikan untuk mengatasi segala bentuk kesenjangan. Karenanya, pembangunan harus mengembangkan mekanisme dan strategi yang menjamin pemerataan antarwilayah, antardaerah, antarsektor, antarkota dan desa, maupun antarpusat dan daerah. Aktivitas ekonomi dan sumber daya pembangunan harus disebar merata di wilayah Jawa dan luar Jawa, di kawasan timur dan barat Indonesia, di daerah yang kaya maupun miskin sumber daya, di sektor produktif maupun tidak, di desa dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Rote.

Stabilitas adalah perspektif pembangunan nasional yang berorientasi pada terciptanya sistem politik nasional yang efektif, demokratis, stabil, berlandaskan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sukses stabilitas juga berarti kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa, tegaknya kedaulatan negara dan integrasi nasional, terwujudnya pertahanan dan keamanan nasional sebagai landasan yang kokoh bagi peningkatan kesanggupan negara dalam melindungi segenap bangsa.

Sementara nasionalisme baru, dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai perspektif pembangunan nasional yang berorientasi pada reinterpretasi dan reaktualisasi nilai-nilai nasionalisme Indonesia. Tujuannya untuk menjawab dinamika tantangan dan perubahan geopolitik, geoekonomi dan geostrategis baik secara nasional maupun internasional. Nasionalisme baru merupakan energi baru bangsa Indonesia untuk mengukir kembali peradaban-peradaban yang agung yang seakan terabaikan oleh keniscayaan globalisasi dan kecenderungan primordialisme sempit dan politik identitas. Dengan semangat nasionalisme baru, kita tidak perlu takut, menghindari atau memusuhi globalisasi, melainkan memampukan kita untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang globalisasi bagi pemenuhan kepentingan nasional di segenap aspek.

Sedangkan pokok-pokok strategi yang dikembangkan dalam Visi 2045 antara lain: (1) membangun Indonesia dari desa; (2) Penguatan peranan Negara; (3) pertumbuhan ekonomi yang berkualitas; (4) pemerataan pendapatan di antara masyarakat; (5) pemerataan pembangunan antar daerah, antar wilayah; (6) pendidikan dan kesehatan yang berkualitas; (7) penguatan komunitas dalam kerangka program pemberdayaan; (8) pembangunan berkelanjutan yang berbasis blue-economy dan green- ecocomy; (9) penegakkan hukum dan HAM; (10) pengembangan industri berbasis Iptek dan Inovasi berdaya saing tinggi; (11) revitalisasi pertanian pangan dan niaga.

Pembangunan menurut Visi 2045, ada tahapannya yang dirancang sebagai berikut: Dasawarsa Pertama, 2015-2025 : Menetapkan Fondasi Menuju Negara Maju. Dasawarsa Kedua, 2025-2035: Mempercepat Pembangunan di Segala Bidang Memasuki Negara Maju. Dasawarsa Ketiga, 2035-2045: Memantapkan Indonesia sebagai Negara Maju. Setiap dasawarsa memiliki skenario program dan target masing-masing, namun tetap merupakan suatu kesinambungan dari tahapan pertama hingga tahapan-tahapan selanjutnya.

Dasawarsa pertama sangat menentukan bagi arah dan tahapan pembangunan selanjutnya dengan penekanan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pengurangan pengangguran dan kemiskinan secara signifikan, pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, peningkatan efisiensi, produktivitas, dan keterampilan tenaga kerja, revitalisasi industri dan pertanian, serta optimalisasi pembangunan daerah. Skenario pembangunan nasional pada dasawarsa ini untuk membangun fondasi yang kokoh bagi proses transisi Indonesia menjadi negara maju dengan uraian sebagai berikut:

Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan pembangunan dan pendapatan, serta pengurangan pengangguran dan kemiskinan. Targetnya, antara lain: (1) Pertumbuhan ekonomi rata-rata 8-9 persen, (2) Pendapatan per kapita sekitar US$10.000-12.000, (3) Terciptanya lapangan kerja yang luas sehingga pengangguran sebesar 6 persen pada tahun 2020 dan menjadi 4 persen pada tahun 2025, (4) Pekerja di sektor informal ditargetkan 45 persen pada tahun 2020 dan 65 persen pada tahun 2025, dan (5) Tingkat kemiskinan absolut 8 persen pada tahun 2020 dan turun menjadi 5 persen pada tahun 2025.

Kedua, kebijakan fiskal yang akomodatif. Dirumuskan skenario dan target, di antaranya: (1) Defisit APBN terhadap PDB di bawah 2,8 persen, (2) Penerimaan pajak ditingkatkan melalui kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan, (3) Rasio pajak terhadap PDB ditargetkan 15 persen pada tahun 2020 dan menjadi 20 persen pada tahun 2025, (4) Tarif pajak Badan ditargetkan 20 persen pada tahun 2020 dan turun menjadi 18 persen pada tahun 2025, (5) Belanja modal diperbesar dan diprioritaskan bagi pembangunan infrastruktur dan revitalisasi sektor industri, (6) Rasio belanja modal terhadap APBN ditargetkan 20 persen pada tahun 2020 dan 25 persen pada tahun 2025, (7) Belanja subsidi diperjuangkan agar tidak lebih 10 persen dari keseluruhan pengeluaran, (8) Subsidi diberikan langsung pada kelompok sasaran, terutama golongan miskin.

Ketiga, pembangunan infrastruktur yang andal. Pembangunan infrastruktur harus dipercepat untuk memfasiltasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pembangunan jalan sangat mendesak untuk memfasilitasi transportasi barang dari tempat produksi ke pasar. Targetnya, antara lain: (1) Pembiayaan pembangunan infrastruktur mencapai 8 persen dari PDB, (2) Pembangunan jalan tol pantai utara Jawa sudah harus selesai pada tahun 2020 dan pembangunan trans Sumatera harus tuntas dan sudah berfungsi sebelum tahun 2020, (3) Peningkatan Trans Sumatera Railway, pembangunan Trans Kalimantan Railway, pembangunan Trans Sulawesi Railway, serta revitalisasi jalur Jawa, pembangunan kereta api berkecepatan tinggi, pembangunan MRT di kota-kota besar perlu dipercepat dan diwujudkan serta jalurs interkoneksi antarpulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya.

Keempat, revitalisasi industri manufaktur dengan target, di antaranya, pengembangan kebijakan yang terfokus dan sistematis dalam meningkatkan industri logam dasar dan industri kimia, pengembangan industri makanan dan minuman secara terintegrasi, menjadikan Indonesia sebagai pusat industri otomotif di Asia Tenggar, revitalisasi dan pengembangan industri kayi, produk kayu dan rotan, serta pertumbuhan industri manufaktur ditargetkan 9-11 persen per tahun.

Kelima, revitalisasi industri pertanian, kehutanan dan perikanan. Target pencapaiannya, di antaranya, mewujudkan ketahanan pangan dengan swasembada pangan pada tahun 2020, terutama untuk pemenuhan bahan pangan pokok. Pemberdayaan petani, termasuk menuntaskan reformasi agraria dengan upaya mendorong pertanian komersial berskala besar, terutama di luar Jawa. Pada tahun 2020, target luas lahan garapan petani mencapai 1,3 hektare per kepala keluarga dan meningkat menjadi 2 hektare per kepala keluarga. Pengembangan perikanan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kepentingan ekspor, dengan terus mengefektifkan pencegahan illegal fishing, sertra perikanan tangkap dikembangkan melalui pengembangan teknologi dan dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana penangkapan.

Keenam, mineral, sumber daya alam, dan energi. Sumberdaya alam merupakan bagian strategis dari perekonomian. Di antaranya adalah minyak dan gas bumi yang merupakan sumber penerimaan penting negara dan perlu mendapat prioritas perhatian. Sebab, belakangan kebutuhan domestik meningkat sangat tajam. Menurunnya produksi minyak bumi dan tidak optimalnya produksi gas alam berakibat besar terhadap perekonomian. Kebutuhan migas dalam negeri yang terus meningkat tidak dapat dipenuhi, sementara pendapatan ekspor pun jauh dari optimal.

Ketujuh, perdagangan yang kompetitif di dalam dan luar negeri. Perdagangan mempunyai sumbangan cukup besar terhadap PDB dan penciptaan kesempatan kerja meski tidak sebesar industri manufaktur dan pertanian. Sektor perdagangan, termasuk hotel dan restoran, juga mempunyai keterkaitan yang besar dengan sektor-sektor lainnya. Target dari sektor ini, di antaranya, meningkatkan porsi perdagangan luar negeri terhadap PDB dengan target sumbangan ekspor sebesar 35 persen terhadap PDB pada tahun 2020 dan 40 persen pada tahun 2025. Komposisi produk ekspor diarahkan pada produk-produk manufaktur, termasuk produk olahan pertanian dan pertambangan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Kedelapan, sektor keuangan yang mendukung sektor riil. Perbankan yang mendominasi sektor keuangan perlu dioptimalkan pengembangannya untuk mendukung perkembangan sektor riil melalui kebijakan bunga pinjaman dan NIM (net interest margin) yang kompetitif serta peningkatan rasio kredit terhadap PDB. Perlu upaya untuk mendorong peningkatan lembaga keuangan mikro agar memberikan akses lebih besar kepada golongan miskin dan golongan tertinggal lainnya dalam rangka mendukung pertumbuhan dan pemerataan pendapatan. Target rasio kredit terhadap PDB pada tahun 2020 sebesar 50 persen dan 65 persen pada tahun 2025. Sedangkan target akses orang dewas untuk memiliki rekening bannk sebesar 50 persen pada 2020 dan 65 persen pada 2025.

Kesembilan, meningkatkan kemampuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan inovasi. Target pertumbuhan TFP (total factor productivity) pada periode 2015-2020 adalah 3 persen dan pada 2020-2025 rata-rata 4 persen per tahun. Pada tahun 2025, kontribusi TFP pada pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 40 persen.

Dasawarsa kedua, yaitu 2025-2035, tahapan pembangunannya disebut “Mempercepat Pembangunan di Segala Bidang Memasuki Negara Maju”. Dasawarsa ini , Indonesia sudah siap menjadi negara maju. Skenario dan target-target yang ingin dicapai pada periode ini, di antaranya: (1) pertumbuhan ekonomi ditargetkan rata-rata 10-11 persen per tahun, (2) pendapatan per kapita pada tahun 2035 ditargetkan sebesar US$21.000-23.000, (3) investasi penelitian dan pengembangan ditingkatkan menjadi 2 persen dari PDB, (4) angka indeks pembangunan manusia (IPM) ditargetkan 0,86, (5) defisit anggaran pemerintah tidak melebihi 2 persen dari PDB, tingkat inflasi 2-3 persen, utang pemerintah terhadap PDB pada kisaran 18 persen, (5) bahan mentah pertanian dan pertambangan telah dapat dikelola dalam negeri. Rata-rata penguasaan lahan garapan pertanian ditargetkan mencapai 3 hektare per kepala keluarga, (6) jaminan sosial yang bertumpu pada sistem kerja sama pemerintah, swasta dan keluarga sudah harus mampu memberikan jaminan yang memadai pada mereka yang tidak bekerja dan masa pensiun pada kondisi usia harapan hidup rata-rata mencapai 78 tahun.

Terakhir adalah dasawarsa 2035-2045 yang disebut “Memantapkan Indonesia sebagai Negara Maju. Pada masa ini, Indonesia sebagai negara maju melalukan konsolidasi untuk mempertahankan statusnya. Skenario dan targetnya, di antaranya: (1) pertumbuhan ekonomi melambat pada tingkat 6-7 persen, (2) target PDB per kapita pada tahun 2045 adalah US$41.000, (3) perekonomian semakin ditopang oleh inovasi dan produktivitas yang tinggi, dengan sumbangan TFP dalam pertumbuhan mencapai 70 persen, (3) investasi untuk penelitian dan pengembangan ditingkatkan menjadi 3 persen dari PDB, (4) angka indeks pembangunan manusia ditargetkan 0,91, (5) kesejahteraan masyarakat menjadi sangat tinggi dengan tingkat ketimpangan pendapatan yang rendah, (6) rata-rata penguasaan lahan garapan mencapai 5 hektare per kepala keluarga, (7) pendaftaran pada pendidikan tinggi telah mencapai 45 persen. Rasio antara mahasiswa sains dan teknik dengan sosial adalah 65 berbanding 35. Jumlah saintis dan ahli teknik memadai bagi perkembangan inovasi yang menjadi andalan bagi perkembangan ekonomi, dan lain-lain.

Itulah secara garis besar gambaran atas Visi 2045. Ini baru rancangan dan belum final karena masih akan disempurnakan melalui diskusi dan masukan dari para akademisi dan ahli dari berbagai kalangan untuk penyempurnaannya. Visi 2045 bukan hanya milik Partai Golkar namun untuk negeri ini. Karena itu dalam penyusunannya tidak hanya disusun oleh Partai Golkar saja, tapi juga dirumuskan bersama para pakar atau ahli dari berbagai bidang. Pengujian terhadap Visi 2045 yang sementara telah dirangkum menjadi sebuah buku setebal 132 halaman ini terus dilakukan, termasuk melibatkan kalangan kampus.

Kampus yang pertama menguji adalah Universitas Indonesia (UI). Pada 20 Februari 2013 lalu, di Gedung Terapung Perpustakaan UI, di fasilitasi Center for Election and Political Party, FISIP UI, kita diskusikan dengan visi ini. Banyak sekali masukan dari para dosen atau pakar di sana, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya, yang kita tamping untuk perbaikan. Hal yang sama juga kita lakukan di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan pada 27 Maret 2013 lalu. Dalam waktu dekat, rencananya 5 April 2013, kami akan kembali menguji konsep Visi 2045 ini di Universita Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Menyusul setelahnya kampus-kampus lain se-Indonesia.

Tak hanya dengan kalangan kampus atau akademisi. Diskusi serupa juga kita lakukan dengan pihak lainnya, misalnya pada 18 Februari lalu kita mendiskusikan mengenai pendidikan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama jajarannya di Fraksi Partai Golkar DPR. Kita bahas ide Pendidikan Gratis 12 Tahun dan Kurikulum 2013. Setelah itu kita juga membahas mengenai konsep pembangunan dari desa dan RUU Desa di DPP Partai Golkar bersama para kepala desa dan pihak terkait.

Selain untuk merancang kemajuang bangsa dengan pembangunan yang terarah, terukur, dan berkesinambungan, dalam penyusunan Visi 2045 ini, Partai Golkar juga ingin mengenalkan tradisi baru. Tradisi baru yang ditawarkan Partai Golkar ini adalah: partai politik tidak hanya menawarkan calon presiden saja, tapi juga menyiapkan blueprint pembangunan nasional, yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam penyelenggaraan negara dan pelaksanaan pembangunan nasional.

Ini merupakan salah satu bukti dari dari komitmen Partai Golkar yang menyatakan diri sebagai The Party of Ideas, sebuah partai yang meletakkan ide dan gagasan menjadi instrumen politik, bukan intrik atau fitnah politik. Karena itu, di tengah dinamika kehidupan nasional yang diwarnai oleh intrik-intrik, bahkan fitnah-fitnah politik, Partai Golkar tidak ikut larut ke sana, dan tetap konsisten sebagai The Party of Ideas untuk memberikan sumbangsih secara konseptual bagi terselenggaranya pembangunan nasional di segenap bidang kehidupan.

Hal ini penting tegaskan, sebab saya melihat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan bangsa ini kurang maju, karena tradisi intelektual di kalangan elit bangsa kurang mengakar, bahkan sebaliknya sangat diwarnai oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang pernah diteladankan oleh para pendiri negara, yang secara konsisten menjadikan ideologi dan intelektualitas sebagai landasan dan orientasi perjuangannya.

Akhir kata, meski Visi 2045 belum sempurna dan akan terus diuji dan disempurnakan, namun hal ini telah menjadi bukti komitmen kami bahwa berpolitik bukan untuk kepentingan jangka pendek semata, tetapi untuk kepentingan jangka panjang demi terciptanya bangsa Indonesia yang maju dan sejahtera.

Menjaring Aspirasi di Negeri Jiran

Salah satu tugas partai politik adalah menjaring aspirasi masyarakat dan memperjuangkan agar aspirasinya terwujud. Seperti yang dilakukan Partai Golkar selama ini, yang terus berusaha mewujudkan keinginan rakyat semaksimal mungkin. Perjuangan ini dilakukan oleh segenap pengurus, kader, anggota fraksi, sampai simpatisan Partai Golkar baik di tingkat pusat sampai desa.

Aktivitas ini tidak hanya dilakukan Partai Golkar menjelang pemilu saja, namun terus dilakukan setiap waktu. Bahkan saya sendiri sebagai ketua umum dan calon presiden (capres), terus turun ke bawah, pergi ke pelosok negeri untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat. Hampir seluruh wilayah Republik Indonesia pernah saya datangi.

Menjaring aspirasi masyarakat tak cukup hanya di dalam negeri . Sebab di luar negeri juga banyak warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal atau menetap di sana. Mereka biasanya pelajar/mahasiswa dan pekerja. Jumlah mereka yang tinggal di luar negeri ini banyak, sehingga mereka berhak didengar dan diperjuangkan aspirasinya.

Terkait dengan hal tersebut, Partai Golkar merasa perlu mendirikan perwakilannya di luar negeri. Contohnya beberapa hari lalu, Kamis, 7 Maret 2013, saya menghadiri dan meresmikan pengurus Partai Golkar perwakilan luar negeri (PGLN) Malaysia – Brunei. Dalam kesempatan itu, diresmikan pengurus ormas sayap Partai Golkar seperti SOKSI, Kosgoro 1957, dan AMPG, perwakilan negeri jiran tersebut.

Partai Golkar perwakilan Malaysia-Brunei yang dipimpin Musthofa Bakrie ini penting. Sebab di Malaysia saja ada sekitar dua juta WNI, baik tenaga kerja Indonesia (TKI) maupun pelajar/mahasiswa. Golkar Malaysia-Brunei ini yang akan menjaring dan memperjuangkan aspirasi mereka.

Saat di sana, saya sendiri menyempatkan diri menjaring aspirasi dengan berdialog bersama para TKI dan WNI lainnya di Malaysia. Hari Jumat, atau sehari setelah pelantikan Partai Golkar Malaysia-Brunei, saya dan rombongan pergi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Didampingin oleh Duta Besar RI untuk Malaysia Marsekal TNI (Purn.) Herman Prayitno saya berdialog dengan para saudara-saudara kita yang tinggal di Malaysia itu.

Ternyata banyak juga saudara kita di Malaysia yang hadir di acara tersebut, sampai aula KBRI penuh. Sebagai pembuka dialog, pertama-tama saya memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan mengapa saya maju sebagai capres, sebab banyak yang belum tahu mengenai hal itu.

Kepada mereka saya mengungkapkan bahwa secara pribadi sebenarnya tidak ada alasan bagi saya untuk berambisi mengejar jabatan sebagai presiden. Semua pencapaian hidupnya sudah terpenuhi. Saya memiliki keluarga yang baik, sucu saya enam. Saya diberikan Allah kekayaan cukup, dan sebagainya. Jadi sebenernya tidak ada ambisi pribadi yang membuat saya susah payah menjadi capres.

Lalu untuk apa saya mau maju jadi capres, jawabannya adalah untuk pengabdian kepada bangsa dan negara, dan masyarakat.

Semua ini bermula saat saya diangkat menjadi Menko Kesra. Sudah sering saya ungkapkan dan saya tulis bahwa menjadi Menko Kesra telah mengubah hidup saya. Saya melihat semua permasalahan baik kesehatan, kemiskinan, pendidikan, dan sebagainya secara riil dan terlibat banyak dalam menemukan solusinya

Sejak saat itu, saya bertekad mengabdikan sisa hidup saya untuk bangsa dan negara. Setelah tidak menjabat di pemerintahan, saya punya kesempatan jadi ketua umum Partai Golkar, lalu saya melihat peluang untuk mengabdikan diri dengan menjadi capres.

Karena tujuannya pengabdian, bukan semata ambisi pribadi, maka saya tidak masalah apapun hasil pilpres nanti. Saya tidak ngoyo, tapi saya tetap berusaha keras. Kalau tidak terpilih ya saya tidak dosa pada Allah karena sudah berusaha. Kalau Allah menyatakan tidak di situ berarti tempat saya di tempat lain.

Setelah menceritakan alasan saya maju sebagai capres, saya meminta doa restu pada para saudara-sadara kita di Malaysia tersebut. Alhamdulillah mereka bersimpati dan ikut mendoakan saya.

Selanjutnya acara kita isi dengan tanya jawab atau dialog terkait permasalahan yang dihadapi para TKI dan WNI lainnya. Di dalam dialog terungkap malah yang selalu dihadapi TKI setiap pemilu dan belum mendapat solusi. Masalah ini adalah terkait susahnya para TKI memberikan suara karena alasan pekerjaan dan lokasi TPS.

Ada seorang TKI asal Nusa Tenggara Timur, namanya Maria, kepada saya dia dan banyak rekannya mengaku selalu kesulitan menggunakan hak pilihnya setiap pemilu. Dia sudah 13 tahun tinggal di Malaysia dan tidak pernah ikut pemilu karena tidak mendapat izin dari majikan.

Selain Maria, banyak juga yang mengungkapkan hal yang sama. Beberapa TKI yang kerja di perkebunan mengaku susah menjangkau TPS yang letaknya di kota. Ditambah lagi biasanya pemilu diadakan di hari kerja, di mana para TKI tidak bisa meninggalkan pekerjaan untuk ke TPS.

Suara mereka ini mewakili jutaan rekan mereka yang senasib. Ini bisa dilihat dari partisipasi setiap pemilu di Malaysia. Hanya ratusan ribu WNI yang menggunakan haknya, sementara ada jutaan yang memiliki hak suara.

Menanggapi hal itu, saya berjanji akan membicarakan hal tersebut dengan KPU melalui anggota fraksi di DPR. Saya juga akan membicarakan dengan pemerintah Malaysia agar para TKI diberi izin dan kesempatan menggunakan hak pilihnya. Selain itu, saya juga meminta pengurus Partai Golkar di Malaysia-Brunei mencari solusi atas masalah tersebut. Misalnya melobi pimpinan perusahaan atau majikan tempat TKI bekerja agar member izin ke TPS, memfasilitasi yang lokasinya jauh, dan sebagainya.

Selain masalah itu, para TKI dan pelajar juga bertanya mengenai program-program saya. Salah satu contohnya adalah mengenai apa yang akan saya lakukan untuk pendidikan di Indonesia. Saya kemudian memaparkan salah satu program yaitu pendidikan gratis sampai SMA. Kepada mereka saya menjelaskan pendidikan gratis sampai SMA bukan hal yang sulit. Karena mantan Menko Perekonomian dan Menko Kesra, saya tahu hitung-hitungannya. Ongkos pendidikan gratis sampai SMA sekitar Rp24 triliun.

Duitnya dari mana? Bisa kita ambil dari subsidi energi yang besarnya Rp350 triliun. Subsidi ini banyak yang salah sasaran dan dinikmati orang kaya. Kalo dialihkan Rp24 triliun saja untuk pendidikan gratis, bukan hal yang sulit apalagi mustahil. Mereka yang hadir setuju dan bertepuk tangan keras sekali. Sependapat dengan saya, mereka menilai pendidikan ini penting, bagi anak-anak mereka di tanah air.

Banyak hal yang kita dialogkan. Banyak aspirasi yang saya dapatkan dan akan bantu mencari solusinya. Tak hanya membantu mencarikan solusi ke dalam negeri, saya juga membantu melobi pihak Malaysia terkait beberapa permasalahan yang bisa diselesaikan melalui mereka.

Dalam kunjungan saya sebelumnya ke Malaysia, saya juga melobi pemerintah Malaysia. Kala itu saya meminta agar TKI ilegal mendapat pengampunan, dan sebagainya. Dalam kunjungan pekan lalu, saya juga menemui partai berkuasa di Malaysia UMNO. Selain bertemu di acara pelantikan Partai Golkar Luar Negeri, saya dan rombongan Partai Golkar juga bertemu dalam jamuan makan malam bersama para petinggi UMNO yang dipimpin oleh Timbalan atau Wakil PM Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, intinya kita sepakat menjalin kerjasama untuk hubungan baik kedua negara. Kita membangun second track diplomacy untuk bantu menyelesaikan masalah-masalah yang kerap timbul. Saya gembira bahwa UMNO juga bersedia ikut membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi TKI atau WNI lainnya, sebagaimana yang dikatakan Ketua Penerangan UMNO Datuk Ahmad Maslan.

Itulah sedikit cerita saya dari Malaysia. Saudara-saudara kita yang ada di negeri jiran sana juga bagian dari rakyat Indonesia yang harus diperjuangkan aspirasinya. Partai Golkar akan selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam perjuangan ini, karena: Suara Golkar, Suara Rakyat.

Men of Action, Pahlawan Partai Golkar

Pidato Politik Ultah FPG. Jakarta, 5 Maret 2013.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua

Yang saya hormati dan saya banggakan, Presiden RI ke-3, Bapak Prof. BJ Habibie

Yang saya hormati Wapres RI periode 2004-2009, Bapak Jusuf Kalla

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Kedua, serta para sahabat dari pimpinan partai politik yang hadir pada malam ini

Yang saya hormati Ketua Dewan Pertimbangan DPP PG, Bapak Akbar Tanjung

Yang saya banggakan Ketua FPG, Bapak Setya Novanto beserta seluruh jajarannya, dan khususnya Ketua Panitia Penyelenggara, Bapak Muhidin Said.

Yang saya banggakan seluruh pinisepuh dan senior yang telah berjasa kepada Partai Golkar

Yang saya cintai seluruh jajaran Fraksi PG, baik dari DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dari seluruh Indonesia

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur atas kebesaran Allah SWT. Atas rahmatnyalah kita semua berkumpul di malam yang berbahagia ini, merayakan Hari Ulang Tahun ke-45 Fraksi Partai Golongan Karya.

Selanjutnya, izinkanlah saya memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh kader dan fungionaris FPG dari seluruh daerah, baik di DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota, yang hadir pada malam hari ini. Kehadiran saudara-saudara semua, yang sebagian menempuh jarak yang cukup jauh, adalah sebuah pertanda baik, sebuah perwujudan kekuatan Partai Beringin dengan akar yang menancap dalam, serta memiliki dahan dan cabang yang rimbun menaungi persada nusantara.

Selain itu, saya yakin bahwa kehadiran saudara-saudara semua adalah adalah perwujudan sebuah tekad, sebuah kehendak bersama untuk mendorong kemenangan Partai Golkar pada Pemilu 2014. Insya Allah kita akan menang dan mempersembahkan kemenangan tersebut bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Sekarang, saya ingin bertanya langsung pada saudara-saudara semua: Betul kita sudah bertekad untuk menang..? Siapkah saudara-saudara untuk bekerja keras…? Siapkah saudara-saudara untuk memajukan kesejahteraan rakyat…? Terima kasih.

Saya juga ingin menghaturkan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pimpinan Fraksi Partai Golkar di DPR RI, serta seluruh jajarannya yang mendukung suksesnya acara ini. Saya tahu bahwa acara istimewa ini terselenggara berkat inisiatif dan kontribusi aktif kawan-kawan di FPG, termasuk istri dan keluarga masing-masing.

Sejauh ini Fraksi Partai Golkar telah menjadi salah satu ujung tombak partai yang dapat diandalkan, pasukan beringin yang tangguh dan terpercaya. Saya telah melihat sendiri dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam penyiapan serta pelaksanaan roadshow ARB ke berbagai daerah, bahwa kawan-kawan kita di FPG adalah tipe men of actions, manusia-manusia pelaku yang senang bekerja keras serta pandai mewujudkan ide menjadi kenyataan.

Oleh karena itu, sebagai Ketua Umum Partai Golkar, saya mengangkat topi dan menyatakan salut kepada seluruh jajaran Fraksi Partai Golkar. Sebagai ucapan ulang tahun ke-45, kalau boleh saya ingin memberi hadiah dua bait pantun:

Padi menguning betapa indahnya

Ditiup angin bergoyang dahannya

Setya Novanto kuning jaketnya

Memimpin fraksi banyak akalnya

Dari Solo ke Surabaya

Gadis melambai manis senyumnya

Hati beta betapa senangnya

Golkar menang terbuka jalannya

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Dalam momen perayaan HUT FPG ke-45 ini, perkenankanlah saya mengajak seluruh kader untuk terus menjaga komitmen dalam mengangkat kesejahteraan rakyat. Komitmen mulia ini terlebih lagi harus dipertebal saat ini, sebab situasi Tanah Air di awal tahun 2013 agaknya meruncing, penuh hiruk pikuk dalam manuver politik, masalah hukum, serta pertentangan pendapat yang kurang produktif.

Begitu banyak dan begitu mudah pihak yang satu menuduh pihak yang lain. Masalah hukum dicampuradukkan dengan masalah politik dan kekuasaan. Kata-kata menjadi tanpa makna, dan konsep keadilan diterima jika hanya menguntungkan dirinya sendiri.

Karena itu, saya menegaskan kepada semua kader dan fungsionaris Partai Golkar, jauhi semua itu. Partai kita berdiri di barisan terdepan untuk menunjukkan bahwa politik yang benar adalah politik kesejahteraan, yaitu sebuah upaya bersama untuk memajukan kehidupan seluruh rakyat Indonesia.

Kita juga harus menunjukkan bahwa politik Partai Golkar adalah politik pendidikan, yaitu sebuah upaya kongkret untuk memastikan bahwa setiap anak mampu bersekolah dengan baik, serta mendorong mereka untuk mengejar ilmu setinggi mungkin agar bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya dalam percaturan dunia.

Itulah komitmen Partai Golkar yang harus kita kedepankan saat ini. Kepada semua elemen bangsa, kita menghimbau bahwa jika ada masalah hukum, selesaikanlah dengan kaidah-kaidah hukum yang adil dan berbudaya. Kepada mereka yang tersangkut di dalamnya, atau kepada mereka yang bekerja dalam profesi dan jabatan yang terkait dengan semua itu, marilah kita menjunjung tinggi proses hukum yang benar, tanpa mencampuradukkannya dengan kebutuhan publisitas, kepentingan kekuasaan, dan sebagainya.

Pemberantasan korupsi serta penciptaan pemerintahan yang bersih harus menjadi tujuan nasional yang didukung semua pihak. Dan untuk itu kita harus melakukannya lewat cara-cara yang benar dan terhormat.

Partai Golkar tidak akan mengikuti irama sesaat yang hanya berisi keriuhan tanpa substansi. Jangan kita terlalu banyak berspekulasi, apalagi yang hanya sekadar mengumbar kata-kata. Golkar adalah partai yang mengedepankan kerja dan karya nyata. Kalau ada suara yang perlu dibela dan diperjuangkan, suara itu bukanlah suara partai, tetapi suara rakyat. Itulah esensi dari semboyan kita: Suara Golkar suara rakyat.

Selain semua itu, kita juga tidak pernah boleh lupa bahwa minggu lalu, sementara elite politik ribut di Jakarta, puluhan saudara-saudara kita yang bekerja menjaga keamanan di Papua, anggota-anggota TNI dan Polri, ditembak dan meninggal pada saat bertugas oleh kaum separatis.

Golkar mengajak semua lapisan kepemimpinan serta semua elemen bangsa agar tidak melupakan hal tersebut. Kita tidak boleh membiarkan pihak manapun, di luar dan di dalam negeri, untuk mengganggu integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia adalah bangsa besar dan keutuhan negara adalah harga mati. Kemajemukan di Nusantara adalah rahmat, bagaikan pelangi di pagi hari. Para pendiri bangsa kita sejak awal telah menegaskan bahwa Pancasila dan prinsip Bhineka Tunggal Ika adalah fondasi filosofis yang tidak pernah boleh dilupakan. Jangan lupa pesan Bung Karno, bahwa “dari Sabang hingga Merauke” bukan hanya rangkaian empat kata, tetapi merupakan satu kesatuan administratif, satu kesatuan politik, tetapi yang lebih penting adalah satu kesatuan semangat dan cita-cita.

Karena itulah, kita harus bertindak tegas dan bertindak cepat terhadap siapa pun yang ingin menggoyahkan fondasi tersebut. Semua elemen bangsa, baik aparat keamanan, maupun lembaga-lembaga politik yang ada, harus menyatukan langkah manakala pertaruhannya adalah keamanan dan integritas negara. Dalam saat-saat seperti ini, Partai Golkar harus mengingatkan semua pihak akan pentingnya prinsip-prinsip mulia tersebut.

Saudara-saudara yang saya cintai

Hadirin yang saya hormati

Efek samping dari riuh rendahnya persoalan hukum dan politik di lapisan elite memunculkan spekulasi lain tentang kemungkinan peralihan pemerintahan di tengah jalan.

Saya ingin tegaskan di sini bahwa Partai Golkar menghendaki transisi kekuasaan yang reguler serta konstitusional. Walaupun kita seringkali bersikap kritis terhadap berjalannya roda pemerintahan, namun kita adalah sahabat yang loyal serta pelaku politik yang menghargai aturan bersama.

Golkar adalah pengawal konstitusi. Golkar tidak akan membiarkan pihak manapun untuk memaksakan kehendak sendiri, tanpa memperhatikan kepentingan umum.

Kita sedang tumbuh menjadi negeri demokratis yang matang. Proses peralihan kekuasaan harus berlangsung dengan tertib dan teratur. Dan karenanya kita harus memastikan bahwa situasi nasional menjelang pemilu tahun depan adalah situasi yang damai dan kondusif.

Adalah kepentingan seluruh bangsa agar Pemilu 2014 berlangsung tepat waktu, lancar, aman, dan terbuka. Pemilu bukan hanya pertaruhan partai-partai. Pemilu bukan hanya kompetisi kekuasaan. Tetapi lebih dari itu, pemilu adalah pertaruhan nasib anak-anak Indonesia, pertaruhan jutaan rakyat kita yang menghendaki kehidupan yang bergerak maju.

Itulah yang harus kita serukan kepada sahabat-sahabat kita yang berada di partai dan kekuatan politik lainnya. Jangan terlalu banyak kasak-kasuk, tetapi siapkanlah diri masing-masing, dekati rakyat, dengarkan suara rakyat, tawarkan ide dan konsep yang cemerlang, agar pemerintahan mendatang menjadi lebih baik lagi dalam membangun ekonomi, membuka lapangan kerja dan mendorong pemerataan serta keadilan.

Indonesia jangan terlalu banyak membuang waktu. Begitu banyak hal yang harus dibenahi, mulai dari kurikulum pendidikan, jaminan kesehatan rakyat, infrastruktur dan permodalan usaha kecil. Selain itu juga kita harus memperkuat sistem keamanan dan pertahanan negara kita agar tidak diombang-ambingkan oleh kepentingan bangsa lain.

Harapan rakyat begitu besar kepada kita. Mereka semua ingin maju. Mereka merindukan masa depan yang lebih baik lagi buat anak-anak mereka.

Itulah tugas terbesar kita yang berada di lapisan kepemimpinan. Itulah amanah dan tanggung jawab yang berada di pundak kita.Saya yakin bahwa seluruh kader dan fungsionaris Partai Golkar tidak akan pernah menyia-nyiakan harapan mulia tersebut.

Saat ini, jika diukur dari berbagai hasil survei nasional, Partai Golkar adalah partai di urutan teratas, cukup jauh melampaui partai-partai lainnya. Hal itu adalah sebuah pertanda bahwa kepercayaan rakyat sudah mulai beralih kembali kepada partai beringin, sudah mulai menaruh kepercayaan besar kepada kita untuk memimpin perbaikan kehidupan mereka di masa-masa mendatang.

Insya Allah, kepercayaan itu akan semakin besar lagi. Itulah salah satu modal terbesar kita menuju Pemilu 2014. Dengan kesungguhan, dengan dedikasi serta kerja keras kita semua, maka tekad kita untuk merebut kembali kejayaan partai akan segera dapat diwujudkan.

Selain itu, alangkah manisnya, jika kemenangan pemilu legislatif juga disusul oleh kemenangan Kandidat Presiden dari Partai Golkar dalam pemilu presiden. Parlemen dan eksekutif akan menjadi satu kekuatan yang terpadu, sebuah perwujudan kehendak rakyat yang akan sungguh-sungguh mengantarkan bangsa Indonesia ke dalam era yang gilang-gemilang di masa depan.

Kita akan menciptakan sebuah pemerintahan presidensial yang demokratis tapi tegas, pemerintahan yang kuat tapi terbuka dan bertanggung jawab, serta pemerintahan yang sungguh-sungguh memajukan kesejahteraan semua golongan.

Insya Allah, ketika semua itu terwujud, maka sebelum berusia seabad, sebelum tahun 2045, Indonesia sudah naik kelas menjadi negara maju, sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Ibu pertiwi akan menjadi sebuah negeri yang semakin terhormat, dicintai dan dijunjung tinggi oleh setiap anak-anak bangsa kita.

Itulah mimpi kita bersama. Itulah peran historis yang harus diemban Partai Golkar, sekarang dan di masa-masa mendatang. Saya yakin, kontribusi lebih dari 2000 anggota Fraksi Partai Golkar, baik di DPR RI, maupun di DPRD provinsi dan DPRD Kebupaten/kota, akan sangat menentukan perwujudan peran historis ini.

Sebagai penutup, sekali lagi, saya ingin mengajak kita semua, khususnya pimpinan fraksi Partai Golkar dari berbagai daerah, untuk mempertebal semangat dan melangkah bersama dalam sebuah pengabdian kepada partai dan kepada seluruh rakyat Indonesia. Kita harus mewujudkan sebuah keyakinan bahwa pengabdian kita pada partai adalah sebentuk kecintaan pada Tanah Air.

Maju terus Partai Golkar. Maju terus negeriku tercinta.

Wabillahitaufiq walhidayah

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Kurikulum untuk Menyongsong Generasi Emas Indonesia

Pidato Pengarahan pada Diskusi Publik tentang Kurikulum 2013, Fraksi Partai Golkar DPR RI. Jakarta, 18 Februari 2013.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh

Yang saya hormati Pimpinan Fraksi Partai GOLKAR DPR RI

Yang saya hormati Pimpinan dan anggota Komisi VIII dan Komisi X

Para Tokoh Masyarakat, Tokoh Pendidikan, Cendekiawan, Guru dan anak-anak pelajar yang saya cintai dan saya banggakan.

Peserta diskusi dan Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas izin dan perkenan-Nyalah, sehingga acara diskusi publik tentang kurikulum 2013 yang diadakan oleh FPG DPR-RI dapat terselenggara dengan baik. Untuk itu, Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pimpinan FPG DPR RI yang selalu kreatif dan tanggap dalam memberikan ide dan gagasan yang terkait dengan kemajuan pendidikan bangsa.

Saya mencatat, bahwa FPG telah melaksanakan berbagai bentuk kegiatan terkait dengan pendidikan, di antaranya Seminar tentang Revitalisasi Pancasila, Syukuran Hari Guru Nasional ke-66 bersama PGRI, Ide Pendidikan Gratis 12 Tahun yang kemudian menjadi Pendidikan Universal, dan terakhir adalah diskusi publik hari ini sebagai ikhtiar untuk memberikan masukan tentang masalah kurikulum, dengan tema yang sangat kritis dan visioner : Mampukah Kurikulum 2013 Menjawab Tantangan Generasi Emas 2045 ?.

Terkait dengan itu, Saya juga ingin memberikan penghargaan yang tinggi kepada Prof. Nuh atas segala langkah berani dan kreatif yang diambil sebagai Menteri dalam memajukan pendidikan nasional. Langkah-langkah Prof. Nuh, baik sebagai Menteri maupun sebagai Sahabat, dalam memajukan pendidikan nasional harus didukung sepenuhnya, terutama karena langkah-langkah tersebut sejalan dengan visi Partai GOLKAR. Bagi Partai GOLKAR, ketika bicara tentang pendidikan berarti kita bicara tentang masa depan bangsa, dan ketika bicara tentang masa depan bangsa, apapun harus kita pertaruhkan.

Prof. Nuh dan Hadirin yang berbahagia,

Kurikulum merupakan salah satu instrumen yang amat sentral dan strategis untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Sehingga, pergantian kurikulum pendidikan, harus ditelaah secara mendalam, agar benar-benar selaras dengan tujuan yang diharapkan. Dalam hal ini, Presiden Amerika Serikat ke-28 Woodrow Wilson pernah mengatakan, “It is easier to change the location of a cemetery, than to change the school curriculum”. Lebih mudah memindahkan pemakaman daripada mengubah kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Apa yang disitir oleh Woodrow Wilson tersebut mengingatkan kita akan pentingnya mempertimbangkan masak-masak perubahan kurikulum pendidikan nasional.

Bagaimanapun, kurikulum pendidikan bukan hanya sekedar pedoman teknis penyelenggaraan pendidikan, melainkan juga mencerminkan falsafah hidup bangsa, menetapkan ke arah mana bangsa ini akan dibawa dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa di masa depan. Hal itu berarti bahwa pendidikan yang tercermin dalam suatu kurikulum adalah cara yang paling strategis untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta yang paling penting adalah untuk memperkuat jati diri bangsa.

Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa Jatidiri suatu bangsa akan selalu dihadapkan pada dinamika perkembangan global. Pada abad ke-21 ini, perkembangan global telah demikian kompleks, dimana semua itu menuntut kita untuk mampu menjawab berbagai kompleksitas tantangan yang ada dengan baik. Suatu bangsa akan eksis dan maju, manakala mampu menjawab tantangan global itu dengan baik. Dan, kata kunci utamanya adalah pendidikan yang baik. Dengan pendidikan yang baik, maka berarti kita tengah mempersiapkan sumber daya manusia terdidik, yang memiliki kompetensi yang dapat diandalkan mengangkat derajat daya saing bangsa, sehingga mampu tidak saja sejajar dengan bangsa-bangsa lain, tetapi juga bergerak cepat menjadi bangsa yang maju dan kompetitif.

Pendidikan yang baik, mutlak memerlukan kurikulum pendidikan yang baik pula, yakni kurikulum yang didesain untuk mampu menjawab tantangan perubahan zaman yang bergerak cepat dan dinamis, kurikulum yang didesain untuk mampu mempersiapkan peserta didik untuk tidak saja menjadi manusia-manusia unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memperkokoh jatidiri bangsanya.

Sebaik apapun suatu kurikulum pendidikan, tidak akan memberikan kemanfaatan bagi bangsa, manakala tidak benar-benar diarahkan untuk memperkuat jatidiri bangsa. Oleh karena itulah, jangan sampai perubahan kurikulum yang kita lakukan, justru mengabaikan aspek-aspek lokalitas dan berbagai hal yang terkait dengan jati diri bangsa.

Perubahan kurikulum dapat bersifat sebagian, tetapi dapat pula bersifat keseluruhan yang menyangkut semua komponen kurikulum. Perubahan kurikulum menyangkut berbagai hal, baik yang terkait dengan pengampu kepentingan atau stake holder dalam dunia pendidikan, maupun faktor-faktor penunjang dalam pelaksanaan pendidikan.

Prof. Nuh dan Hadirin yang berbahagia,

Secara garis besar, sebagaimana kita ketahui bahwa sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan sebanyak sembilan kali, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sistem sosial budaya, sistem ekonomi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Jika dalam tahun 2013 ini kurikulum juga akan berubah, berarti secara mendasar perubahan kurikulum pendidikan di negara kita sudah mencapai sepuluh kali.

Terkait dengan hal tersebut, jangan hanya pergantian kurikulum dan uji coba kurikulum saja yang menjadi perhatian, tetapi bagaimana menjadikan sektor pendidikan menjadi pilar utama pembangunan nasional, menjadi pendorong kemajuan bangsa, sehingga kita tidak tertinggal dengan negara-negara lain dalam kompetisi global. Karenanya, perubahan kurikulum harus dipastikan mengarahkan generasi muda Indonesia yang beriman dan bertaqwa, berakhlakul karimah, cerdas, terampil, berpengetahuan, mandiri, mampu berkompetisi, dan bertanggungjawab kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Pengalaman sejarah membuktikan, bahwa kurikulum pendidikan yang seharusnya mengantarkan rakyat Indonesia eksis dan mampu berkompetisi di dunia internasional, ternyata belum seperti yang kita harapkan. Menurut berbagai survei internasional, bahwa kualitas pendidikan nasional, secara umum masih tertinggal dengan banyak negara lain. Oleh karena itu, kita mendukung langkah Pemerintah untuk menciptakan kurikulum yang lebih antisipatif, menyesuaikan dengan tuntutan zaman, yang diyakini mampu melahirkan anak-anak negeri yang sanggup bangkit, mengangkat harkat dan martabat bangsa di dunia internasional, tanpa kehilangan jatidiri sebagai manusia Indonesia. Itulah sebabnya, Partai GOLKAR mendorong perubahan kurikulum kali ini harus dipersiapkan secara komprehensif dan tidak parsial, termasuk dukungan tenaga pendidik dan sarana-prasarana lainnya sebagai kunci kesuksesan implementasi kurikulum baru tersebut.

Prof. Nuh dan Hadirin yang berbahagia,

Perubahan kurikulum, antara lain dimaksudkan untuk menyongsong generasi emas Indonesia. Apabila perubahan kurikulum ini dilakukan sekarang, maka peserta didik atau siswa sekolah saat ini akan berusia 40-50 tahun pada tahun 2045 nanti, pada saat Bangsa Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekannya. Rentang usia tersebut adalah usia produktif pada level kepemimpinan di segala sektor dan bidang pekerjaan. Sehingga, masa itu adalah Abad Emas bagi bangsa Indonesia.

Seiring dengan itu, kita optimis akan masa depan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar dan maju. Lembaga internasional seperti Goldman Sachs, Mc Kinsey Institute dan lain-lain telah meramalkan bahwa Indonesia akan masuk sebagai The Next BRIC ((Brazil, Rusia, India, China). Lembaga multilateral seperti World Bank, ADB, IMF dan lain-lain juga mengatakan bahwa Indonesia termasuk The Emerging Market Countries seperti Turki dan Korea Selatan.

Prediksi lain menggambarkan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang mempunyai PDB terbesar ke-7 di dunia. Ketika Benua Eropa dan Amerika sedang mengalami perlambatan perekonomian, maka masa depan dunia ada di ASIA. Siapa ASIA itu?, ketika Jepang mengalami stagnasi, China dan India mulai melambat. Asia adalah Indonesia! Dan masa depan dunia adalah Indonesia! Sejatinya itulah yang harus menjadi mimpi kita, menjadi visi bersama kita, menjadi cita-cita kita sebagai bangsa yang besar.

Prediksi-prediksi demikian tidak dapat kita abaikan, bukan suatu hal yang mustahil, mengingat sejatinya Indonesia punya segala hal untuk maju. Sumberdaya alam yang melimpah dan variatif dari Sabang sampai Merauke. Jumlah penduduk yang besar sekitar 230 Juta jiwa dan 80 juta jiwa berada di dalam usia produktif. Sebanyak 70 juta jiwa adalah kelas menengah yang mempunyai daya kreatif dan daya beli yang tinggi. Pemakai Facebook dan Twitter di Indonesia adalah nomor 3 dan 5 yang terbesar di dunia.

Itu semua menggambarkan bahwa Indonesia adalah Indonesia muda yang kreatif dan dinamis yang siap dan eager untuk menghadapi peluang dan tantangan apapun juga. Ini juga diperkuat dengan kekayaan budaya yang sangat dinamis dan variatif mulai dari pakaian, kuliner, adat istiadat, tempat wisata dan lain-lain yang semuanya itu mempunyai potensi geopolitik dan geoekonomi yang sangat kuat bila dikelola secara baik dan terencana oleh manusia-manusia terdidik. Jadi, sekali lagi, kata kunci utamanya adalah pendidikan, dan bagian terpenting dari pendidikan itu adalah adanya sebuah kurikulum yang konprehensif.

Prof. Nuh dan Hadirin sekalian yang saya hormati,

Jadi yang perlu diingat dalam penyusunan kurikulum ini adalah bahwa kita saat ini, sedang menyusun kurikulum untuk Generasi Emas Indonesia. Generasi yang akan memimpin kebangkitan Indonesia, Generasi yang akan menghadapi tantangan yang jauh berbeda dengan yang kita alami saat ini.

Untuk itu, Pesan dan harapan saya selaku Ketua Umum DPP Partai GOLKAR kepada Prof Nuh, baik sebagai Menteri maupun sebagai Sahabat dan Fraksi Partai Golkar DPR-RI adalah agar tetap cermat dan teliti dalam menyusun dan menerapkan kurikulum 2013 ini, sehingga dapat diimplementasikan sebaik mungkin, dengan melibatkan segenap konponen masyararakat yang terkait.

Karena itulah, saya juga menyarankan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta jajarannya, untuk melakukan persiapan yang matang dan sosialisasi secara optimal ke berbagai kalangan terkait dengan penerapan kurikulum. Selain sosialisasi, kurikulum baru tentu membutuhkan berbagai perangkat yang baru pula bagi para peserta didik di sekolah-sekolah. Transisi implementasi kurikulum lama ke kurikulum baru juga hendaknya tidak menimbulkan beban pembiayaan yang tinggi bagi masyarakat.

Mengenai hal ini, kami juga meminta kepada Pemerintah untuk menanggung biaya penyusunan dan percetakan buku serta perangkat pendukungnya, agar orang tua murid tidak dibebani lagi dengan biaya tambahan sebagai akibat implementasi kurikulum baru. Kami sangat concern mengenai hal ini, mengingat keadaan sebagian besar masyarakat kita yang masih belum menyekolahkan anaknya karena kondisi ekonomi yang kurang baik.

Terkait dengan ini, saya ingin menekankan bahwa pendidikan adalah sebuah martabat bangsa. Karena itu, jangan sampai ada keluarga yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikannya, akibat tidak mampu membayar biaya sekolah, tidak mampu membeli buku dan lain-lainnya. Bila hal itu sampai terjadi, maka itu berarti kita mengabaikan martabat bangsa. Dalam kerangka itulah, maka Partai GOLKAR senantiasa mengambil kepeloporan dalam perjuangan pendidikan bangsa. Sebagai tahaddus binnikmah, Partai GOLKAR berada pada posisi terdepan dalam memperjuangkan 20 % anggaran pendidikan untuk dimasukkan dalam UUD 1945, demikian juga dalam pembahasan dan pembentukan UU Sistim Pendidikan Nasional, Partai GOLKAR tetap konsisten mengambil kepeloporan untuk kemajuan pendidikan. Dan yang terakhir, Partai GOLKAR lagi-lagi mengambil kepeloporan mendorong Pemerintah untuk melaksanakanl kebijakan biaya pendidikan gratis sampai tingkat SLTA dapat diterapkan secara nasional mulai tahun 2013 ini. Bahkan, dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, Partai GOLKAR telah menyusun Blue Print tentang Pembangunan Nasional (memuat Visi Indonesia 2045), di mana di dalamnya meletakkan pendidikan sebagai Pilar Utama Pembangunan Bangsa. (Mohon maaf Prof Nuh, ini bukan kampanye tapi saya tegaskan sebagai komitmen partai GOLKAR untuk kemajuan pendidikan bangsa. Mudah-mudahan Prof Nuh sependapat dengan GOLKAR).

Prof. Nuh dan Hadirin sekalian yang saya hormati,

Sebelum saya akhiri sambutan ini, sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa setiap perubahan tentu akan ada tantangan dan sekaligus peluang untuk maju. Pengalaman bangsa kita dan juga bangsa-bangsa lain tentu mengajarkan bahwa mengakomodasi nilai-nilai baru dan meninggalkan nilai-nilai lama yang usang dimakan zaman tentulah tidak mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang kita hadapi untuk dapat merubah mind set, dan membentuk suatu tradisi baru yang lebih relevan dan mampu menjawab kompleksitas tantangan zaman. Namun demikian, selalu ada harapan dan optimisme kita semua untuk selalu maju ke depan, menuju kondisi bangsa yang lebih baik dan maju.

Dalam hal ini, sekali lagi, pendidikan adalah kuncinya, karena pendidikan akan menghadirkan sumberdaya manusia yang andal. Seorang tokoh Samurai terkenal Jepang, Miyamoto Musashi mengatakan “The difference between the impossible and possible lies in a person’s determination.” Bahwa faktor keunggulan manusia dapat mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Selanjutnya, saya juga perlu mengutip pandangan filosof Betrand Russel, yang mengatakan “More important than the curriculum is the question of the methods of teaching and the spirit in which the teaching is given”. Kurikulum penting, tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah metode pengajaran dan spiritnya. Dengan metode pengajaran yang tepat dan mengena dalam mengimplementasikan kurikulum pendidikan, ditambah spirit pendidikan yang selalu menyala di setiap pengajar dan peserta didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari rohnya. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa “At-Thariqatu Afdalu Minal Mad (Metodologi tidak kalah pentingnya dibanding substansi).

Saya mengucapkan selamat bekerja kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Mohammad Nuh, dan Saya minta Fraksi Partai GOLKAR untuk memberi dukungan dalam mewujudkan suatu kurikulum yang baik bagi kemajuan bangsa kita. Selamat mengantarkan Generasi Emas Indonesia menuju Abad Kejayaannya. Semoga Tuhan memberkati dan meridloi perjuangan kita semua.

Seperti biasanya, setiap sambutan saya diakhiri dengan pantun. Kali ini, saya akan mempersembahkan dua buah pantun untuk para peserta diskusi :

BUKU TERSUSUN DI PERPUSTAKAAN

TEMPAT SISWA MENCARI BAHAN

KURIKULUM BARU SIAP DITERAPKAN

PARTAI GOLKAR SIAP MENSUKSESKAN

ANAK SEKOLAH MEMBACA BUKU

PERSIAPAN MENGHADAPI UJIAN TERTULIS

PARTAI GOLKAR MENANG PEMILU

BIAYA PENDIDIKAN DIJAMIN GRATIS

Untuk memenuhi permintaan panitia penyelenggara, dengan mengucap Basmalah : Bismillahirrahmanirrahim, Diskusi tentang Kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh FPG DPR-RI, secara resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian, Terima kasih, dan mohon maaf atas segala kekurangan.

Billahi taufiq wal hidayah, Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Olahraga dan Jiwa Sportif

Saya selalu mengawali aktivitas sehari-hari dengan berolahraga. Setiap pagi, saya selalu menyempatkannya. Jika melihat jadwal kegiatan saya sehari-hari, maka agenda pertama yang saya lakukan adalah: berolahraga.

Olahraga sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan saya sejak muda. Ada yang kurang rasanya bila mengawali hari tanpa olahraga. Makanya, di manapun berada, saya selalu menyempatkan berolahraga. Termasuk saat saya berpergian ke luar kota atau luar negeri.

Seperti saat saya bersafari ke Lombok pekan lalu, (Rabu, 23 Januari 2012). Seperti biasa, jadwal pertama saya adalah olahraga. Namun kali ini saya tidak berolahraga di hotel seperti biasanya. Pagi itu saya memilih berolahraga bersama masyarakat di alun-alun.

Pagi itu, saya berolahraga bersama anak-anak sekolah yang sedang ada jam olahraga di sana, dengan melakukan senam aerobik dipandu instruktur setempat. Meski ini olahraga ringan, namun lumayan juga terasa segar di badan.

Seusai berolahraga, saya diberi kesempatan berbicara di hadapan anak-anak ini. Kepada mereka saya menceritakan bahwa saya sangat suka berolahraga. Waktu masih muda, setiap selesai sholat subuh saya selalu menyempatkan berlatih karate. Sampai sekarang, meski berusia kepala enam, saya masih rutin berolahraga paling sedikit dua jam setiap pagi.

Saya masih kuat lari keliling lapangan 15 kali, atau melakukan jalan cepat 6 km jalan cepat. Saya juga biasa bermain tenis 3 set, bersama teman-teman di klub Rasuna. Intinya, aktivitas olahraga saya gak kalah sama anak muda.

Hasilnya sangat terasa, tubuh menjadi sehat dan bugar. Saya juga jarang sakit, dan banyak yang bilang dibandingkan dengan teman sebaya, saya terlihat lebih muda. Dengan kebugaran ini kegiatan saya yang relatif padat juga sangat terbantu. Saya tidak cepat lelah dan selalu fit meski harus melakukan perjalanan jauh. Bahkan kolega saya di Partai Golkar Ade Komarudin, pernah mengungkapkan, dia dan kawan-kawan keteteran mengikuti kegiatan saya.

Mengapa saya suka sekali berolahraga? Bagi saya olahraga ini penting. Penting tidak saja bagi kesehatan raga atau tubuh kita, namun juga bagi kesehatan jiwa kita. Seperti kata yang sangat terkenal di dunia olahraga: mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.

Kaitannya dengan jiwa, olahraga bisa membentuk jiwa sportif. Orang yang biasa berolahraga akan memiliki jiwa sportif yang tinggi. Biasa berkompetisi, berjuang mencapai hasil, dan bisa menerima kemenangan atau kekalahan.

Saya katakan kepada anak-anak itu, jiwa sportif ini penting. Tidak hanya untuk kompetisi olahraga saja, namun juga kompetisi di bidang lain. Misalnya saat pertandingan olimpiade sains, dan kompetisi-kompetisi lainnya. Sebab, orang berjiwa sportif akan siap menang dan kalah.

Tidak semua orang memiliki jiwa ini. Rata-rata orang hanya siap menang, tapi tidak siap menerima kekalahan. Orang yang sportif berdaya juang tinggi dan meyakini dirinya yang terbaik, namun mampu mengakui jika orang lain ternyata lebih baik darinya dan memenangkan kompetisi.

Dalam berorganisasi dan berpolitik, jiwa sportif ini sangat penting. Lihat saja banyak orang yang tidak sportif dalam kompetisi baik di organisasi maupun politik. Misalnya kalah dalam pemilihan pemimpin organisasi atau partai, kemudian tak terima dan membuat organisasi tandingan atau keluar dan membuat organisasi baru. Atau dalam pilkada, calon yang kalah tidak terima dan terus menggugat, bahkan sering berujung kekerasan atau kerusuhan.

Orang yang suka berolahraga dan telah tumbuh jiwa sportif dalam dirinya tentu tidak akan melakukan hal seperti itu. Orang sportif akan fair, dan siap menang juga siap kalah. Jika menang, orang sportif tidak akan terlalu jumawa atau merendahkan yang kalah, atau orang Jawa menyebutnya: menang tanpo ngasorake.

Itulah manfaat olahraga yang saya petik selama ini. Semoga akan semakin banyak orang, terutama anak-anak muda yang suka berolahraga dan memiliki jiwa sportif. Dulu ada program pemerintah yang bagus: memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Saya kira program bagus seperti ini perlu direvitalisasi.

Nomor 5 di Kertas Suara, Nomor 1 di Pemilu

Senin lalu, 14 Januari 2013, saya selaku Ketua Umum DPP Partai Golkar bersama Sekjen, Idrus Marham, menghadiri pengundian nomor urut parpol di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di tempat yang sama, hadir juga ketua umum dan sekjen, atau perwakilan, dari 10 partai peserta pemilu 2014.

Sekitar pukul 15.00 WIB, pengundian yang digelar di lantai II Gedung KPU dimulai. Pengundian dilakukan dalam dua tahap. Pertama kami mengambil nomor untuk mendapatkan nomor giliran. Setelah itu, berdasarkan nomor giliran itu, kemudian kita baru mengambil nomor urut. Kebetulan, Partai Golkar mendapatkan giliran 9.

Setelah nomor giliran diambil, dimulailah pengundian nomor urut. Partai Nasional NasDem yang kebetulan mendapat nomor giliran pertama, mendapatkan nomor urut 1. Giliran kedua, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mendapat nomor urut 10. Lalu, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendapat nomor urut 9, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) nomor urut 2, Partai Amanat Nasional (PAN) nomor urut 8, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) nomor urut 3, Partai Demokrat (PD) nomor urut 7, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) nomor urut 4, Partai Golkar nomor urut 5, dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mendapat nomor urut 6.

Saat itu, selain, mengundi nomor dari 10 parpol nasional, juga ditentukan nomor urut partai lokal. Komisi Independen Pemilihan (KIP), lalu menetapkan nomor urut partai politik lokal di Aceh. Partai Damai Aceh mendapat nomor urut 11, Partai Nasional Aceh nomor urut 12, dan Partai Aceh mendapat nomor urut 13.

Nomor urut parpol ini menjadi topik yang hangat dibicarakan baik menjelang maupun setelah pengundian di KPU. Banyak wartawan yang bertanya nomor berapa yang diharapkan tiap parpol dan apa makna nomor tersebut. Bahkan ada parpol yang mengharapkan dapat nomor tertentu karena menilai nomor tersebut memiliki makna tertentu.

Tetapi jauh hari saat ditanya soal hal itu, saya sudah mengatakan bahwa bagi saya nomor urut berapapun bagi Partai Golkar sama saja. Karena saya percaya bahwa apapun yang diberikan Allah bagi Partai Golkar, itulah yang terbaik.

Saat Partai Golkar mendapat nomor 5, banyak yang bilang nomor itu istimewa. Ada yang bilang karena sesuai dengan sila Pancasila. Ada juga yang bilang seperti jumlah rukun Islam, pas dengan ikrar Partai Golkar Panca (5) Bakti, dan sebagainya.

Tapi sekali lagi, bagi saya ini bukan yang utama. Bagi Partai Golkar yang utama dan paling penting adalah menjadi nomor 1 di Pemilu 2014, atau memenangkan Pemilu. Bukan sekedar nomor di kertas suara. Untuk menjadi nomor 1 di Pemilu yang dibutuhkan tentu saja kerja keras seluruh elemen partai, bukan sekedar nomor urut.

Saya selalu mengatakan kepada kader dan simpatisan bahwa jika ingin memenangkan Pemilu 2014, Partai Golkar harus menunjukkan keberpihakannya pada rakyat sesuai motonya: Suara Golkar,Suara Rakyat. Kalo itu dilakukan Golkar pasti menang.

Jadi sekali lagi, nomor urut hasil Pemilu lebih penting dari nomor urut di kertas suara. Terkait urutan hasil Pemilu, selama ini Partai Golkar, dalam Pemilu baik di era Orde Baru maupun era Reformasi, selalu menduduki posisi atas. Sering nomor 1 dan paling jelek nomor 2.

Pada Pemilu Orde Baru Golkar selalu nomor 1, lalu di Pemilu 1999 Golkar nomor 2. Kemudian di Pemilu 2004 Golkar kembali menjadi nomor 1 dan di Pemilu 2009 turun kembali ke nomor 2. Jika melihat siklus pemilu pasca reformasi, harusnya 2014 Golkar kembali menjadi nomor 1.

Menjadikan Partai Golkar nomor 1 atau mengembalikan kejayaan Partai Golkar adalah cita-cita saya sejak terpilih memimpin partai ini dan terus memperjuangkannya sampai sekarang. Alhamdulillah berkat kerja keras semua elemen, kini Partai Golkar menjadi partai nomor satu di semua survei.

Namun hal ini tidak boleh membuat kita terlena. Karena survei itu adalah saat ini, sementara Pemilu adalah 2014 nanti. Maka saya mengajak semua kader dan simpatisan untuk terus berjuang dan bekerja membantu rakyat, menyelesaikan problemanya. Jika itu yang dilakukan, maka rakyat pasti akan mendukung Partai Golkar, dan mereka akan memilih partai dengan nomor 5 di kertas suara untuk menjadi nomor satu di Pemilu.

Film Pak Habibie dan Teladan Suami-Istri

Senin sore, 17 Desember 2012 lalu, saya pergi ke bioskop bersama istri saya. Kali ini, saya ke bioskop bukan untuk menonton film action, film kegemaran saya. Tapi saya ke sana untuk menyaksikan sebuah film istimewa, yang hari itu diputar perdana.

Film ini memang istimewa, karena menceritakan kehidupan tokoh penting bangsa ini, Presiden Republik Indonesia ke 3 BJ Habibie. Maka dalam pemutaran perdana film berjudul “Habibie & Ainun” ini para tokoh di negeri ini pun berbondong-bondong hadir. Ada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono dan Wapres Boediono berserta istri, para menteri, pejabat, serta tokoh dan artis tanah air.

Saya sendiri datang lebih awal, selain karena lokasi bioskopnya di samping kantor saya, di Kawasan Epicentrum, saya juga tidak mau keduluan Pak Habibie sampai di lokasi. Saya memang terbiasa on time datang ke sebuah acara, apalagi jika acaranya istimewa seperti film Pak Habibie ini. Pak Habibie pun selama ini, jika saya undang ke acara saya, beliau selalu datang on time atau tepat waktu.

Saya pertama kali mendengar ada film “Habibie & Ainun”, yang diangkat dari buku Pak Habibie dengan judul yang sama ini, dari Pak Habibie langsung. Waktu itu, saya bertemu dengan beliau di kediaman Pak Habibie di Jerman.

Pada pertemuan tanggal 8 Oktober 2012, di sebuah restoran dekat kediaman Pak Habibie itulah, beliau bercerita mengenai film itu. Awalnya, saat selesai makan, beliau bercerita mengenai buku “Habibie&Ainun”. Buku yang tidak hanya laris atau best seller di Indonesia saja, melainkan juga di Jerman. Bahkan buku ini juga telah diterbitkan dalam Bahasa Arab, Inggris, dan menyusul dalam Bahasa Jepang.

Lalu beliau memberitahu saya bahwa buku tersebut akan difilmkan dengan judul yang sama. Pak Habibie menyampaikan bahwa beliau juga akan pulang ke tanah air dan hadir saat film tersebut diputar di bulan Desember. Beliau juga mengatakan akan mengundang saya.

Setelah melihat film “Habibie & Ainun” ini, kesan saya sama dengan para hadirin dan orang-orang lain yang menonton film ini, yaitu: film ini bagus dan wajib ditonton. Aktor Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari yang berperan sebagai Pak Habibie dan Bu Ainun cukup baik membawakannya. Reza bahkan bisa menirukan mimik dan gerak-gerik khas Pak Habibie. Bahkan Pak Habibie mengakui Reza bisa memerankan beliau.

Dari segi penonton pun film ini cukup luar biasa. Saya dapat kabar, sepekan setelah tayang perdana untuk umum, film ini telah ditonton sejuta lebih penonton bioskop tanah air. Ini tentu sebuah angka yang tidak kecil, mengingat film ini akan terus diputar dan ditonton beberapa waktu ke depan. Ini juga menunjukkan film ini mendapat antusiasme yang tinggi dari masyarakat.

Film ini menceritakan bagaimana Pak Habibie bertemu Bu Ainun, sejak sekolah, kuliah, sampai menikah, lalu tinggal di Jerman. Juga bagaimana Bu Ainun mendampingi Pak Habibie sejak masih kuliah, bekerja di Jerman, kembali ke Indonesia menjadi menteri, wapres, sampai presiden.

Lika-liku kehidupan Pak Habibie dan Bu Ainun tergambar di sana. Tentang perjuangan mengarungi kehidupan, tentang cita-cita, cinta, dan kesetiaan tiada akhir, semua tergambar dengan baik. Di sini peran Bu Ainun sebagai pendamping yang baik bagi Pak Habibie begitu tergambar.

Bu Ainun yang menjadi inspirasi dan motivasi Pak Habibie. Misalnya karena janjinya pada Bu Ainun, Pak Habibie lalu bertekad dan bekerja keras sampai akhirnya berhasil mewujudkan industri pesawat dalam negeri.

Di sini lain, Bu Ainun juga menjadi “pengawas” yang baik bagi Pak Habibie, yang mengingatkan Pak Habibie soal kesehatan, dan sebagainya. Selalu mendampingi di situasi apapun, baik senang maupun sedih. Sampai ajal yang kemudian memisahkan keduanya.

Film “Habibie & Ainun” ini mengajarkan kepada kita semua tentang kehidupan bersama pasangan yang baik. Ini adalah sebuah teladan yang baik bagi suami-istri atau pasangan yang akan mengarungi biduk rumah tangga.

Dari film ini kita bisa lihat bahwa kehidupan Pak Habibie dan Bu Ainun kembali membuktikan sebuah ungkapan terkenal bahwa di balik pria (suami) yang hebat, ada wanita (istri) yang hebat. Sebuah film yang wajib ditonton dan diteladani kisahnya.