Manusia Indonesia dan Inspirasi Kemajuan

Pidato Malam Penghargaan Achmad Bakrie ke-10. Jakarta, 12 Agustus 2012

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Menteri

Yang saya hormati tokoh-tokoh penerima PAB Tahun 2012

Yang saya hormati tokoh-tokoh penerima PAB tahun-tahun sebelumnya

Para sahabat, tamu dan hadirin yang saya muliakan

Assalamualikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua

Pertama-tama saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan karunia-NYA maka kita dapat bersama-sama pada malam yang berbahagia ini di tengah bulan ramadhan yang penuh berkah.

Selanjutnya, perkenankanlah saya mengucapkan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh yang pada malam ini menerima Penghargaan Achmad Bakrie, yaitu Tjia May On, Dawam Rahardjo, Seno Gumira Ajidarma, Wiratman Wangsadinata, Sultana MH Faradz, dan Yogi Ahmad Erlangga.

Tokoh-tokoh ini telah memberikan dedikasi, dharma bakti, dan sumbangan positif dalam bidang ilmu dan pengabdian masing-masing. Dunia mereka bukanlah dunia yang gemerlap. Dunia penelitian, pemikiran dan penulisan bukanlah sebuah dunia dengan taburan materi, kekuasaan dan tepuk tangan. Dunia mereka adalah dunia yang sepi — dan kita harus jujur mengakui bahwa Indonesia belum memberi tempat yang cukup memadai bagi dunia seperti itu.

Tetapi dalam segala keterbatasan yang ada, tokoh-tokoh yang menerima penghargaan Achmad Bakrie pada malam ini telah membuktikan bahwa Indonesia tetap memiliki putra dan putri terbaik, anak-anak bangsa yang bekerja dengan tekun dan penuh dedikasi, sehingga sanggup berkarya dengan pencapaian-pencapaian yang membanggakan kita semua.

Mereka telah memperkaya kebudayaan Indonesia modern, memperdalam pandangan kita tentang sejarah dan masyarakat kita sendiri, serta membuka horizon pengetahuan baru dalam berbagai kajian ilmu pengetahuan, seperti fisika, matematika, dan ilmu kedokteran.

Karena itulah, kepada tokoh-tokoh seperti Tjia May On, Dawam Rahardjo, Seno Gumira Ajidarma, Wiratman Wangsadinata, Sultana MH Faradz, dan Yogi Ahmad Erlangga, bukan hanya kita yang berada di dalam ruangan ini, tetapi seluruh bangsa Indonesia sudah selayaknya menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya.

Khusus mengenai Sdr. Seno Gumira Ajidarma: sesuai dengan suratnya, beliau mengatakan bahwa beliau tidak dapat menerima penghargaan ini dan meminta komite juri untuk memilih seseorang yang dianggap layak. Sikap ini tentu saja kita terima dan kita hormati. Tetapi semua ini tidak mengurangi sedikit pun penghargaan dan apresiasi kita pada karya dan peranannya dalam memperkaya khazanah dunia kesusastraan Indonesia.

Selain itu, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara acara ini, yaitu Freedom Institute, Yayasan Bakrie untuk Negeri, Tvone dan ANTV. Tradisi penghargaan ini telah dimulai sejak tahun 2003. Tanpa terasa pada tahun 2012 ini kita sudah memasuki tahun ke-10, dengan daftar penerima penghargaan yang sudah cukup panjang, hampir mencapai 40 orang dari berbagai bidang ilmu dan pengabdian. Insya Allah, apa yang telah kita lakukan melalui kegiatan seperti ini dapat membawa manfaat, betapapun kecilnya, bagi kemajuan bangsa dan negara.

Sejak awal, sengaja saya berpesan bahwa acara malam penghargaan Achmad Bakrie diadakan di seputar perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Inilah kontribusi kita dalam memperkaya substansi perayaan kemerdekaan.

Kita semua mengerti bahwa kemerdekaan adalah sebuah rahmat, sebuah jembatan emas untuk menuju pada suatu cita-cita mulia, yaitu sebuah bangsa yang maju dan modern, sebuah bangsa yang kuat jiwa dan raganya, serta sebuah bangsa yang adil dan makmur. Seperti salah satu favorit dari kutipan puisi Almarhum Achmad Bakrie yang berbunyi sebagai berikut:

Freedom makes opportunities

Opportunities make hope

Hope makes life and future

Karena itulah, lewat pemberian penghargaan ini, kita ingin menitipkan pesan agar bangsa Indonesia terus membuka kemungkinan baru, terus mengembangkan cakrawala dalam berbagai bidang ilmu dan profesi agar cita-cita mulia tersebut memang dapat tercapai.

Perlu juga saya sampaikan bahwa 10 tahun tradisi pemberiaan Penghargaan Achmad Bakrie ini dilengkapi pula dengan Penghargaan Aburizal Bakrie untuk pelestarian budaya Indonesia. Tahun ini untuk pertama kalinya diberikan penghargaan bagi pelestarian budaya Jawa, yang berlangsung pada tanggal 18 April 2012 di Solo, Jawa Tengah, sebuah kota yang merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa. Hal ini dilakukan karena pelestarian budaya merupakan upaya penting dalam menjaga kontinuitas perjalanan sejarah Indonesia. Kemajuan harus terus diupayakan, tetapi semua itu perlu ditopang oleh tradisi yang kokoh untuk terus mempertahankan jatidiri bangsa dalam era yang bergerak cepat ini.

Perlu pula saya sampaikan sebuah kabar gembira yang membanggakan kami. Tahun ini Kelompok Usaha Bakrie telah mencapai usia 70 tahun. Kami bersyukur bahwa perusahaan yang semula kecil, yang didirikan oleh dua orang bersaudara pada tahun 1942, yaitu Achmad Bakrie dan kakak kandungnya, Abuyamin, kini telah tumbuh cukup besar, tempat bekerja dan berkarya 70 ribu putra dan putri Indonesia di berbagai daerah. Saya berharap bahwa Kelompok Usaha Bakrie terus berkembang dengan baik dan memberikan kontribusi positif pada kemajuan Indonesia.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Besar harapan saya bahwa karya, dedikasi serta pengabdian dari tokoh-tokoh penerima penghargaan Achmad Bakrie dapat menjadi sumber inspirasi bagi kaum muda dan remaja Indonesia dalam mempersiapkan hidup dan kehidupan mereka.

Indonesia memiliki hampir 87 juta kaum muda dan remaja di bawah usia 35 tahun yang kini sedang mempersiapkan diri, belajar, sebagian juga sambil bekerja, untuk mempersiapkan hidup dan kehidupan mereka di masa-masa mendatang. Kita berharap bahwa ada di antara kaum muda dan remaja-remaja kita yang kelak akan mengikuti jejak dan pengabdian Tjia May On, Dawam Rahardjo, Wiratman dan lain-lain.

Tetapi lebih dari semua itu, kita berharap bahwa mereka tumbuh menjadi manusia yang utuh, manusia Indonesia yang mampu mengkombinasikan kedalaman pengetahuan, keluasan jiwa, serta kepekaan budi pekerti, sebagaimana yang menjadi filosofi dasar dari Penghargaan Achmad Bakrie ini.

Singkatnya, kita harus mendorong agar generasi muda Indonesia mampu mengerti dalamnya konsep-konsep keilmuan sambil sekaligus dapat menikmati keindahan puisi serta, seperti kata penyair Chairil Anwar, meresapi kelembutan “cinta di sekolah rendah.”

Selain semua itu, setiap tahun, di seputar peringatan kemerdekaan 17 Agustus, kita perlu menyampaikan pesan kepada generasi muda Indonesia bahwa di depan mereka terbentang sebuah kemungkinan besar yang tidak dimiliki oleh generasi-generasi sebelumnya.

Albert Einstein pernah berkata, life is like riding a bicycle: you just have to keep moving, otherwise you will fall down. Hidup tidak pernah berhenti menyajikan begitu banyak kemungkinan baru, baik yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi, maupun oleh perkembangan ekonomi, industri dan hubungan perdagangan antar-bangsa. Generasi muda Indonesia harus terus bergerak, dan dengan sikap optimistis menyambut datangnya berbagai kemungkinan baru tersebut.

Adalah tugas kita semua untuk membantu mereka, memudahkan jalan mereka dalam membawa tongkat estafet dan melanjutkan perjuangan kebangsaan Indonesia.

67 tahun yang silam Indonesia masih termasuk negeri yang sangat miskin, namun dengan dada penuh gelora dan jiwa yang merekah menyambut datangnya kemerdekaan bangsa. Sekarang, perjuangan belum selesai, dan barangkali tidak akan pernah selesai, seperti kata Bung Karno, for a fighting nation, there is no journey’s end.

Tapi insya Allah, jika kita terus bertekad, jika kita mempersiapkan generasi muda kita dengan baik, maka akan datang saatnya, sebelum Indonesia berusia 100 tahun, Indonesia sudah akan tercatat dan berhasil masuk dalam kategori sebagai negara maju, sama seperti negara-negara maju lainnya di Eropa, Amerika, dan Jepang.

Itulah esensi perjuangan kita yang perlu direnungkan setiap kali kita memperingati Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Akhirnya, sekali lagi saya ingin menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Tjia May On, Dawam Rahardjo, Seno Gumira Ajidarma, Wiratman Wangsadinata, Sultana MH Faradz, dan Yogi Ahmad Erlangga. Semoga jasa dan pengabdian mereka menjadi teladan bagi kita semua.

Kepada semua hadirin, saya menghaturkan beribu terimakasih atas kehadirannya pada malam ini. Kepada semuanya, walaupun agak terlalu dini, namun tapi tidak ada salahnya jika sekarang saya menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitrie, selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Wabillahi taufiq walhidayah

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Ical, Cinta Monyet, dan Monyet Lampung

Oleh: Dewi Arkowati (Wiwik)

Teman Lama di TK dan SD Perwari

Saya sudah lama kenal dengan Aburizal Bakrie, yang akrab kita panggil Ical. Saya dan Ical adalah teman sejak TK sampai Sekolah Rakyat atau SD Perwari. Kami bersama-sama sejak TK sampai kelas enam SD, meski kita tidak selalu satu kelas.

Kesan saya selama berteman dengan Ical, banyak sekali. Yang paling menonjol, buat saya, dia sosok yang pintar dan baik hati. Bayangkan saja, Ical adalah anak yang pintar dan kaya, namun dia tidak sombong, tidak pilih-pilih dalam bergaul, dan tetap baik hati dengan teman-temannya.

Padahal sebagai anak orang kaya yang pintar, dia berpeluang jadi orang sombong. Namun, itu tidak dilakukannya. Ical yang saya kenal sejak kecil sampai tua tetap saja seperti itu. Bahkan, meski sudah menjadi tokoh besar, dia terus ingat dan sering berkumpul dengan teman-temannya sampai hari ini. Inilah yang saya paling salut dan kagumi dari dia.

Hal yang menonjol lainnya dari Ical adalah soal keberuntungan. Keberuntungan ini sangat menonjol dalam dirinya, selain kepintarannya. Soal pintar, murid sekelas tahu Ical anak yang pintar sekali. Tapi, dia juga terkenal selalu beruntung dalam setiap kompetisi. Dulu, setiap ada pertandingan atau lomba, misalnya lomba makan kerupuk atau lomba-lomba lain, dia selalu menang. Rupanya keberuntungan dan kemenangan memang selalu berpihak kepada dia.

Kenangan masa kecil dengan Ical dan kawan-kawan lainnya tersebut kembali mengemuka saat novel “Anak Sejuta Bintang” ditulis. Selain mewawancarai Ical dan keluarganya, penulis Akmal N. Basral juga menggali kisah dengan mewawancarai kami teman-temannya.

Semua kisah masa kecil Ical dan persahabatannya dengan kami tertuang semua di novel itu. Gara-gara novel itu pula saya semakin terkenal. Ini karena kisah “cinta monyet” Ical ke saya akhirnya terungkap di sana. Lalu, ada banyak orang, terutama wartawan, mencari tahu siapa Wiwik di dalam novel tersebut yang pernah ditaksir Ical. Di acara peluncuran novel ini Januari lalu, topik cinta monyet ini juga banyak ditanyakan.

Sebetulnya, saya tidak pernah tahu bahwa Ical ketika itu suka sama saya. Yang saya ketahui, saat itu Ical kecil selalu mengikuti saya, selalu ada di belakang saya. Saat itu, biasanya dia diam saja, tapi terus melihat dan memperhatikan saya.

Rupanya Ical naksir saya–tentu saja naksirnya anak kecil atau cinta monyet. Saya juga tidak tahu mengapa dia naksir saya. Mungkin dia naksir saya karena melihat saya ini tidak sama dengan anak perempuan lain yang main-main bekel, manis-manis. Mungkin karena saya aneh dan suka main sama anak laki-laki. Saya sih waktu itu tidak terlalu peduli, bahkan menolak saat Ical “nembak” saya. Bahkan, saking kesalnya, ketika itu saya mengatakan dia seperti “monyet Lampung” … hahaha.

Karena kisah ini banyak teman dan orang bertanya kepada saya, “Wik kamu nyesel gak, gak jadi sama Ical?”

Menyesal karena tidak berjodoh sih tidak, tapi saya menyesal karena waktu kecil itu saya pernah kasar sama dia.

Itulah kisah cinta monyet yang terjadi di antara banyak kisah persahabatan kami. Kalau diingat-ingat lucu sekali. Namanya juga cerita anak-anak. Kisah-kisah seperti itu dan yang lainnya selalu terkenang ketika kami berkumpul bersama. Yang terpenting, alhamdulillah, persahabatan kami yang sudah terjalin sejak TK terus terjalin sampai kini.

Mendaki Semeru

Pidato Deklarasi Capres Partai Golkar. SICC Sentul, Jawa Barat, 1 Juli 2012.

Yang saya hormati tokoh-tokoh senior dan pinisepuh yang telah mewariskan pada kita Partai Golkar yang kita cintai ini

Yang saya hormati Bapak Akbar Tanjung serta tokoh-tokoh lainnya yang telah memberi kontribusi bagi bangsa kita

Pengurus DPP Partai Golkar, serta ormas dan organisasi sayap partai yang begitu bersemangat serta selalu setia dalam perjuangan partai.

Ketua DPD Tingkat 1 dan DPD Tingkat 2, serta seluruh kader dan pengurus dari berbagai daerah yang merupakan ujung tombak, tulang punggung, serta sumber kekuatan Partai Golkar.

Yang saya cintai dan hormati seluruh tamu dan undangan serta simpatisan dan pendukung deklarasi ini serta seluruh pemirsa di mana pun berada.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas berkah dan rahmatnya, serta atas hidayah yang dilimpahkan pada kita semua, maka kita dapat berkumpul bersama pada acara deklarasi hari ini.

Perkenankanlah saya terlebih dahulu menghaturkan beribu terimakasih kepada begitu banyak pihak yang telah memungkinkan terselenggaranya acara ini, mulai dari panitia pelaksana seperti Sdr. Fuad Mahsyur, Sdr. Mahyudin, Sdr. Sekjen Idrus Markham dan segenap jajarannya.

Juga kepada Sdr. Doktor Ade Komaruddin, komandan pemenangan Jawa 1, yang mencakup wilayah Jawa Barat yang sekarang menjadi tempat penyelenggaraan acara ini, beserta andalan partai seperti Sdr. Erlangga Hartanto; Ketua DPD Provinsi Jabar, Haji Irianto MS Syaifuddin, yang lebih dikenal sebagai Kang Yance; serta Ketua DPD Kabupaten Bogor Sdr. Ade Ruhandi dan segenap pasukannya yang menjadi kebanggaan partai kita.

Secara khusus saya juga ingin menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada penanggung jawab semua rangkaian acara ini, yaitu Sdr. Cicip Sjarif Sutardjo. Tadi Sdr. Cicip telah memberikan pidato pengantar yang sangat baik. Pidato ini dibawakan dengan menarik, sehingga saya sempat berpikir bahwa Sdr. Cicip suatu saat kelak akan mampu menjadi kandidat presiden dan juga membacakan pidato deklarasi. (Saat itu mungkin saya yang akan memberikan pidato pengantar pada deklarasi Sdr. Cicip).

Tidak lupa pula saya menghaturkan beribu terimakasih kepada Ketua DPD Provinsi, Ketua DPD Kabupaten dan kota berserta segenap jajarannya yang hadir saat ini. Saya tahu, banyak dari tokoh-tokoh dan pengurus daerah harus menempuh perjalanan yang jauh untuk sampai ke tempat ini, tetapi semua itu mereka lakukan karena kecintaan yang besar pada Partai Golkar serta untuk memberikan dorongan kepada saya.

Saya juga ingin menyampaikan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada Bapak Akbar Tanjung. Kemarin telah saya katakan di hadapan peserta Rapimnas III, dan sekarang saya ingin tegaskan lagi bahwa Pak Akbar adalah seorang sahabat, seorang tokoh yang berhasil mempertahankan eksistensi partai justru di saat-saat yang sangat sulit. Partai Golkar tidak pernah boleh melupakan jasa tersebut.

Saya tahu bahwa dalam beberapa bulan terakhir ada sedikit perbedaan pendapat di antara kami berdua. Namun demikian, perbedaan ini bukanlah sebuah sikap permusuhan, tetapi sebuah perwujudan dari dinamika yang sehat. Saya yakin, setelah Rapimnas kemarin dan deklarasi hari ini, kita akan melangkah bersama dalam irama yang harmonis.

Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan terimakasih dari lubuk hati saya yang terdalam kepada ketiga adik saya, Odi, Nirwan dan Indra. Barangkali, saya adalah kakak yang paling beruntung. Mereka adalah tulang punggung saya yang selalu mengulurkan tangan tanpa pernah mengeluh. Tanpa dukungan, pengertian serta semangat kekeluargaan mereka, tidak mungkin saya melangkah sejauh ini.

Akhirnya, dan di atas segala-galanya, saya ingin menghaturkan terimakasih yang tak terhingga kepada istri saya tercinta, Tatty Murniati Bakrie, serta kepada ketiga anak kami, Anin, Dita, dan Ardie.

Saudara-saudara yang saya muliakanSaya tidak mungkin berdiri di sini tanpa ketulusan, cinta, doa, serta pengertian mereka. Dalam perjalanan hidup ke depan, pasti akan ada naik dan turun, jatuh dan bangun. Saya tahu bahwa setelah deklarasi ini, barangkali istri dan anak-anak sayalah yang akan menanggung beban paling berat. Namun mereka semua rela, tabah serta mendukung sepenuhnya, sebab mereka memahami bahwa langkah yang saya tempuh bukanlah untuk mencapai ambisi pribadi, tetapi untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri yang kita cintai ini.

Hadirin yang saya hormati

Dalam acara Rapat Pimpinan Nasional III Partai Golkar dua hari yang lalu, saya telah menerima mandat untuk menjadi Kandidat Presiden dalam Pemilu tahun 2014.

Oleh karena itu, pada hari ini, di hadapan para sahabat, simpatisan, serta para pemirsa di seluruh penjuru Tanah Air, dengan memohon restu dari Allah yang Maha-Besar, dengan mengucapkan bismillahirahmani rahim, maka saya nyatakan secara terbuka bahwa saya siap membawa mandat tersebut dan maju sebagai Kandidat Presiden dalam pemilu mendatang.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon doa dan restu agar langkah ini membawa amanah serta membuka jalan bagi kita semua untuk lebih memberikan pengabdian yang tulus kepada Tanah Air yang kita cintai ini.

Sengaja deklarasi ini dilakukan jauh-jauh hari sebelum Pemilu 2014. Indonesia adalah negeri dengan wilayah yang luas dan penduduk berjumlah besar. Dibutuhkan waktu dan persiapan panjang, sebuah langkah maraton dalam waktu sekitar dua tahun, untuk betul-betul menjangkau seluruh kalangan di negeri kita dengan sentuhan, gagasan, serta program yang matang.

Insya Allah, dalam melakukan semua itu, saya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik, saya siap bekerja siang dan malam agar kemenangan berhasil kita raih serta harapan besar yang dilimpahkan kepada saya mampu saya laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Deklarasi ini bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi justru sebuah langkah awal yang panjang. Seperti mendaki Gunung Semeru, akan ada beribu tantangan. Akan ada pendakian yang terjal dan jurang yang dalam. Tetapi insya Allah kita akan berhasil menghadapi semua ini dan sampai pada tujuan yang kita cita-citakan bersama, sambil terus terus menjalankan prinsip “istiqomah dalam amal saleh.”

Di puncak gunung, kita akan kibarkan bendera merah putih, bukan hanya bendera kuning Partai Golkar, sebab kemenangan kita kelak adalah kemenangan yang akan dipersembahkan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam proses menuju deklarasi ini, saya telah mengunjungi begitu banyak tempat, bukan hanya di beberapa kota besar, namun terutama di kota-kota menengah, kota kecamatan hingga ke pelosok desa. Saya bertemu serta melihat begitu banyak variasi kehidupan rakyat: anak muda dan remaja, siswa dan mahasiswa, dosen dan guru, pegawai, pekerja, buruh, petani, nelayan, dan pedagang kecil.

Terus terang, saya tersentuh dan terharu oleh antusiasme serta kehangatan sambutan mereka. Dalam sorot mata mereka, saya melihat kerinduan pada sosok pemimpin yang mau dan sanggup membela nasib mereka. Khususnya di kalangan remaja dan generasi muda, saya merasakan pancaran sinar mata kehidupan, kehendak untuk maju, serta harapan besar untuk menempuh kehidupan.

Kepada mereka semualah deklarasi ini dipersembahkan. Kita bekerja keras meraih kemenangan untuk memastikan bahwa nasib dan kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi di masa-masa mendatang.

Kita justru ingin memberi pengorbanan, mengabdikan hidup kita untuk memastikan bahwa lembaga pemerintahan memang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan-tujuan besar bangsa Indonesia.Kita bekerja keras bukan untuk mengejar jabatan dan kursi kekuasaan. Bagi saya pribadi, apalagi bagi istri dan anak-anak saya, barangkali hidup akan lebih tenang dan tenteram tanpa semua itu.

Dalam melangkah ke depan, kita harus selalu berpedoman pada sebuah prinsip, bahwa posisi presiden adalah sebuah amanah dan tanggung jawab. Salah satu tugasnya yang terpenting adalah sebagai nakhoda yang memberikan arah bagi kapal besar Republik Indonesia, serta memastikan bahwa kapal tersebut memang berjalan menuju arah yang dituju.

Bung Karno pernah berkata, siapa yang melawan kehendak zaman akan digiling dan digilas oleh perputaran sejarah. Oleh karena itu, Sang Nakhoda harus memastikan bahwa kapal besar Republik Indonesia terus bergerak mengikuti gelombang zaman, sambil tetap mempertahankan empat pilar kebangsaan kita, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan motto Bhineka Tunggal Ika.

Bahaya terbesar bagi sebuah bangsa, sama dengan nasib terburuk para penumpang kapal, adalah jika Sang Nakhoda bimbang dan ragu, terombang-ambing dalam tujuan-tujuan yang kabur dan saling bertentangan.

Karena itu, sejak awal perlu ditegaskan bahwa arah kita jelas dan tujuan kita terang benderang, yaitu perjuangan untuk mewujudkan sebuah bangsa yang mandiri dan dihormati dalam pergaulan antar-bangsa, serta sebuah bangsa yang terus menerus membuka diri terhadap berbagai perkembangan baru.

Sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan, jika memang rakyat menghendaki, saya akan menggunakan prinsip-prinsip yang diadaptasi dari filosofi Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan yang saya kagumi.

Seorang pemimpin harus mampu mengamalkan prinsip tut wuri handayani, yaitu berdiri di belakang, membimbing, serta membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk mewujudkan potensinya secara mandiri.

Seorang pemimpin juga harus mampu untuk ing madya mangun karso, yaitu berdiri di tengah, merangkul semua pihak, memberi inspirasi, menengahi perbedaan, serta membangun kerjasama dari segenap potensi yang ada.

Dan yang terakhir, seorang pemimpin juga harus sanggup menerapkan prinsip ing ngarso sung tulodo, yaitu memimpin di depan, memberi teladan, berwibawa serta berani bertindak tegas untuk membela kepentingan rakyat, seberat apapun resiko yang dihadapinya.

Prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut saya peroleh bukan dari buku teks sekolahan, tetapi dari pengalaman kehidupan saya selama ini. Selain dunia usaha swasta, sejak menginjak bangku SMA, saya selalu tertarik pada kegiatan organisasi, baik di perkumpulan pelajar, dewan mahasiswa, persatuan insinyur, serta himpunan pengusaha. Terakhir, jalan hidup membawa saya ke dunia pemerintahan, menjadi Menko Perekonomian, Menko Kesra, dan sekarang sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Saya menyebut semua pengalaman ini bukan untuk meninggikan diri. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dengan pengalaman yang panjang dan beragam itu, saya menyerap beberapa butir kearifan hidup serta prinsip-prinsip kepemimpinan: memimpin adalah memberi motivasi; memimpin adalah membangun kerjasama; memimpin adalah keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan bertindak tegas manakala diperlukan.

Selain semua itu, perlu juga saya tegaskan: Jangan lihat seorang pemimpin dari apa yang dia katakan, melainkan dari apa yang dia perbuat. Membuat janji dengan seribu kembang kata-kata bukanlah hal yang sulit. Tetapi tantangan terbesar seorang pemimpin adalah mewujudkan kata menjadi perbuatan, serta menjaga satunya kata dan perbuatan.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Perkenankanlah saya sekarang untuk menjelaskan visi dan konsep saya tentang masa depan Indonesia.

Pada hemat saya, perjalanan bangsa Indonesia sejauh ini sudah menuju pada arah yang benar. Tentu saja, dalam perjalanan sejak proklamasi 1945, ada pasang dan surut, ada berbagai pencapaian besar, namun masih banyak pula masalah yang perlu diatasi. Setiap generasi dan setiap pemimpin yang kita miliki telah berjasa menghadapi tantangan zaman mereka, dengan gaya, kelebihan, serta karakter masing-masing.

Bung Karno mewariskan persatuan dan semangat kebangsaan Indonesia; Pak Harto mewariskan pembangunan ekonomi yang sukses serta manfaatnya dirasakan oleh rakyat hingga ke pelosok desa; sementara generasi Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati dan Pak SBY secara bersama-sama dan dengan cara mereka masing-masing telah menggulirkan langkah-langkah reformasi, demokratisasi serta desentralisasi kekuasaan.

Semua itu adalah warisan sejarah. Indonesia sekarang adalah akumulasi dari warisan-warisan besar tersebut. Tapi warisan ini tidak boleh membeku ditelan zaman. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat, meneruskan serta mengembangkan warisan mulia tersebut agar menjadi lebih baik lagi.

Oleh karena itulah, di tahun-tahun mendatang Indonesia harus melangkah dan membuat terobosan di berbagai bidang. Dalam waktu satu generasi ke depan, yaitu generasi anak-anak kita, Indonesia harus mampu naik kelas, dari negara sedang berkembang menjadi negara maju, dengan tingkat pendidikan, teknologi, keuangan, industri, pertanian yang sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

Kita harus bertekad bahwa sebelum Republik Indonesia berusia 100 tahun pada tahun 2045 kelak, kita sudah berhasil mewujudkan visi besar tersebut.

Insya Allah, dalam melangkah ke depan, semua itulah yang akan menjadi dasar perjuangan saya.

Untuk mencapai semua itu, saya ingin menawarkan sebuah konsep yang terbukti telah sukses digunakan sebelumnya, dan sekarang masih sangat relevan jika sesuaikan dengan semangat zaman ini. Konsep tersebut adalah Trilogi Pembangunan yang dilengkapi dengan gagasan baru nasionalisme Indonesia, sehingga menjadi sebuah formula yang saya namakan sebagai Catur Sukses Pembangunan Nasional.

Formula ini terdiri dari empat elemen, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan hasil-hasil pembangunan, stabilitas sosial-politik, dan paham kebangsaan yang disesuaikan dengan konteks globalisasi. Keempat hal inilah yang harus kita jabarkan secara serempak, dengan memanfaatkan peluang-peluang baru dan menjawab tantangan-tantangan baru dalam dunia yang semakin terbuka dan berputar cepat.

Dalam hal pertumbuhan ekonomi, kita tidak boleh puas hanya dengan angka pertumbuhan dalam kisaran 6 persen. Potensi Indonesia begitu besar sehingga tingkat pertumbuhan 7 atau 8, bahkan 10 persen harus mampu kita capai.

Untuk itu, kita harus berani melakukan pembangunan infastruktur secara besar-besaran, seperti jalan raya dan jalan pedesaan, bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, irigasi, puskesmas, rumah sakit, dan banyak fasilitas umum lainnya yang semakin modern.

Selain itu, kita harus membangun sarana pendidikan yang semakin maju. Indonesia sudah cukup berhasil menyediakan sarana pendidikan dasar dan menengah. Sekarang, fokus kebijakan harus kita arahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pada tingkat SMA, SMK dan pada tingkat universitas.

Kita harus menyiapkan pendidikan yang semakin maju, agar mereka dapat merealisasikan bakat-bakat mereka. Keterbatasan ekonomi tidak boleh menghalangi semangat untuk menimba ilmu pengetahuan yang akan membuka cakrawala kehidupan mereka.Dalam perjalanan safari ke berbagai daerah, saya bertemu dan memberi ceramah motivasi kepada ribuan siswa dan mahasiswa. Mereka adalah anak-anak petani, anak-anak nelayan, pedagang kecil, guru dan sebagainya. Saya melihat sendiri bahwa siswa dan mahasiswa kita sebenarnya sangat potensial, berbakat, tidak kalah oleh siswa dan mahasiswa dari negeri mana pun.

Semua itu perlu pula diiringi dengan langkah-langkah lainnya, seperti pendalaman dan peningkatan daya saing di sektor manufaktur dan sektor industri lainnya, termasuk industri jasa dan pertanian, penyehatan iklim investasi, stabilitas ekonomi makro, serta penataan sektor finansial dan efisiensi badan usaha milik negara.

Khusus untuk sektor industri dan jasa, hal itu mutlak dilakukan, sebab sektor inilah yang menjadi tempat penyerapan terbesar tenaga kerja serta menjadi katalis atau sumber pemicu bagi peningkatan teknologi. Indonesia harus memberi dorongan kepada kaum industrialis dan kaum pengusaha, tetapi nasib kaum pekerja tidak boleh tertinggal.

Sekarang, variasi upah minimum adalah 800 ribu rupiah hingga 1.5 juta rupiah per bulan. Kita harus berani menegaskan, jika pengusaha dan kaum pekerja mampu secara bersama-sama meningkatkan produktifitas, maka pada tahun 2014 atau 2015 upah minimum di seluruh Indonesia harus ditingkatkan menjadi sekurang-kurangnya 2 juta rupiah per bulan.

Dengan begitu, kaum pengusaha menjadi lebih berinisiatif membuka peluang kerja, sementara kaum buruh dan pekerja turut menikmati ekspansi ekonomi yang semakin membesar.

Semua itulah yang perlu kita lakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Namun demikian, untuk lebih memberi makna sosial bagi pertumbuhan ini, kita harus melengkapinya dengan kebijakan pemerataan yang tidak kurang intensifnya.Di sektor energi, kita harus segera menegakkan prinsip nasionalisme. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan baru yang menjamin kemandirian energi nasional serta pada saat yang sama membuka peluang investasi yang leluasa. Di sektor strategis ini, kita harus mendahulukan kepentingan sektor usaha nasional, tanpa mengurangi kredibilitas Indonesia sebagai negara yang ramah terhadap investasi asing.

Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan akan melahirkan ketimpangan sosial serta ketidakadilan. Ia menyimpan bom waktu yang setiap saat dapat meruntuhkan fondasi sistem sosial kita.

Pemerataan dapat dilakukan dengan berbagai metode, namun pada prinsipnya kita harus menggunakan cara yang mendidik, bukan dengan jalan pintas yang justru melanggengkan kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Berbagai program yang sudah baik, seperti PNPM, Jamkesmas, Program Keluarga Harapan, jaminan pensiun, dan semacamnya perlu semakin ditingkatkan cakupan maupun pendanaannya. Semua program ini harus disatukan secara sistematis dalam sebuah konsep besar yang disebut sebagai Negara Kesejahteraan.

Hal yang sama juga perlu dilakukan dalam memberdayakan pengusaha kecil dan menengah, serta sektor informal dan koperasi yang kesemuanya melibatkan sekitar 50 juta penduduk.

Dalam perjalanan saya ke berbagai daerah, serta dalam pengalaman panjang sebagai pengusaha di masa lalu, saya bertemu begitu banyak pengusaha dan pedagang kecil, tua dan muda, pria dan wanita. Kebutuhan mereka yang utama adalah akses terhadap modal. Mereka sanggup berkembang, atau paling tidak sanggup membuka kesempatan kerja bagi diri dan lingkungan sekitarnya jika akses seperti itu cukup terbuka dan mudah diperoleh.

Ayah saya, almarhum Achmad Bakrie, merintis usahanya dari bawah. Ia mulai sebagai pedagang kecil di zaman Jepang, berdagang roti dan hasil bumi di Kalianda, Lampung. Pendidikannya hanya tamatan setingkat sekolah dasar. Tetapi ia pekerja keras, tangguh, mandiri, dan selalu belajar mengembangkan dirinya. Pada akhir hidupnya, ia berhasil mewariskan sebuah kelompok usaha dengan ribuan pegawai.

Achmad Bakrie adalah sebuah contoh sukses dari seorang anak negeri, seorang pengusaha kecil yang berhasil merangkak, mengatasi kesulitan hidupnya secara mandiri, dan akhirnya meraih sukses kehidupan.

Karena itulah, saya akan mendorong peningkatan berbagai program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) serta program lainnya yang ditujukan untuk memberdayakan sektor kecil dan menengah ini.Saya bangga pada ayah saya. Saya berdiri di sini pada hari ini karena saya selalu terinspirasi oleh kehidupan semacam itu. Saya menerima pencalonan sebagai kandidat presiden karena saya ingin mendorong dan memberi motivasi agar Indonesia mampu melahirkan ribuan dan jutaan orang yang sukses, rakyat kecil yang berhasil mengatasi tantangan kehidupan, pengusaha dan sektor informal yang mampu hidup dan berkembang dengan baik.

Di sinilah salah satu peran strategis instrumen fiskal pemerintah serta potensi bank-bank milik negara, seperti BRI, Bukopin, BTN, Bank Mandiri, BNI 1946 dan Bank Exim. Kita harus harus mengarahkan kekuatan fiskal pemerintah agar lebih agresif dalam kebijakan pro-rakyat. Demikian pula, kita harus mendorong agar bank milik negara jangan berpangku tangan dan hanya menunggu. Mereka perlu lebih giat lagi terjun ke berbagai sektor memberdayakan rakyat, seperti yang telah dilakukan dengan baik oleh BRI selama ini.

Saya yakin, dengan semua itu, fondasi pembangunan ekonomi Indonesia akan menjadi lebih berakar dan bermanfaat buat semua.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Elemen ketiga dari formula Catur Sukses Pembangunan Nasional adalah stabilitas sosial-politik. Dengan menekankan hal ini saya bukan ingin berpaling kembali ke masa silam. Justru sebaliknya, saya ingin mengajak bangsa Indonesia melangkah ke depan.

Demokratisasi telah berjalan cukup baik dan kita sekarang bangga bahwa Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Kita juga bangga bahwa ketika ruang kebebasan politik diperluas, harmoni sosial dan kemajemukan Indonesia tetap terjaga.

Indonesia juga telah memberi bukti konkret bahwa Islam, modernitas, dan demokrasi dapat berjalan seiring. Semua itu menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita memiliki jiwa yang bebas dan leluasa untuk mengelola perbedaan, sambil menghormati satu dan yang lainnya.

Hal demikian sangat membanggakan kita. Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa sejauh ini masih sering terjadi ekses negatif yang justru akan mengancam legitimasi demokrasi itu sendiri. Jika tidak segera di atasi, ia akan mengancam langkah kita untuk mencapai kemajuan bersama.

Ekses ini terlihat dari tindakan perusakan dan pembakaran ruang universitas oleh demonstrasi yang menjurus pada anarki, pembatalan pembangunan fasilitas umum hanya karena ketidaksetujuan satu kelompok, keraguan untuk bertindak dari para petugas keamanan dalam menjalankan tugasnya, potensi konflik etnis di beberapa daerah yang tak kunjung berhenti, dan masih banyak lagi ekses negatif lainnya.

Semua itu harus segera dihentikan. Setiap orang membutuhkan ruang-ruang sosial dan rasa aman untuk hidup dan bekerja dengan baik. Kebebasan harus dibela, tetapi bukan kebebasan untuk mengancam hidup orang lain. Kelangsungan demokrasi justru bersandar pada wibawa hukum dan ketaatan pada aturan bersama.

Karena itulah, lewat deklarasi ini, kita tegaskan bahwa Indonesia harus tetap memegang komitmen pada demokrasi, dan pada saat yang sama Indonesia harus mendorong terciptanya pemerintahan yang kuat, yang tegas, bersih, dan berwibawa.

Untuk itu semua, berbagai hal perlu dilakukan, seperti penguatan lembaga-lembaga hukum, penguatan otoritas institusi keamanan seperti TNI dan Polri, reformasi birokrasi, dan banyak lagi.

Penanggulangan korupsi perlu lebih digalakkan. Namun langkah ini jangan hanya bersifat kosmetik. Kita harus memberantas korupsi pada sumber masalahnya, yaitu pada tingkat kesejahteraan pegawai, pada hubungan kelembagaan antara pemerintah dan dunia swasta, pada kebijakan serta begitu banyak aturan yang saling bertentangan sehingga membuka celah bagi penyelewengan kekuasaan.

Perlu pula kita perhatikan bahwa pemerintahan yang tegas, bersih dan berwibawa bukan hanya menyangkut pemerintahan pusat di Jakarta. Kekuatan Indonesia bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah, di setiap provinsi, kabupaten, kota, dan kecamatan bahkan desa-desa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Jika daerah kuat, Indonesia kuat. Jika daerah maju, Indonesia pasti akan maju dengan gilang gemilang.

Dengan demikian, dorongan yang intensif juga harus diarahkan pada pemerintahan daerah. Semua gubernur, bupati dan walikota harus terlibat, sebab mereka adalah ujung tombak pelayanan publik yang menentukan berjalannya berbagai program pembangunan.

Perjuangan dalam menciptakan pemerintahan yang kuat dan berwibawa di alam demokrasi adalah modal dasar bagi Indonesia untuk menjadi negara yang terhormat dalam pergaulan antar-bangsa.

Indonesia yang kuat dan percaya diri adalah Indonesia yang membuka pintu seluas-luasnya kepada pergaulan dunia. Kita merangkul dunia, sambil tetap mempertahankan jatidiri sebagai sebuah bangsa yang mandiri.

Indonesia yang percaya diri adalah Indonesia yang tidak takut pada keterbukaan di era global ini, tetapi justru menyambutnya sebagai peluang untuk lebih mendorong kemajuan bangsa.

Itulah esensi dari paham nasionalisme baru yang merupakan elemen keempat dari Catur Sukses Pembangunan Nasional. Dengan paham ini, kita dapat menempatkan filosofi dasar bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, bukan sebagai sebuah pemikiran yang statis, membeku ditelan waktu, melainkan sebuah pemikiran dinamis yang menjadi sumber inspirasi kebangsaan kita.

Hal itu memungkinkan kita untuk terus belajar dan membuka diri, menyerap unsur dan perkembangan baru, sambil tetap menjaga kecintaan kita pada Tanah Air, serta penghargaan kita pada filosofi warisan bangsa.

Khususnya bagi generasi muda kita, hanya paham seperti inilah yang dapat mendorong mereka untuk melangkah maju, menjadi warga dunia yang produktif, sambil tetap menjadi manusia-manusia Indonesia yang utuh dan bertanggung jawab.

Singkatnya, dengan paham nasionalisme baru ini, kita dapat menyerukan kepada generasi muda Indonesia: reach for the stars, but put your feet on the ground. Buka cakrawalamu seluas mungkin, tuntutlah ilmu setinggi mungkin, kembangkan pergaulanmu seluas-luasnya, terbanglah meraih sejuta bintang, tetapi letakkan kakimu di bumi, yaitu bumi Indonesia yang kita cintai ini.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang berbahagia

Semua itulah yang menjadi pertaruhan pada Pemilu 2014 mendatang. Setelah deklarasi ini, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Layar sudah terkembang, pantang bagi kita untuk surut kembali.

Hari ini kita memulai pendakian yang panjang. Saya akan mengunjungi kota dan desa, kota kecamatan dan pelosok-pelosok Tanah Air untuk mendengarkan suara rakyat dan merebut simpati mereka.

Saya tidak mungkin melakukannya sendiri. Jika saudara-saudara siap melangkah, saya siap memimpin di depan. Jika saudara-saudara sudah membulatkan tekad, dengan ridho Allah SWT, saya yakin Pemilu 2014 akan menjadi milik kita.

Saya tahu jalan masih panjang dan berliku. Tetapi dengan dukungan, persahabatan dan kerjasama saudara-saudara, maka pasti tidak akan ada gunung yang terlalu tinggi, tidak ada laut yang terlalu dalam, serta tidak ada sungai yang terlalu lebar.

Akhirnya, sebagai penutup, perkenankanlah sekali lagi saya menghaturkan terimakasih yang sedalam-dalamnya, baik kepada pengurus, kader dan pimpinan Partai Golkar di semua lapisan dan semua daerah, maupun kepada para simpatisan, sahabat, pendukung, dan khususnya kepada istri, adik-adik dan anak-anak saya.

Begitu banyak yang telah membantu. Begitu banyak yang telah membesarkan hati saya.

Saya tidak dapat membalas semua kebaikan itu selain dengan mengulurkan persahabatan yang tulus. Insya Allah, jika diberikan kekuatan dan kesehatan, saya berjanji untuk memberikan yang terbaik.

Semoga kita akan sampai pada tujuan bersama, dan kemenangan berhasil kita raih demi nasib seluruh rakyat Indonesia. Maju terus Indonesia. Maju terus negeriku tercinta.

Sekarang, seperti yang sudah menjadi tradisi di Partai Golkar, perkenankanlah saya mengakhiri pidato deklarasi ini dengan tiga buah pantun:

Sajadah panjang dari beludru

Dipakai sholat gadis ayu

Bila kita istiqomah dan tawadhu

Pasti Allah memberi restu

Dari Bogor hingga Jakarta

Merah putih berkibar-kibar

Bila kita melangkah bersama

Indonesia menjadi negara besar

Piring emas berisi madu

Jadi minuman bagi sang ratu

Bila seluruh rakyat berpadu

Bangsa pasti melangkah maju

Wabillahitaufiq walhidayah

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Acceptance Speech

Dibacakan Seusai Ditetapkan Sebagai Capres di hadapan Peserta Rapimnas III Partai Golkar.

Yang saya hormati Sdr. Akbar Tanjung, Ketua Dewan Pertimbangan DPP PG beserta seluruh jajarannya.

Yang saya hormati wakil ketua umum dan seluruh pimpinan serta jajaran DPP Partai Golkar.

Yang saya cintai dan banggakan seluruh Ketua DPD Provinsi serta yang hadir pada malam hari ini.

Pimpinan Ormas, Sayap dan segenap hadirin yang saya muliakan.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua.

Marilah pertama-tama kita panjatkan rasa syukur kehadapan Allah yang Maha-Besar, karena atas izinnya kita telah berhasil menyelesaikan kegiatan di hari pertama Rapimnas III dengan lancar dan baik. Insya Allah kegiatan-kegiatan Rapimnas esok hari juga berjalan dengan baik dan memberi rahmat bagi perjalanan partai kita di masa-masa mendatang.

Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada panitia penyelenggara yang telah menyiapkan semua kegiatan dan mengatur tempat ini (Sdr. Fuad Mansyur, dll), serta kepada Sdr. Sekjen, yaitu Dr. Idrus Markham, serta seluruh jajarannya dalam membantu persiapan dan kelancaran Rapimnas III ini.

Secara khusus, saya juga ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada penanggung jawab Rapimnas III ini, yaitu Sdr. Cicip Sjarif Sutardjo.

Tadi pagi, dalam laporan dan pidato pembukaannya di depan kita semua, Sdr. Cicip sempat berpantun sedikit dan memuji saya sebagai seseorang yang gagah perkasa.

Tidak ada yang dapat saya lakukan sekarang untuk membalasnya selain juga dengan sebuah pantun:

Makan sate di pinggir pantai

Gadis lewat pinggul bergoyang

Penanggung jawab acara partai

Cicip Sutardjo gilang gemilang

Selain itu, saya ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh pengurus dan pimpinan DPP, serta seluruh Ketua DPD Provinsi berikut seluruh jajarannya yang dengan setia hadir di Bogor walaupun menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kehadiran ini adalah cermin dedikasi dan kecintaan yang dalam pada Partai Golkar, serta sebuah percerminan dari kehendak bersama untuk merebut kembali kejayaan partai pada Pemilu 2014.

Dengan “pasukan” seperti ini, dengan dedikasi yang ada pada saudara-saudara semua, pohon beringin pasti akan semakin tinggi menjulang ke langit dan akar-akarnya akan semakin dalam menancap di bumi Indonesia.

Tidak lupa pula, secara sangat khusus saya ingin menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang sedalam-dalamnya kepada Sdr. Akbar Tanjung dan seluruh jajaran Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar yang hadir pada malam ini.

Sdr. Akbar Tanjung adalah seorang sahabat, seorang tokoh yang berhasil mempertahankan kebesaran partai kita dalam saat-saat yang paling sulit pada awal era reformasi. Kita tidak pernah melupakan pada jasa dan peran beliau.

Saya tahu, dan pasti saudara-saudara juga mengikuti pemberitaannya di media, bahwa di bulan-bulan terakhir menjelang Rapimnas III ini, ada sedikit perbedaan di antara kami berdua. Namun perbedaan ini bukanlah sebuah sikap permusuhan. Justru sebaliknya: ia mencerminkan dinamika internal yang sehat, yang dilandasi oleh kecintaan yang tulus pada partai kita.

Sekarang dan di masa-masa mendatang, saya yakin semua elemen di pusat dan di daerah akan melangkah dengan harmonis, menyatukan sikap, bekerja keras untuk merebut kembali kejayaan partai, baik pada pemilu legislatif maupun pada pemilu presiden mendatang.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya cintai

Pidato saya malam ini adalah sebuah pidato penerimaan, yang dalam tradisi demokrasi di berbagai negara lazim disebut sebagai acceptance speech. Pada Minggu sore dua hari mendatang, yaitu tanggal 1 Juli di Sentul, saya akan menyampaikan Pidato Deklarasi, yang ditujukan kepada masyarakat umum.

Malam ini saya berdiri di hadapan pimpinan dan peserta Rapimnas III Partai Golkar, yang memiliki kewenangan penuh dalam menentukan Kandidat Presiden Republik Indonesia mewakili partai dalam Pemilu Presiden di tahun 2014.

Saya berdiri di sini sekarang untuk menjawab secara resmi usulan pencalonan tersebut terhadap diri saya.

Karena itu, dengan memohon petunjuk kehadapan Allah yang Maha-Besar, dengan keyakinan untuk membangun Indonesia yang semakin maju, dengan tekad yang bulat dan dukungan saudara-saudara, serta dengan segala kerendahan hati, maka saya menyatakan secara resmi dan terbuka bahwa saya menerima pencalonan ini.

Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim, mulai hari ini saya nyatakan bahwa saya siap untuk maju sebagai Kandidat Presiden dalam pemilu mendatang.

Semoga keputusan ini diridhoi oleh Allah yang Maha-Besar. Semoga saya dan saudara-saudara semua diberikan jalan untuk memberikan dharma bakti dan dedikasi yang maksimal agar tujuan-tujuan besar bangsa kita dapat segera diwujudkan.

Saya menghaturkan terimakasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya atas kepercayaan saudara-saudara kepada saya. Semoga saya diberikan kekuatan dan kesehatan untuk mengemban amanah mulia ini.

Bersama saudara-saudara, saya berjanji untuk bekerja keras, siang dan malam, mengunjungi seluruh penjuru Tanah Air, di kota, desa, serta kota-kota kecamatan, untuk benar-benar mendengarkan suara rakyat dan merebut simpati mereka.

Saya tahu, jalan ke depan tidak mudah. Perjalanan kita tidak dilakukan dengan lari cepat atau sprint, tetapi dengan lari maraton. Stamina harus kuat, nafas harus panjang, kondisi fisik harus prima. Dengan dukungan semua pihak, sahabat, dan simpatisan, serta dengan semangat yang besar, maka insya Allah kita akan sampai di garis finish dan berhasil merebut kemenangan.

Kita bertekad untuk menang bukan demi kursi kekuasaan. Golkar sudah kenyang dengan kekuasaan – dan buat saya pribadi, apalagi buat istri dan anak-anak saya, barangkali hidup akan lebih tenang dan tentram tanpa kursi dan kegiatan politik.

Kita tidak mencari kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Kita justru ingin memberi pengorbanan, mengabdikan hidup kita agar posisi di dunia politik dan pemerintahan dapat dimanfaatkan betul-betul untuk mencapai tujuan-tujuan besar bangsa Indonesia.

Singkatnya, kita bekerja keras untuk merebut kemenangan karena kita ingin menggunakannya demi kesejahteraan rakyat, memajukan pendidikan, serta menegakkan pemerintahan yang kuat, tegas dan berwibawa.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya cintai

Dalam Pidato Deklarasi saya pada minggu sore nanti, saya akan menjelaskan visi dan konsep saya tentang masa depan Indonesia yang lengkap. Saya tidak akan menjelaskan semuanya malam ini, tetapi pada esensinya visi tersebut berisi sebuah formula yang saya sebut sebagai Catur Sukses Pembangunan Nasional.

Formula ini berisi empat elemen, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, stabilitas sosial-politik, dan paham nasionalisme baru bagi Indonesia. Ketiga elemen pertama saya adaptasi dari konsep Trilogi Pembangunan, sementara elemen yang keempat adalah sebuah pemikiran baru untuk menempatkan filosofi bangsa kita agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan mewujudkan formula ini, saya berharap bahwa Indonesia sanggup tumbuh cepat dengan hasil yang dinikmati oleh seluruh rakyat, dalam suasana yang stabil, aman dan demokratis, serta dengan penuh percaya diri bergerak aktif dalam pergaulan antar-bangsa, sambil tetap menjaga jatidiri sebagai bangsa yang mandiri.

Jika dipercaya oleh rakyat, formula seperti itulah yang akan menjadi dasar perjuangan saya. Sebagai presiden, saya akan menyiapkan sebuah fondasi yang kokoh agar dalam waktu satu generasi ke depan, sebelum Republik Indonesia berusia seabad pada tahun 2045, Indonesia akan naik kelas, dari negara berkembang menjadi negara maju.

Itulah sebuah kontrak politik. Visi dan konsep seperti itulah yang memberi arah bagi kekuasaan besar seorang presiden, sehingga kekuasaan tersebut menjadi sebuah amanah, sebuah misi untuk berbuat dan merealisasikan potensi besar bangsa kita untuk bergerak cepat merebut kemajuan.

Selain semua itu, dalam Pidato Deklarasi nanti saya juga akan menjelaskan filosofi kepemimpinan saya. Memimpin bukan hanya berkuasa. Memimpin bukan hanya memerintah. Pemimpin adalah bagaikan nakhoda yang harus memastikan bahwa kapal besar Republik Indonesia memang berjalan ke arah tujuan yang benar, ke arah pencapaian cita-cita kita bersama.

Seorang presiden membimbing dari belakang, membangun kerjasama, merangkul, memberi motivasi, serta manakala perlu, berdiri di depan dan dengan tegas memutuskan langkah bersama, betapapun berat resiko yang harus diambilnya.

Bahaya terbesar sebuah bangsa, sama juga dengan nasib terburuk para penumpang kapal, adalah jika Sang Nakhoda bimbang dan ragu, atau terombang-ambing dalam tujuan-tujuan yang kabur, atau dalam tujuan-tujuan yang saling bertentangan.

Karena itulah, salah satu tujuan terpenting Pidato Deklarasi nanti adalah to set it clear from early on, untuk menegaskan sejak awal bahwa tujuan kita jelas dan langkah kita terang-benderang.

Kita ingin memajukan kesejahteraan rakyat. Kita ingin mendirikan pemerintahan yang tegas, kuat, dan berwibawa – berwibawa karena berhasil melaksanakan program-programnya; berwibawa karena memajukan pendidikan; serta berwibawa karena berani serta jujur dalam membela nasib dan kepentingan rakyat.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya hormati

Dua tahun ke depan pasti akan menarik dan penuh tantangan. Kita akan mendekati rakyat dan melakukan kampanye permanen. Langkah ini sebenarnya sudah kita mulai jauh-jauh hari sebelumnya, dan khusus mengenai grassroot activation dan roadshow programs, sudah saya lakukan secara intensif hingga ke desa dan kota-kota kecamatan sejak awal tahun ini.

Kita akan melakukan semua itu dengan lebih intensif lagi, dengan satu paradigma baru, yaitu one, united campaign. Kampanye partai dan kampanye presiden hanya berbeda secara administratif. Pada substansinya, dan pada operasionalisasinya, kedua kampanye tersebut adalah satu: kita bergerak dengan satu strategi, satu irama, satu kesatuan untuk mencapai kemenangan simultan, di lembaga legislatif maupun di lembaga eksekutif.

Itulah metode yang benar yang kita lakukan sebagai partai modern dengan cita-cita untuk merebut kembali kejayaan partai di kedua lembaga politik tersebut.

Sejauh ini, tampaknya Partai Golkar sedang memperoleh upward momentum, atau momentum naik – dalam kampanye di Amerika Serikat, momentum seperti inilah yang dianggap paling “mahal”, paling dicari oleh setiap tim kampanye, baik partai maupun presiden.

Dari berbagai survei, dukungan rakyat bagi Partai Golkar sudah berada di atas kisaran 20 persen. Dengan tingkat pergerakan momentum ini, maka bukan tidak mungkin pada akhir tahun nanti, dukungan bagi kita sudah mencapai upper 20s, atau sekitar 26-28 persen.

Kalau itu terjadi, saya akan menaikkan target pencapaian kita untuk Pemilu 2014, dari 30 persen menjadi 35 persen. Saya tahu semua itu memerlukan kerja keras, tetapi kalau sudah berada pada angka 28 persen, maka target itu sebenarnya sudah tidak terlalu jauh lagi, apalagi waktu masih tersisa cukup panjang. (Saya ingin tanya, beranikah kita bermimpi untuk mencapai 30 persen bahkan 35 persen? Siap untuk bekerja keras?)

Bayangkanlah jika target tersebut memang tercapai. Dengan perolehan di kisaran 14 persen pada Pemilu 2009, anggota Fraksi PG di DPR RI berjumlah 106 orang. Kalau kita berhasil mencapai target baru 35 persen pada Pemilu 2014, maka kekuatan fraksi kita setidaknya akan berjumlah 250 orang.

Jadi bayangkanlah kalau diadakan Sidang Pleno DPR RI, maka hampir setengah ruang sidang akan penuh berisi politisi beringin. Bendera kuning akan mendominasi Senayan, dan ruang sidang yang dipimpin oleh Ketua DPR RI yang berasal dari Partai Golkar, akan diwarnai, diharu-biru oleh wakil-wakil rakyat dari partai kita. Dari 560 anggota DPR RI, hampir setengahnya akan diisi oleh wakil-wakil dari Partai kita sehingga bisa dibayangkan pengaruh yang dapat kita berikan pada dunia politik Indonesia.

Dengan posisi itu, begitu banyak hal yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa pembangunan Indonesia memang berjalan dengan semestinya dan segala aturan serta undang-undang yang ada memang betul-betul mencerminkan kepentingan rakyat.

Sekarang, bayangkan pula jika semua itu dilengkapi dengan kemenangan kita dalam Pemilu Presiden. Lengkaplah pencapaian kita: lembaga eksekutif dan lembaga legislatif dihubungkan dan dipimpin oleh kekuatan yang sama, dengan cita-cita dan program yang sama.

Dengan itu semua, Indonesia akan memperoleh terobosan baru, sebuah momentum baru untuk melangkah lebih cepat — melangkah dengan penuh percaya diri; melangkah dengan keyakinan bahwa di ujung perjuangan akan ada keberhasilan; serta melangkah dengan keyakinan bahwa Indonesia memang bergerak untuk menjadi sebuah bangsa yang membanggakan kita semua.

Dengan itu semua saya ingin mengatakan bahwa perjuangan kita adalah sebuah perjuangan yang mulia. Kita akan berpeluh. Kita akan berkeringat. Kita harus menguras semua tenaga. Tapi semua itu untuk sebuah tujuan besar, yang pada akhirnya akan membanggakan kita sebab kita telah memberikan yang terbaik bagi Tanah Air tercinta.

Akhirnya, perkenankanlah saya mengakhiri acceptance speech ini dengan mengucapkan beribu terimakasih kepada segenap pihak yang telah membantu, mendorong, serta membesarkan hati saya.

Saya hanya dapat membalas semua itu dengan persahabatan yang tulus dan tekad untuk berbuat semaksimal mungkin.

Dengan kebersamaan kita, saya yakin jalan ke depan akan terbentang lebar. Insya Allah, kita akan mendapatkan ridhonya.

Semoga Partai Golkar tetap jaya. Semoga Indonesia terus melangkah maju merebut masa depan yang lebih cerah.

Bunga Kemuning diikat erat

Jadi hadiah untuk kerabat

Bila Rapimnas sudah dekat

Semua kader jadi terikat

Bahtera melaju ketanjung harapan

Bawa muatan intan berlian

Capres Golkar sudah diputuskan

Kader Golkar harus perjuangkan

Maju terus Partai Golkar.

Maju terus negeriku tercinta

Wabillahitaufiq walhidayah

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Menetapkan Capres, Memenangkan Pilpres

Pidato Pembukaan Rapimnas III Partai Golkar 2012. Hotel Aston Bogor, 29 Juni 2012

Yang saya hormati :

Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar, Sdr. Dr. Akbar Tandjung, beserta seluruh anggota Wantim DPP Partai Golkar.

Para Wakil Ketua Umum, dan segenap Pengurus DPP Partai Golkar,

Ketua Umum Ormas Pendiri, didirikan dan organisasi sayap Partai Golkar,

Ketua DPD Partai Golkar Provinsi se Indonesia,

Peserta, Peninjau Rapimnas dan para undangan yang berbahagia,

Asalamu’alaikum Wr. Wb

Salam Sejahtera bagi kita semua,

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, bahwa pada hari yang berbahagia ini, kita diberikan karunia dan kesempatan untuk menjalankan agenda organisasi Partai Golkar yakni Rapat Pimpinan Nasional III Partai Golkar, sebagai forum yang sangat strategis dalam menentukan masa depan Partai Golkar untuk kembali memimpin bangsa Indonesia.

Tidak terasa, kita telah berada pada pertengahan periode kepengurusan DPP Partai Golkar Hasil Munas VIII Partai Golkar 2009 di Pekanbaru, suatu fase yang menentukan perjalanan perjuangan Partai Golkar ke depan. Dan pada saat ini, kita tengah melaksanakan Rapimnas III Partai Golkar. Rapimnas III ini merupakan tindak lanjut dari hasil Rapimnas II Partai Golkar Tahun 2011 yang telah mengambil keputusan bahwa, penetapan dan pengukuhan Ir. H. Aburizal Bakrie (Ketua Umum DPP Partai Golkar) sebagai Calon Presiden Republik Indonesia dari Partai Golkar dalam Rapimnas III yang dilaksanakan selambat-lambatnya pada bulan Juni tahun 2012. Karena itu, maka agenda pokok Rapimnas III ini, tanpa mengesampingkan agenda-agenda penting lainnya, adalah pengukuhan Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir. H. Aburizal Bakrie sebagai calon presiden Republik Indonesia dari Partai Golkar.

Para Peserta, Peninjau dan hadirin yang saya muliakan,

Rapimnas III Partai Golkar ini memiliki makna yang sangat strategis bagi Partai Golkar dalam memantapkan posisi sebagai partai modern yang sangat konsisten dalam membangun tradisi politik yang demokratis. Sebagai partai yang memiliki tradisi demokrasi, penetapan dan pengukuhan calon presiden dari Partai Golkar dilakukan secara demokratis, melalui mekanisme yang diatur dalam konstitusi partai, dengan secara sungguh-sungguh memperhatikan aspirasi kader dan rakyat, sebagimana tercermin dalam berbagai hasil survei.

Penetapan dan pengukuhan calon presiden dari Partai Golkar pada Rapimnas III ini dikaitkan dengan evaluasi secara mendalam terhadap pengalaman perjalanan sejarah Partai Golkar selama ini, yang membutuhkan suatu strategi komprehensif yang berorientasi dan fokus pada pemenangan Pemilu Presiden 2014.

Strategi tersebut tidak dapat dilepaskan dari realitas politik bahwa sepanjang pengalaman kompetisi politik Partai Golkar di era Reformasi ini, Partai Golkarhanya pernah sekali memenangkan pemilu legislatif, yakni Pemilu 2004 pada masa kepemimpinan Sdr. Akbar Tandjung, dengan prosentase dukungan suara mencapai 21%. Namun, kita juga mencatat bahwa, selama era Reformasi ini Partai Golkar belum pernah berhasil memenangkan pemilu presiden.

Betapapun demikian, saya haqqul-yaqin, bahwa setiap periode kepemimpinan Partai Golkar, telah berusaha sekuat-kuatnya untuk memenangkan Partai Golkar dalam setiap event pemilu, dengan memanfaatkan segala potensi dan sumberdaya yang dimilikinya. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk belajar dari pengalaman masa lalu. Pengalaman masa lalu kita jadikan referensi untuk meraih masa depan. Pengalaman masa lalu, apabila dipelajari secara saksama berlandaskan kemurnian nurani dan ketulusan akal budi, maka Insya Allah, akan menuntun kita untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan kita, sekaligus merumuskan strategi pemecahan yang setepat-tepatnya.

Para Peserta, Peninjau dan hadirin yang saya muliakan,

Terhadap realitas capaian elektoral Partai Golkar selama ini, kita telah melakukan evaluasi secara kritis dan mendasar, untuk tidak ingin kesalahan langkah politik yang telah terjadi terulang kembali. Khusus menyangkut pengalaman Partai Golkar yang belum berhasil memenangkan pemilu presiden dalam tiga kali pemilu era Reformasi, secara internal saya mengidentifikasi beberapa pelajaran penting, antara lain :

Pertama, Penetapan calon presiden yang dilakukan setelah pemilihan umum legislatif, saya pandang sangat terlambat, karena tidak tersedia waktu yang cukup untuk mengoperasikan seluruh strategi pemenangan, secanggih apapun strategi yang kita miliki. Jarak waktu yang terlampau pendek, yakni hanya tiga atau empat bulan saja antara pemilu legislatif dan pemilu presiden, tidak memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas calon presiden sebagai prasyarat utama pemenangan pemilu presiden.

Kedua, memudarnya daya juang dan sekaligus soliditas internal partai, karena terlalu banyaknya skenario politik yang dikembangkan dengan tujuan dan target yang berbeda-beda, sehingga tidak fokus, banyak waktu dan kesempatan yang terbuang, serta energi yang terkuras percuma. Dengan kata lain, proses politik yang terjadi tidak produktif dan tidak konstruktif karena terbelenggu oleh banyaknya skenario politik dengan segala implikasinya, sehingga justru kontraproduktif bagi pemenangan Pilpres yang menjadi target politik Partai. Karenanya, kita tidak ingin bila fokus dan konsentrasi kita terpecah, tidak ingin soliditas kita terganggu, dan pada akhirnya kita tidak ingin terlambat untuk memutuskan calon presiden dari Partai Golkar. Sehingga kita dapat memastikan hanya ada satu skenario politik menuju kemenangan pada Pemilu Presiden 2014.

Ketiga, kita juga mengevaluasi tidak berfungsinya organisasi partai sebagai mesin politik yang efektif. Fenomena ini selain terkait dengan lemahnya soliditas internal partai, merosotnya daya juang ideologis partai, juga terkait dengan lemahnya kelembagaan politik Partai Golkar, terutama dalam konteks penguatan jaringan dan militansi kader. Karena itulah, pemahaman dan penghayatan terhadap ideologi Partai Golkar yang terkristalisasi dalam Doktrin Karya-kekaryaan dan Karya Siaga Gatra Praja, agar benar-benar memberi inspirasi untuk membangkitkan semangat juang dan soliditas partai, meningkatkan kapasitas organisasi dan jaringan partai, yang pada akhirnya menggerakkan mesin politik partai secara efektif, guna mencapai target dan tujuan partai. Pergerakan partai sebagai mesin politik yang didasarkan pada cita-cita dan ideologi politik, tidak akan berhenti sampai cita-cita itu terwujud.

Dalam kerangka itu semua, maka Rapimnas III ini, selain mengagendakan secara khusus pengukuhan calon presiden, juga akan membahas penetapan Program Pemenangan Pemilu Presiden 2014 dan Penetapan Pokok-pokok Program Calon Presiden RI dari Partai Golkar. Dengan demikian, kita memiliki sekurang-kurangnya delapan belas bulan untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka memenangkan Pilpres tahun 2014. Terkait dengan hal ini, sejak bulan Februari yang lalu, saya telah melakukan road show dari desa ke desa untuk meningkatkan elektabilitas Partai Golkar dan elektabilitas figur calon presiden RI dari Partai Golkar dalam satu kesatuan yang utuh yang kita sebut one united campaign”. Saudara-saudara akan melihat sendiri rekaman road show di berbagai daerah yang menunjukkan antusiasme dan dukungan masyarakat terutama kaum muda dan pemilih pemula.

Para Peserta, Peninjau, dan hadirin yang saya muliakan,

Sejak Munas VIII Partai Golkar tahun 2009, kita telah bertekad untuk merebut kembali kemenangan dan kejayaan Partai Golkar melalui implementasi CATUR SUKSES Partai Golkar, yakni Sukses Konsolidasi dan Pengembangan Partai; Sukses Kaderisasi dan Regenerasi; Sukses Kemandirian, Demokrasi dan Pembangunan yang Berkesejahteraan; dan Sukses Pemilu 2009-2014.

Sejauh ini, kita telah melaksanakan dan akan terus memantapkan konsolidasi, memperkuat kaderisasi, menegaskan Partai Golkar sebagai the party of ideas, serta melakukan langkah-langkah konstruktif dan terukur baik di level grass root, internal Partai, maupun di lembaga-lembaga politik kenegaraan seperti di DPR dan pemerintahan. Semua itu merupakan satu kesatuan untuk menampilkan citra terbaik Partai Golkar, sebagai partai modern, demokratis, serta memiliki komitmen dan konsistensi terhadap motto Partai Golkar “Suara Golkar, Suara Rakyat” melalui Gerakan Karya Kekaryaan.

Kita patut bersyukur bahwa melalui kerja keras kita bersama, kita telah meraih kemenangan 59% dari Pemilukada di seluruh tanah air, melebihi target yang ditetapkan dalam Rapimnas I Partai Golkar pada bulan Februari 2010 sebesar 50%. Kita juga patut bersyukur bahwa Partai Golkar merupakan partai yang dikenal memiliki soliditas yang tinggi. Di tengah-tengah berbagai sorotan publik yang negatif terhadap partai-partai politik, alhamdulillah Partai Golkar tidak termasuk yang banyak disorot. Bahkan, kita boleh berbangga diri dengan berbagai hasil survei yang memposisikan Partai Golkar berada di urutan pertama, apabila pemilu legislatif dilakukan pada saat ini. Hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), misalnya Partai Golkar menempati urutan pertama dengan perolehan dukungan sebesar 23%, selanjutnya PDIP (19,6%) dan Partai Demokrat dengan prosentase 10,7%. Sementara hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan Partai Golkar memperoleh dukungan 20,9%, disusul PDIP 14% dan Partai Demokrat 11,3%.

Sementara itu, tingkat elektabilitas Ketua Umum DPP Partai Golkar sebagai calon presiden RI dari Partai Golkar, Aburizal Bakrie, juga menunjukkan perkembangan yang signifikan, tren yang selalu meningkat. Pada survei terakhir yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia, elektabilitas Aburizal Bakrie telah mencapai 17,5%, selisih beberapa persen lagi, dari prosentase dukungan ke Partai Golkar sebesar 20,9%. Ini baru langkah permulaan yang memberikan optimisme kita semua, dan dengan kerja keras kita semua, maka Insya Allah elektabilitas tersebut akan terus meningkat.

Para Peserta, Peninjau, dan hadirin yang saya muliakan,

Hasil-hasil survei itu menegaskan bahwa upaya kita semua dalam berjuang bersama-sama, melakukan konsolidasi dan penguatan kelembagaan partai, penguatan kader, optimalisasi Gerakan Karya Kekaryaan melalui program elektoral, telah menuai hasil sementara yang signifikan. Tentu saja hasil-hasil survei tersebut membanggakan kita semua, namun saya mengingatkan agar kita semua tidak terlena, tidak lupa diri, melainkan kita semua harus terus meningkatkan kerja keras kita agar apa yang diprediksikan melalui survei-survei ilmiah tersebut, benar-benar menjadi kenyataan, dan bahkan prosentasenya lebih tinggi lagi, sehingga partai kita memenangkan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014.

Dalam berbagai kesempatan saya mengingatkan agar kita lebih mawas diri, sebab semakin tinggi dan rimbun pohon beringin kita, maka semakin kencang angin yang menerpanya. Artinya, dalam iklim kompetisi politik yang keras dan dinamis ini, kita harus terus-menerus meningkatkan kualitas soliditas kita semua, agar tidak mudah diadudomba, dipecahbelah, dan dihancurkan oleh pihak-pihak yang tidak ingin Partai Golkar besar dan jaya. Sebaliknya, manakala kita solid dan bersatu, maka Partai Golkar akan tetap kuat, dan sebesar apapun angin bertiup, tidak akan dapat merobohkan pohon beringin kita, apalagi akar-akar pohonnya telah menancap kokoh, yang bermakna bahwa Partai Golkar telah benar-benar mengakar dan ada di hati rakyat.

Sebagai partai yang berorientasi Karya Kekaryaan, kita harus mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Partai Golkar dengan semangat dan etos Karya Kekaryaan pula. Artinya, di tengah-tengah iklim kompetisi politik yang keras dan dinamis, di tengah-tengah merebaknya persaingan politik yang cenderung mengedepankan pragmatisme-transaksional, intrik dan politiking, bahkan kegaduhan politik, kita harus mampu menciptakan peluang dan momentum untuk senantiasa meyakinkan rakyat, bahwa Partai Golkar berbeda dengan yang lain. Caranya, adalah konsisten mengedepankan prinsip berkarya untuk rakyat dan bangsa, tiada hari tanpa karya, yang dalam bahasa agama, kita harus istiqomah dalam amal shaleh. Partai Golkar sebagai the party of ideas juga memberikan pesan kepada kita semua untuk mengedepankan ide dan gagasan sebagai instrumen politik. Kita harus tampil konsisten sebagai solusi terhadap semua masalah bangsa. Partai Golkar harus menjadi the part of solution, bukan the part of problem.

Para Peserta, Peninjau, dan hadirin yang saya muliakan,

Kita harus bangun Partai Golkar sebagai partai modern yang memiliki sistem yang baik dan jaringan yang kuat serta mengakar, memiliki kader-kader yang andal dan militan yang dihasilkan dari implementasi sistem perkaderan yang kita bangun, memiliki wibawa dan citra yang baik di mata rakyat, dan jiwa kepemimpinan yang terekspresikan dalam segenap pengurus dan kader-kadernya dalam mengelola Partai Golkar sebagai partai modern, yang tidak terjebak pada pemikiran jangka pendek, tetapi justru fokus pada persoalan-persoalan mendasar dan jangka panjang. Dalam kerangka itulah, Partai Golkar menetapkan suatu Blue-Print Pembangunan Nasional Menyongsong 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia, tahun 2045.

Baru-baru ini kita sama-sama mencermati publikasi The Fund for Peace yang menempatkan Indonesia pada peringkat 63 dari 174 negara Index Negara Gagal. Terlepas dari metodologi dan parameter yang digunakan, publikasi Index Negara Gagal tersebut hendaknya dimaknai sebagai warning dan cambuk untuk kita dalam berkarya untuk memajukan bangsa. Kita tidak boleh berpuas diri dengan kondisi yang kita alami saat ini. Publikasi tersebut tidak perlu kita jadikan alasan untuk mendiskreditkan pihak lain, terutama pemerintahan SBY-Boediono. Namun, justru kita pandang sebagai peluang bagi Partai Golkar untuk terus bekerjasama dengan pemerintah guna mencari terobosan-terobosan demi memulihkan situasi sosial, ekonomi, politik dan budaya bangsa, kini dan masa depan.

Partai Golkar ingin mengajak bangsa ini untuk menatap jauh ke depan, yakni Menyongsong 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia melalui suatu blue-print visi pembangunan nasional. Visi tersebut secara tegas mengacu kepada alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Pemerintahan negara dibentuk untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Sangat terang-benderang bagi kita, bahwa cita-cita Indonesia Merdeka adalah terwujudnya Negara Kesejahteraan, yakni Indonesia yang mandiri, maju, kuat, adil dan sejahtera. Indonesia yang mandiri merupakan ekspresi kemampuan bangsa untuk secara otonom menentukan arah dan prioritas kebijakannya. Juga kemampuan bangsa untuk memenuhi berbagai kebutuhan rakyatnya secara mandiri,

Kemandirian bangsa di berbagai bidang hendaknya ditopang dengan terwujudnya keadilan. Indonesia yang maju, kuat, mandiri dan adil merupakan prasyarat bagi terwujudnya kesejahteraan rakyat. Indonesia yang sejahtera akan tercapai jika manusianya memiliki kualitas sumber daya yang tinggi, memiliki sistem pertahanan yang tangguh, mandiri dalam memenuhi kebutuhannya sendiri serta terbebas dari berbagai ancaman dan tindak diskriminasi.

Itulah sekilas gambaran visi-misi kita untuk membangun kemandirin bangsa dan kesejahteraan rakyat sebagaimana tercantum dalam blue print Partai Golkar tentang Pembangunan Nasional. Visi-misi itu hanya bisa dilaksanakan secara efektif bilamana kita memenangkan Pileg dan Pilpres 2014.

Apakah Saudara-saudara siap ?

Sekali lagi, apakah siap ? Terima kasih.

Peserta, Peninjau Rapimnas dan hadirin yang saya muliakan,

Akhirnya, saya sampaikan terima kasih atas kebersamaan dan kerjasama kita semua selama ini, segenap keluarga besar Partai Golkar, khususnya Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar dengan segenap anggotanya, segenap Pengurus DPP, DPD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia, serta Ormas Keluarga Besar Partai Golkar. Partai Golkar maju karena adanya sistim yang kuat dengan didukung oleh kepemimpinan kolektif dari kita semua. Prestasi politik yang dicapai seperti yang ditunjukkan oleh hasil survei, adalah hasil kerja keras kita semua untuk memenangkan seluruh kompetisi politik demi terwujudnya cita-cita kelahiran Partai Golkar. Maju Golongan Karya, Maju Bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, saya ingin memberikan hadiah berupa pantun kepada seluruh peserta Rapimnas III Partai Golkar :

DARA MENARI MEMAKAI KIPAS

KIPAS INDAH BERHIASKAN EMAS

PARTAI GOLKAR GELAR RAPIMNAS

AGAR SIKAP PARTAI MAKIN TEGAS

JALAN-JALAN KE PULAU BINTAN

TIDAK LUPA MEMBELI IKAN

CAPRES GOLKAR SIAP DITETAPKAN

AGAR MESIN PARTAI CEPAT DIGERAKKAN

Akhirnya, dengan mengucap Bismillahirrahmaanir rahiim, Rapimnas III Partai Golkar Tahun 2012 ini, secara resmi saya nyatakan dibuka. Selamat melakukan Rapimnas III Partai Golkar, semoga menghasilkan keputusan-keputusan yang penting dan mendasar bagi kemajuan, kebesaran dan kejayaan Partai Golkar.

Terima kasih, dan mohon maaf atas segala kekuarangan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Mengapa Saya Jadi Capres Partai Golkar?

Salah satu isu politik yang belakangan ini selalu ramai dibicarakan terkait saya dan Partai Golkar adalah soal calon presiden atau capres. Banyak yang bertanya, mengapa saya yang akan dipilih sebagai capres. Juga ada yang bertanya mengapa dulu saya terlihat seperti enggan maju, lalu sekarang mau. Melalui blog ini, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dulu memang saya tidak mau buru-buru mengatakan mau maju sebagai capres. Meskipun banyak kader Partai Golkar yang saya temui di berbagai daerah seluruh Indonesia meminta saya maju. Kepada mereka saya selalu mengatakan saya masih belum terfikir untuk maju karena saya masih fokus bekerja untuk membesarkan partai.

Bahkan saat Rapimnas II, Oktober tahun lalu, ketika semua DPD I, DPD II, dan Ormas yang mendirikan dan diririkan Golkar meminta saya maju, saya masih belum mengiyakan sepenuhnya dan memberi syarat mereka untuk bekerja membesarkan partai dulu. Karena dengan partai yang suaranya besar, akan mudah mengusung capres sendiri tanpa tergantung partai lain.

Rupanya kader-kader Partai Golkar mencamkan hal itu dan bekerja keras membesarkan partai. Partai Golkar meningkat pesat popularitas dan elektabilitasnya. Kini, semua survei menunjukkan bahwa partai ini ada di urutan teratas. Di berbagai survei rata-rata Partai Golkar memimpin, bahkan, survei terbaru Universitan Padjajaran (Unpad) menyatakan Partai Golkar mendapat 25 persen suara di Jawa Barat. Padahal, saat Pemilu 2009 suara Partai Golkar di wilayah ini merosot ke angka 9 persen.

Karena itu, kemudian kader menagih janji saya untuk mau dicalonkan jika partai sudah besar. Belakangan ini, rumah saya di Jalan Mangunsarkoro, Jakarta, mendapat kunjungan terus-menerus dari tamu istimewa. Mereka adalah rombongan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar, baik tingkat I maupun tingkat II. Mereka datang bergantian, tidak bersamaan, namun dengan tujuan yang sama.

Rombongan pertama yang datang adalah DPD Partai Golkar se-Jawa Timur. Mereka datang Senin, 2 April 2012 lalu. Pak Martono, Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Timur, yang memimpin mereka. Lalu menyusul DPD se-Jawa Barat yang datang pada hari Rabu, yang dipimpin ketuanya Pak Yance. Setelah itu besoknya hadir tiga rombongan DPD sekaligus di hari yang sama yaitu DPD se-Sumatera Utara yang saya terima siang hari, dan DPD se-Jambi dan Bengkulu yang saya terima sore harinya. Ini terus diikuti DPD-DPD lainnya se Indonesia.

Mereka semua bertamu ke rumah saya, selain untuk bersilaturahmi juga membawa sebuah agenda yang sama yaitu menginginkan segera selenggarakannya Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III. Mereka juga mencalonkan saya sebagai capres untuk resmi diusung Partai Golkar pada Pemilu 2014.

Mereka berpandangan Rapimnas III untuk menetapkan saya sebagai capres sebagaimana amanat Rapimnas II bulan Oktober tahun lalu, segera dilaksanakan. Mereka beralasan, dengan sudah ditentukannya capres Partai Golkar, akan membuat kader jadi termotivasi untuk bekerja dan menggerakkan mesin partai. Mereka juga tidak ingin capres ditentukan mendadak sehingga tak cukup waktu untuk mensosialisasikannya sampai ke tingkat akar rumput.

Untuk meyakinkan saya, mereka membawa dan menunjukkan bukti dukungan dari seluruh DPD baik tingkat I maupun II. Mereka juga membantah ada perpecahan dan menyangkal ada Forum DPD II yang menolak pencalonan saya. Jika selama ini ada suara-suara sumbang, menurut mereka, itu hanya dari satu orang saja. Bukti hasil rapat dan tandatangan seluruh pengurus DPD II se-Indonesia menggugurkan tudingan bahwa keinginan untuk menetapkan saya sebagai capres tak mengikuti mekanisme partai.

Berdasarkan aspirasi seluruh DPD II itulah, DPP Partai Golkar kemudian akan menyelenggarakan Rapimnas III pada tanggal 29-30 Juni nanti di Bogor, Jawa Barat. Rapimnas ini agendanya antara lain membahas keputusan Rapimnas II yang telah mengusulkan saya sebagai capres, membahas kriteria dan mekanisme penentuan calon wapres, dan membahas strategi pemenangan pada pilpres mendatang.

Untuk diketahui Isi keputusan Rapimnas II Partai Golkar 2011 Nomor 01/Rapimnas-II/Golkar/X/2011 tanggal 28 Oktober 2011, antara lain: pada poin pertama Rekomendasi Bidang Organisasi Rapimnas II Partai Golkar Tahun 2011 disebut, merekomendasikan agar Rapimnas II Golkar 2011 menetapkan sebagai keputusan Rapimnas II tentang pencalonan saya sebagai Presiden RI 2014. Terlampir dengan pertimbangan sebagai berikut:

Poin A, meminta kesediaan saya sebagai calon Presiden RI 2014 dari Golkar. Poin B, menugaskan pada DPD PG agar segera membuat rencana aksi guna melakukan sosialisasi secara intensif dan massif terhadap figur saya sebagai Capres 2014 dari PG. Sosialisasinya dilakukan semua jajaran DPD PG, DPD Provinsi, DPD kabupaten/kota, pimpinan kecamatan, pimpinan desa serta seluruh kader dan anggota Partai Golkar di seluruh Indonesia. Pada poin C, pengukuhan saya sebagai capres RI dari Golkar ditetapkan dalam Rapimnas-III tahun 2012 dan/atau Rapimnas Khusus yang dilaksanakan selambat-lambatnya pada akhir 2012.

Bisa dilihat pula di halaman 24 buku hasil Rapimnas ke-II tercantum pula Rekomendasi Bidang Pemenangan Pemilu Rapimnas II Partai Golkar tahun 2011 point 13. Ada rekomendasi penting di sana yang meminta DPP Partai Golkar segera membuat penetapan saya sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2014, melalui mekanisme partai, selambat-lambatnya pada bulan Juni 2012. Jadi tidak benar jika dikatakan pencalonan saya tidak sesuai atau tidak melalui mekanisme partai.

Dukungan kader Partai Golkar dan kerja keras mereka membesarkan partai membuat saya tidak bisa menolak aspirasi itu. Jika Rapimnas III secara resmi memutuskan, saya insya Allah menerima amanat untuk menjadi capres Partai Golkar. Deklarasi sendiri rencananya akan dilakukan di Sentul pada tanggal 1 Juli 2012.

Memang benar, survei menunjukkan elektabilitas saya sebagai capres belumlah yang tertinggi. Namun, para kader selalu meyakinkan saya bahwa berbagai survei menunjukkan tren popularitas dan elektabilitas saya yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ini, insya Allah, akan menjadi pemacu saya dan kader Partai Golkar bekerja lebih keras lagi. Sejak memimpin Partai Golkar, hampir semua waktu saya, saya gunakan untuk turun langsung ke tengah masyarakat, untuk menyelami aspirasi mereka dan merumuskan program yang tepat untuk mereka.

Program saya sebagai capres sederhana, namun insya Allah akan dapat menjawab inti permasalahan bangsa ini. Saya menawarkan berbagai program untuk menjadikan Indonesia mandiri dan sejahtera. Cetak birunya sedang disusun oleh tim DPP bersama berbagai pakar di bidang masing-masing. Cetak biru ini yang akan dipakai jika Partai Golkar dipercaya rakyat untuk kembali memimpin bangsa ini. Amin!

Saya Bangga Jadi Warok

Rabu malam, 20 Juni 2012, saya sampai di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Malam itu saya sampai di Bumi Reog, setelah melakukan serangkaian perjalanan safari dari Ngawi, Megetan, dan Madiun. Di Ponorogo, saya menghadiri acara yang sangat special, karena malam itu saya dikukuhkan sebagai warga kehormatan Warok Ponorogo.

Warok merupakan bagian dari kesenian Reog, yang juga merupakan sesepuh masyarakat Ponorogo. Warok bagi masyarakat Ponorogo, seperti jawara bagi Masyarakat Banten. Mereka tidak hanya menguasai ilmu beladiri atau kanuragan, tapi juga ilmu kebatinan atau spiritual.

Karena kompetensinya itu, terutama aspek spiritualitasnya, warok mendapat tempat yang cukup strategis di masyarakat. Apa yang dikatakannya selalu didengar dan menjadi acuan. Mereka menjadi tempat meminta nasehat, dari rakyat sampai pejabat.

Ini sesuai dengan asal kata warok yaitu wewarah yang artinya petunjuk dan pengajaran. Jadi seorang warok itu adalah orang yang mampu memberi petunjuk dan pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.

Warok yang biasa kita jumpai saat pertunjukan Reog, memiliki penampilan yang khas: wajahnya merah garang dengan jenggot panjang. Dia memakai baju serba hitam dan blangkon atau ikat kepala hitam juga. Tak ketinggalan, dia selalu membawa tali putih besar, atau kolor wasiat, yang menjadi senjata andalannya.

Malam itu, prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh sesepuh warok Ponorogo, Ki Achmad Thobroni, disaksikan sembilan sesepuh warok lainnya, dan Bupati Ponorogo, Amin. Saya menjalani sejumlah ritual, di antaranya, membasuh tangan, kaki dan wajah, dengan air khusus yang telah disiapkan terlebih dahulu oleh para warok. Kemudian Ki Achmad Thobroni membacakan semacam surat pengangkatan sebagai warga kehormatan warok Ponorogo, baru kemudian dipakaikan pakaian serba hitam khas warok, berserta kolor wasiatnya.

Saya sangat senang dan bangga atas pengukuhan ini. Saya berterima kasih sekali untuk para sesepuh warok dan masyarakat Ponorogo atas penghargaan ini. Bagi saya pengukuhan ini sekaligus pemberian tugas baru bagi saya, sebab dengan ini saya harus ikut bertanggung jawab melestarikan kebudayaan dan kesenian Jawa, khususnya kesenian Reog.

Reog adalah kesenian asal Ponorogo yang mempertunjukkan tarian topeng singa dengan burung merak di atas kepalanya. Topeng ini dikenal dengan nama Dadak Merak yang tingginya sekitar dua meter dengan berat mencapat 50 kilogram. Para penari kuda jathilan, Bujang Ganong, dan sebagainya ikut memeriahkan pertunjukan yang diiringi dengan musik khas dan nuansa magis ini. Tak ketinggalan warok tua dan warok muda juga hadir dalam pertunjukan.

Banyak versi sejarah Reog, ada yang mengatakan cerita Reog yang juga sempat dikenal dengan nama Singa Barongan ini diambil dari kisah Raja Ponorogo yang akan melamar Putri Kediri. Di tengah perjalanan rombongan raja ini dicegat oleh Raja Singabarong yang berpasukan singa.

Namun versi lain mengatakan Reog merupakan bentuk sindiran Ki Ageng Kutu terhadap Raja Majapahit yaitu Kertabumi yang juga disebut Prabu Brawijaya. Sang raja dinilai terlalu disetir oleh permaisurinya. Kepala harimau atau singa Reog melambangkan sang raja, sementara burung merak yang bertengger di kepalanya melambangkan sang permaisuri.

Kesenian Reog ini sangat terkenal, tidak hanya di dalam negeri saja, namun juga sampai ke mancanegara. Bahkan, sempat ramai diberitakan Malaysia mengklaim kesenian ini, yang tentu menimbulkan protes keras Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Ponorogo.

Seperti peninggalan budaya lainnya, Reog tentu mengalami tantangan jaman. Jika tidak dilestarikan, maka budaya ini akan punah tergerus jaman. Karena itu, saat mendengar bahwa Pemerintah Kabupaten Ponorogo melakukan langkah pelestarian, saya sangat gembira. Bupati menjelaskan, pihaknya memfasilitasi sekaligus membiayai pagelaran Reog yang diselenggarakan di Alun-alun Ponorogo pada setiap bulannya. Pagelaran ini diikuti secara bergantian oleh seluruh sanggar seni Reog yang ada.

Ini penting untuk menjaga kelangsungan hidup sanggar Reog dan para senimannya. Bahkan tak hanya itu, Pak Bupati mengatakan akan dibuat juga tempat khusus untuk pagelaran Reog, yakni Bantar Angin.

Sekali lagi hal seperti itu penting dilakukan. Ini tentu akan membantu melestarikan Reog sebagai budaya bangsa dan mencegah jangan sampai Reog Ponorogo ini diklaim oleh bangsa lain. Kalau kita sendiri tidak mau melestarikan kesenian dan budaya kita, maka tidak mustahil jika kemudian mati di negeri sendiri, dan berkembang di negeri lain. Kalau sudah begitu, jangan salahkan jika orang lain mengklaim itu sebagai budaya mereka.

Dengan kita melestarikannya, apalagi di tempat sendiri, tidak ada alasan apa pun bagi negara mana pun untuk mengatakan bahwa Reog itu dari negara tersebut. Reog Ponorogo adalah dari Ponorogo. Reog Ponorogo itu adalah asli kesenian Indonesia, bukan kesenian dan kebudayaan negara lain.

Alasan Mengapa Saya Suka Lagu “My Way”

Jika ditanya lagu apa yang paling saya sukai jawabannya adalah: “My Way”. Banyak yang tahu saya suka lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra di tahun 60-an ini. Karena itu dalam berbagai acara saya kerap diminta menyanyikan lagu ini. Mulai dari acara perusahaan, acara di tivi, sampai acara di sekolahan, saya kerap diminta menyanyikan lagu ini. Yang terbaru, saat bersilaturahmi dengan kader Partai Golkar di Purwakarta, Senin malam, 11 Juni 2012, saya juga diminta menyanyikannya.

Lagu “My Way” ini adalah lagu lama yang ditulis oleh Paul Anka yang digubah dari sebuah lagu Prancis berjudul “Comme d’habitude”. Paul awalnya melihat lagu itu jelek, namun dia merasa ada sesuatu yang lain di sana. Karena itu, kemudian dia membeli lagu itu dan mengubah baik struktur nada mupun liriknya. Lalu dia mempercayakan pada sahabatnya Frank Sinatra untuk menyanyikannya, meski Paul sendiri juga penyanyi.

Di tahun 1968 Frank Sinatra merekam lagu ini. Tak lama kemudian Paul Anka sendiri juga menyanyikannya. Lagu ini kemudian meledak dan menjadi lagu legendaris. Banyak penyanyi top dunia pernah menyanyikannya. Sebut saja Elvis Presley, Pavarotti, dan penyanyi-penyanyi masa kini seperti Robbie Williams, Bon Jovi, dan sebagainya. Bahkan Bon Jovi membuat lagu “Its My Life” yang terinspirasi lagu “My Way”, seperti tercermin di liriknya: “Like Frankie said; I did it my way”.

Banyak orang menyukai lagu ini. Bukan hanya karena enak didengar, namun juga karena liriknya yang begitu kuat dan sangat menginspirasi. Untuk saya sendiri, mengapa menyukai lagu ini, bukan karena ini lagu lama di mana saya mengalami masa-masa saat lagu ini menjadi begitu populer. Tapi, lebih dari itu, saya suka lagu ini karena isinya itu “saya banget”. Lagu ini sangat mencerminkan diri saya, perjalanan hidup saya, dan sikap saya.

Lagu itu menggambarkan seorang pria yang telah melalui perjalanan panjang hidup dengan segala lika-likunya–pernah mencintai, menangis, tertawa, menghadapi kegagalan, mengalami kesedihan, dan mencoba melakukan semua hal dengan cara terbaik sesuai dengan keyakinan dan caranya sendiri. Buat dia, penyesalan atau kegagalan tentu ada dalam hidup, namun terlalu sedikit untuk diungkapkan. Saat menghadapi semua tantangan dan kegagalan, bukannya menyerah, dia selalu berdiri tegak menghadapinya, dengan caranya sendiri. Itu semua persis dengan apa yang saya hadapi dan lakukan selama ini. Karena itu saat mendengar atau menyanyikan lagu ini, saya seperti sedang berkaca. Karena itu saya suka sekali lagu ini.

Melakukan dengan cara saya sendiri atau I did it my way, adalah kalimat terkuat di lagu itu. Dalam hidup ini, saya pun begitu. Saya selalu melakukan semuanya dengan cara saya sendiri, bukan dengan mengikuti omongan orang lain. Saya selalu mengikuti kata hati dan keyakinan saya, dan melaksanakannya dengan cara saya sendiri, bukan cara orang. Itu sikap yang konsisten saya jalankan, baik dalam berorganisasi, berbisnis, sampai berpolitik.

Tentu dengan sikap seperti ini banyak rintangan, kritik, dan hujatan yang datang. Tapi itu biasa. Sudah jadi konsekuensi. Seperti yang sering saya katakan, semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Kita harus jalan terus, seperti dalam lirik lagu itu: The record shows I took the blows,.and did it my way.

Saya tidak pernah takut bersikap berbeda, meski kadang disalahpahami. Karena, seperti kata Ralph Waldo Emerson yang sering saya kutip: “To be great is to be misunderstood”. Bagi saya yang penting menjalankan apa yang kita anggap benar, mengungkapkan apa yang menurutnya tepat, bukan kata orang.

Inilah bait terakhir lagu “My Way” yang paling saya sukai:

For what is a man, what has he got?

If not himself, then he has naught

To say the things he truly feels

And not the words of one who kneels

The record shows I took the blows

And did it my way

Yes, it was my way.

Jadi, jika ada yang bertanya seperti apa karakter dan sikap Aburizal Bakrie? Dengar saja lagu “My Way”.