Saya Sudah Dagang Layangan Sejak SMP

Ketika memberikan kuliah umum atau ceramah motivasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai tempat, saya selalu menyesuaikan materi kewirausahaan yang saya berikan. Misalnya ketika berhadapan dengan anak-anak muda ini, saya tidak melulu berbicara teori berwirausaha, tetapi juga langsung mencontohkan usaha apa yang bisa mereka kerjakan.

Bagi saya, memaparkan teori dan praktek tidaklah sulit. Karena saya punya dua-duanya, baik teori maupun pengalaman, termasuk mengenai bisnis apa yang bisa dilakukan anak-anak muda itu jika kemudian jadi tertarik berwirausaha.

Dalam setiap kuliah umum dan ceramah motivasi berwirausaha, misalnya saat di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya dan Universitas Galuh Ciamis, 28 dan 29 Mei 2012 lalu, saya mencontohkan pengalaman usaha saya saat seusia mereka. Kebetulan dulu saat sekolah dan kuliah saya memiliki pengalaman berwirausaha.

Saya sudah mulai berbisnis, lebih tepatnya belajar berbisnis, sejak SMP. Meski orang tua saya termasuk mampu, namun itu tak membuat saya bersantai-santai saja menikmati hidup. Saya memutuskan untuk belajar berbisnis sejak belia. Saat itu, saya berbisnis layang-layang dan benang gelasan. Pelanggannya tentu teman-teman sekolah dan teman sepermainan. Meski hasilnya sangat kecil, namun pelajaran berbisnis dan pembentukan karakter wirausahanya tentu nilainya tidak terhingga.

Saat menginjak SMA dan kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), kegemaran berbisnis saya makin menjadi. Kesibukan kuliah tidak meredam semangat berwirausaha saya. Saat itu saya juga masih berbisnis kecil-kecilan misalnya membuat kaos dengan sablon anti perang, karena saat itu ramai perang Vietnam. Saya juga membuat kaos dan tas dengan sablon ITB. Baik ITB nama almamater, maupun ITB plesetan yang artinya: “Idaman Tjewek Bandung”. Alhamdulillah, bisnis kecil-kecilan ini lumayan sukses sehingga memacu saya untuk terus belajar dan menekuni dunia wirausaha.

Lalu, masih saat kuliah, saya juga coba meningkatkan bisnis dari yang kecil-kecil menjadi lebih besar mulai dari mencoba ikut tender meja gambar kampus, sampai jadi kontraktor. Ada pengalaman yang lumayan menggelitik saat saya dan teman mau jadi kontraktor. Karena harus ada perusahaannya, saya dan dia kemudian membuat saja perusahaan asal-asalan. Lalu kami berdua mendiskusikan siapa yang akan menjabat apa.

“Direktur sama manajer besar mana jabatannya?” tanya saya pada kawan saya.

“Ya, yang besar direktur,” jawab dia.

Lalu saya bilang: “Oke kalau begitu saya saja yang jadi direkturnya.”

Singkat cerita, saya mulai berbisnis dari yang kecil-kecil sampai akhirnya dikenal sebagai pengusaha besar. Saya belajar bisnis dari yang kecil dulu lalu bertahap sampai besar. Ini meniru pengalaman ayah saya, Achmad Bakrie.

Ayah saya juga tidak tiba-tiba mendirikan perusahaan besar yang kemudian dikenal sebagai Grup Bakrie. Ayah saya memulai dari bawah, memulai usaha dari yang kecil-kecil dulu. Ayah saya memulai dengan berjualan roti. Ayah juga pernah menjadi agen penyalur obat ke apotik, dan bisnis-bisnis kecil lainnya sampai berhasil membangun perusahaan besar.

Hal itulah yang saya pesankan kepada anak-anak muda yang menghadiri kuliah umum dan ceramah saya bahwa semua orang bisa memulai usaha. Siapa saja bisa jika memulai dari yang kecil-kecil.

Apalagi saya lihat di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya itu ada industri yang prospeknya bagus yaitu industri kreatif. Industri kreatif adalah salah satu industri yang masa depannya cerah selain industri makanan, energi, dan air.

Siapa yang tak kenal dengan Rajapolah dengan berbagai kerajinannya. Kerajinan itu tidak hanya dikenal di nasional tapi juga sudah diekspor sampai di manca negara. Saat mengunjungi pengrajin di kawasan ini, kepada mereka saya katakan saya pernah menemui topi pandan buatan mereka dijual di Spanyol. Potensi ini tentu bisa jadi peluang untuk dimanfaatkan.

Saat saya mengunjungi Kantor Koran Kabar Priangan saya diberitahu bahwa redaksi sudah mengumpulkan sekitar 20 kisah sukses orang setempat. Bahkan ada yang dulunya tukang becak bisa menjadi milyarder, dan banyak kisah sukses lainnya. Rencananya itu akan dijadikan buku, dan saya diminta menulis kata pengantarnya.

Saya yakin mereka juga memulai dari yang kecil-kecil dulu. Ini juga bisa menjadi contoh anak-anak muda bahwa semua bisa berwirausaha. Semua bisa sukses. Jangan takut, walau memulai dari yang kecil-kecil dulu. Yang penting terus berusaha dan optimis bahwa suatu hari usaha Anda akan menjadi besar. Optimisme itu penting. Sebab orang yang pesimistik belum apa-apa sudah kalah separuh, sementara orang optimistis sudah menang separuh duluan.

The Future of Indonesia: Implications for Australia-Indonesia Relations

Public Lecture in University of Western Australia, Perth, 23 May 2012.

Honorable guests

Ladies and Gentlemen:

Let me begin by expressing my sincere appreciation to this great institution, the University of Western Australia, particularly the School of Social and Cultural Studies, for inviting me to give a lecture here today.

To Profesor Krishna Sen, thank you so much for such a nice introduction. Profesor Khrisna Sen has studied Indonesian culture for more than 20 years, and she is now still very young, smart, and has promised me in person to write more about Indonesia in the coming years.

I would like also to especially mention my deepest appreciation to Professor Samina Yasmeen. Two or three months ago she wrote me a very persuasive invitation letter — so persuasive that I could not possibly refuse.

It is a great honor for me to come here to meet all of you and to know Professor Yasmeen in person. I read several days ago from the internet that Professor Yasmeen was inducted into the Western Australia Women’s Hall of Fame for her positive contributions to the society, particularly on important issues such as human rights, minority rights and foreign policy in the Indian Ocean region. I congratulate her for such high achievements and contributions.

I have come to Australia countless times. But still, I cherish every single opportunity for me to come “down-under”, to feel the feeling being in the south, particularly when the wheather is very nice like today.

This afternoon I had lunch with UWA chancellor, Dr. Michael Chaney, and other top faculty members. They were all so kind to me and my delegation and, after our lunch, showed us around and enjoyed this beautiful campus, including a short visit to the Center for Muslim States and Societies. I thank all of them for their warmth and friendship.

Now, to begin this lecture, let me state the obvious: Indonesia and Australia are two proud countries who are destined to be neighbors and to be good friends. Of course, like all good friends, we have our periodic ups and downs, depending on the circumstances and the issues of the day. But overall, it has been a strong and deep friendship, with mutual respect and mutual benefits for our two beloved countries.

Before I give my views on the relationship of our two countries in this rapidly globalized world, and how to improve it further in the coming years, let me explain to you the Indonesian story in general, the journey of my country so far in fulfilling its destiny to become a strong, free, tolerant and friendly country.

Distinguished guests

Ladies and Gentlemen:

As you all know, Indonesia has been a democracy now for more than a decade. Democratic transitions are always difficult, especially for a large and plural society like Indonesia. But I think we have passed the most difficult tests, when the country was on the verge of breaking apart in the early years of the transition, or when the most severe effects of the 1998 financial crisis brought the country’s economy almost to its knees.

That was a period of growing pains, of maturing as a nation when the challenges were at their greatest. Fortunately, because of the resilience of our people, we held on and survived. The trials and tribulations of that period made us stronger. Today, we are now a proud democratic nation, the third biggest in the world, moving forward to realize our dreams and fulfill our destiny.

Among the biggest gains we have made so far is the growing consensus among our people that we are not turning back. Freedom, democracy, accountable government, protection of basic rights: these are now part of the Indonesian grand narrative which we are going to protect and transfer to the next generation and beyond.

Furthermore, we have managed to maintain our moderation and our religious tolerance while expanding the sphere of free discussion. Many of you here know very well that this has not been easy. From time to time setbacks and terrible things have occurred, like the bombings in Bali and the bloody conflicts in Ambon and Poso. It was a test of our commitments and to our political will to ensure social and religious harmony, so dearly held by our constitution and so deeply embedded in our philosophy of Bhineka Tunggal Ika.

But overall, given the complexity of our society, we have dealt with the problem quite well, while learning to exercise power in proportion to our need.

We have also demonstrated to ourselves and to the world that Islam is compatible with democracy and modernization. The Islamic parties have played a major role in renewing our commitment to social justice. These parties, supported fully by Islamic social organizations, have also contributed in our effort to stop terrorism and to minimize the influence of religious demagogues and religious fanatics.

The latest test of our democracy and the rule of law came unexpectedly from a different corner: Lady Gaga and her performance in our country. The American singer was scheduled to perform in Jakarta this week, but one far-right Islamic faction, who has been widely know so far to fight for religious intolerance, threatened to stop it, by force if necessary.

Thus began a week-long national debates and sharp controversies about Lady Gaga, her performances, and the proper public style in public.

The controversies seemed to be trivial and superficial. But I think it is a latest challenge to our commitment to freedom and democracy.

Now, I am not a fan of Lady Gaga. Perhaps, I am too old for that (maybe one of my children is a fan of her). But we have to make one thing very clear: in a democracy, we should never let an individual or a group of people threaten anybody else. Public debates on life style issues and public performances are good, and even healthy in a democracy. But no threat should be imposed on anybody, including Lady Gaga herself.

In such a case, we should let the policy and other institutions of the law to deal with the matter. They are the ones who should secure or permit the performaces, or any other public activities for that matter, based on their judgements and authority.

The good thing so far, I am proud to tell you, is that the latest news I got from Jakarta last night was that the authority seemed to be able to handle the matter well. I don’t know the details yet, but there seemed to be a comprise about this, and the debates therefore are fading away.

Again, it seems to be a small issue, but democracy needs to be tested from time to time so its foundations are stronger and deeper. And I am glad that that is precisely what has been happening in Indonesia.

Another area in which Indonesia has also exceeded expectation has been the empowerment and revival of the regions, particularly in Sumatra, Kalimantan and in the major islands of Eastern Indonesia. Decentralization of power has resulted in a silent revolution: directly-elected governors, mayors and local representatives are now playing a more important role in shaping the policies and delivering basic services to people around the country.

Successful local leadership in the regions is one of the key factors that explains why the rates of economic growth in regions outside Java have been consistently higher than those of the major areas in Java. In the coming years this will result in a big transformation in which the country’s engines of growth and progress will no longer be primarily in Jakarta, Surabaya or Bandung, but also in Balikpapan, Palembang, Makassar, and Jayapura. The future lies in our thriving regions, and Indonesia will become a stronger country because of it.

This progressive trend in the regions is also the reason why, while we were transforming our politics, our national economy grew surprisingly strongly, over 6 percent per year, joining the ranks of other high-achievers in the developing world like China, India, Chile and Brazil. In the depth of the 1998-1999 financial crises, and again in the 2008 mini-crisis, it was in fact our regional economies that saved us, helped by the booms in the world’s commodities and energy sectors.

In about one decade, if this trend continues, Indonesia will join the ranks of the so-called upper middle-income countries, which means that our middle class will become significantly greater in number and more dispersed in geographic location, which in turn should help strengthen the foundations of our democracy.

Now, by painting this rosy scenario, I am not saying that our journey will be easy. With all its progress, the Indonesian economy has not realized its full potential due to a range of structural problems, many of which are related to our infrastructure.

If you go to Jakarta, after you have arrived at Sukarno-Hatta Airport in Cengkareng and you are in a car heading to your hotel, it is easy to understand this problem. The airport is aging, with a rapidly increasing number of flights, even more rapid than Changi Airport in Singapore. The traffic jam is just terrible as you make your way along the only toll road, which was built more than 20 years ago. This toll road is the only freeway passing through the heart of Jakarta. There have been many plans to improve Jakarta’s traffic and build new freeways. But so far, we have not been very successful in catching up with the city’s rapid growth.

This problem happens not only in Jakarta, but in fact in many of our major cities, including in Bali, one of our island paradise which I know is very dear to many people in Australia.

I am not talking only about roads and freeways, but also, sadly, about many other public facilities, like power plants, ports and airports, public hospitals, and the like. It has created bottlenecks in many areas which are slowing us down.

The irony is that such bottlenecks have occurred not because we could not afford to pay for better infrastructure. This year we will spend more than 25 billion US dollars for fuel and other misdirected subsidies, the biggest expenditure of the government, even more than our expenditure for education. This is a terrible waste of limited resources. And yet we do it every year and there seems to be no alternative in sight. This, I think, is among the greatest public policy problems that we will have to deal with in the coming years.

If we can solve the subsidy and the infrastructure problems, and if we can also push for breakthroughs in poverty alleviation programs and create a more healthy business environment for our millions of small scale enterprises, I am sure Indonesia will move even faster.

We have to do all this while keeping the management of our macro-economy prudent and keep improving our investment climate.

In short, by dealing directly with the problems we are facing with better policies, I am sure it will be possible for Indonesia to speed up its rate of growth, increasing to 8 to 9 percent per year, or even better.

Other pressing issues that we have to face are related to the rule of law and the institutions of justice. The weakness of these institutions is the reason why we seem to be unable to fight corruption significantly. The establishment of the KPK (the Corruption Eradication Commission) is a move in the right direction. But this independent body can never do it alone.

Without reforming our formal institutions of law and justice, and without reforming the way we govern the economy, I fear that we are fighting corruption only in the most superficial way.

There are also some important problems regarding the excessive fragmentation in our parliament and the weakness of our politicians. I am the Chairman of the Golkar Party, but I have to be frank with you that, in most opinion surveys released in Jakarta lately, the numbers have hit new lows in regard to trust in government and political institutions in general.

So, we have to find a realistic solution to this problem, otherwise the public will become increasingly skeptical. Skepticism in politics might be quite healthy in a democratic society. But beyond a certain degree, it will become dangerous, because it will erode the legitimacy of democracy itself.

There are many other problems in the future, but let me mention just another one, which is related to the stability of our regions and the integrity of our country. We have basically solved the problem of peace in Aceh — and Aceh now, even after the tsunami several years ago, is a thriving place, with a working local democracy. It is not yet perfect, but it is working.

After Aceh, we are now dealing with an apparently growing separatist movement in Papua. We have to deal with this problem with care, sympathy and sincerity.

Let me say it clearly in no uncertain terms: for us, the breaking apart of Indonesia is not an option. Abraham Lincoln, the American giant in late 19th century, once said, “a house divided against itself cannot stand.” Lincoln was willing to compromise and offered his hand in friendship. But he set up a certain limit, beyond which nothing was acceptable if the unity of his country was threatened.

In Indonesia, we also believe in this principle. The solution to Papua is not political independence, but peace, rule of law, respect, moderation and, above all, social welfare and broad-based economic development. Concerning the latter, we have to acknowledge that while other regions in our country are moving fast, some significant parts of Papua are being left behind, especially in the Jayawijaya mountain region where about 60 percent of the local people live.

The coastal areas of Papua are basically improving quite rapidly, but the region in the mountains, because of its extreme isolation, suffers greatly from what economists call a land-locked problem. They are trapped in the mountain, without easy access to outside areas. We have to acknowledge this problem and break up the isolation as far as possible.

I had a long personal experience dealing with Papua, when I was the coordination minister for social welfare from 2005 to 2009. Our programs then dealt directly with the issue of social welfare in the mountain region. We brought hundreds of doctors, agricultural tools and experts, teachers and schools, communication tools, solar panels for electricity, clean water, and mach more.

The local people loved it and asked the central government to do much more. Quite a significant number of armed separatists literally handed their weapons to me personally. While we were implementing our programs from 2005 to 2009, there were no single incidents of protests, or conflicts of any kind. From this personal experience, I learned an important lesson that if we truly and sincerely fight for their welfare, the people of Papua are very friendly and peaceful.

So, if we can manage the issue of Papua well, and truly develop the area with dignity and sympathy, there is no question in my mind that 10 years from now Papua will become one of the brighter stars in eastern Indonesia.

Honorable guests

Ladies and Gentlemen:

Now, all of these developments and progress in Indonesia is not a threat to our neighbors, including Australia. On the contrary, if my country becomes stronger, more modern, more stable and more prosperous, it will also become more open, friendly and responsible force in the region.

By geographic location, Indonesia is a bridge between Asia and Austrialia. The great Indian Ocean does not devide us, it actually united us in a common interests, in a shared future and a shared destiny.

Yesterday in Canberra I met with many politicians and leaders, including the acting Prime Minister,leader of opposition, the foreign ministers, as well as labor and liberal leaders in the parliament. To my delegation delight, practically all of them emphasized that Indonesia was Australia’s most important partner and friend.

We certaintly share and believe in the same thing: for us, Australia is not a country down-under. It is our family of close friends, a society that we love and respect.

Of course, as I said before, like close friends everywhere, we have our ups and downs. But I am glad we have passed the most difficult period more than a decade ago when we were starting our process of democratization and the sad event in East Timor occurred. We are very sorry for the victims on both sides. Fortunately we have moved on, and Indonesia-East Timor relations now are very fruitful and friendly. In fact, when I went to Dili last years, Ramos Horta and other leaders there were very warm and embracing. Last week our president was in Dili for the 10th commemoration of East Timor independence. It was a kind of symbol that both sides were moving on and were building stronger relations to face the future.

After East Timor, there have been issues and problems, but I think we have managed them very well together. In fact, at the height of the problems of terrorism some years ago, when many Australians were also became victims, the Indonesia-Australia cooperation, particularly in security and police cooperation, was a model for the world. We managed to work together very well, and the results were great: Indonesia was able to detain most of the terrorists and their networks and hence secure our country from fear of religious terrorism.

Other issues like the detention of Ms. Corby or about the boat people are important, but I think we are on the right tract so far by using our common sense, common humanity and legal institutions. Perhaps, there will be more issues in the near future but I am sure our friendship will be even stronger and more fruitful.

One particular development that for me is very positive is about education and the young people. More and more students from Indonesia are choosing Australia as a country of destination to study for higher education. Currently, there are at least 16.000 Indonesian who are studying in Australian universities, and I am sure your great university, the University of Western Australia, is one the best choices for them.

Education is the key to our future in these rapidly globalized world. Technical and academic knowledge are very important. But common understanding and knowing each other are also very crucial for the young people and for our future leaders. So, after several years in Australia, I am sure the young people and the students from our country are equipped well not only as intellectuals, thinkers, professionals, but also as productive members of the global world, who are able to understand and symphatize with others, particulary the Australian society.

So, let me close this lecture by expressing once again my appreciation to all of you, and especially to Profesor Yasmin and others at the Center for Muslim States and Societies, the Faculty of Arts and the whole people at the UWA who help made this lecture possible.

Thank you and best regards to all of you.

Saya Gagal Berbisnis, Ayah Malah Senang

Orang yang paling banyak memberikan ilmu kepada saya, terutama soal berbisnis adalah ayah saya. Jika saya bercerita tentang pengalaman hidup saya dan pengalaman membangun bisnis, nama ayah saya tidak akan pernah absen muncul di sana. Cerita tentang ayah saya ini selalu mucul saat saya memberikan kuliah umum kewirausahaan di universitas, atau saat memberikan ceramah motivasi di sekolah-sekolah.

Saya baru saja pulang dari safari ke Cilacap, Banyumas, dan Purwokerto. Seperti biasa saya mampir ke SMA dan Universitas, yaitu ke SMAN 1 Cilacap, SMAN 2 Purwokerto dan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Di sana saya memberikan cerita mengenai bagaimana saya berbisnis dan belajar bisnis dari ayah saya.

Kepada mereka saya mengatakan saya memang tidak memulai bisnis dari bawah. Sebab, saya adalah generasi kedua di keluarga Bakrie. Sebelum saya, ayah saya Achmad Bakrie dan saudaranya lah yang mendirikan Kelompok Usaha Bakrie. Kalau boleh dikatakan, saya memulai bisnis dari tengah.

Namun, ayah saya memulai bisnis ini dari bawah. Benar-benar dari nol. Ayah saya bukan anak orang kaya, dia hanya anak seorang petani di Lampung. Ayah saya juga tidak beruntung untuk menikmati pendidikan tinggi. Beliau hanya lulusan Sekolah Rakyat.

Ayah saya memulai usaha dengan berdagang roti. Kemudian, dia juga sempat menjual obat dari perusahaan farmasi untuk disalurkan ke apotik. Banyak usaha yang ditekuni ayah saya. Beliau pernah dagang mainan anak-anak, tekstil, dan lain sebagainya. Karena ketekunannya itu, kemudian ayah saya bisa membangun bisnis sampai memiliki perusahaan sendiri.

Meski pendidikan formalnya tidak tinggi, bukan berarti ayah saya tidak pernah belajar. Beliau rajin belajar dan suka membaca. Bahkan, ayah saya menguasai Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, juga Belanda, dengan fasih. Beliau juga menguasai sejarah Indonesia, Prancis, dan juga membaca kisah-kisah sukses tokoh besar. Ini yang membuat wawasannya luas, dan cerdas dalam berbisnis.

Karena itu, kepada para siswa dan para mahasiswa saya selalu katakan, jika ayah saya yang lulusan sekolah dasar saja bisa, maka seharusnya mereka juga bisa. Dengan pendidikan yang lebih baik, harusnya mereka juga bisa sukses, bahkan lebih hebat dari ayah saya.

Saat pindah ke Jakarta, ayah saya merintis semuanya dari bawah. Keluarga kami bahkan tidak langsung memiliki rumah. Kami mulai dari mengontrak rumah sampai punya rumah sendiri. Cerita ini bisa kalian baca di novel “Anak Sejuta Bintang” yang menceritakan masa kecil saya.

Pelajaran yang paling saya ingat dari ayah saya adalah mengenai cara menghadapi kegagalan. Pada suatu hari saya berkata kepada ayah saya:

“Pak saya mau ngomong, tapi jangan bilang Ibu, ya.”

“Kenapa? Kamu buat malu keluarga? Kamu buntingin anak orang?” kata Beliau.

“Bukan, Pak. Saya gagal berbisnis,” kata saya.

Ayah saya malah tertawa dan mengatakan dia senang. Saya heran, kok anaknya gagal berbisnis, dia malah senang. Rupanya Beliau punya alasan tersendiri. Bagi Beliau, kegagalan itu adalah pelajaran berharga dalam berbisnis.

“Saya senang kamu gagal, karena orang yang tidak pernah gagal, tidak akan pernah berhasil,” ujarnya kala itu, yang terus saya ingat sampai sekarang.

Saya juga selalu ingat nasehat ayah saya yang lain yaitu: “Jangan pernah berdiri di tempat yang gelap. Karena di sana, sahabatmu yang paling setia, yaitu bayangan, pun akan meninggalkanmu”. Kalau bayangan saja pergi, apalagi kawan.

Ini mengingatkan kita agar jangan terlalu lama terpuruk dengan kegagalan. Kita harus segera bangkit dan memulai lagi lembaran baru untuk sukses. Pelajaran ayah saya ini begitu berguna ketika saya terpuruk di tahun 1998. Saat itu, perusahaan yang dibangun ayah saya nyaris habis di tangan saya. Ibu saya sangat sedih saat itu menyaksikan keadaan kami.

Namun karena pantang menyerah, maka saya dan adik-adik saya bisa membangun kembali pelan-pelan, bahkan menjadi lebih besar dari sebelumnya. Jika saat itu saya tidak berani menghadapi kegagalan dan terus terpuruk, maka tidak akan pernah saya bisa bangkit seperti saat ini.

Dalam berbisnis, ayah saya mendidik saya seolah saya memulai bisnis dari nol. Ayah saya juga mengajari saya bagaimana menghargai uang. Ini penting agar kita tidak terjebak dalam hidup boros dan menghamburkan uang yang susah payah kita dapatkan.

Saya ingat sekali, dulu saya pernah meminjam uang Rp16 juta kepada ayah saya untuk memulai usaha. Lalu ayah saya memberikan saya uang tunai dalam karung. Saya heran mengapa caranya seperti ini. Saya sampai susah membawanya. Rupanya ini pelajaran berharga dari Beliau. Saat saya tanya alasannya, Beliau menjawab:

“Itu agar kamu tahu sebanyak apa uang Rp16 juta itu, agar kamu berhati-hati menggunakannya,” jawabnya.

Hal ini membekas sekali di benak saya. Hal ini juga menginspirasi saya dalam mendidik anak-anak saya. Meski keluarga mampu, saya tidak begitu saja memberikan uang atau fasilitas kepada anak-anak saya. Saya masih ingat, dulu anak pertama saya Anindya Bakrie, saat kuliah harus naik sepeda dulu sebelum saya nilai layak mendapatkan sebuah mobil.

Namun bukan berarti kami harus pelit. Menghargai uang bukan berarti pelit, namun agar menggunakannya secara tepat. Bahkan ayah saya juga mengajarkan agar uang yang didapat bisa dinikmati banyak orang. Seperti pesan Beliau yang jadi motto perusahaan kami: “Setiap rupiah yang dihasilkan Bakrie, harus bermanfaat bagi orang banyak,”.

Banyak lagi pelajaran-pelajaran dari ayah saya yang sangat panjang jika diceritakan satu persatu. Tak hanya usaha, atau bisnis, ayah saya juga mengajarkan kepada saya dan keluarga kami untuk mencintai negeri ini. Beliau selalu berpesan untuk terus mencintai Indonesia. Sesulit apapun keadaannya, kita harus selalu cinta pada Indonesia. Beliau mengingatkan, kita menghirup udara Indonesia, kita memakan makanan Indonesia, kita minum air Indonesia, karena itu kita tidak boleh meninggalkan Indonesia.

Kecintaan pada Indonesia ini juga tertanam di sanubari saya, dan menjadi bekal saat saya dipercaya berada di pemerintahan dulu, termasuk juga saat ini saat memimpin Partai Golkar. Karena itulah, saat ulang tahun ke-65 lalu, saya mengatakan akan mengabdikan sisa usia saya untuk negeri tercinta ini.

Itulah sepenggal kisah kecil dari pelajaran yang diberikan ayah saya, Achmad Bakrie, pendiri kelompok usaha Bakrie yang tahun ini berusia 70 tahun. Jika orang menilai saya sukses, lalu bertanya kepada saya di mana saya belajar, maka dengan tegas saya akan menjawabnya: saya belajar dari ayah saya.

Bagi yang ingin membaca buku mengenai ayah saya Achmad Bakrie bisa download di bawah ini

banner_ebook

Tantangan Saya untuk Anak SMK

Pada setiap rangkaian safari saya ke daerah, saya selalu menyempatkan memberikan kuliah umum kepada mahasiswa, atau ceramah motivasi pada para siswa sekolah menengah atas di daerah setempat. Dalam safari ke Sumedang dan Subang, Jawa Barat, 11-12 April 2012, saya juga menyempatkan melakukannya.

Kalau biasanya saya memberikan ceramah di SMU, kali ini yang jadi tuan rumah adalah SMK. Yang saya singgahi adalah SMK Bina Taruna, Jalancagak, Kabupaten Subang. Ini adalah sekolah kejuruan yang berada di kawasan perkebunan teh dan memiliki tiga program keahlian: Teknik Otomotif serta Teknik Komputer dan Jaringan.

Seperti halnya di tempat-tempat sebelumnya, saya memberikan ceramah motivasi untuk mereka agar pantang menyerah dan sukses dalam hidup. Tips berwirausaha secara umum dan pengalaman saya selama ini juga saya berikan. Sebagian besar sudah saya tulis di blog ini.

Intinya yang saya tekankan adalah bahwa dalam memulai usaha itu tidak harus memiliki uang atau modal yang besar. Ini penting, sebab sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa berwirausaha harus dimulai dengan uang, sehingga banyak yang tidak berani memulai berbisnis karena merasa tidak punya modal.

Padahal tidak begitu, karena yang dibutuhkan adalah ide. Ide yang kreatif dan inovatif lah yang menentukan sukses tidaknya sebuah usaha. Kalau kita punya ide kreatif, tawarkan pada pengusaha atau orang yang memiliki modal, kerja samakan dengannya untuk pembiayaannya, lalu negosiasikan untuk berbagi keuntungan. Tak hanya teori, saya juga memberikan contoh kongkrit dengan pengalaman saya.

Namun dari komentar kebanyakan yang mendengar, termasuk yang muncul di blog dan media sosial saya selama ini, rata-rata mereka bilang, “Bapak sih enak punya jaringan banyak jadi gampang dapat investor atau orang yang mau memodali atau meminjami uang.”

Karena itu, saat di SMK Bina Taruna saya menantang mereka. Saya minta mereka menelorkan ide yang bagus sesuai keahlian mereka. Saya minta mereka membuat prototipe produk tertentu, misal, kendaraan bermotor atau piranti lunak (software) komputer. Jika bagus, saya siap membiayai, dari mulai riset, perancangan, pembangunan atau pembuatan, dan sebagainya.

Saya katakan pula, jika SMK Negeri 2 Solo, Jawa Tengah, bisa membuat prototipe mobil yang diberi nama Esemka Rajawali, tentu SMK Bina Taruna harusnya juga bisa. Tidak harus mobil, memang. Barangkali bisa membikin prototipe, misal, sepeda motor, mesin traktor, atau aplikasi komputer, dan sebagainya. Prinsipnya, kreatif dan inovatif. Beda dengan yang lain.

Sayangnya, saat saya melontarkan tantangan itu, belum ada siswa yang langsung berani menerimanya. Mungkin malu atau masih pikir-pikir. Tapi, saya bilang, kalau ada, silakan kirim surat yang bertuliskan ”saya menerima tantangan Bapak”. Saya tunggu suratnya hingga 21 hari, dihitung sejak hari itu. Itu saja dulu. Kalau sudah begitu, baru dikirim proposal proyek prototipenya.

Saya juga telah meminta Kepala Sekolah, Ibu Neneng Tresnawangsih, untuk memfasilitasi jika ada siswa-siswinya yang memiliki ide-ide kreatif-inovatif dan berani menerima tantangan saya itu. Boleh secara perorangan atau pun kelompok.

Selama ini di blog atau media sosial juga banyak yang menawarkan ide usaha dan minta modal. Namun, rata-rata idenya tidak atau belum menarik. Tidak ada bedanya dengan usaha-usaha yang sudah ada.

Jadi mari kita tunggu saja, apakah siswa-siswa SMK itu berhasil menjawab tantangan saya. Saya hakulyakin banyak anak muda Indonesia punya ide besar dan berpotensi jadi pengusaha besar.

Melestarikan Nilai-nilai Budaya Jawa

Disampaikan Pada Acara Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestarian Budaya Jawa. Surakarta, 8 April 2012.

Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati,

Para sesepuh, Para tokoh, Para pemerhati dan pelaku budaya Jawa,

Dewan Juri Penganugerahan Pelestari Budaya Jawa,

Para undangan, Rekan-rekan insan pers, dan Hadirin yang saya banggakan.

Memulai sambutan ini, perkenankan saya mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan karunia-Nya, sehingga kita dapat menghadiri acara “Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestari Budaya Jawa” dalam keadaan sehat wal afiat.

Pada kesempatan ini, saya sungguh merasa bangga dan sangat berbahagia berkumpul bersama para pelestari budaya jawa. Karena, acara ini pada hakikatnya, bukan hanya sekedar pemberian penghargaan, tetapi merupakan momentum penyadaran akan pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya bangsa umumnya dan budaya Jawa khususnya, sekaligus sebagai wujud komitmen kita semua untuk merawat dan menjadikan nilai-nilai budaya sebagai pedoman dalam kehidupan kita bersama.

Acara ini sangat penting, karena kita adakan di tengah sebagian masyarakat mulai memandang budaya bangsa lain lebih menarik, lebih hebat dari budaya kita sendiri. Bahkan, ada sekelompok orang yang sudah menganggap budaya lokal sudah tidak relevan dengan kemajuan globalisasi. Mereka bangga dengan budaya luar dan menganggap remeh budaya sendiri. Mereka menganggap budayanya sendiri tidak relevan dengan kehidupan modern.

Memudarnya kecintaan terhadap budaya lokal menjadi tantangan bagi kita untuk mencari cara bagaimana mengembalikan rasa hormat kepada budaya sendiri. Sejarah membuktikan, kemajuan suatu bangsa dapat terjadi justru apabila suatu bangsa menghargai kebudayaannya sendiri. Mari kita lihat bagaimana China bisa maju, tanpa kehilangan identitas budayanya, dan Jepang bisa melaju karena melandasi kehidupan modern dengan nilai dan karakter kebudayaannya.

Para Pelestari Budaya dan Hadirin yang saya hormati.

Budaya kita, jika dikaji lebih dalam, sesungguhnya mampu menjadi pendorong kemajuan. Bila Rhonda Byrne dalam bukunya The Secret mengatakan, bahwa sumber utama kesuksesan adalah mensyukuri apa yang telah ada, karena alam akan memantulkan kembali kebahagiaan, maka orang Jawa sudah lama memiliki moto “nrimo pawehing pandum”, artinya menerima apa yang diberi Tuhan. Jika orang lain mengatakan, bahwa sumber kesuksesan adalah terus berusaha, mencoba, dan mencoba, maka orang Jawa telah lama memiliki moto “tatag-tutug”, yang maknanya siapa yang yakin dan terus mencoba, maka dia akan sampai. Oleh karena itu, saya tegas menolak jika ada teori perubahan sosial yang mengatakan, bahwa kebudayaan adalah penghambat kemajuan. Yang benar adalah bahwa kebudayaan, jika dimaknai dengan benar akan menjadi pendorong kemajuan.

Sejak lama saya sudah mengagumi budaya Jawa, yang menurut saya merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi. Budaya Jawa yang dipegang teguh telah menciptakan sikap, kepribadian, dan gaya, serta perilaku orang Jawa menjadi sosok yang simpatik, halus, santun, toleran, fleksibel, dan menyukai keharmonisan. Sosok yang cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia yang bersifat kekeluargaan dan kegotong-royongan.

Bahkan, saya tidak hanya mengagumi budaya Jawa, tapi saya juga mengagumi gadis Jawa, saya tertarik pada gadis Jawa. Ini terbukti, karena isteri saya adalah putri Jawa dari daerah Pati, Jawa Tengah. Padahal saat saya masih lajang, banyak lho gadis-gadis cantik yang mengejar saya, bukan cuma gadis-gadis, bahkan banyak orang tua yang kesengsem ingin menjadikan saya sebagai menantunya. Mungkin, karena saat itu saya sudah kelihatan punya tanda-tanda masa depannya akan cerah.

Walaupun banyak godaan, tapi cinta saya teguh dan tak tergoyahkan, hanya untuk seorang putri Jawa, dan alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah SWT, nawaitu saya dikabulkan dan saya dianugerahi seorang istri yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa dan menjadi pendamping setia saya dalam mengarungi kehidupan yang dengan segala suka duka dan pahit manisnya.

Para pelestari budaya Jawa serta hadirin yang saya hormati.

Mengapa nilai dan budaya Jawa menarik perhatian saya?. Bukan hanya karena Jawa adalah etnis terbesar di Republik ini, di mana secara demografis etnis Jawa berjumlah sangat besar, sekitar 43 % dari seluruh penduduk Indonesia. Tetapi yang lebih hebat dari itu, adalah kebesaran hati orang Jawa. Di negara lain, dengan jumlah penduduk yang dominan, etnis Jawa sesungguhnya dapat memaksakan negara ini berdiri atas dasar kesukuan, yaitu suku Jawa, seperti halnya terjadi di beberapa negara lain, yaitu Irlandia dengan suku Irish, Uzbekistan dengan suku dominan Uzbek, Azerbaijan dengan suku dominan Azeri, dan bahkan Arab Saudi yang berdiri di atas pilar Keluarga Saud atau Bani Saud.

Tetapi di Indonesia, bangsa kita berdiri justru atas prinsip persatuan dan kesatuan Indonesia yang menghargai kemajemukan, Bhinneka Tunggal Ika, dan yang memelopori kemajemukan itu sebagiannya justru berasal dari Jawa. Orang-orang Jawa juga berbesar hati merelakan “bahasa Jawa” tidak menjadi Bahasa Nasional, tetapi justru mendukung bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia berinduk pada rumpun bahasa Melayu.

Kebesaran hati orang Jawa ini, pasti ada sumbernya, yaitu pada nilai-nilai dan filosofi Budaya Jawa. Dalam pandangan saya, budaya Jawa memiliki nilai-nilai dan filosofi luhur, bila dijalankan secara konsisten dan konsekuen akan membawa begitu banyak manfaat dan kemajuan bagi bangsa.

Orang Jawa merupakan suku yang penyebarannya paling luas di seluruh Indonesia, bahkan melampaui batas teritorial bangsa, di Suriname misalnya, dan mampu hidup harmonis bersama anak bangsa lainnya. Mengapa orang Jawa bisa hidup harmonis bersama suku bangsa lain? Cara hidup yang mengedepankan harmoni, menjadikan orang Jawa dapat hidup berdampingan secara damai dan nyaman dengan suku bangsa lain. Dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas, orang Jawa berprinsip seperti wasiat Mangkunegoro I, yang dikenal dengan istilah Tribroto, yaitu selalu “rumongso melu handarbeni”, harus merasa ikut memiliki, wajib “melu hangrungkebi“, wajib ikut membela dengan ikhlas, dan “mulat sariro hangroso wani”, harus selalu mawas diri dan memiliki sifat berani membela kebenaran. Filosofi itulah, menjadikan orang Jawa mudah diterima semua pihak.

Filosofi orang Jawa dipelajari, bahkan dipakai oleh banyak orang di luar etnis Jawa. Tidak hanya dalam urusan kehidupan secara umum, tetapi juga dalam hal kepemimpinan. Sebelum lahir pakar kepemimpinan modern, masyarakat Jawa telah memiliki doktrin kepemimpinan sendiri, seperti tercantum dalam kitab Ramayana karangan Yosodipuro I yang hidup di Keraton Surakarta, abad ke-18 yang dikenal dengan istilah Hasto-Broto, yakni ciri kepemimpinan berdasarkan sifat-sifat alam, yaitu : Suryo, matahari yang menyebarkan energi. Condro, bulan, indah dan penuh keteduhan. Kartiko, bintang, menjadi penunjuk arah. Maruto, angin, adil terhadap yang dipimpin. Selain itu juga Dahono, api, memberikan reward and punishment. Angkoso, langit, berwawasan luas. Samudro, laut, menampung semua masalah; dan Bantolo, bumi, sabar, penuh pengertian dan mencukupi.

Selain itu, masih banyak lagi filosofi kepemimpinan Jawa yang hidup dan berkembang luas dalam masyarakat, di antaranya : “menang tanpo ngasorake”, yakni menang tanpa merendahkan, tanpa membuat hina yang dikalahkan. Filosofi ini penting dan sangat relevan di terapkan dalam ranah politik, agar kontestasi dan kompetisi politik tidak membawa dampak negatif berupa rusaknya hubungan baik dan terganggunya keharmonisan antar-pelaku politik; tetapi dari kontestasi dan kompetisi politik akan menghasilkan rasa respek, tetap terjalinnya persahabatan di kalangan para politisi lintas partai dan kelompok. Dalam bahasa yang sering saya ungkapkan, kita menghindari intrik dan fitnah politik, dan secara sungguh-sungguh menjadikan ide dan gagasan sebagai instrumen politik, melalui perdebatan konseptual.

Nilai kepemimpinan lainnya, adalah “mikul dhuwur mendem jero”, yang berarti menjadi kewajiban untuk menjunjung tinggi pimpinan, menjaga kehormatan dan martabat pimpinan. Falsafah ini memberikan pesan bahwa menceritakan aib pimpinan sesungguhnya menceritakan aibnya sendiri. Falsafah ini sesuai dengan ajaran Islam yang melarang menceritakan aib orang lain, dan bagi mereka yang melakukannya, sama dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.

Falsafah kepemimpinan Jawa lainnya yang penting dan sangat relevan dengan situasi ke-kinian, adalah “ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh” , artinya, bahwa sebagai pemimpin, janganlah terlalu terheran-heran terhadap sesuatu yang baru, tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan, dan tidak boleh sombong sewaktu menjadi pemimpin. Budaya Jawa juga mengajarkan sikap kerendah-hatian, seperti mengemuka dalam adagium Jawa yang sangat populer dalam masyaraakat : “Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso O Ngrumangsani”, jangan cepat-cepat merasa bisa, merasa mampu, tetapi terlebih dahulu, belajarlah untuk bisa merasa.

Bahkan, ada filosofi kepemimpinan Jawa yang lain, yang kemudian lebih dipopulerkan oleh Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantoro, sebuah filosofi yang saya anggap sangat penting untuk diadposi dan diterapkan oleh pemimpin dewasa ini, adalah ”ing ngarso sung tulodho”, ”ing madyo mangun karso”, “tut wuri handayani”. ”Ing ngarso sung tulodho”, yaitu pemimpin harus mampu berdiri di depan untuk memberi tauladan lewat sikap dan perbuatannya. ”Ing madyo mangun karso”, berarti seorang pemimpin harus mampu berada di tengah-tengah bawahannya, terus memberi semangat dan motivasi agar bawahan dapat bekerja lebih baik dan lebih produktif, dan ”tut wuri handayani”, yaitu mendorong dan mendukung dari belakang kepada bawahannya, kepada staf dan kadernya, agar mereka berani tampil dan maju dengan penuh tanggung jawab.

Dengan berpedoman kepada nilai-nilai kepemimpinan Jawa tersebut, saya meyakini, tidak akan ada pemimpin yang “pinter nanging keblinger “ , yaitu pemimpin yang pintar tapi keblinger, salah besar atau salah jalan, atau pemimpin yang “lali marang asale”, pemimpin yang lupa dengan asal usulnya. Nilai-nilai budaya Jawa tersebut sangat relevan di tengah suasana kegaduhan politik nasional yang kerap terjadi dewasa ini. Saya yakin, bila nilai-nilai luhur tersebut kita terapkan, pasti tidak terjadi kegaduhan politik, bahkan sebaliknya budaya politik kita semakin bermartabat, karena semua pihak saling menghargai dan menghormati, menjaga kesantunan dan fatsun politik, serta lebih fungsional dan produktif.

Para tokoh pelestari budaya Jawa dan hadirin yang saya hormati.

Kekaguman saya pada nilai-nilai dan filosofi budaya Jawa tersebut, membuat saya terpanggil untuk ikut aktif mengambil kepeloporan dalam ikhtiar melestarikan dan internalisasi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Saya juga terpanggil untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang mengabdikan dirinya untuk melestarikan budaya Jawa, khususnya kesenian Jawa.

Saya meyakini, masih cukup banyak orang Jawa yang menekuni jalan hidupnya di bidang kebudayaan, di bidang kesenian. Mereka mengabdikan hidupnya untuk melestarikan budaya Jawa, mengembangkan kesenian Jawa, agar jangan sampai budaya Jawa “mati”, karena kematian budaya Jawa sesungguhnya adalah “kematian” seluruh orang Jawa, bahkan “kematian” bangsa Indonesia. Walaupun jalan hidup yang ditempuh tersebut adalah “jalan yang sunyi”, jalan yang jarang dilalui orang, karena tidak menarik, tidak populer, dan tidak mendatangkan uang yang banyak, namun mereka tetap melakoninya dengan penuh kesungguhan, karena rasa cintanya kepada budaya Jawa.

Keberpihakan dan kepedulian para pelestari budaya Jawa tersebut, sangat pantas mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang tinggi. Apabila sampai saat ini budaya Jawa masih hidup dan berdenyut di tengah-tengah masyarakat, apabila masih ada anak-anak muda bangsa aktif menekuni berbagai bidang kebudayaan dan kesenian Jawa, sesungguhnya hal itu hanya dapat terjadi, karena kerja para pelestari budaya Jawa. Untuk itu, sudah seharusnya, jasa dan pengabdian mereka diberikan penghargaan sebaik-baiknya.

Karena itu, saya merasa tergerak oleh dedikasi dan semangat yang pantang menyerah dari para pemerhati dan pelestari budaya Jawa, yang dengan segala cara tetap “nguri-nguri“ filosofi dan budaya Jawa, jangan sampai hilang ditelan modernisasi dan globalisasi. Saya ingat salah satu pesan para leluhur Jawa, yaitu : “ojo nganti wong Jowo ilang jawane kari jahile”, jangan sampai orang Jawa hilang kejawaannya, yang tinggal hanyalah kebodohan; karena tidak memahami filosofi Jawa. Jangan sampai kita kehilangan identitas, yang menyebabkan kita lupa siapa diri kita sebenarnya.

Untuk mewujudkan niat tersebut, saya membentuk sebuah Tim Dewan Juri untuk menilai aneka kesenian Jawa yang sangat populer dan merakyat. Setelah membahas secara intensif, Tim Dewan Juri menetapkan 5 (lima) Kesenian Rakyat yang sangat populer dalam masyarakat, yaitu Wayang Kulit, Ketoprak, Ludruk, Reog, dan Keris. Kelima kesenian inilah yang menjadi kategori pemilihan Tokoh Pelestari Budaya Jawa. Mungkin di lain waktu jenis kesenian rakyat ini bisa ditambahkan kategori lain, seperti Batik, Tembang, dan Sastra Jawa.

Selanjutnya, Tim Dewan Juri bekerja secara profesional, akurat, dan independen dan mencatat lebih 50 tokoh yang memiliki pengabdian yang tinggi dalam pengembangan dan pelestarian kesenian-kesenian tersebut. Kemudian Dewan Juri melakukan seleksi secara ketat, obyektif, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya terpilih 5 orang tokoh pelestari budaya Jawa untuk mendapatkan penghargaan yang diserahkan pada acara ini. Perlu saya kemukakan, bahwa penghargaan di bidang budaya ini melengkapi penghargaan BAKRIE AWARD yang telah saya berikan selama ini setiap tahun kepada para tokoh di bidang ilmu pengetahuan dan pengabdian masyaraka.

Para tokoh pelestari budaya Jawa serta hadirin yang saya hormati.

Secara kultural, seni budaya Jawa merupakan salah satu budaya tertua yang sangat berpengaruh. Seni budaya wayang, misalnya, telah menjadi seni rakyat yang menyebar di Indonesia. Bahkan, Wayang diakui oleh UNESCO menjadi “Warisan Budaya Dunia”. Selama ini seni wayang telah menjadi sarana edukasi yang sangat diminati rakyat. Melalui seni wayang, pesan luhur kebudayaan Jawa disampaikan oleh para “Dalang” yang dibungkus melalui guyonan-guyonan segar. Melalui wayang, nilai-nilai disampaikan tanpa kesan menggurui. Dengan demikian, wayang bukan sekedar tontonan, tetapi sarana untuk menyampaikan tuntunan.

Demikian juga dengan Keris, atau lebih luas adalah Senjata Pusaka. Keris bagi orang Jawa adalah simbol kewibawaan dan keagungan, bukan hanya personal tetapi juga komunal. Keris juga diyakini mempunyai kekuatan gaib dan keunggulan. Karena itu, di zaman Kerajaan Jawa masa lalu, ada simbol pusaka kerajaan, seperti Keris Nogo Sosro dan Sabuk Inten dan pusaka-pusaka lainnya. Sebagian orang Jawa bahkan percaya bahwa senjata menyatu bersama pemiliknya. Itulah yang menjelaskan berbagai peristiwa tentang Aryo Penangsang dan Ki Ageng Mangir. Sebagaimana sering dikisahkan dalam seni ketoprak, Aryo Penangsang terbunuh oleh Keris Setan Kober miliknya sendiri, dan Ki Ageng Mangir terbunuh setelah senjata pusaka Kyai Nogo Baruklinting disembunyikan oleh Retno Pembayun.

Selain itu, pada kesempatan ini diberikan juga penganugerahan kategori budaya Jawa lainnya, yaitu Ketoprak, Reog dan Ludruk. Berbeda dengan wayang yang sumber ceritanya adalah Kisah Ramayana dan Mahabarata, Ketoprak lebih sering mementaskan legenda dan sejarah Tanah Jawa. Melalui ketoprak, diajarkan pelajaran sejarah dan legenda yang hidup di masyarakat, sehingga masyarakat memahami sejarahnya sendiri. Sumber cerita diambilkan dari karya kesusasteraan dan cerita lisan yang berkembang dalam masyarakat luas.

Sedangkan Ludruk, berkembang di daerah Surabaya dan sekitarnya, masuk dalam bagian “sub kultur Arek”. Sumber cerita ludruk adalah fenomena masyarakat sehari-hari. Ludruk memotret fakta-fakta dalam masyarakat dengan menyisipkan pesan-pesan moral sekaligus kritik sosial. Melalui ludruk, rakyat diajak merenungkan kembali kehidupan sosial kita, apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai kita atau sudah bergeser. Ludruk juga menjadi alat perjuangan pada masa kemerdekaan. Kita mengenal Cak Durasim, tokoh Ludruk Organisatie (LO) yang melontarkan sindiran melalui kidungan yang sangat populer hingga dewasa ini : “pegupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro” (artinya : ikut Nippon tambah sengsara). Kidungan ini membangkitkan perlawanan masyarakat terhadap penjajah Jepang. Tokoh Ludruk ini akhirnya meringkuk dalam tahanan, sampai pada tahun 1944, Tuhan memanggilnya.

Yang agak berbeda adalah Reog Ponorogo. Reog lebih mirip sendratari, yaitu suatu pertunjukan tari yang mengisahkan sejarah akhir Majapahit. Kesenian reog beberapa tahun yang lalu sempat menghebohkan, karena negara tetangga juga menganggap reog sebagai kebudayaan mereka. Kita harus tegaskan, bahwa reog adalah kesenian otentik ponorogo, bagian dari kebudayaan nasional bangsa Indonesia.

Bapak, Ibu dan hadirin yang berbahagia.

Saya sendiri, telah lama belajar banyak tentang filosofi Jawa yang luhur dan budaya Jawa yang adiluhung. Saya beruntung karena tidak perlu jauh-jauh belajar, bisa berguru kapan saja, karena saya belajar dari istri saya, putri Jawa. Tetapi kalau hanya belajar dari istri saya saja, rasanya belum cukup. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar para sesepuh dan pinisepuh dapat memberikan piwulang, agar saya yang sekarang ini tengah mengemban amanat sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar dapat membawa Partai ini menjadi harapan bangsa Indonesia dan menjadi partai yang mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa, termasuk dalam upaya pelestarian budaya bangsa, khususnya budaya Jawa.

Melalui para sesepuh, saya mengetahui bahwa yang dimaksud dengan istilah “Jawa” sebenarnya telah bergeser ke atas, ke tingkat yang lebih tinggi, bukan sekedar bermakna etnis, tetapi sudah dimaknai sebagai sebuah ciri dan karakter yang luhur. Orang yang suka berderma disebut “Njowo” sebagai lawan dari pelit. Seorang anak yang patuh kepada orang tuanya disebut “Njowo”. Seorang kakak yang penyayang kepada adiknya dikatakan “Njowo marang adi’ne”. Dengan cara berfikir seperti itu, para sesepuh berkesimpulan bahwa menjadi “Wong Jowo” adalah takdir, tetapi menjadi “Njowo” adalah pilihan.

Terakhir, sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya menyampaikan pesan singkat tentang kondisi bangsa dan negara kita saat ini. Kondisi bangsa dan negara kita saat ini memang belum sampai ke tingkatan ideal seperti yang kita harapkan semua; belum seperti cita-cita para Pendiri Bangsa. Kita semua tahu, bahwa negara kita belum “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo”. Jangan sampai karena kecewa terhadap kondisi negara dan bangsa, kita justru ikut-ikutan merusaknya, karena itu tidak memperbaiki kondisi, bahkan tambah membuat kerusakan makin berat. Prinsipnya, adalah “Jika malam menjadi gelap, karena lampu padam, tidaklah penting kita mengutuk kegelapan, yang lebih penting adalah menyalakan lilin, agar suasana menjadi terang”.

Jika zaman ini dianggap zaman edan, janganlah kita ikut menjadi edan, ikut menjadi lupa dan terlena, kemudian merusaknya. Tetapi kita harus tetap selalu ingat dan waspada, seperti pesan dari Pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, yaitu : sa’ bejo-bejoning wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo, maksudnya : sebaik-baiknya orang yang lupa, masih lebih baik orang yang ingat dan waspada.

Para tokoh pelestari budaya dan Hadirin yang saya hormati.

Demikian sambutan yang dapat saya sampaikan. Saya ucapkan selamat kepada para tokoh pelestari budaya Jawa yang terpilih, semoga ke depan pengabdian Saudara-saudara makin meningkat bagi kemajuan bangsa. Amien…!

Sebagai hadiah kepada para tokoh pelestari budaya Jawa dan hadirin sekalian, perkenankan saya mempersembahkan dua buah pantun:

JALAN-JALAN KE BOROBUDUR

TIDAK LUPA MEMBELI ANGGUR

BUDAYA JAWA TIDAK KAN MUNDUR

SELAMA DIJAGA DENGAN TERATUR

POHON BERINGIN BERDIRI TEGUH

TEMPAT WARGA DUDUK BERTEDUH

BUDAYA JAWA BERKEMBANG SUNGGUH

INDONESIA AKAN SEMAKIN TANGGUH

Sekian, terima kasih, dan mohon maaf atas segala kekurangan.

Matur sembah nuwun,

Billahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Siapa Bilang Tak Bisa Bisnis dengan Modal Nol?

Biasanya kalau orang disarankan untuk berwirausaha dia selalu bilang: “Gimana mau buka usaha Pak? Modal dari mana? Saya tidak punya uang.” Padahal itu tidak benar. Membangun usaha itu bisa dilakukan tanpa modal atau dengan modal nol. Saya sudah berkali-kali membuktikannya.

Saat memberikan kuliah umum kewirausahaan di Institut Pertanian Bogor (IPB), saya menceritakan hal itu. Kepada anak-anak muda ini saya katakan bahwa bisnis itu modalnya bukan uang di kantong, tetapi ide. Ide bisnis yang cermerlang dan menarik lah yang menjadi modal utama.

Lalu saya mulai bercerita tentang bagaimana saya bisa membeli perusahaan untuk memulai usaha dengan uang nol rupiah di kantong. Karena audiensnya mahasiswa pertanian, maka saya memberi contoh bagaimana saya memulai usaha perkebunan dengan membeli perusahaan perkebunan.

Saya ingat dulu saya ingin sekali memiliki usaha perkebunan. Kebetulan ada perkebunan Belanda NV Hollansch Amerikansse Plantage Matschappij. Perkebunan ini mau dijual dengan harga USD55 juta. Tapi bagaimana cara mendapat uang sebanyak itu, sementara di kantong uang saya nol.

Ini tantangan bagi saya. Saya putar otak. Saya lihat profil perusahaan perkebunan itu, saya lihat buku perusahaan, saya pelajari baik-baik. Rupanya di dalamnya ada uang cash USD15 juta p. Saya tanyakan ke orang perusahaan bagaimana jika uang cash itu diambil? Dia menjawab itu uang untuk replanting atau penanaman kembali.

Lalu saya tanya kalau penanaman kembali itu ditunda setahun bisa tidak? Dia menjawab bisa. Saya tanya kembali, kalau ditundanya dua tahun? Dia menjawab bisa juga. Nah berarti ada peluang menggunakan sementara uang itu.

Kemudian saya pergi mencari uang untuk memberli perusahaan itu. Saya menemui Dirut Bank Bumi Daya Pak Omar Abdallah, almarhum. Saat itu saya temui dia di London. Saya katakan padanya bahwa saya ingin beli perkebunan USD55 juta.

Kepada Pak Omar saya mengatakan: “Pak boleh tidak saya meminjam USD13 juta? Saya cuma mau meminjam satu detik saja.”

Dia ketawa dan mengatakan ini pasti akal-akalan saya saja. Lalu dia memberi pinjaman dan harus saya kembalikan sesuai janji saya.

Padahal saya tidak punya uang sepeserpun dan harus membayar pinjaman USD13 juta itu. Lalu uangnya dari mana? Ingat, di perusahaan yang akan saya beli itu ada uang USD15 juta. Jadi setelah dapat pinjaman dan perusahaan itu jadi punya saya, saya ambil USD13 juta dan saya kembalikan ke Pak Omar.

Dari pinjam Pak Omar kan USD13 juta, lalu dari mana USD42 juta lainnya? Saya juga meminjam dari bank. Tapi yang ini saya tidak pakai janji mengembalikan cepat, tapi dengan memberi iming-iming imbalan bahwa jika saya dipinjami USD42 juta, nanti saya akan memberinya keuntungan setahun USD2 juta.

Dari mana uang USD2 juta yang saya janjikan? Ingat, perusahaan yang saya beli ada uang USD15 juta. Saya ambil USD13 juta untuk Pak Omar, dan sisanya ada USD2 juta. Nah, makanya saya berani menjanjikan keuntungan USD2 juta.

Akhirnya saya bisa mendapat pinjaman total USD55 juta dan membeli perusahaan tersebut. Lalu perusahaan ini kami namakan United Sumatra Plantations, dan pada 1991 berubah nama menjadi Bakrie Sumatra Plantations. Ini bukti bahwa dengan modal nol saya bisa membeli dan memulai usaha di bidang perkebunan.

Tak hanya itu, saat selesai menghadapi kebangkrutan tahun 1998, saya ingin membangun usaha energi, dalam hal ini batubara. Saya pilih ini karena saya yakin ada tiga industri yang tidak akan pernah mati dan prospeknya bagus yaitu makanan, energi, dan air.

Tetapi, kendalanya saya tidak memiliki uang untuk membeli perusahaan batubara. Padahal ada yang ingin menjual dengan harga USD700 juta. Saya harus kembali putar otak untuk bisa membeli perusahaan itu dengan uang nol di kantong.

Akhirnya saya beranikan diri bernegosiasi dengan pemilik perusahaan ini. Setelah deal USD700 juta, lalu saya mencari dana untuk membelinya. Saya pura-pura punya uang segitu, padahal di kantong tidak ada.

Saya mulai dulu dengan mencari USD300 juta. Caranya saya panggil calon kontraktor. Saya tanya, mau tidak jadi kontraktor perusahaan batubara saya nanti. Saya janjikan pembagian keuntungan yang besar. Tapi syaratnya dia harus meminjamkan kepada saya uang dulu. Dia setuju dan meminjamkan USD60 juta. Saya juga pergi ke calon pemasar dan menjanjikan dia jadi pemasar dengan syarat sama yaitu meminjamkan uang dulu. Saya datangi beberapa, termasuk Mitsubishi yang akan memasarkan di Jepang. Hasilnya, saya bisa mendapatkan uang total USD300 juta dari mereka.

Tapi saya masih butuh USD400 juta. Padahal saat itu bank-bank di Indonesia dilarang memberikan kredit pada kami. Lalu saya cari di luar negeri dan akhirnya mendapatkan pinjaman dari bank di Singapura. Dia bersedia memberikan kredit USD400 juta dengan syarat saya memberikan keuntungan kepadanya USD20 juta. Oke, walau berat hati tapi tidak apa-apa. Akhirnya saya terima dan saya bisa membeli perusahaan yang sekarang kita kenal sebagai Kaltim Prima Coal (KPC) itu.

Dari cerita pengalaman saya itu ada dua hal penting yang patut digarisbawahi dan dijadikan pegangan. Pertama, bisnis itu tidak ditentukan oleh modal atau uang, tetapi oleh ide. Buktinya, dengan modal nol saya bisa. Jadi tidak ada lagi alasan tidak mau berusaha karena tidak ada modal. Faktanya, saya dengan modal nol bisa.

Yang ke dua, terimalah kerjasama dengan orang, meski kita cuma mendapat sedikit bagi hasil. Jangan buru-buru menginginkan keuntungan besar. Yang penting bisa menemukan orang yang mau bekerjasama dengan kita–dalam kasus saya, menemukan orang yang mau meminjamkan uang.

Ini penting, karena biasanya orang yang memiliki ide selalu langsung menuntut suatu yang besar. Misalnya ada mahasiswa yang punya ide bisnis, lalu dia pergi ke orang yang punya uang, dan mereka sepakat kerjasama. Tapi pemilik uang mengatakan hanya mau membagi hasil 10 persen ke mahasiswa itu. Kebanyakan orang yang ada di posisi seperti mahasiswa itu akan marah dan tidak setuju. Mereka maunya 50:50. Bagi saya, ini sikap atau pemikiran yang salah.

Kenapa salah? Karena dengan menuntut 50 persen, si pemilik uang tidak setuju, maka kerjasama tidak berhasil. Akibatnya, hasilnya nol. Jadi 50 persen kali nol hasilnya adalah nol. Sementara jika mengalah dan mau dengan 10 persen, lalu kemudian ada hasilnya 100, maka dia akan mendapatkan 10 persen dari 100 yaitu 10. Sepuluh ini jauh lebih besar dari nol.

Maka, dalam berbisnis jangan pernah menghitung uang di kantong orang lain. Pikir uang di kantong kita sendiri, kantong kita bertambah tidak? Ini penting, karena banyak yang salah di fase ini. Terjebak prosentase besar yang ujungnya hanya menghasilkan nol.

Itulah pelajaran bisnis yang saya buktikan dengan pengalaman saya sendiri. Tidak hanya teori, tapi sudah saya praktekkan dan saya buktikan. Jadi, siapa bilang tak bisa memulai bisnis dengan modal nol?

Berikan Karya, Dedikasi, dan Bukti Nyata, Bukan Janji dan Retorika Belaka

Pidato pada Acara Pelepasan Kader Fungsional Partai Golkar. Sabtu, 31 Maret 2012.

Ketua Dewan Pertimbangan PG

Wakil Ketua DPP PG

Seluruh pengurus, kader dan simpatisan partai yg kita cintai ini

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan berkahnya kita dapat berkumpul pada hari yang berbahagia ini, menutup orientasi Fungsionaris 8 angkatan, serta secara simbolis melepaskan para kader dan fungsionaris Partai Golkar untuk terjun dan berkarya ke tengah-tengah masyarakat.

Sebelum memulai sambutan ini, saya ingin mengajak saudara-saudara semua para kader, fungsionaris serta pengurus partai kita untuk memberikan apresiasi kepada Fraksi Partai Golkar di DPR RI. Drama politik baru berakhir kemarin, dengan pusat pusarannya di Senayan. Seluruh rakyat Indonesia menyaksikan bahwa Partai Golkar adalah kekuatan konstruktif, dan fraksi kita sanggup memainkan peran yang efektif, bermain cantik dan elegan untuk mewujudkan semboyan kebanggaan kita, “suara Golkar suara rakyat.”

Oleh karena itu, saya dan seluruh kader serta pengurus DPP Partai Golkar menyampaikan kebanggaan dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap jajaran FPG di Senayan. (Saya minta kepada seluruh teman-teman FPG yang hadir di ruangan ini untuk berdiri… Mari kita berikan applause yang meriah kepada mereka…).

Kebanggaan kita semua menjadi lengkap karena FPG tidak hanya sekadar berkata ya atau tidak, atau hanya sekadar mengikuti gelombang naik-turun opini yang bersifat temporer. FPG juga memberi solusi praktis terhadap jalan buntu subsidi BBM dengan menawarkan rumusan 15% deviasi ICP selama 6 bulan sebagai prasyarat bagi kenaikan harga BBM. Dengan rumusan ini, tuntutan rakyat terpenuhi, tetapi hak pemerintah juga tetap terjaga untuk menyesuaikan harga BBM dengan perkembangan harga di pasar internasional sehingga kondisi fiskal negara tidak akan terancam.

Dalam perkembangan situasi kemarin, di mana polarisasi opini dan pendapat sudah terlalu tajam, emosi sudah mulai tersulut, serta aksi-aksi massa yang hampir lepas kendali – dalam situasi seperti itu tidak akan mungkin tercapai jalan keluar yang ideal dan memuaskan semua pihak.

Hanya politisi yang tangguh dan piawai, berpengalaman, serta berakal panjang yang dapat mencari jalan keluar dari situasi pelik tersebut. Dan itulah yang dilakukan oleh Fraksi Partai Golkar. Formula baru yang ditawarkan oleh FPG terbukti mampu memberi ruang yang memadai bagi kompromi di antara partai-partai koalisi kita, dan karena itulah fraksi dari partai-partai lainnya (Demokrat, PKB, PPP dan PAN) akhirnya menerima solusi baru ini.

Karena itu pula, saya menyampaikan apreasiasi dan terima kasih kepada teman-teman dari partai koalisi, serta khususnya juga kepada Bapak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, serta segenap jajaran pemerintah di Kabinet Indonesia Bersatu II.

Bahkan apresiasi dan uluran tangan persahabatan juga kita sampaikan kepada kawan-kawan dari partai lain yang kali ini memilih alternatif berbeda, yaitu PKS, PDIP, Gerindra dan Hanura. Perbedaan di antara kita bukanlah sikap permusuhan tetapi hanyalah perbedaan cara dalam melihat masalah perekonomian. Saya yakin, kita semua mencintai bangsa yang sama dan merindukan hal yang sama, yaitu bangkitnya Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang maju, adil dan bermartabat.

Dengan semua itu Partai Golkar sekali lagi membuktikan bahwa kita mendengarkan suara rakyat untuk tidak menaikkan harga BBM pada hari ini, tetapi kita juga memberikan jalan keluar serta berdiri sebagai pimpinan yang memberi arah dalam penyelesaian masalah-masalah besar yang kita hadapi, dalam hal ini masalah efesiensi anggaran serta masa depan perekonomian Indonesia.

Di saat-saat mendatang, saya menghimbau kepada seluruh kader Partai Golkar, serta kepada seluruh partai lainnya, kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia untuk melangkah bersama dalam suasana persahabatan, berinisiatif mencari rumusan-rumusan baru yang kreatif, seperti energi terbarukan, konversi gas, penghematan energi, dan sebagainya, agar perekonomian Indonesia tetap tumbuh dan berjalan di jalur yang benar.

Kita harus jujur dan menyadari bahwa memang persoalan subsidi BBM adalah sebuah persoalan pelik yang terus-menerus menghantui perekonomian Indonesia. Di dalamnya ada masalah keadilan, sebab sebagian besar subsidi dinikmati bukan oleh kalangan termiskin dalam masyarakat kita.

Selain itu juga ada persoalan rasionalitas alokasi sumber daya, sebab kita tidak ingin memboroskan ratusan triliun setiap tahun bagi konsumsi bahan bakar yang tidak produktif, sementara justru kebutuhan kita untuk membangun sekolah, puskesmas, irigasi, jalan raya, bandara, dan banyak lagi infrastruktur lainnya yang vital bagi pembangunan ekonomi menjadi terbangkalai dan mengalami masalah kronis dari kurangnya anggaran pemerintah.

Jutaan anak muda Indonesia memasuki lapangan kerja setiap tahun. Puluhan juta rakyat Indonesia membutuhkan uluran tangan dalam bentuk program-program pemerintah yang efektif. Kota-kota besar kita serta daerah-daerah pedesaan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke membutuhkan program-program kongkret agar semua potensi yang ada bisa bergerak secara simultan dan menggerakkan roda perekonomian nasional. Semua ini membutuhkan dana dan anggaran yang semakin besar.

Kita harus menjawab kebutuhan hari ini, tetapi kita juga harus mempersiapkan fondasi masa depan perekonomian Indonesia yang lebih baik lagi.

Karena itulah, Indonesia harus segera menyelesaikan dilema pelik tersebut, dan saya yakin, Partai Golkar akan terus menjadi pelopor bagi upaya penyelesaian persoalan ini.

Partai Golkar adalah partai pembangunan, sebuah partai yang mengedepankan kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Insya Allah, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kesempatan akan datang pada kita untuk membuktikan semua itu. Kita akan merebut kembali kejayaan partai, serta mempercepat pembangunan sehingga Indonesia untuk menjadi negeri yang maju, berprestasi, serta menjadi negeri yang membanggakan kita semua.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Para kader dan fungsionaris partai yang saya banggakan

Pada hari yang berbahagia ini, secara resmi saya menutup orientasi 8 angkatan yang telah dimulai sejak 11 Februari lalu, serta dengan resmi melepaskan fungsionaris-fungsionaris partai yang jumlahnya cukup besar, yaitu 1804 orang, untuk kembali dan terjun ke masyarakat dalam rangka merealisasikan gerakan karya dan kekaryaan.

Kepada panitia penyelenggara di DPP Partai Golkar, dan atas partisipasi aktif saudara-saudara semua, saya sebagai Ketua Umum menghaturkan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Dengan bekal ide-ide dan gagasan yang diperoleh selama ini, saya yakin bahwa fungsionaris Partai Golkar akan terjun langsung ke masyarakat di wilayah masing-masing. Saudara-saudara akan membuktikan bahwa bagi Partai Golkar, politik bukanlah sekadar masalah kekuasaan dan jabatan, tetapi sebuah pengabdian untuk mendengarkan dan memperjuangkan suara rakyat.

Selain itu, saya juga yakin, bahwa saudara-saudara akan membuktikan bahwa partai kita bukan hanya bisa ngomong dalam seribu retorika serta mengobral janji semata. Partai Golkar adalah partai yang memberi bukti, sebuah partai karya yang mengedepankan kerja, usaha, serta kiat yang sungguh-sungguh mengangkat kesejahteraan rakyat.

Kita mendengarkan suara rakyat, kita merasakan denyut nadi kehidupan mereka. Yakinkanlah rakyat Indonesia bahwa kita berada di pihak mereka, kita bersama mereka, serta dengan dukungan mereka Partai Golkar akan sungguh-sungguh memperjuangkan keadilan, kebenaran, serta meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.

Dengan mengatakan semua ini, saya sebagai Ketua Umum tidak hanya berhenti dalam himbauan dan anjuran. Sejak beberapa bulan terakhir ini, dan akan terus saya lakukan hingga 2014 sebagai rangkaian dari Safari Ketua Umum, saya juga sudah langsung mengunjungi dan terjun di tengah masyarakat hingga ke tingkat desa dan kecamatan. Saya bertemu begitu banyak remaja dan pemuda, mahasiswa, guru, petani, nelayan, pegawai buruh, tukang ojek, dan sebagainya.

Saya terharu akan sambutan dan antusiasme mereka. Saya melihat di mata mereka kerinduan akan sosok figur dan pimpinan, kerinduan akan perbaikan nasib, serta kecintaan yang besar pada Indonesia. Dengan berada bersama mereka, dengan mendengarkan harapan dan kerinduan mereka, saya menjadi lebih sadar lagi, bahwa tugas kita di Partai Golkar, serta tugas semua lapisan kepemimpinan politik di partai atau kelompok manapun: tugas yang ada di pundak kita adalah sebuah tugas yang mulia, sebuah tugas yang pada intinya adalah untuk wujudkan kehidupan yang lebih baik, memberi harapan kepada putra-putri Indonesia bahwa masa depan akan lebih cerah buat mereka semua.

Saya yakin bahwa saudara-saudara juga mengalami dan berpikiran yang sama. Semua itulah yang memperteguh niat dan upaya kita untuk menjadikan politik dan dedikasi kepada partai sebagai sebuah mission sacre, sebuah misi suci, sebuah tugas mulia to make a difference, untuk berbuat sesuatu yang memberi manfaat positif kepada kehidupan kongret rakyat Indonesia.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya cintai

Selain pengalaman pribadi yang mengesankan seperti itu, dalam safari saya sejauh ini ke kabupaten, kecamatan dan desa-desa, saya melihat bahwa memang positioning Partai Golkar sudah semakin membaik dan penerimaan rakyat pada partai kita semakin antusias. Tidak salah jika tahun lalu saya pernah berkata bahwa “padi sudah mulai menguning hingga ke pelosok-pelosok desa.” (Betul?….)

Dan tidak pula salah jika berbagai survei akhir-akhir ini memang menunjukkan bahwa Partai Golkar sudah berada pada posisi teratas, nomor satu di antara partai-partai besar lainnya.

Pencapaian bagus ini harus terus kita pertahankan bersama-sama, bahkan kita tingkatkan di masa-masa mendatang. Insya Allah kita akan merebut kembali kejayaan partai. Sekarang dan di saat-saat mendatang, rawatlah baik-baik padi yang sudah tumbuh dan berkembang ini. Rawatlah, sehingga pada saatnya panen raya di 2014 kelak, bulir-bulir beras yang kita nikmati rasanya manis dan gurih. (Sanggup?….)

Akhirnya, untuk mengantarkan saudara-saudara semua dalam tugas mulia mewujudkan gerakan karya dan kekaryaan, perkenankanlah saya mempersembahkan pantun berikut ini:

Santap bersama di rumah warga,Jangan lupa mengisi bejana

Untuk meraih hati semua,Sampaikan pesan Golkar dengan bijaksana

Taman indah dipenuhi kembang, Harum baunya mendatangkan kumbang

Fungsionaris partai serius berjuang, Golkar menang besar pada pemilu mendatang

Demikianlah sambutan ini. Wabillahi taufiq walhidayah Wassalamualaikum Wr. Wb.

Mengantar Ibunda Roosniah ke Pusara

8789752073_426575e77b_oSelasa sore, 20 Maret 2012, adalah hari yang penuh duka bagi saya dan keluarga besar. Hari itu, sekitar pukul 15.40 WIB, orang tua kami, ibunda tercinta Roosniah Bakrie, berpulang ke rahmatullah, di Rumah Sakit Siloam Glenagles, Karawaci, di depan kami, anak-anak dan cucu-cucunya. Hari itu kami merasa kehilangan sekali seorang ibunda dan andung tercinta.

Banyak orang datang menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhumah. Dari Senin sore semenjak jenazah tiba, sampai Rabu siang saat jenazah dikebumikan, rumah duka di Jl Terusan Hang Lekir IV, No 32 Simprug, Jakarta Selatan menerima kehadiran para pelayat. Mereka mulai dari para pemimpin negara seperti Presiden SBY, Wapres Boediono, para menteri dan tokoh rakyat lainnya, sampai warga masyarakat. Semua berbaur.

Untuk itu, atas nama keluarga besar, saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Selengkapnya…